FILM dan METAFORA BAHASA

Christian Metz

Christian Metz

Film bukanlah bahasa dalam arti seperti : bahasa Inggris, bahasa Perancis atau yang lainnya. Pertama-tama dalam film mustahil untuk tidak mematuhi tata-bahasa. Dan tidak perlu mempelajari kamus, perbendaharaan kata-kata, anak-anak, misalnya, ternyata dapat memahami gambar –gambar televisi, berbulan-bulan sebelum mereka mulai mengembangkan kesanggupan berkata-kata. Bahkan seekor kucing juga menonton televisi. Jelas, untuk berapresiasi terhadap film, setidak-tidaknya pada tingkat yang paling bawah, tidak diperlukan kecakapan intelektual.

Tapi, film amat banyak persamaannya dengan bahasa. Orang-orang yang berpengalaman dalam soal film, secara visual menjadi  sangat  cendekia( cinemata?),  bisa melihat dan mendengar lebih banyak dari pada orang yang jarang menonton film. Suatu pendidikan mengenai bahasa quasi film membukakan arti-arti potensial yang lebih besar bagi seseorang pengamat.  Oleh karena itu untuk memaparkan fenomena film baik sekali kalau kita menggunakan metafora bahasa.

Ironisnya di sini ialah bahwa kita tahu betul bahwa kita harus belajar membaca lebih dahulu sebelum kita bisa mencoba menikmati atau memahami kesusastraan, tapi kita cenderung, secara keliru , untuk percaya bahwa siapa saja dapat membaca film.

Film bukanlah bahasa tapi ia seperti bahasa. Dan karena mirip dengan bahasa, maka beberapa metode yang dipergunakan untuk memelajari bahasa mungkin bermanfaat jika kita gunakan untuk memelajari sebuah film.   Namun karena film bukan suatu bahasa, maka penggunaan konsep linguistik  yang teliti dan keras tidak terlalu tepat diterapkan.

Sudah sejak permulaan sejarah film, para ahli teori suka membandingkan film dengan bahasa lisan ( hal ini dilakukan sebagian untuk membenarkan penelaahan serius tentang film !), tapi barulah setelah suatu kategori pemikiran baru dan lebih besar berkembang dalam tahun lima puluhan dan di permulaan tahun enam puluhan –pemikiran yang menganggap bahasa tulisan dan bahsa lisan hanya sebagai dua dari sekian banyak sistem komunikasi— telaah yang sebenarnya atas film sebagai bahasa dapat berkembang.

Kategori inklusif ini ialah semiologi, telaah tentang sistem isyarat dan tanda-tanda. Para ahli semiologi menerima telaah film sebagai bahasa dengan merumuskan kembali konsep bahasa  tulisan dan lisan. Setiap sistem komunikasi adalah “bahasa”; bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Cina dsb adalah “sistem bahasa”. Karena itu, sinema mungkin merupakan semacam bahasa, tetapi tidak jelas ia suatu sistem bahasa. Seperti dikatakan oleh Christian Metz, semiologis film yang terkenal : kita mengenal sebuah film bukan karena kita mengetahui sistemnya, tapi sebaliknya, kita memeroleh pengertian tentang sistemnya karena kita mengerti film itu. Dengan katalain, “ Bukan karena sinema suatu bahasa maka ia bisa menceritakan kisah-kisah yang begitu bagus, tapi karena ia menceritakan kisah-kisah yang bagus ia menjadi bahasa”

Bagi ahli semiologi, sebuah isyarat harus terdiri dari dua bagian: yang memberi arti dan yang diberi arti. Kata “kata” misalnya, kumpulan huruf atau bunyi- merupakan pemberi arti, yang dia tampilkan merupakan suatu yang lain lagi — yang diberi arti. Dalam kesusastraan, hubungan antara yang memberi arti dan yang diberi arti merupakan fokus utama seni. Penyair membangun konstruksi –konstruksi, yang di satu pihak terdiri dari bunyi (pemberi arti) dan di lain pihak makna ( yang diberi arti). Hubungan di antara keduanya itu bisa sangat menarik dan di sinilah kenikmatan sebuah puisi.

Tapi dalam film, pemberi arti dan yang diberi arti hampir-hampir identik : isyarat sinema ialah isyarat sirkuit pendek. Gambar buku secara konsep lebih dekat kepada buku dari pada kata “ buku”. Memang benar, bahwa ketika kita masih anak-anak harus belajar menerjemahkan gambar buku punya arti buku, tapi hal ini jauh lebih mudah dari pada belajar menafsirkan huruf-huruf atau bunyi “buku” sebagai apa yang ia berikan artinya. Sebuah gambar mempunyai hubungan langsung dengan apa yang ia beri arti, sedangkan kata jarang sekali melakukan itu.

Kenyataan ada isyarat sirkuit pendek inilah yang membuat bahasa film begitu sulit untuk dibicarakan. Seperti dinyatakan oleh Metz, dengan ucapan yang terkenal : “Sebuah film sulit diterangkan karena ia mudah dimengerti”. Hal ini juga yang menyebabkan “mengasyiki” film berbeda dari “mengasyiki” bahasa Inggris. Kita tidak bisa mengubah-ubah isyarat-syarat sinema seperti kita bisa mengubah-ubah kata-kata dari system-sistem bahasa. Di sinema imaji setangkai mawar ialah imaji setangkai mawar, imaji setangkai mawar – tidak lebih dan tidak kurang. Dalam bahasa Inggris, “rose” yang berarti mawar bisa merupakan mawar, tapi ia juga bisa diubah atau dikacaukan dengan kata-kata yang mirip seperi rose, rosy,rosier,rosiest, rise, risen, arose, roselike dan sebagainya.  Kekuatan sistem-sistem bahasa ialah bahwa antara pemberi arti dan yang diberi arti terdapat perbedaan yang amat besar; kekuatan  film ialah dalam ketiadaan perbedan  ini.

Meski demikian, film memang seperti bahasa. Lalu, kalau demikian, bagaimana ia melakukan apa yang ia lakukan? Jelas, bahwa imaji seseorang tentang sesuatu benda bukanlah  imaji orang lain. Jika kita sama membaca kata ‘mawar” ( dalam bahasa Inggris “rose), anda mungkin ingat pada mawar perdamaian yang anda petik beberapa musim yang lalu, sedangkan orang lain akan meng ingat pada mawar yang  diberikan  oleh seseorang ketika orang tersebut menyatakan perasaan cintanya. Tapi dalam sinema, semua orang pasti akan melihat pada mawar yang sama itu juga, sedangkan seorang sineas akan memilih antara sekian banyak jenis mawar lalu memotret mawar  tersebut dengan cara yang tak terbatas pula banyaknya.  Pilihan seniman dalam sinema tidak ada batasnya; pilihan seniman dalam kesustraan terbatas, sedangkan pilihan pengamat ialah kebalikannya. Film dalam hubungan ini tidak mensugestikan : ia menyatakan.  Di situlah letak kekuatannya dan bahaya yang ia kandung bagi pengamat: alas an itulah mengapa bermanfaat, bahkan vital, untuk belajar membaca imaji dengan baik supaya pengamat dapat meraih sebagian kekuatan medium ini.

Teori standar film

Buku –buku film yang terdahulu, mengajarkan teori standar bahwa shot ialah kata dalam film,adegan sama dengan kalimat, dan sekuen merupakan paragraph. Dengan pengertian perangkat pembagian ini disusun sesuai dengan urutan yang meningkat, perbandingan ini cukup benar, tapi jika dianalisis  maka ia akan runtuh. Dengan sementara beranggapan, bahwa kata ialah satuan pengertian terkecil yang paling mudah digunakan; apakah shot dapat dianggap padanannya? Sama sekali tidak. Pertama-tama, sebuah shot memerlukan waktu. Dalam jangka waktu itu ada imaji-imaji yang banyaknya terus-menerus berbeda. Kalau begitu, apakah imaji tunggal, yaitu frame, merupakan suatu dasar arti dalam film? Jawabannya tetap tidak, karena tiap frame dapat disamakan dengan sebuah kalimat, karena ia mengutarakan suatu pernyataan dan dapat berdiri sendiri. Tapi soalnya, film tidak membagi diri dalam satuan-satuan yang mudah diatur. Biarpun “shot” secara teknis dapat kita rumuskan dengan cukup baik sebagai sepotong film apa yang akan terjadi jika shot secara intern telah diberi pungtuasi? Karena bisa bergerak, adegan bisa pindah seluruhnya melalui  pan dan track. Apakah kita lalu harus menganggpnya sebagai satu shot atau dua?

Tampaknya, Ilmu film yang sebenarnya bergantung pada kesanggupan kita untuk merumuskan satuan konstruksi terkecil. Ini dapat kita lakukan secara teknis, setidak-tidaknya untuk imaji : yaitu satu frame tunggal. Tapi ini pasti bukan merupakan satuan arti yang terkecil. Nyatanya, film, berbeda dari bahasa tulisan atau lisan, tidak terdiri dari satuan-satuan, tapi lebih merupakan suatu kesinambungan arti. Sebuah shot bisa berisi informasi sebanyak yang mau kit abaca di dalamnya, dan satuan-satuan manapun yang kita  rumuskan dalam shot itu bersifat menurut kehendak kita sendiri.

Oleh karena itu film memberikan pada kita sebuah bahasa ( semacam bahasa) yang : a) terdiri dari isyarat-isyarat sirtkuit pendek di mana pemberi arti hampir menyamai yang diberi arti; dan b) tergantung dari suatu sistem berkesinambungan yang tidak terdiri dari bagian-bagian terpisah, di mana kita tidak bisa menunjuk suatu satuan dasar dan yang karena itu tidak bisa kita paparkan secara kuantitatif.

Kesimpulannya, sebagai dikatakan oleh Christian Metz : “ Sinema, seni yang mudah, selalu terancam menjadi korban dari kemudahan ini”. Film terlalu mudah ditangkap, karena itulah dia sulit sekali dianalisis. “Sebuh film sulit dijelaskan, karena ia mudah dimengerti”

Sumber :

Monaco, James. 1984. Cara Menghayati Sebuah Film. Terj. Asrul Sani. Jakarta  : Yayasan Citra

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 27 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: