MASALAH INTERPRETASI

Umberto Eco

Umberto Eco

Selama berabad lamanya teori pembacaan muncul menghilang, mulai dari pendekatan hermenetis pada abad pertengahan sampai dengan dekonstruksi pada abad mutakhir. Yang  menjadi masalah adalah penafsiran sebuah teks; dari pembacaan yang berorientasi pada pencarian maksud pengarang atau intentio auctoris, ke yang berorientasi pada maksud teks atau intentio operis hingga ke maksud pembaca atau intentio  lectoris.

Bagaimana membatasi interpretasi ketika pendekatan pembacaan membuka luas kemungkinan itu? Sebagai “semiosis”, setiap teks merupakan pencipta makna tak terhingga. Namun, banyak orang sepakat bahwa sebebas apa pun interpretasi, harus ada batas, ada interpretasi yang tidak dapat dibenarkan.

Itulah yang dibahas Umberto Eco dalam bukunya Les limites de I’interpretation. Dimulai dari pemaparan sejarah interpretasi yang berorientasi semiotik sejak abad pertengahan, Eco kemudian memaparkan beberapa kemungkinan interpretasi serta batas-batasnya.

Teori Pembacaan Berorientasi Semiotik Persepsi

Pendekatan Hermenetis

Ada dua model interpretasi yang berlawanan yang asalnya dari budaya Yunani dan memengaruhi perkembangan pemikiran Barat hingga kini. Yang pertama, disebut modus rasionalisasi, yang menjelaskan dunia secara linear dan kausal. Arah dan urutan waktu merupakan linearitas kosmologis dan menjadi subordinasi di dalam aliran waktu. Pemikiran manusia hanya dapat mengenali, menyusun, dan memandang fakta setelah menemukan suatu kaidah yang menghubungkan fakta-fakta itu. Modus rasionalisasi atau modus ponens itu  hingga kini masih mendominasi ilmu  eksata seperti matematika, Logika dan  informatika.

Sebaliknya model kedua adalah pemikiran hermenetis (berasal dari mitos dewa Hermes), yang prinsipnya berlawanan, karena menganggap bahwa terdapat beberapa kebenaran yang dapat saling bertentangan. Hermenetis abad ke-11 mencari kebenaran di dalam buku-buku dan menganggap bahwa buku berisi secercah kebenaran dan semua kebenaran dari buku saling melengkapi. Dengan demikian, salah satu prinsip model rasionalisasi Yunani digoyahkan.

Karena kebenaran saling bertentangan setiap pernyataan merupakan alusi atau alegori yang pesannya harus ditafsirkan. Kebenaran adalah yang tak terkatakan atau yang disampaikan secara tersamar dan harus dipahami melampaui penampilan. Hanya mereka yang “berbakat” dapat memilliki kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda yang tampil di alam semesta, termasuk bahasa. Dari dasar pemikiran bahwa segala hal harus ditaafsirkan, disimpulkan bahwa interpretasi itu memang tak terhingga.

Menurut model hermenetis, susunan alam semesta yang diajukan oleh rasionalisasi Yunani dapat dirombak, dan hubungan-hubungan harus dapat dibangun guna menguasai alam dan mengubahnya.

Pengaruh hermenetis erat kaitannya dengan keyakinan yang justru tidak disadarinya, yaitu bahwa deskripsi dalam semesta dilakukan menurut logika kuantitatif dan bukan kualitatif. Jadi secara paradoksal, hermenetis menyebabkan kelahiran rasionalisasi sains baru.

Interpretasi yang berorientasi pada pembaca.

Berbagai teori yang membahas hubungan pengarang dengan pembaca mulai dari fokalisasi, pembaca ideal, pembaca virtual, pembaca implicit. Demikian juga banyak teori dengan orientasi berbeda seperti estetika resepsi, hermeneutika, semiotika pembaca ideal atau dekonstruksi tidak memilih tindak membaca sebagai objek penelitian karena hal itu merupakan objek sosiologi resepsi. Yang diisimewakan dari tindak membaca adalah fungsi konstruksi dan dekonstruksi teks, fungsi yang menjadi syarat utama bagi perwujudan sebuah teks.

Setelah perdebatan antara mencari maksud pengaran dan mencari maksud teks, orientasi pada teks lebih menonjol dan dibedakan antara : a) apa yang dikatakan teks dengan mengacu pada koherensi kontekstual serta situasi system-sistem pemakanaan yang diacunya; dan b) apa yang ditemukan pleh pembaca dengan mengacu pada sistem-sistem pemaknaannya sendiri, dan/atau pada karsa, naluri dan keinginan khas si pembaca.

Dari sudut pandang orientasi pada pembaca itulah  beberapa aliran interpretasi dibahas kembali. Sosiologi kesusastraan, misalnya, menekankan pembahasan teks oleh individu atau kelompok tertentu.

Sebaliknya estetika resepsi mengambil prinsip hemeneutik sebuah karya menjadi kaya oleh berbagai penafsiran sepanjang abad. Yang menjadi pokok perhatian estetika resepsi adalah hubungan antara efek social karya dan “horizon pengharapan” pembaca dalam konteks sejarah tertentu.

Namun, tidak disangkal bahwa interpretasi teks hanya secara proporsional berhubungan dengan hakikat maksud terdalam teks itu. Begitu pula, semiotik interpretasi, yaitu teori tentang pembaca ideal dan tentang pembacaan sebagai tindak kolaborasi, pada umumnya mencari sosok pembaca yanag dituju oleh karya. Yang dicari dalam intentio operis adalah kriteria yang diperlukan guna mengevaluasi manifestasi intentio lectoris.

Sementara itu, dekonstruksi memberi  tekanan pada inisiatif pembaca dan ambiguitas teks yang tidak dapat direduksi sehingga menjadi rangsangan bagi  terjadinya interpretasi yang menyimpang.

Sebuah teks dapat ditafsirkan secara semantik ( hasil dari proses pengisian makna teks secara linear oleh pembaca) atau secara kritis ( mencoba menjelaskan alasan struktural, menjelaskan bagaimana teks dapat menghasilkan interpretasi semantik atau lainnya)

Hanya teks tertentu menawarkan kedua macam intepretasi di atas. Kalau dinyatakan bahwa setiap teks mengharapkan seorang pembaca ideal, berarti secara teoritis dan kadangkala secara eksplisit, yang diharapkan adalah dua pembaca yaitu pembaca naïf/semantic dan pembaca ideal kritis. Misalnya, dengan mengajukan tokoh pembunuhnya sendiri sebagai pencerita di dalam The Murder of Roger Ackroyd, Agatha Christie mula-mula menggiring pembaca naif untuk mencari tokoh-tokoh lain sebagai pembunuh. Akan tetapi, pada akhir cerita, ketika pembaca naïf sadar bahwa ia kurang cermat pada saat yang sama pembaca kritis diajak oleh pengarang untuk mengagumi kepandaiannya dalam mengecoh pembaca naïf.

Sumber :

Bachmid, Talha. 2001. “Masalah Interpretasi: Cuplikan Gagasan Umberto Eco dari Karyanya Les Limites De L’interpretation” . Dalam   Meretas Ranah Semiotika. Ida Sundari Husen & Rahayu Hidayat (ed). Yogyakarta: Bentang.

Foto Ilustrasi :

http://politics-prose.com/files/politicsandprose/umbertoeco.jpg

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 28 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: