Percakapan dengan Fenomenologi (2)

Edmund_Husserl_1900Fenemonemologi sebagai metode dalam filsafat Husserl

Dalam tulisan ini akan dipaparkan fenomenologi sebagai metode dalam filsafat Edmund Husserl. Edmund Husserl dilahirkan di Prossnitz (Moravia) pada tahun 1859. Pada masa hidupnya dia pernah menjadi guru besar di Halle, Gottingen dan Freiburg . Ahli pikir yang sangat giat bekerja itu mengakhiri hidupnya pada tahun 1938. Bersama-sama dengan Berguson, Husserl adalah tokoh yang sangat besar pengaruhnya dalam alam pikiran dewasa ini. Dari karangan-karangannya yang sangat banyak jumlahnya belum semua diterbitkan dan tentang yang sudah terbit itu penyelidikan belum selesai. Barangkali nanti akan nampak lebih lagi jasa-jasa raksasa pikir itu kepada bangsa manusia. Sebagai buku yang terkenal tersebutlah Logische Untersuchungen, yang kerapkali akan diingat dalam tulisan ini.

Untuk mengerti metode Husserl harus kita ingat dahulu tujuannya. Tujuan Husserl ialah untuk merangkan bahwa pengertian kita itu betul-betul mempunyai “Rechtsanspruch auf Gegenstandlichkeit”. Artinya kita mengerti dan dalam pengertian itu kita berkata bahwa pengertian itu mempunyai objek (Gegenstand). Akan tetapi betulkah itu? Dengan ini sebetulnya dipersoalkan kebenaran pengertian kita pada umumnya. Dan yang dengan langsung dimaksud oleh Husserl terutama ialah kebenaran ilmu pengetahuan pada khususnya.

Untuk mencari pemecahan soal ini harus dilihat pendirian kita sehari-hari dalam mengalami pengertian. Mungkin di situ ada hal-hal yang menggelapkan, yang mempersukar atau  merintangi tercapainya kebenaran. Kita mempunyai pendirian yang biasa dan spontan atau dengan istilah Husserl : “naturliche Einstellung”. Apakah itu isinya?

“Saya sadar akan dunia (Welt),  hanya meluas dengan tak terbatas, yang selalu menjadi dan sudah jadi dengan tak berhenti-hentinya”

Saya sadar akan dunia, itu artinya terutama  bahwa dunia dengan langsung nampak (anschaulich) kepadaku, bahwa dunia ku-alami. Aku melihat, aku mendengar, aku meraba-raba, aku menangkap dunia dengan macam-macam cara dengan inderaku, dan karena itu maka dunia itu dengan langsung ada di depanku. Dengan kata-kata ini Husserl mulai paparannya tentang pendirian kita sehari-hari dalam mengalami pengertian. Hewan-hewan, manusia, barang-barang, pendek kata apa yang termuat dalam pengalaman kita sehari-hari, semua itu dengan spontan kita akui sebagai objektif. Jika kita rumuskan, maka keyakinan kita itu dapat dikatakan demikian : “Die Welt ist als Wirklichkeit immerda”.

Teranglah sekarang apa yang disebut pendirian yang biasa itu. Akan tetapi pengertian itu bagi filsafat belum  cukup. Untuk memerolah kebenaran yang sesempurna-sempurnanya ia harus berpikir, ia harus bermenung atas kejadian itu. Sebab dalam pendirian yang spontan itu termuat juga unsur-unsur yang subjektif. Barangsiapa hendak mengerti barang-barang itu sendiri, barangsiapa menghendaki penangkapan “reine Wesenschau”, harus berani meninggalkan pendirian yang biasa itu. Kesibukan ini oleh Husserl dinamakan “phanomenologische Reduction”. Reduction artinya penyaringan. Apakah yang disaring? “ Erlebnisse” atau pengalaman-pengalaman kita. Dan jika sudah disaring, apakah nanti yang tinggal? Hanya fenomenon dalam wujud yang semurni-murninya.

Untuk mengerti jalan pikiran Husserl ini perlu diingat, bahwa sebelum diadakan penyaringan, pertemuan kita dengan realitas itu disebut fenomenon atau lebih singkat : fenomen. Akan tetapi fenomen itu belum murni. Barang-barang nampak kepada kita. Dalam pendirian yang biasa, kita tidak mempunyai minat kecuali atas barang-barang. Barang-barang itu kita bicarakan, karena nampak. Akan tetapi penampakan atau fenomen seakan-akan tidak kita hiraukan.

Dengan kata lain demikian: dalam mengalami fenomen kita tidak terutama memandang fenomen, melainkan memandang “barang yang di belakangnya”. Jadi yang kita utamakan : ialah realitas, yang di luar dan tidak fenomennya sendiri yang ada di dalam kesadaran kita.

Dengan cara lain lagi: kita mengalami fenomen atau penampakan realitas kepada kita. Fenomen itu selalu menunjuk barang di luar kesadaran kita. Kita biasanya terus begitu tertrarik ke realitas dan karena “hanyut” maka kita terus saja mengakui ini dan itu. Dalam semua itu pengertian kita sebetulnya tidak murni. Kita mempunyai banyak parasangka (assumptions), kita mempunyai banyak perasaan, kita mempunyai pendirian yang tertentu dsb. Semua itu kita masukkan saja dalam pengertian kita. Sekarang untuk mencapai pengertian yang murni kita harus berani hanya melihat fenomen quo fenomen.

Bagaimanakah jalannya? Lihatlah fenomen itu selalu berkata : aku ini ada. Dengan istilah Husserl : fenomen selalu menunjukkan ‘ Seinsgeltungnya’. Akan  tetapi manusia tidak, atau paling sedikit : tidak boleh menyerah saja! Manusia ( masing-masing dari kita) dalam semua pengalaman selalu dan sangat  cenderung untuk mengdakan “affirmasi” atau mengakui : ya ini  memamg ada, itu memang begitu, dsb. Nah itu harus ditahan. Janganlah berkata begini atau begitu, janganlah dikatakan sesuatu keputusan (Urteil). Tahanlah semua keputusan. Tundalah tiap-tiap pikiran tentang ada di luar kesadaran. Pandanglah saja apa yang kita alami saja dalam kesadaran kita.

Perkataan menahan, menunda sebetulnya kurang tepat. Yang dimaksud di sini istilah Husserl “Einklammern” yang bisa kita terjemahkan dengan ‘mengurung’. Demikianlah jelasnya: jika kita membaca sebuah uraian yang sukar, maka untuk mengerti intisarinya, kita memasang banyak tanda kurung. Hal-hal yang kita anggap perlu saja, kita kurung dulu. Aneka sebab yang diajukan, kita kurung dulu. Sebab apa? Sebab kita hanya hendak mengerti intisari uraian dulu. Demikianlah juga yang kita lakukan dengan Husserl, jika kita mengadakan penyaringan secara fenomenologis.

Fenomen itu dapat dipandang menurut dua sudut. Sudut pertama ialah : fenemon selalu menunjuk keluar atau berhubungan  dengan realitas di luar pikiran. Janganlah kita sekali-sekali dipikir, demikianlah Husserl. Fenomenon itu juga dapat dipandang dari lain sudut: ialah menurut hubungannya dengan kesadaran kita. Fenomenon selalu melekat dalam kesaran kita selalu “immanent” atau berada dalam kesadaran kita. Dalam mengadakan penyaringan seperti yang dimaksud oleh Husserl kita harus hanya memandang sudut yang terakhir itu saja. Jadi fenomen harus kita pandang sebagai fenomen saja. Jadi di sini fenomen tidak lagi berarti : nampaknya barang-barang melainkan gejala atau penampakan di depan kesadaran manusia.

Dan apakah yang tinggal sesudah penyaringan itu ? Hanya fenomen yang semurni-murninya. Dalam memandang suatu hal, katakan saja misalnya, agama, bahasa, adat-istiadat, kita kerapkali penuh dengan pendapat-pendapat dari orang lain, misalnya dari nenek moyang kita, dari ilmu-ilmu pengetahuan, dsb. Semua itu sudah kita kurung. Juga pendapat-pendapat dan perasaan-perasaan kita sendiri sudah kita kurung. Jadi kita hanya melihat fenomen belaka, fenomen semurni-murninya.

Sudah selesaikah jalan Husserl? Belum ! Sekarang tibalah saatnya untuk mengadakan pembersihan yang kedua, yang oleh Husserl disebut : ideation, atau membuat ide. Perbuatan ini juga disebut reduktion, akan tetapi sekarang bukan lagi phanomenologisch, melainkan “eidetisch” artinya dalam dan dengan penyaringan itu kita sampai ke-eidosnya, sampai ke intisarinya, sampai ke yang sejatinya atau wesennya. Sebab itu hasil dari penyaringan itu disebut juga “wesenschau”, artinya di sini kita melihat hakekatnya dari sesuatu. Dan ini, hanya inilah pengertian yang sebenarnya, demikianlah Husserl.

Untuk terangnya berikut kita simak suatu contoh, misalnya pandangan tentang manusia. Banyak sekali dalil-dalil dari tradisi dari ilmu pengetahuan, misalnya bahwa manusia itu hanya sama saja dengan kera dsb. Semua itu harus dikurung saja. Tinggallah manusia seperti gejala yang kita alami. Itu harus kita analisis. Gemuk atau kurus, merah atau putih, bagus atau jelek, semua itu harus dilihat apakah masuk intisari atau tidak. Yang sekiranya sampai ke-eidos atau idea tentang manusia. Di sini idea bukanlah idea khusus, yang konkrit. Bukan, di sini kita sampai ke -idea yang niscaya, jadi yang mengatakan hekekat atau intisari yang sejatinya dari realitas yang kita sebut manusia itu.

Orang tidak perlu setuju dengan seluruh pikiran Husserl. Akan tetapi haruslah kita akui, bahwa jalan (methodos) yang dipaparkan oleh Husserl itu sangat berguna dalam semua ilmu pengetahuan yang memandang manusia dan kehidupannya, pada umumnya dalam Geistewessenschaften.

(Sumber :  Prof. Dr. N. Drijarkara. 1964. Pertjikan Filsafat. PT Pembangunan. Djakarta. Hal: 124-127 )

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 25 Januari 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: