Semiologi

Saussure

Saussure

Semiologi adalah ilmu umum tentang tanda. Dalam definisi Saussure, semiologi merupakan sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat dan, dengan demikian, menjadi bagian dari disiplin psikologi sosial. Semiologi berdasarkan pengertiannya tentang tanda-tanda yaitu yang terdiri dari signifier (penanda) dan yang ditandakan (konsepnya) dan berkaitan dengan apa itu tanda-tanda, hukum yang mengaturnya, dan bagaimana mereka dapat diaplikasikan untuk seni, ritus-ritus, dan semua cara dari fenomena budaya. Para ahli semiotik Prancis tetap mempertahankan istilah semiologi yang Saussurean ini bagi bidang-bidang kajiannya. Dengan cara itu mereka ingin menegaskan perbedaan antara karya-karya semiotik yang kini menonjol di Eropa Timur, Italia dan Amerika Serikat

Charles S. Peirce

Charles S. Peirce

Istilah semiotic, yang dikembangkan pada akhir abad 19 oleh filsuf Aliran Pragmatik Amerika, Charles S. Peirce, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda-tanda”.  Peirce memfokuskan pada atribut-atribut tanda yang bersifat ikonik, indeksikal dan simbolik.  Yang menjadi dasar dari semiotik adalah konsep tentang tanda : tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiripun—sejauh terikat dengan pikiran manusia— seluruhnya terdiri dari tanda-tanda karena, bila tidak demikian, manusia tak akan dapat menjalin hubungannya dengan realitas. Bahasa itu sendiri merupakan suatu sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda-tanda non-verbal seperti gerak-gerik,  bentuk-bentuk pakaian, serta beraneka praktik sosial konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermanka yang dikomunikasi atas dasar relasi-relasi.

Semiotika terdiri atas dua aliran utama: pertama yang bergabung dengan Peirce dan tidak mengambil contoh dari ilmu bahasa; dan kedua, yang bergabung  dengan Saussure dan menganggap ilmu bahasa sebagai penanda , guru atau pengajar .  Dari aliran utama yang kedua sementara ini terdapat sedikitnya tiga aliran:

Yang pertama adalah semiologi komunikasi. Aliran ini ditekuni oleh para  peneliti yang memelajari tanda sebagai bagian dari proses komunikasi, dalam arti bahwa tanda hanya dianggap  tanda sebagaimana yang dimaksudkan pengirim dan demikian juga diterima oleh penerima. Rambu lalulintas merupakan contoh yang baik untuk itu. Rambu-rambu itu ditempatkan di sepanjang jalan oleh penerima dengan maksud agar para pemakai jalan mengenalinya sebagai tanda dan menginterpretasikannya. Antara pengirim dan penerima tidak terjadi salah paham : merah berarti larangan. Ini merupakan kesepakatan, gambling : sebuah sinyal. Apabila pengertian tanda seperti di atas kita pergunakan dalam melihat bahasa, maka kita hanya akan mengarahkan perhatian kita pada tanda bahasa  sebagaimana yang ditawarkan pemakai bahasa dan pada arti yang dpunyai tanda bahasa. Ini secara gambling serta sesuai kesepakatan. Dengan perkataan lain, para semiolog komunikasi hanya memerhatikan petunjuk langsung dari tanda bahasa tersebut, yaitu denotasi.  Pengikut aliran ini adalah Buyssens, Prieto dan Mounin.

Yang kedua adalah semiologi konotasi. Aliran ini memelajari masalah-masalah , katakanlah, tanda tanpa sengaja  dan konotasinya. Tokoh lairan ini utamanya Roland Barthes. Salah satu terapannya  adalah dalam karya sastra,yang tidak sekedar membatasi diri pada analisis secara semiotic, tetapi juga menerapkan pendekatan konotatif pada berbagai gejala kemasyarakatan. Di dalam karya sastra ia mencari arti “kedua” yang tersembunyi dari gejala struktur tertentu. Dalam gejala kemasyarakat, misalnya mode, ia mencari arti tanpa sengaja tersebut.

Pada cabang semiotika kedua ini kemudian timbul cabang yang ketiga yang meluas dengan cepat, sehingga kemudian disebut sebagai semiotika ekspansif. Aliran ini terutama dijelmakan oleh Julia Kristeva. Ciri aliran ini ialah adanya sasaran akhir untuk kelak mengambil alih kedudukan filsafat. Karena begitu terarahnya pada sasaran, semiotic jenis ini terkadang disebut ilmu total baru ( de niewu totaalwetenschap). Dalam semiotika jenis ini pengertian ‘tanda’ kehilangan tempat sentralnya. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti.

Bacaan :

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotka.Yogyakarta: LKiS

Zoest, Aart van. 1993. Semiotika: tentang tanda, cara kerjanya dan apa yang kita lakukan dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 8 Mei 2013.

Satu Tanggapan to “Semiologi”

  1. Reblogged this on rizky ari wibowo and commented:
    semiologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: