Studi Pascakolonial dalam Film

adi blankon new

  • Mengapa Relevan?

Film, sebagaimana media lainnya, adalah aparat ideologis di mana subjek dikondisikan secara ideologis  untuk menerima sistem dan nilai-nilai yang ada. ( ingat ISA’s dari Louis Althusser)

Kritik Ania Loomba dalam Colonialism/Postcolonialism (1998)

  • Analisis2 tentang masyarakat “pascakolonial” terlalu sering bekerja dengan pengertian bahwa kolonialisme adalah satu-satunya sejarah dari masyarakat2 tersebut. Bukankah harus ditanya juga, apa yang terjadi sebelum pemerintahan kolonial? Ideologi2, sistem hierarki, dan praktek2 kehidupan seperti apa yang sudah ada di sana dan yang kemudian berinteraksi dalam proses kolonisasi?
  • Sebab kolonialisme tidak menuliskan diri pada halaman kosong sejarah sebuah masyarakat, sehingga kolonialisme tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya atas semua yang terjadi di dalam masyarakat pascakolonialisme.

Istilah pascakolonial kurang memadai dalam mendefinisikan realitas saat ini terhadap negara-negara yang dulu pernah dijajah sebab proses penguasaan yang dialami lewat bentuk-bentuk dan sistem-sistem baru belumlah berhenti.Beberapa Pemikiran Pokok Teori Pascakolonialisme.

1. Kolonialisme dan imperialisme

Dalam pemahaman kontemporer imperalisme tidak memerlukan penguasaan atas negara lain secara langsung. Imperialisme lebih sebagai sistem global yang melakukan penetrasi bidang ekonomi,politik bahkan budaya.

2. Wacana Kolonial.

Michel Foucalt : wacana merupakan batasan wilayah dari pengetahuan sosial, sebuah sistem pernyataan yang didalamnya dunia dapat diketahui. Wacana merupakan tanda-tanda dan praktek2 yang mengorganisasikan eksistensi sosial dan kompleks sosial.

3. Oposisi Biner

Oposisi biner merupakan bentuk paling ekstrim dari perbedaan yang mungkin terjadi.

Misal : perempuan>< laki-laki; hitam ><putih;beradab><primitif dst.

Teori feminis dan strukturalis menunjukkan peran konsep biner dapat memunculkan hierarki kekerasan di mana satu kategori yang beropisisi selalu lebih dominan daripada kategoru lainnya.

4. Feminisme dan Gender

Pelbagai pengalaman perempuan dalam masyarakat patriarki dan subjek2 yang dikolonisasi dapat dipararelkan sebagai  perhatian dan opsi perjuangan dari gerakan feminis dan politik pascakolonial yang beroposisi dengan sistem dominasi. Feminisme memberi perhatian  terhadap bahasa yang berperan dalam membentuk identitas dan mengkonstruksi subjektivitas.

5. Ideologi dan Identitas.

Dalam pemikiran pascakolonialisme, pengertian ideologi erat kaitannya dengan pemikiran Karl Marx dan Engels ( Ideologi sebagai kesadaran yang melenceng yang menyembunyikan hubungan riil orang-orang dengan dunia mereka. )

Simpulan :

  • Studi Pascakolonialisme mengambil bentuk kritik literatur ( termasuk dalam konteks kita kritik film)
  • Pendekatan ini relevan mengingat film sudah telanjur dijadikan sarana di mana persoalan identitas senantiasa dipersoalkan. Melalui Kritik pascakolonialisme dalam film kita mencoba menggali bagaimana bentuk “kekerasan epistemis”  ini mendompleng dalam media ini entah dalam wujud sistem patriarkal, ideologi pasar, maupun homogenisasi dan standartisasi bahasa dan pemikiran.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Desember 2012.

Satu Tanggapan to “Studi Pascakolonial dalam Film”

  1. […] hubungan sosial dan kemanusiaan lewat penciptaan pengetahuan dan kekuasaan. Kedua, pengaruh dari teori postkolonial yang memfokuskan analisisya pada representasi dan kekuasaan sebagai suatu konstruksi sosial. Studi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: