PANDUAN OBSERVASI

Penelitian kualitatif mengandalkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan catatan data dokumen di lapangan. Dengan demikian, menjadi kewajiban bagi penelitian untuk memiliki catatan lapangan yang nantinya akan menjadi perantara mengenai apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dicium dan diraba oleh panca indera peneliti ketika berada di lapangan.

Robert C Bogdan

Robert C Bogdan

Menurut Bogdan dan Biklen (1982), catatan lapangan adalah catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan dalam proses pengumpulan data dan merupakan refleksi terhadap data penelitian.  Peneliti harus memiliki catataan lapangan seperti ini, karena nantinya akan menjadi dasar analisis dan data lapangan yang sangat banyak itu tidak mungkin dihapalkan oleh peneliti.

Ada tiga macam model catatan lapangan : pertama, catatan observasi (CO); kedua, catatan teori (CT) dan ketiga catatan metodologi (CM). Catatan observasi (CO) merupakan pernyataan mengenai semua peristiwa yang dialami, baik yang dilihat maupun yang didengar oleh peneliti. Pernyataan ini tidak boleh berisi penafsiran terhadap data lapangan yang diobservasi. Artinya, pernyataan ini merupakan catatan sebagaimana  adanya dan memuat data yang sudah teruji keabsahannya. Setiap catatan observasi hendaknya benar-benar mewakili peristiwa yang penting sebagai yang akan dimasukkan ke dalam proposisi yang akan disusun. Catatan observasi  ini merupakan catatan lapangan mengenai apa, siapa, di mana , bilamana, mengapa, dan bagaimana suatu kegiatan manusia dalam setting social penelitian. Artinya menceritakan “siapa mengatakan” atau “melakukan apa” dalan situasi tertentu.  Dan setiap catatan observasi ini hendaknya merupakan suatu kesatuan yang menunjukkan adanya data atau sesuatu yang  sangat  berkaitan dengan peristiwa  atau situasi yang ada  pada catatan observasi yang lain.

Catatan teori (CT) merupakan suatu upaya yang terkontrol dan dilakukan secara sadar untuk memerolah pengertian dari satu atau beberapa catatan observasi. Dalam hal ini, peneliti yang melakukan pencatatan tentunya akan terus memikirkan mengenai pengalamannya dan membuat suatu pernyataan khusus yang dapat menafsirkan apa yang dialaminya sebagai suatu pemikiran yang konspetual. Peneliti akan mengembangkan suatu konsep baru, menghubungkannya dengan konsep yang lama, atau menghubungkannya dengan aspek-aspek yang lain.

Catatan metodologi (CM) merupakan suatu pernyataan yang berisi tindakan operasional yang memiliki pengaruh terhadap suatu aktivitas observasi yang direncanakan atau yang sudah diselesaikan. Dengan demikian, catatan metodologis ini merupakan instruksi, peringatan atau kritik terhadap peneliti sendiri, baik mengenai masalah waktu, tata urutan aktivitas yang dilakukan, pertahapan langkah, pengaturan situasi dan tempat, maupun taktik yang digunakan oleh peneliti.

Bentuk catatan lapangan  di atas terdiri dari halaman depan dan halaman-halaman selanjutnya yang disetai degan petunjuk paragraf dan batas tepi. Halaman depan setiap catatan  lapangan berisi sejumlah informasi yang berhasil diperoleh peneliti, waktu melakukannya ( tanggal dan jam), serta  catatan lapangan tersebut. Paragraf dalam catatan lapangan merupakan tanda adanya perbedaan pokok persoalan yang terdapat dalam catatan lapangan tersebut. Dan batas tepi kanan harus diperlebar dari biasanya sebagai tempat untuk memberi  kode tertentu pada saat melakukan analisis data.

Sari Knopp Biklen

Sari Knopp Biklen

Selanjutnya Bogdan dan Biklen (1982)  juga menjelaskan bahwa pada dasarnya catatan lapangan  terdiri dari dua bagian, yaitu bagian deskriptif dan bagian reflektif.

Bagian deskriptif merupakan bagian yang terpanjang yang berisi deskripsi mengenai latar pengamatan, orang, tindakan, pembicaraan, peristiwa dan pengalaman yang  didengar dan yang dilihat oleh peneliti, yang harus dicatat secara lengkap dan objektif, dan tentunya uraian dalam bagian ini sangat rinci. Bagian deskriptif berisi hal-hal sebagai berikut:

  1. Gambaran diri subjek, pada gambaran ini yang dicatat adalah penampilan fisik, cara berpakaian, cara bertindak , gaya berbicara dan dengan catatan yang  diperolah diharapkan peneliti mampu menemukan sesuatu yang boleh jadi berbeda dari diri subjek tersebut.
  2. Rekonstruksi dialog, pada tahapan ini peneliti berusaha melakukan dialog dengan subjek yang diteliti untuk memeroleh masukan dari subjek yang diteliti. Karena itu, dalam rekonstruksi dialog ini, peneliti harus mampu melakukan pencatatan secara lengkap terhadap semua masukan yang diperoleh dari subjek tersebut, meskipun hal itu merupakan masalah pribadi yang diungkapkan oleh subjek yang diteliti.
  3. Deskripsi latar  fisik, pada deskripsi latar  fisik ini dimaksudkan untuk memerolah gambaran dan sketsa secara verbal mengenai semua yang diamati,sehingga peneliti memeroleh kesan yang utuh terhadap subjek yang diamati.
  4. Catatan mengenai peristiwa khusus, pada tahap ini mungkin saja peneliti akan menemukan suatu yang aneh atau khusus yang ditemukan di lapangan, baik menyangkut oada diri subjek, siapa saja yang terlibat di dalamnya, apa saja yang dilakukan, sampai kepada kronologis peristiwa yang terjadi secara khusus atau aneh tersebut.
  5. Gambaran kegiatan, untuk memeroleh gambaran kronologis mengenai perilaku yang  terjadi  di lapangan  baik menyangkut diri subjek yang diamati maupun mengenai setting social yang terjadi, peneliti harus mendeskripsikan perilaku dan tindakan yang khusus tersebut.
  6. Perilaku pengamat, tahapan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara deskriptif mengenai berbagai gejala atau penampilan fisik, reaksi, tindakan serta sitasu yang dilakukan oleh pengamat dalam kapasitasnya sebagai instrument.

Bagian Reflektif. Bagian ini merupakan catatan lapangan yang berisi kerangka berpikir dan pendapat peneliti, gagasan dan kepeduliannya. Pada bagian ini disediakan tempat khusus untuk menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan peneliti itu sendiri, baik mengenai spekulasi, perasaan, masalah, ide , sesuatu yang mengarahkan, kesan dan prasangka. Bagian refleksi atau tanggapan peneliti ini bertujuan untuk memperbaiki catatan lapangan dan memperbaiki kemampuan melaksanakan penelitian di masa yang akan datang.

Bagian refleksi ini berisi hal-hal sebagai berikut:

  1. Refleksi mengenai analisis, yakni tanggapan peneliti berisikan tentang sesuatu yang dipelajari, mulai munculnya tema pengamatan, pola umum yang mulai kelihatan, terdapatnya kaitan antara beberapa penggalangan data yang diperoleh, serta timbulnya pemikiran baru.
  2. Refleksi mengenai metode, refleksi mengenai metode berisikan prosedur atau langkah-langkah, strategi dan taktik yang dilakukand I dalam penelitian, disamping berisikan mengenai situasi dan perasaan baik senang maupun tidak senang, serta masalah metodologis lain yang ditemukan di lapangan. Ketika peneliti memeroleh adanya masukan (input) dan gagasan (ide) mengenai subjek yang diteliti, maka peneliti harus mencatat masukan dan saran tersebut ke dalam fieldnotes, kemudian peneliti berusaha menyikapinya. Dengan demikian, refleksi mengenai metode ini akan berguna bagi peneliti dalam bentuk memikirkan masalah metodologis yang dihadapi sekaligus juga berupaya membuat keputusan.
  3. Refleksi mengenai masalah etik dan konflik, pada tahap ini, konflik dan benturan budaya peneliti dengan budaya subjek yang diteliti kemungkinan besar akan terjadi, dengan demikian, peneliti dihadapkan kepada sejumlah persoalan yang dapat merintangi jalannya penelitian.  Karena itu peneliti sebelum turun ke lapangan , harus mencatat hal-hal yang harus dihindari dengan maksud untuk memberikan kebebasan bergerak bagi peneliti dalam menguraikan persoalan dan kemudian memberikan solusi atau cara menghadapi subjek yang diteliti tersebut.
  4. Refleksi mengenai kerangka berpikir peneliti, pada tahap ini, penelitian yang dilakukan haruslah terlepas dari adanya pengaruh gagasan, pikiran dan pengetahuan yang  dimiliki terlebih dahulu mengenai subjek yang akan diteliti, hal ini diperlukan, agar peneliti tidak bersifat subjektif terhadap subjek yang diteliti. Akan tetapi, karena peneliti sebelumnya melakukan penelitian terhadap subjek yang diamati, telah terlebih dahulu terikat oleh adanya kepercayaan, kebiasaan, asumsi, pengalaman, ide politik, latar belakang budaya atau etika,pendidikan, suku bangsa, agama jenis kelamin dan lain sebagainya. Maka sebagai akibatnya, ketika dilakukan pengumpulan data di lapangan, semua unsur tersebut di atas akan tetap  akan berperan dalam diri  peneliti. Ketika hal itu terjadi maka peneliti ingin untuk melakukan pencatatan teradap peristiwa secara deskriptif, akan menjadikan unsure tersebut sebagai dasar dalam mengajukan argument, pendapat, asumsi dan lain-lain, dengan demikian, pada tahapan ini peneliti akan memaparkan argument, pendapat dan asumsinya secara lebih luar.
  5. Klarifikasi, pada tahapan ini, perolehan data, informasi dan kejadian dari lapangan melalui catatan lapangan seringkali mengalami kesalahan atau justru membingungkan dalam menafsirkannya, dengan demikian, peneliti akan melakukan klarifikasi mengenai data, informasi maupun kejadian yang telah dilakukan sebelumnya.

Bacaan :

Bogdan, Robert C., dan Sari Knopp Biklen,1982.  Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston : Allyn and Bacon.

Mukhtar,2007. Bimbingan Skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah: Panduan Berbasis Penelitian Kualitatif Lapangan dan Kepustakaan. Jakarta : Gayung Persada Pers

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 13 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: