MEMAHAMI MITOS

Roland Barthes

Roland Barthes

Roland Barthes dalam bukunya Mythologies,  menyajikan uraian penjelasan teoritis mengenai metode yang digunakannya untuk membaca sistem-sistem tanda dan produksi tekstualnya dalam media.  Sejumlah subjek dibahas dalam buku tersebut mulai dari iklan, buku panduan wisata, fashion, fotografi, tari telanjang, dan gulat.  Tujuan utamanya adalah mengupas secara kritis wilayah produk-produk dan praktik-praktik budaya, yang dengan demikian melancarkan suatu “kritik ideologi terhadap apa yang disebut bahasa budaya massa” dan “ menganalisis secara semiologis cara bekerjanya bahasa ini” sebagai misal, dalam kajiannya yang lain pada periode yang disebut sebagai masa strukturalis Barthes ini, dia memanfaatkan iklan pasta untuk menunjukkan kesalingtergantungan ideologis antara sistem leksikal dengan tanda-tanda dank ode-kode visual yang berada dalam teks yang sama.

/Panzini/

/Panzini/

Kita bisa menyebut jenis analisis atas citra dan teks ini – yang ia lakukan pula dalam  Empire of Sign — sebagai pendekatan cross – medial. Objek-objek yang ia gambarkan secara visual dalam iklan itu ( spaghetti, saus tomat, parutan keju Parmesan, bawang, merica dan tas dari tali) bisa dikelompokkan ke dalam suatu lingkup leksikal yang dipakai sebagai merek produk itu , /Panzini/. Produk-produk itu tidak berkaitan secara khusus dengan kelompok etnis tertentu, namun dalam lingkup kuliner, menurut iklan itu, bahan-bahan ‘ hidangan spaghetti yang lengkap’ seperti yang nampak dalam foto itu direpresentasikan sebagai sesuatu yang khas ‘Itali ‘ dan, karena itu, memiliki kualitas unggul. Gema otentisitas kultural itu bisa dilihat pada asal-usul nama makanan itu sendiri dan infeksi identitas etnisnya. Karena iklan itu dirancang untuk konsumen Prancis dan bukan Italia, maka bagi Barthes, konotasi ernis nama itu terutama merupakan alat pemasaran yang efektif untuk menciptakan dorongan dan permintaan terhadap produk, dengan menciptakan konteks yang secara tematis mengandung makna tertentu bagi khalayak yang dituju. Kualitas produk itu dikaitkan dengan unsur etnisitas namanya, yang dengan demikian  membangkitkan citra mitis tentang hidangan spaghetti Italia yang otentik, yang bisa  disiapkan di rumah kita sendiri – dalam hal ini Prancis. Iklan itu nampak menyarankan bahwa yang kita perlukan hanyalah  membeli produk itu dan  menikmati pengalaman memasak seperti orang –orang Italia.  Iklan itu sarat dengan anggapan –anggapan stereotype yang laten dalam bentuk representasi. ‘Ke-italia-an’ produk itu terutama terletak pada hubungan dekat atau bergandengan antara kata /Panzini/ dan produk yang ditampilkan, demi menciptakan pergeseran konotasi dari teks leksikal menuju teks visual, yang dengan demikian menghasilkan anchorage (penjangkaran) dan relay (pemancaran pesan). Konsep “anchorage” dan “relay”yang dikembangkan Barthes untuk menganalisis saling-pengaruh antara kata dan citra dalam iklan sangat berguna untuk mengkaji bagaimana jenis teks yang mengandung “kode berkombinasi” ini bisa mendorong dan mengarahkan penciptaan makna secara semiotic. Dalam “anchorage” seperti dijelaskan Barthes, “ teks mengarahkan pembaca, melalui petanda-petanda dari citra, dan menyebabkan pembaca menghindari yang satu dan menerima yang lain….Teks itu mengarahkan si pembaca dari jauh menuju makna yang sudah dipilih sebelumnya”; sedangkan dalam “relay”, teks dan citra berada dalam hubungan komplementer; kata-kata, seperti halnya citra-citra, adalah fragmen-fragmen dari sintagma yang lebih umum, dan pesan direalisasikan pada taraf yang lebih tinggi. Untuk memungkinkan terjadinya penciptaan makna, pesan iklan secara keseluruhan itu mencakup ketergantungan leksikal visual pada “anchorage” sekaligus komplementaritas konstituen-konstituen teksual pada “relay”.

Melalui Mythologies, Barthes  menekankan tugas penting para ahli semiologi untuk membuat identifikasi atas apa yang terkatakan dan tak terkatakan dalam representasi budaya popular. Ini dilakukan dengan menyingkap bias mitos yang diciptakan atau diperkuat ketika subjek kebudayaan itu sendiri mengenakan bentuk tekstual sistem-sistem tanda dan kode-kode. Ideologi adalah inti dari mitologi. Analisis Barthes tentang media dalam Mythologies memperkuat kembali gagasan Marxis mengenai tema ini.

Mythologies sebagai “kiritk  ideologi” berupaya mengungkap dilema etis yang muncul karena mengabaikan mitos yang tidak terkaji sebagai substratum budaya dari apa yang dianggap alami dan nyata dalam dunia kehidupan. Bahaya yang ditangkap Barthes dalam mitos adalah bahwa ia memungkinkan  lapisan-lapisan makna berakumulasi dalam representasinya atas kebudayaan, serta mendorong praktik-praktik yang  tak reflektif. Terjadi “penyalahgunaan ideology” melalui mitos karena terdapat keyakinan terhadap pesan yang tak dipersoalkan lagi.  Status quo norma-norma cultural diperkokoh oleh imajinasi mitologi. Seperti diuraikan Barthes, kebenaran mitos mencirikan “ apa –yang- berlangsung- tanpa- perkataan”. Logika kultural yang dikembangkan lewat mitologi berupaya mereduksi pelbagai perbedaan tafsir dan membatasi kelimpahruahan makna. Dimensi-dimensi ideologisnyamenstrukturkan kerangka tanggapan kita terhadap tanda, teks dan representasi media, dan yang lebih penting terhadap sejarah. Mitos menggeneralisasikan pengalaman demi menghasilkan konsensus tentang bagaimana kita menangkap realitas, menghadapi kondisi kemanusiaan, dan bertindak untuk menunjukkan penghargaan terhadap pelbagai perbedaan dari orang-orang lain sebagai satu komunitas.  Batas-batas etis, sosial dan politik dari masyarakat dan kebudayaan dibingkai oleh mitologi. Mitos menyediakan arkhetipe-arkhetipe interpretatif  untuk menguraikan makna dunia-kehidupan yang kita diami dengan pandangan terhadap masa kini melalui masa silam. Mitologi menghidupkan realitas, menerjemahkan dan menaturalisasikan bagi kita,dengan menyuntikkan taraf-taraf signifikansi idelogis realitas itu.

Sumber :

Trifonas,  Peter Pericles 2003. Barthes dan Imperium Tanda. Yogyakarta : Penerbit Jendela.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 24 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: