KONOTASI

Roland Barthes

Roland Barthes

Biasanya konotasi mengacu pada makna yang menempel pada suatu kata karena sejarah pemakaiannya. Akan tetapi, di dalam semiologi Roland Barthes, konotasi dikembalikan lagi secara retoris. Menurut dia, terdapat dua jenis sistem signifikansi. Sistem pertama berada di dalam lapis denotasi, sedangkan sistem kedua di dalam lapis konotasi. Sebuah sistem konotasi adalah sistem yang lapis ekspresinya sendiri sudah berupa penandaan : pada umumnya kasus-kasus konotasi terdiri dari sistem-sistem kompleks yang di dalamnya bahasa menjadi sistem pertama, misalnya seperti pada sastra.

Konotasi, sebagai sistem yang tersendiri, tersusun oleh penanda-penanda, petanda-petanda, serta proses yang memadukan keduanya ( signifikansi ). Penanda-penanda konotasi disebut konotator – terbentuk oleh tanda-tanda (kesatu-an antara penanda dan petanda) dari sistem pertama, sistem denotasi. Sementara itu, petanda-petanda konotasi, yang sekaligus berkarakter general global dan tersebar merupakan fragmen ideologi, yang menjalin hubungan komunikasi yang sangat erat dengan kebudayaan, pengetahuan, dan sejarah. Melalui petanda-petanda ini, dapat dikatakan, dunia atau lingkungan sekitar teresapkan  ke dalam sistem. Mungkin dapat dikatakan juga bahwa ideologi merupakan forma dari petanda-petanda konotasi, sementara retorik adalah forma dari penanda-penanda konotasi.

Sebuah ilustrasi: perhatikan sebuah objek yakni boneka Barbie yang sering terpampang di etalase toko mainan anak-anak. Secara denotatif boneka Barbie tidak lain adalah sebuah boneka yang panjangnya 11,5 inchi dan mempunyai ukuran 5,25 – 3 – 4,25 inchi.  Boneka ini dibuat pertama kali pada tahun 1959. Sedangkan makna konotasinya akan sedikit berbeda karena terkait dengan sebuah kebudayaan yang tersirat dalam  pembungkusannya. – tentang makna yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut juga dihubungkan dengan kebudayaan Amerika, tentang gambaran apa yang dipancarkan dan akibat yang akan dtimbulkannya, dan lain-lain.

Makna konotasi dari beberapa tanda akan menjadi semacam  mitos atau  mitos petunjuk ( dan menekan makna-makna tersebut). Rosalinda Coward dan John Ellis dalam bukunya Language and Materialism: Developments in Semiologi and The Theory of Subject menjelaskan mengenai mitos sebagai berikut: Mekanisme suatu mitos adalah cara gambaran-gambaran biasa terikat pada objek dan penerapannya sehingga makna-makna ideologis menjadi tampak alami dapat diterima dengan akal sehat. Jika demikian maka akan ada dua sistem kebermaknaan : makna denotatif dan konotatif, “bahasa –objek” ( film, mainan anak, makanan, mobil seperti benda yang dilambangkan ) dan mitos yang terkait mengandung makna konotatif yang membahasakannya secara tidak langsung.

paris_matchSebagian besar proses semiologis adalah kegiatan menguraikan mitos tersebut dari makna denotasi yang terkandung. Barhes, dalam bukunya Mithologies menampilkan sebuah ilustrasi sebagai berikut: Saya berada di sebuah tempat pemangkasan rambut dan disodori fotocopyan majalah Paris-Match. Pada halaman sampul terpajang wajah seorang prajurit negro berkebangsaan Perancis sedang menghormat dengan matanya yang memandang ke atas, mungkin dalam warna aslinya berasal dari gabungan tiga macam warna. Ketiga warna tersebut merupakan makna yang terkandung dalam gambar tersebut. Tetapi apakah naif atau tidak, saya menangkap makna tersebut demikian adanya: bahwa Peranscis adalah negara besar, seluruh warganya tidak mengenal deskriminasi warna kulit, menghormati menjunjung tingga bendera kebangsaan. Dan tidak akan menjumpai seorangpun yang akan mencela kolonialisme, tetapi semangat yang tampak dalam diri seorang negro yang membaktikan diri pada para penindas.

Secara historis yaitu kolonialisme dan militerisme Perancis, saat ini menjadi hal yang wajar, sesuatu yang harus diterima apa adanya, diterima tanpa pertimbangan lebih jauh.

Secara teknis, Barthes menyebutkan bahwa mitos merupakan urutan kedua dari sistem semiologis di mana tanda-tanda dalam urutan pertama pada sistem itu ( yaitu kombinasi antara petanda dan penanda) menjadi penanda dalam sistem kedua ( 1972:114). Dengan kata lain, tanda pada sebuah sistem linguistik mejjadi penanda d alam sebuah sistem mitos dan kesatuan antara penanda dan petanda dalam sistem itu disebut “ penandaan”. Barthes menggunakan istilah khusus untuk menggambarkan penanda dalam mitos sebagai bentuk dan petanda sebagai konsep. Kombinasi kedua  istilah seperti tersebut di atas, merupakan penandaan.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 7 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: