PROPAGANDA

harold-d-laswell1Propaganda menjadi  topik hangat  dari sejumlah buku yang terbit  di sekitar masa perang dunia.  Ketika desertasi doktoral Harold Laswell yang mengangkat konsep ‘propaganda’ di dalam Perand Dunia I diterbitkan menjadi sebuah buku di tahun 1927, salah seorang pengamat menjuluki buku tersebut sebagai “ buku Machiavellian yang harus segera dimusnahkan” ( Dulles,1928: 107). Reaksi si pengamat mengindikasikan adanya ketakutan akan adanya teknik propaganda yang dia lihat dalam Perang Dunia I. Salah satu buku propaganda  Amerika di dalam PD I bahkan dengan terang-terangan berjudul Words That Won The War ( Mock & Larson, 1939). Di dalam buku tersebut diklaim , tidak disangsikan orang tengah memusatkan perhatiannya pada efek propaganda sejalan dengan akan segera pecahnya perang dunia kedua.

Propaganda diajarkan untuk menciptakan sebuah pemusatan kekuatan. Untuk tujuan tersebut maka sangat relevan satu dari beberapa teori yang dipakai sebagai landasan analisis berkenaan dengan propaganda  terkait  efek komunikasi massa. Seperti yang kemudian kita tengok lagi ke belakang, banyak dari analisis tersebut yang beranjak dari teori kini dianggap usang.  Meski demikian, dua di antara area penting teori komunikasi berakar dari kajian mengenai propaganda ini.  Salah satunya adalah teori perubahan sikap, yang secara tradisional menjadi bidang utama dalam penelitian komunikasi. Apakah yang menjadi metode paling efektif  dalam mengubah sikap khalayak ? Studi mengenai propaganda secara tentatif memberikan jawaban pertanyaan ini.  Area kedua teori komunikasi  yang berakar dari kajian propaganda  adalah efek-efek umum dari komunikasi massa.  Apa saja efek yang bisa diakibatkan olah  komunikasi massa terhadap individu dan masyarakat? Sejauhmana efek-efek tersebut berperan? Inilah yang secara bersambung akan kita bahas dalam tulisan  ini.

Apa itu propaganda?

Kata “propaganda” pada mulanya berawal dari the Coungregatio de propaganda fide  atau Congregation for the Propaganda of Faith, yang diterbitkan oleh Gereja Katolik  tahun 1622. Itulah saat di mana terjadi sebuah Reformasi, di mana berbagai kelompok memisahkan diri dari Gereja Katolik dan konggregasi itu menjadi salah satu bentuk perlawanan  Gereja terhadap gerakan Reformasi.  Salah satu isu penting dalam masa itu adalah perseteruan antara ilmu pengetahuan dan gereja sebagai sumber dari pengetahuan mengenai dunia ini.  Salah satu figur  penting dalam pertentangan itu adalah Galileo, yang berpendapat berdasarkan observasi nya dengan menggunakan teleskop, mengatakan bahwa bumi ini bergerak mengililingi matahari.   Gagasan ini tentu saja bertolak belakang dengan ajaran Gereja Katolik dan memang, pada kenyataannya menjadi salah satu proposisi gereja yang tidak bisa dibantah. Galileo kemudian diadili dan divonis  bersalah pada tahun 1633 dan dipaksa meralat pernyataannya tersebut.   Gereja mengambil posisi bertahan terhadap gagasan yang sesungguhnya tak terbantahkan. Mungkin inilah asal mula  kata ‘propaganda’ dipakai dengan konotasi negatif  karena diasosiasikan dengan kesalahan fatal dalam insiden besar di mana gereja bertahan dengan pandangan yang dikemudian hari terbuktikan keliru oleh ilmu pengetahuan.  Di kemudian hari, gereja akhirnya mengkaji secara mendalam tentang studi Galileo dan menyatakan bahwa dia  telah dijatuhi vonis yang keliru.

Karya klasik Laswell, Propaganda Technique in the World War ( 1927), menghadirkan sebuah definisi  mengenai propaganda : “ kata itu mengacu semata-mata pada kendali atas pendapat dengan menggunakan simbol-simbol yang signifikan  atau mengatakan secara konkret dan tidak terlampau akurat, dengan menghadirkan kisah, rumor, laporan, gambar dan bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya”(hal.9). Laswell (1937) memberi definisi yang agak berbeda sepuluh  tahun kemudian : “ Propaganda dalam arti yang seluas-luasnya adalah teknik memengaruhi tindakan manusia dengan cara memanipulasi atau melakukan representasi. Representasi ini bisa melalui kata-kata ujaran, tulisan, gambar atau bentuk-bentuk musikal “ (hal 521-522).

Kedua definisi Laswell itu mencakup hampir semua bentuk periklanan dan pada kenyataannya, muncul dalam pengertian terkait dengan semua hal yang berkenaan dengan tindakan persuasi.  Laswell (1937) menyatakan bahwa “  baik periklanan maupun publikasi masuk dalam wilayah propaganda”.

Definisi Laswell mencakup juga pada bentuk/aspek pengajaran guru di dalam kelas, suatu tindakan yang bagi sebagian kalangan tidak mau dikatakan sebagai propaganda.  Dengan demikian, definisi Laswell terkesan menjadi terlalu luas karena mewadahi berbagai tindakan dengan berbagai tujuan yang berbeda.

Roger Brown

Roger Brown

Pakar psikologi Roger Brown (1985) kemudian turut andil memberi pengertian mengenai persoalan kericuhan definisi ini  dengan memberi  pembatasan mengenai perbedaan antara propaganda dan persuasi.  Brown mendefinisikan persuasi sebagai “ manipulasi simbolik yang didesain untuk menghasilkan suatu tindakan bagi orang lain” (hal 299). Dia kemudian merujuk  upaya-upaya persuasif dengan label  propaganda “ ketika seseorang menilai bahwa tindakan yang menjadi tujuan dalam upaya persuasif lebih menguntungkan bagi orang yang memberi persuasi namun bukan menjadi minat utama dari orang yang dibujuk” (hal 300). Dengan kata lain, tidak ada pembatasan yang tegas yang membedakan antara tindakan yang persuasif atau yang merupakan propaganda – karena itu bergantung pada penilaian orang  lain.  Sejauh ini  dari beberapa teknik yang dipergunakan menjadikan persuasi atau propaganda akhirnya menjadi identik. Hanya saja ketika dipahami bahwa keuntungan dari tindakan itu lebih pada sumber maka dan bukan pada penerima maka aksi tersebut dikatakan bentuk propaganda.

Sebagaimana didefinisikan baik oleh Laswell (1927,1937 ) maupun Brown (1958), propaganda akan meliputi sebagian besar aktivitas  periklanan (ketika tujuannya bukan untuk kebaikan dari si penerima melainkan lebih pada sales atau pengiklan), mencakup juga pada kampanye politik ( ketika tujuan bukan pada kebaikan si penerima melainkan pada pemilihan si kandidat) dan juga mencakup public relations ( di mana tujuan seringkali bukan untuk kebaikan pada penerima melainkan lebih besar ke meningkatnya citra korporasi).

Laswell (1927) juga mendiskusikan empat tujuan utama dari propaganda:

  1. Untuk memobilisasi kebencian terhadap musuh
  2. Untuk melanggengkan persahabatan sebuah persekutuan
  3. Untuk melanggengkan perkawanan dan , jika memungkinkan, untuk mendapatkan kerjasama dari pihak yang netral
  4. Untuk meruntuhkan moral lawan (1955)

Yang dia kemukakan di atas tentu saja merupakan tujuan yang dicapai di masa perang di mana tidak diterapkan dalam aktivitas periklanan atau bentuk persuasi lain di masa damai.  (bersambung)

Referensi :

Brown, Roger. 1985. Words and Things.  New York: Free Press.

Dulles,F.R. 1928. Problem of war and peace. Bookman,67.

Mock,J.R. & C. Larson,1939. Words That Won the War : The Story of the Committee on Public  Information 1947. Princetown,N.J: Princetown University Press.

Laswell , H. 1927. Propaganda Technique in the World War. New York : Peter Smith

Laswell,H. 1937. “Propaganda”. In  E.R.A. Seligman and A Johnson,eds. Encyclopedia of the Social Science , vol 12. Hal 521-528 New York : Macmillan

Sumber ilustrasi : albeiror24.wordpress,com

Isites.harvard.edu

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 1 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “PROPAGANDA”

  1. Reblogged this on rizky ari wibowo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: