Motif dan Kepuasan Penggunaan Media

Motif Penggunaan Media

Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang meliputi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Ardiyanto, 2005: 87).

Motivasi adalah sebab, alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia. Dengan kata lain motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dorongan disini adalah desakan alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup.

Dalam definisi tersebut motif jika dihubungkan dengan konsumsi media berarti segala alasan dan dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang menggunakan media dan tujuannya menggunakan media tersebut. Seleksi terhadap media yang dilakukan oleh khalayak disesuaikan dengan kebutuhan dan motif.

McQuail (1991: 72)  membagi motif penggunaan  media oleh individu ke dalam empat kelompok. Adapun pembagian tersebut adalah:

  1. Motif Informasi
    1. Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, dan dunia.
    2. Mencari bimbingan berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan.
    3. Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum.
    4. Belajar, pendidikan diri sendiri.
    5. Memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.
  2. Motif Identitas Pribadi
    1. Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi.
    2. Menemukan model perilaku.
    3. Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain dalam media.
    4. Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
  3.  Motif Integrasi dan Interaksi Sosial
    1. Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain..
    2. Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki.
    3. Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial.
    4. Memperoleh teman selain dari manusia.
    5. Membantu menjalankan peran sosial.
    6. Memungkinkan diri untuk dapat menghubungi sanak keluarga, teman, dan masyarakat.
  4. Motif Hiburan
    1. Melepaskan diri dari permasalahan.
    2. Bersantai.
    3. Memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis.
    4. Mengisi waktu.
    5. Penyaluran emosi.
    6. Membangkitkan gairah seks.

Individu-individu menggunakan media massa karena didorong oleh motif-motif tertentu yang dicarikan pemuasannya melalui media tertentu pula, meski betapa pun kecilnya pemuasan yang dapat dilakukan media tersebut. Dari berbagai motif yang mendorong menggunakan media, akan tumbuh semacam harapan yang dicarikan pemuasannya melalui media tersebut. Hal ini akan menimbulkan suatu pola perilaku penggunaan media sebagai perwujudan dari motif yang ada.

Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya (Uno, 2008:1).

Allan Rubin (dalam Morissan, 2010:270) menemukan bahwa alasan atau motivasi orang menggunakan media dapat dikelompokkan kedalam sejumlah kategori yaitu untuk menghabiskan waktu, sebagai teman (companionship), memenuhi ketertarikan (excitement), pelarian, kesenangan, interaksi sosial, memperoleh informasi dan untuk mempelajari konten media tertentu.

Pada umumnya motivasi juga mempunyai sifat siklus (melingkar), yaitu motivasi timbul, memicu perilaku kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai, motivasi itu terhenti. Tetapi akan kembali ke keadaan seperti semula apabila ada sesuatu kebutuhan lagi (Walgito, 2002:169). Rosengren mendefinisikan kebutuhan sebagai infrastruktur biologis dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua perilaku sosial manusia dan bahwa sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis menyebabkan kita beraksi dan bereaksi (dalam Lull, 1998:117). Kebutuhan berasal dari “pengalaman sosial” dan bahwa media massa sekalipun kadang-kadang dapat membantu membangkitkan khalayak ramai suatu kesadaran akan kebutuhan tertentu yang berhubungan dengan situasi sosialnya (McQuail dkk dalam Lull, 1998:117).

Kepuasan Penggunaan Media

Penggunaan media menurut pendapat Snow (dalam Tubbs, 2000: 212) adalah untuk menciptakan dan memelihara perilaku rutin dan juga untuk membantu memelihara ritme dan suasana hati. Sejauh orang menjadwalkan penggunaan media sehari-hari, interaksi dengan media membutuhkan ritme dan tempo tersendiri. Misalnya membaca surat kabar pada jam yang sama di pagi hari, selalu mendengarkan laporan cuaca pada jam tertentu dari stasiun radio tertentu, dan secara teratur mengikuti acara-acara televisi setiap minggu. Bagi sebagian orang kegiatan harian ditata berdasarkan interaksinya dengan media.

Sebagian orang menggunakan media untuk memudahkan aktifitas nonmedia. Dalam keadaan ini, suasana hati yang diciptakan ritme internal dan ritme medium menjadi sangat penting. Kita dapat membaca kisah misteri ketika pergi berlibur, mendengarkan musik ketika belajar, dan mendengarkan acara berbincang-bincang ketika mengendarai mobil. Snow berpendapat bahwa bila interaksi dengan media meningkat, media menjadi sumber utama dalam pengembangan ritme dan tempo dalam individu dan seluruh masyarakat (Tubbs, 2000:21)

Penyebab penggunaan media terletak dalam lingkungan sosial atau psikologis yang dirasakan sebagai masalah dan media digunakan untuk menanggulangi masalah itu (pemuas kebutuhan). Sejumlah masalah dan kebutuhan khas yang berkaitan dengan informasi, hubungan sosial, hiburan, pembelajaran dan pembangunan sosial. Apabila penggunaan media hampir seluruhnya tidak selektif, maka ia tidak menyandang arti yang terkait pemakai dan dalam kadar apapun yang signifikan sehingga tidak dapat dianggap sebagai alat pemecahan masalah (McQuail, 1991: 217).

Kebutuhan didefinisikan oleh Katz, Gurevitch dan Haas (Effendy, 2000: 294) mengungkapkan kebutuhan individu ditentukan oleh lingkungan sosial (social environment). Lingkungan sosial tersebut meliputi ciri-ciri afiliasi kelompok dan ciri-ciri kepribadian. Mereka mengkategorisasikan kebutuhan individual (individual’s need) sebagai berikut:

  1. Cognitive needs (Kebutuhan kognitif):

Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan pemahaman melalui lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga memuaskan rasa penasaran kita dan dorongan untuk penyelidikan kita.

2.   Affactive needs ( Kebutuhan afektif)

Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan, dan emosional.

3.  Personal integrative needs (Kebutuhan pribadi secara integratif)

Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Hal-hal tersebut diperoleh dari hastrat akan harga diri.

4.      Social integrative needs (Kebutuhan sosial secara integratif)

Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia. Hal-hal tersebut berdasarkan hasrat untuk berafiliasi.

5.    Escapist needs (Kebutuhan pelepasan)

Kebutuhan yang berkaitan dengan menghindarkan tekanan, ketegangan, dan hasrat keanekaragaman.

Kepuasan atau pemenuhan kebutuhan yang didapat audiens merupakan efek dari penggunaan media. Efek media dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberikan kepuasan (Rakhmat,  1998: 66).

Menurut Rosengren, Wenner dan Palmgreen (Rosengren, 1985: 27);

In the early to met 1970s, a number of media scholars stressed the need to destinguish between the motives for media consumtion or gratifications sought (GS) and the gratifications perceived to be obtained (GO) from this experience ( pada awal hingga pertengahan 1970) penelitian media menekankan kebutuhan untuk membedakan antara motif dari penggunaan media atau kepuasan yang dicari (GS) dan penggunaan media dan kepuasan yang diharapkan didapat dari pengalaman tersebut (GO).

Berikut adalah model harapan nilai yang dikemukakan oleh Fishbein yang menghubungkan antara GS dan GO.

Bagan 1 Expectancy Value Model of GS and GO

Drawing upon Fishbein’s models of attitude and behavioral attention, we have postulated that gratification sought from media experience are a function of both beliefs (expectations) that audience members attributes (dalam Rosengren, 1985:63). (Berdasarkan gambar model sikap dan perhatian perilaku dari Fishbein, kita telah merumuskan bahwa kepuasan yang dicari  dari pengalaman bermedia merupakan fungsi dari kepercayaan (harapan) yang dimiliki anggota khalayak tentang sumber media dan evaluasi sikap yang mereka tambahkan dari atribut media).

Salah satu riset uses and gratifications yang saat ini berkembang adalah yang dibuat oleh Philip Palmgreen. Kebanyakan riset uses and gratifications memfokuskan pada motif sebagai variabel independen yang mempengaruhi penggunaan media. Palmgreen kendati juga menggunakan model tertentu, namun konsep yang diteliti oleh model Palmgreen tidak terhenti disitu, dengan menanyakan apakah motif-motif khalayak itu dapat dipenuhi oleh media. Dengan kata lain apakah khalayak puas setelah menggunakan media. Konsep kepuasan ini disebut dengan Gratifications Sought (GS) dan Gratifications Obtained (GO). Gratifications Sought adalah kepuasan yang dicari atau yang diinginkan individu ketika mengkonsumsi suatu media tertentu (TV, Radio, Internet, Koran). Sedangkan Gratifications Obtained adalah kepuasan yang nyata yang diperoleh seseorang setelah mengkonsumsi suatu jenis media tertentu (Rosengren, 1985: 27).

Pertama periset akan mengukur GS (Gratifications Sought) dan GO (Gratifications Obtained). Dari sini periset dapat mengetahui kepuasan khalayak berdasarkan kesenjangan antara GS dengan GO. Dengan kata lain, kesenjangan kepuasan (discrepancy gratifications) adalah perbedaan perolehan kepuasan yang terjadi antara skor GS dan GO dalam mengkonsumsi media tertentu. Semakin kecil discrepancy-nya, semakin memuaskan media tersebut.

Referensi :

Ardianto, dan Erdinaya. 2005. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, cetakan Kedua. Simbiosa Rekatama Media. Bandung.

Effendy, Onong U. 1993. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. PT Citra Aditya Bakti. Bandung.

Lull, James. 1998. Media Komunikasi Kebudayaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

McQuail, Denis. 1991. Teori Komunikasi Massa. Erlangga. Jakarta.

Morissan. 2010. Psikologi Komunikasi. Ghalia Indonesia. Bogor.

Uno, Hamzah B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Bumi Aksara. Jakarta.

Walgito, Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum.Andi Yogyakarta

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 23 Desember 2012.

3 Tanggapan to “Motif dan Kepuasan Penggunaan Media”

  1. Wah…kayane Nyong ra teyeng nyaingi produktivitasmu nulis ki Mas…kalah start terus. Hehehe

  2. Penjelasannya bagus sekali mas mengenai motif dan kepuasan pengguna media. Saya minta izin mengutip bagian motif untuk skripsi saya boleh tidak mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: