CARA KERJA HERMENEUTIK

Pada dasarnya semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Sebuah meja di sini atau bintang di angkasa berada begitu saja. Benda-benda itu bermakna pada dirinya sendiri. Hanya subjek yang kemudian member i ‘pakaian’ arti pada objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif dan saling menghubungkan diri satu sama lain, seperti ‘bapak ‘dan ‘anak’. Seseorang akan disebut demikian karena ada yang lain dan hubungan ini bersifat  timbal balik. Tanpa subjek, tidak akan ada objek.  Sebuah benda menjadi objek karena kearifan subjek yang menaruh perhatian atas benda itu. Arti dan makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bermakna sama sekali.

Edmund Husserl

Edmund Husserl

Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti dan makna muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasar situasi objek, semuanya adalah sama saja. Dari sininilah kita lihat keunggulan hermeneutik.

Semua interpretasi mencakup pemahaman. Namun pemahaman itu sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir ulung maupun psikolog tidak pernah mampu untuk menetapkan kapan seseorang mulai  mengerti. Sebagai contoh misalnya :  kapan seseorang dinyatakan mengetahui adanya bahaya laten? Kapan saatnya seorang anak dinyatakan sudah memahami matematika? Dapatkah kita melihat tepatnya waktu seseorang menangkap arti sebuah kalimat yang diucapkan?

Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus mengerti dan memahami. Namun keadaan ‘lebih dahulu mengerti’ ini bukanlah didasarkan atas penentuan waktu, melainkan bersifat alamiah.  Sebab, menurut kenyataan, bila seseorang mengerti, ia sebenarnya telah melakukann interpretasi, dan juga sebaliknya. Ada kesertamertaan antara mengerti dan membuat interpretasi. Keduanya bukan dua momen dalam satu proses. Mengerti dan interpretasi menimbulkan ‘lingkaran hermeneutik’

Emilio Betti

Emilio Betti

Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail porses interpretasi. Ia juga harus merumuskan sebuah metodologi yang akan dipergunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap interpretasi objektif yang diharapkan. Betti mencoba memahami ‘ mengerti’ juga menurut gayanya sendiri. Ia memandang interpretasi sebagai sarana untuk mengerti.

Kegiatan interpretasi adalah proses yang bersifat ‘triadik’ (mempunyai tiga segi yang saling berhubungan). Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsiran sendiri. Orang yang akan melakukan interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan teks, lalu ia harus meresapi isi teks itu sendiri. Oleh karena itulah, dapat kita pahami bahwa mengerti secara sungguh-sungguh hanya akan dapat berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar ( correct). Sesuatu arti tidak akan kita kenal jika tidak kita rekonstruksi.

Hukum Betti (tentang interpretasi) yang terkenal, yaitu sensus non est inferrendus sed efferendus ( makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan ) bersifat instruktif. Jadi, seorang penafsir tidak boleh bersikap pasif, ia harus merekonstruksi makna. Lalu, apa yang akan menjadi alatnya, kalau alat itu bukan cakrawala intelektual penafsir, pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakang kebudayaan dan sejarah yang ia miliki?

Dalam bukunya yagn berjudul Sein und Zeit, Martin Heidegger menyibukkan diri dalam  pembahasan yang panjang  tentang hermeneutic terhadap Dasein, yaitu istilah yang dipergunakannya untuk menyebut ‘manusia’. Dasein selalu diketemukan dalam kepadatan atau kerangka waktu :yang lampau sebagai Befindlichkeit , sekarang sebagai Rede dan yang  akan datang sebagai Verstehen. Dalam setiap kepadatan waktu diketemukan kerangka waktu yang tidak menentu (kacau). Manusia autentik, yaitu Dasein, memiliki ciri khas dalam masa lampaunya sebagai Befindlichkeit ( dalam kondisi ditemukan) atau ditemukan dalam kebebasannya. Dasein kemudian secara mendadak sadar akan beban yang berat karena ia dilahirkan di dunia. Kekinian Dasein atau Rede (ucapan bahasa ) adalah artikulasi dari penemuan diri di masa lampau dan antisipasi ke masa depan. Tetapi kekinian menemukan Dasein tersembunyi dalam situasi dan manusia hanya dapat mempertahankan autentisitasnya dengan melakukan aktivitas dalam kerangka waktu sekarang. Dasein sadar  bahwa masa depannya itu bergantung kepada dirinya sendiri, dan bukan pada nasib atau kemujuran.

Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konteks ruang dan waktu di mana manusia sendiri mengalami atau menghayatinya. Untuk memahami Dasein, kita tidak bisa lepas dari konteks, sebab kalau di luar konteks yang akan kita lihat hanya menusia semu yang artifisial atau hanya buatan saja. Manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat di mana ia berada. Dengan kata lain, setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami di dalam situasinya.

Bila kita jabarkan lebih lanjut argumentsi tentang hermeneutic ke ruang lingkup yang lebih luas, akan kita dapatkan bahwa setiap objek tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama, atau sebagaimana disebut Karl Jaspers dengan istilah das Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu. Pada kenyataannya tidak ada objek yang berada dalam keadaan terisolir, setiap objek berada dalam ruang. Selalu dalam kerangka referensi, dimensi, sesuatu batas, nyata atau semu, yang semuanya member ciri khusus pada objek.

Kita harus kembali kepada pengalaman orisinal para penulis (teks) dengan maksud menemukan ‘kunci’ makna kata-kata  atau ungkapan. Kita mengungkapkan diri kita sendiri melalui bahasa sehari-hari. Tetapi seringkali kita juga dapat meragukan sendiri apakah pengalaman-pengalaman mental atau pkikiran yang ada di balik bahasa benar-benar sudah terungkapkan secara meyakinkan. Teks atau naskah kitab suci atau dokumen-dokumen lain yang ditulis berdasarkan ilham ilahi, sejarah, hukum ataupun kesustraan yang seakan-akan dalam keadaan ‘di atas’ juga menggunakan bahasa sehari-hari. Akan tetapi semua itu tidak akan dapat dimengerti tanpa harus ditafsirkan. Kita bisa menafsirkan isi sesustu teks dengan menggunakan bahasa yang kita pakai sendiri. Bahkan selalu ada sejunlah penafsiran atau intepretasi yang didasarkan atas berbagai segi ruang dan waktu. Tetapi penafsiran –penafsiran ini telah dimodifikasi menurut aliran waktu.

Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesustraan atau linguistic, hukum, sejarah, agama dan disiplin yang lainnya yang berhubungan dengan teks, namun akarnya adalah tetap filsafat.

Demikianlah, Paul Ricoeur dan Jacques Derrida menulis hermeneutik dalam kesustraaan, padahal keduanya adalah para filsuf. Martin Heidegger dan Hans- Georg Gadamer berkecimpung dalam dunia metafisika dan seni , namun mereka juga diakui sebagai para filsuf. Friedrich Schleiermacher adalah seorang penafsir hukum dan Wilhem Dilthey adalah hermeneut bidang sejarah, namun keduanya juga pelopor hermeneutik  filosofis.

Bacaan :

Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 11 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: