HERMENEUTIKA

Friedrich Schleiermacher

Friedrich Schleiermacher

Hermeneutika atau ilmu atau teori penafsiran, dapat dilacak kembali ke peradaban barat klasik yang berasal dari Judea, meskipun pandangan modern mengenai hal tersebut cenderung dengan dimulainya karya  Schleiermacher, salah seorang tokoh Romantik Jerman yang terkenal. Yang menjadi perhatian utama hermeneutika kalau hal ini dikatakan dengan studi teks ialah masalah yang diciptakan oleh kenyataan bahwa teks-teks yang ditulis di masa lampau terus ada dan dibaca sementara para penulisnya dan kaitan historis yang menghasilkan karya-karya tersebut sudah tidak ada. Oleh sebab itu, membaca teks-teks semacam itu menjadi tak terpisahkan dengan masalah penafsiran. Sebelum masa modern hermeneutika mencurahkan perhatian utama pada cara bagaimana membaca teks-teks keagamaan seperti Alkitab. Misalnya, apakah Alkitab itu perlu dilihat hanya sebagai teks sebagaimana adanya dan dibaca begitu saja, ataukah pemahaman mengenai Kitab Suci tersebut perlu melewati penerimaan atas doktrin-doktrin gereja? Schleiermarcher dianggap sebagai pendiri hermeneutika modern, karena,  meskipun ia tertarik dengan penafsiran Alkitab, ia memperluas makna hermeneutika melewati batas- batas keagamaan dengan hasil bahwa hermeneutika bisa diterapkan untuk menafsirkan  teks-teks yanag sifatnya lebih umum.

Sumbangan utama Schleiermacher ialah menjadikan ‘pemahaman’ sebagai perhatikan utama teori hermenueutika. Ia mengalihkan perhatian dari kesulitan-kesulitan membaca teks yang disebabkan oleh adanya kekurangan-kekurangan atau pertentangan-pertentangan dan mengarahkan perhatian kepada persoalan persyaratan yang diperlukan sebelum berusaha memahami teks-teks tersebut. Dengan begitu penafsiran memeroleh arahan  teoritis. Menurut pendapatnya, pemahaman memiliki dua aspek pokok, yaitu : yang gramatikal dan yang kejiwaan, atau yang lisan maupun tertulis, haruslah menjadi bagian dari sistem kebahasaan dan hal itu tak akan bisa dimengerti kalau seseorang tidak memiliki pengetahuan mengenai struktur sistem tersebut.  Tetapi pengucapan seperti itu juga merupakan hasil manusia dan harus difahami dalam hubungannya dengan kehidupan orang yang mengucapkannya. Kedua aspek ini harus diingat di dalam penafsiran. ‘Hukum Pertama” dari ‘Penafsiran Gramatikal’ ialah sebagai berikut:

‘Penemuan yang lebih pasti mengenai hal apa saja yang ada dalam suatu teks harus diputuskan berdasarkan penggunaan bahasa yang umum dipakai oleh penulis dan orang awam yang semula dituju’

‘Hukum kedua’ berbunyi : ‘Makna setiap kata dalam wacana harus ditentukan oleh konteks yang memuat kata tersebut’. Dalam membicarakan ‘Penafsiran Teknis’ ia menulis: ‘Sebelum memulai penafsiran teks seseorang  harus terlebih dahulu mempelajari cara bagaimana penulis menerima pokok persoalannya dan bahasa, dan hal-hal yang lain yang perlu diketahui sehibingan dengan cara khas penulisnya sewaktu menulis’. Penafsiran teknis itu terdiri dari dua cara, yang disebut dengan terkaan yang ‘diilhami’ dan ‘perbandingan’

Dengan menuntun penafsir untuk mengubah dirinya sendiri menjadi penulis, demikian diistilahkan, metode ini berusaha untuk mendapatkan pengertian secepatnya mengenai penulis sebagai indiviu. Metode perbandingan melanjutkannya dengan memasukkan penulis ke dalam kelompok umum. Selanjutnya, cara ini berusaha menemukan ciri-ciri yang menonjol dengan cara membandingkan penulis tersebut dengan yang lainnya dalam kelompok yang sama. Pengetahuan ilhami ini merupakan kekuatan feminism dalam mengetahui orang, sedangkan perbandingan merupakan kekuatan maskulin.

Wilhelm Dilthey

Wilhelm Dilthey

Pendekatan Schleiermacer tergadap hermeneutika dikembangkan lebih lanjut kemudian pada abad ke Sembilan belas olah Wilhem Dilthey. Ia  membedakan antara ilmu pengetahuan kemanusiaan, yaitu ilmu-ilmu budaya dasar dan ilmu-ilmu social, dan ilmu-ilmu alam. Karena ilmu alam mengarahkan perhatian pada data yang tidak ada kaitannya dengan kesadaran manusia, penafsiran menjadi berbentuk penjelasan ( Erklaren). Ia membatasi ‘pemahaman’ pada ilmu-ilmu kemanusiaan oleh karena dalam bidang tersebut penafsiran terarah pada hal-hal yang dihasilkan oleh kegiatan menusia. Hermenuutika Dilthey berusaha memberikan landasan filosofis dan metode yang handal untuk mempelajari  ilmu-ilmu kemanusiaan. Ia meninggalkan pandangan Schleiermacer yang menyatakan bahwa pemahaman hanya terbatas pada pengetahuan terhadap bahasa dan konteks suatu teks serta kesubjektivitasan penciptanya. Sebaliknya ia menganggap bahwa pemahaman merupakan hal yang hakiki dalam proses kehidupan manusia : yaitu apa yang disebutnya dengan ‘kategori kehidupan’. Maksudnya ialah bahwa manusia secara terus menerus berusaha menemukan dirinya sendiri dalam berbagai situasi yang dalam situasi tersebut ia harus berusaha memahami apa yanga sedang terjadi dengan maksud agar dapat bertindak atau mengambil keputusan. Oleh karena itu, pemahaman tidak dapat dipisahkan dengan pengertian kita mengenai manusia : tindakan memahami terdiri dari apa yang disebutnya dengan ‘ pengalaman hidup’. Meskipun ide-ide ini dapat diterapkan dalam banyak hal dibandingkan dengan yang hanya sekedar menafsirkan teks yang tertulis, Dilthey menganggap bahwa bentuk penafsiran tertinggi sebagai berikut:

Yang  kita sebut dengan eksplikasi ialah pemahaman secara metodologis mengenai ungkapan-ungkapan kehidupan yang sudah terpateri tetap. Karena pikiran yang hidup itu menemukan pengungkapan yang lengkap, menyeluruh, dan bisa dimengerti secara objektif hanya dalam bahasa, maka eksplikasi merupakan puncak dalam penafsiran catatan tertulis mengenai keberadaan manusia. Seni inilah yang kendasari dasar filologi. Sedang hermeneutika adalah ilmu  mengenai seni ini.

Menurut Dilthey, tugas utama hermeneutika ialah menganalisa pemahaman dan penafsiran dan penafsiran menurut pengertian filsafat karena keduanya itu telah berkembang dalam berbagai ilmu pengetahuan kemanusiaan.

Dengan tradisi hermeneutika Shleiermacher-Dilthey inilah khususnya Shleiermcher, E.D. Hirsch mengidentifikasikan diri dan dari keduanya pula Kritik Baru dan hermeneutika Gadamer berasal. Hirsch dangat setuju dengan kutipan pernyataan Schleiermacher berikut: “Segala sesuatu dalam suatu teks yang memerlukan penafsiran selengkapnya harus dijelaskan dan ditentukan secara terpisah dari kawasan kebahasaan yang difahami secara umum oleh penulis dan pembacanya semula”

Sumber :

Newton,K.M.,1990. Menafsirkan Teks. Pengantar Kritis kepada Teori dan Praktek Penafsiran Sastra. Terjemahan Soelistia M.L. Semarang: IKIP Semarang Pers.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 Mei 2013.

Satu Tanggapan to “HERMENEUTIKA”

  1. Reblogged this on rizky ari wibowo and commented:
    recomended nih bacaannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: