PERCAKAPAN DENGAN FENONEMOLOGI

Fenomenologi dalam sketsa sederhana

husserlTulisan ini mencoba menghadirkan beberapa sketsa sederhana, yang berupa percakapan dengan dan tentang fenomenologi. Kita menggunakan istilah “percakapan dengan” karena tiap-tiap pengetahuan adalah percakapan dengan apa yang biasanya disebut dengan objeknya. Sejarah misalnya, tidak lain adalah bentuk percakapan dengan masa lalu dari manusia.  Dalam ilmu alam manusia mengadakan dialog dengan alam fisik. Denga metodenya, dengan alat-alatnya, manusia bertanya.  Dan alam membuka diri untuk menjawabnya.

Demikianlah juga halnya filsafat, barangkali terutama dalam filsafat. Jika kita mempelajari aliran positivisme kita harus mengadakan percakapan dengan positivisme. Dan sekarang dalam sketsa-sketsa yang akan dibentangkan ini kita berdialogia dengan fenomenologi.

Pertanyaan pertama yang muncul adalah : apakah fenomenologi itu? Pertanyaan itu bisa dijawab dengan berkata bahwa fenomenologi adalah aliran filsafat yang kira-kira 100 tahun yang lalu dimulai oleh seorang filsuf Jerman bernama Edmund Husserl dan bahwa aliran itu sekarang sangat berpengaruh di seluruh dunia. Akan tetapi dengan jawaban itu kita masih ada dalam kegelapan. Apakah misteri aliran itu? Itulah pertanyaanya!

Prof. dr. P De Bruin S.J dalam Bijdragen (1952:374) menuliskan “setelah bertahun-tahun belumlah orang berhasil memberi pengertian yang tepat tentang phaenomenologi”. Dan itu tak perlulah heran. Sebab, Edmund Husserl sendiri yang menjadi bapak fenomenologi pada permulaan belumlah mengerti dengan terang apakah yang dimaksud dengan fenomenologi. Dia mengakui murid-muridnya bisa menangkap apa yang dimaksud olehnya meskipun dia sendiri kerapkali mengadakan “selbstmissverstandis” (kekeliruan). Sebabnya karena dia masih belum bisa melapaskan diri dari cara-cara berpikir dan pendapat-pendapat yang lama, sedangkan generasi muda tidak tertekan oleh warisan itu.

Baru pada tahun 1913 – jadi 13 tahun sesudah buku Loginsche Untersuchungen yang terkenal itu – bagi Husserl sendiri menjadi terang apa sebetulnya yang dimaksud dengan pembaharuannya itu. (Nota,1941:208 )

Dan apakah sekarang yang dimaksud oleh Husserl? Dalam fenomenologi kita harus membedakan doktrin dengan metode. Manakah intisari fenonemologi sebagai metode dan manakah sebagai doktrin menurut Husserl masih akan kita bentangkan nanti. Cukuplah untuk kini, jika kita membedakan antara fenomenologi Husserl dan lain-lain penganjur. Sebab  itu kita berkata: menurut Husserl.

Sebab meskipun semua yang merasa menganut fenomenologi mendasarkan pendapatnya kepada Logische Untersuchungen dari Husserl, namun dalam aliran fenomenologi ada banyak variasi. Husserl sendiri kemudian memandang idealisme sebagai hasil yang terakhir dari metodenya, sedangkan Dietrich von Hildebrand dan Edith Stein mendarat di atas realisme. Pada umumnya dapat dikatakan, bahwa para penganut fenonemologi terutama pada dewasa ini mengakui realisme dan bahwa idealisme merupakan aliran yang praktis sudah ditinggalkan. Namun dari perbedaan di atas, kita bisa mengerti mengapa sejarah filsafat denggan Landgrebe berbicara tentang fenomenologi yang berhaluan idealisme. (Husserl sendiri) dan fenomenologi yang berhaluan realisme.

Jika fenomenologi, meskipun ada yang realistis dan ada yang idealistis, dan  kadang-kadang diabdikan kepada theism kadang kepada pantheisme atau atheism, toh disebut suatu titik yang sama.  Andaikata tidak ada titik pertemuan sama sekali, mengapakah dapat disebut dengan satu nama?

Baiklah penyelidikan kita mulai dengan mengamat-amati kata dulu. Fe-no-me-no-lo-gi. Kita terus saja mengucapkan istikah itu, dengan rasa seolah-olah istilah itu tidak asing bagi banyak orang siapapun juga. Padahal , barangkali banyak telinga yang baru pertama kali menangkap istilah itu. Fenomenologi. Nah itulah istilahnya, sekali lagi kita perdengarkan dan bagaimana keterangan menurut tatabahasa?

Fenomenologi tersusun dari fenomenon dan logos. Kata “logos” yang disini menjadi logi tak perlu diterangkan, karena sudah dikenal dlam banyak susunan seperti : sosiologi, biologi, dsb. Yang  minta keterangan istilah kata “fenomenon”. Akar kata yang termuat dalam istilah itu samalah dengan akar kata-kata : fantasi, fantom, fosfor, foto yang artinya : sinar, cahaya. Dari akar kata itu dibentuk suatu kata kerja yang antara lain berarti : nampak, terlihat bercahaya, bersinar. Dari kata-kerja itu tersalur kata : fenomenon. Artinya sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya. Dalam bahasa kita: gejala.

Jadi fenomenologi berarti : uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri. Menurut cara berpikir dan berbicara filsafat dewasa ini dapat juga dikatakan : percakapan dengan fenomenon atau sesuatu yang sedang menggejala.

Dengan keterangan ini mulai nampaklah tendensi yang terdalam dari aliran fenomenologi yang sebetulnya merupakan cita-cita dan jiwa dari semua filsafat: ialah ingin pengertian yang benar, yang sedalam-dalamnya. Filsafat itu haus akan pengertian yang benar. Pengertian yang benar ialah pengertian yang menangkap realitas dan menangkap menurut tuntutan realitas itu sendiri.

Di manakah kita menangkap realitas? Dalam pengertian kita.  Di situlah kita bertemu dan bersatu dengan realitas. Dalam pertemuan itu realitas menampakkan diri, menggejala. Akan tetapi rupa-rupanya juga menyembunyikan diri. Aneh bukan? Akan tetapi bukankah demikian halnya? Pengertian kita tentang sesuatu bisa bertambah, menjadi lebih sempurna. Bertambah dan menjadi lebih sempurna, karena kita menyelidiki,karena kita bertanya terus bertanya. Bukankah itu bukti, bahwa realitas itu dengan mengejalanya atau menampakkan diri dan barulah lebih membuka diri jika kita bertanya? Orang biasa dalam perjumpaannya dengan alam terus bertanya. Ahli atom bertanya, dan terus menerus bertanya. Dan hasilnya: alam membuka rahasianya yang sangat dalam, sangat mengagumkan dan menakutkan itu.

Demikianlah juga filsuf bertanya. Bertanya kepada fenomenon. Mengapa bertanya? Untuk menghilangkan kabut yang menyelimuti realitas, yang menggejala kepada kita itu. Relitas mewahyukan diri akan tetapi bersama itu juga berkerudung (onthulling – verhulling). Kita berusaha menghilangkan atau mengurangi kerudung itu. Dan apakah juga terlihat dalam usaha itu ? Keyakinan, bahwa kita bisa melihat yang sebenarnya dalam fenomenon.

Dan juga menyebabkan kabut itu tidak hanya realitas yang kita hadapi melainkan juga kita sendiri. Konsepsi –konsepsi kita, cara-cara kita berpikir, suasana hidup kita kadang-kadang merupakan kabut tebal. Dan konsepsi-konsepsi, cara-cara berpikir, suasana dsb. Yang menggelapkan  itu aslinya tidak hanya dari diri kita sendiri melainkan juga ditanam, dimasukkan ke dalam hati sanubari kita oleh jaman yang kita alami. Demikianlah juga bagi Husserl dan manusia Eropa pada waktu itu. Alam pikiran waktu itu, terangnya aliran-aliran filsafat yang menguasai manusia waktu itu, menjauhkan manusia  dari pengertian yang sebenarnya, menjauhkan manusia dari realitas.

Teranglah sekarang apa yang merupakan titik pertemuan dari semua penganut aliran fenomenologi : 1) Keyakinan bahwa manusia kita mengerti yang sebenarnya dalam fenomenon. Keyakinan ini tidak hanya berupa pengertian, melainkan juga : dorongan . 2) Rasa tertekan, rasa kegelapan dalam kabut itu, yang menjauhkan manusia dari pengertian yang sebenarnya. 3) Dalam konflik yang timbul dari keadaan itu, manusia menerobos kabut, hendak melepaskan diri dari kegelapan. Dan mendengunglah teriak Husserl: “Nach den Sachen selbat”.

Kita harus menerobos kabut sampai ke-realitas sendiri.

Nampaklah sekarang juga, bahwa pembaharuan cara berpikir yang dilahirkan oleh Husserl itu merupakan reaksi. Reaksi terhadap aliran-aliran dan cara berpikir waktu itu. Skeptisisme atau serba sangsi mengajarkan, bahwa pengertian yang sebenarnya itu tidak ada. Meskipun pendirian itu pada hakikatnya tidak tahan uji, namun terutama waktu itu sangat berpengaruh dan menggelapkan budi manusia. Terhadap aliran itu Husserl berseru : “Nach den Sachen selbat”.

Idealisme waktu itu masih merajalela. Menurut aliran itu manusia tidak mengerti realitas, melainkan hanya mengerti pikirannya sendiri. Pun aliran itu merintang pengertian yang benar. Dan terhadapnya Husserl beerteriak : “Nach den Sachen selbat”.

Macam-macam relativisme mengajarkan bahwa pengertian yang  benar untuk semua orang itu tidak ada.  Benar atau tidak itu tergantung dari yang mengerti. Terhadap aliran itu Husserl mendengungkan suaranya. “ Lihatlah toch realitas sendiri!”, “Nach den Sachen selbat”. Dan terhadap scientistis rasionalisme dan materialism juga tidak mau mengerti adanya realitas di laur realitas indera, melantanglah suara jiwa yang asli : “Nach den Sachen selbat”.

Teranglah sekarang kesatuan yang kita dapat dalam semua aliran fenomenologi : ialah hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamat-amati fenomenon atau pertemuan kita dengan realitas.

Bagaimanakah Husserl sendiri menjalankan penyelidikan ini? Dan bagaimanakah hasilnya? Nanti akan kita pelajari dalam bagian selanjutnya ( Bersambung)

Sumber :  Prof. Dr. N. Drijarkara. 1964. Pertjikan Filsafat. PT Pembangunan. Djakarta. Hal: 120-124

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Januari 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: