WHY INTERVIEW?

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Ya,  “why interview”? Mengapa wawancara (mendalam) itu penting ?  Karena ini satu metode pengumpulan data yang utama dan  tidak bisa dianggap sambil lalu dalam proses penelitian kualitatif. Sayangnya, banyak studi lapangan yang hasilnya tidak maksimal karena perencanaan wawancara yang tidak maksimal. Perencanaan yang buruk tercermin dari alur pertanyaan dan pokok pertanyaan yang tidak sistematis, tidak beranjak dari konseptual teoritis yang tengah ‘dibangun’ dari data di lapangan. Dan ini umumnya baru dirasakan sekaligus disesali ketika penelitian sudah selesai, utamanya penelitian kualitatif yang dilakukan oleh pemula atau mahasiswa ketika mereka menyelesaikan skripsinya.

“I interview because I am interested in other people’s stories”, kata Irving Seidman (1998). Secara umum bisa dikatakan ‘stories’ adalah jalan utama menuju pengetahuan.  Akar kata ‘story’ adalah kata bahasa Yunani yakni ‘histor’, yang artinya orang yang ‘bijaksana’ dan ‘telah belajar’ ( Watkins, 1985). Menceritakan sebuah stories atau kisah menjadi kunci dalam proses menuju tahu (pengetahuan). Ketika orang bercerita, maka dia akan menyeleksi detail dari pengalamannya berdasar alur kesadarannya.  Setiap kisah, menurut Aristoteles, memiliki awalan, tengah dan akhir ( Butcher, 1902). Agar seseorang bisa menyajikan detail dari pengalamannya mulai dari awal-tengah hingga akhir- ia harus bercermin dari pengalamannya. Ada sebuah proses dalam penyeleksian bangunan detail dari pengalaman, bercermin dari diri mereka, mengharuskan mereka untuk menyusun pengalaman tersebut, dan karena itulah maka memahami mereka yang tengah menceritakan kisahnya itu tak lain adalah pengalaman tersendiri (bagi peneliti) dalam proses menuju ke pemaknaan.

Setiap bulir kata-kata yang dipergunakan seseorang ketika menceritakan sebuah kisah sesungguhnya adalah jagat mikro dari kesadaran orang tersebut (Vygotsky, 1987).  Para antropolog sudah sejak lama tertarik pada kisah seseorang sebagai cara untuk memahami kebudayaan mereka, dan sekarang kalangan ilmuwan sosial juga telah mengadopsi metode tersebut dalam riset lapangan mereka.

Kunci yang membedakan manusia dengan makhluk lain di bumi ini adalah kemampuannya untuk melakukan simbolisasi pengalamannya menggunakan bahasa. Memahami perilaku manusia ditempuh melalui pemahaman terhadap bahasa yang mereka gunakan ( Heron,1981). Demikian menurut Heron(1981:20) :

“ The use of language, itself…. contains within it  the paradigm of cooperative inquiry; and since language is the primary tool whose use enables human construing and intending to accur, it is difficult to see how there can be any more fundamental mode of inquiry for human beings into the human condition “

Melakukan wawancara, dengan demikian adalah “ a basic mode of inquiry”. Memerhatikan narasi sebuah pengalaman  menjadi jalan utama yang harus dilalui peneliti dalam merekam kisah hidup di mana di dalamnya seseorang mencoba memaknai pengalaman mereka. Dalam kaitan ini mungkin sebagian orang skeptik mempertanyakan kadar keilmiahan metode ini.   Peter Reason (1981) menulis:

“The best stories are those which stir people’s minds, hearts, and souls and by so doing give them new insights into themselves, their problems and their human condition. The challenge is to develop a human sciences that can more fully serve this aim. The question then,is not “ Is story telling science?” but “Can science learn to tell good stories?”

TUJUAN MELAKUKAN WAWANCARA

Wawancara mendalam dilakukan bukan untuk memeroleh jawaban atau sekedar menguji hipotesis dan juga bukan untuk mengevaluasi sebagaimana konsep yang dipakai dalam penelitian pada umumnya. Inti dari wawancara mendalam tidak lain adalah minat untuk memahami pengalaman informan  dan mengetahui makna yang mereka miliki terhadap pengalamannya tersebut.

Memiliki ketertarikan terhadap orang lain adalah kunci bagi asumsi dasar yang menjadi landasan teknik wawancara. Hal ini menyaratkan kita selaku pewawancara untuk senantiasa  tidak mengutamakan ego kita. Ini menuntut kita untuk selalu menyadari bahwa kita bukanlah pusat dari dunia ini. Ini menuntut perilaku kita selaku pewawancara  menempatkan kisah informan sebagai yang utama.

Schutz (1967) menawarkan sebuah panduan yang sangat penting diperhatikan. Pertama, menurutnya, kita tidak mungkin bisa memahami orang lain dengan sempurna karena itu berarti kita harus memasuki alam kesadaran dan pengalaman yang telah mereka miliki. Kalau kita “bisa” melakukan dengan sempurna maka kita harus “menjadi orang tersebut”.

Menyadari ketidakmampuan kita dalam memahami orang lain tersebut, maka kita bisa menggunakan strategi dalam memahami  perilaku mereka. Schutz ( 1967) memberikan contoh demikian: suatu ketika seorang peneliti memasuki sebuah hutan dan menemui seseorang yang tengah menebang pohon.  Peneliti tersebut bisa mengamati perilaku si penebang pohon dan membuat “pemahaman observasional “ mengenai si penebang pohon. Namun yang dipahami si peneliti sebagai hasil dari pengamatannya tersebut belum tentu sama dengan apa yang si penebang pohon pahami terhadap perilakunya. Untuk memahami perilaku si penebang pohon sepenuhnya, maka peneliti harus menggali “ pemahaman subyektif” si penebang pohon yang tidak lain, mengetahu bagaimana pemaknaan si penebang pohon terhadap perilakunya sendiri dalam menebang pohon. Cara untuk sampai pada pemahaman seperti itu, menurut Schutz, akan membuat peneliti memahami perilaku yang diamati dalam konteksnya  ( dalam contoh di atas,  apakah si peneliti itu menebang pohon untuk dijual, untuk perapian di rumah, atau dibentuk menjadi perabotan tertentu?).

Demikianlah ,wawancara menjadi sarana bagi peneliti untuk sampai pada konteks perilaku yang diamati dan karenanya,  menjadi jalan bagi si peneliti untuk mengetahui makna dari suatu tindakan. Asumsi dasar sebuah wawancara mendalam penelitian adalah : makna yang informan berikan terhadap perilaku mereka akan berimbas pada bagaimana mereka memaknai pengalaman hidupnya.

Bacaan :

Butcher, S.H. 1902. The Poetics of Aristoteles. London : McMillan.

Reason, Peter .1981.Participation in human inquiry. London : Sage

Schutz ,A.  1967. The Phenomenology of the social world. Chicago: Northwestern University Press.

Seidman, E. Sullivan. P. & Schatzkamer,M. 1983. The work of community college faculty : A Study through in depth interviews. Washington DC

Watkins,C. 1985. The American heritage dictionary of Indo –European roots. Boston : Houghton Mifflin.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 23 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: