POLITICAL COMMUNICATION (Denis McQuail)

Pengantar

Materi dalam bab ini menguraikan berbagai isu penting berkaitan dengan komunikasi politik, termasuk peran sentral yang dimainkan media cetak dalam perkembangan demokrasi politik; kaitan antara media massa dengan politik massa dan propaganda;peranan media massa dalam kampanye pemilu dan terbentuknya pendapat umum; komunikasi politik sebagai salah satu bentuk “represi yang ditoleransi”; dan isu-isu polecy media kontemporer; terakhir kecenderungan perkembangan riset komunikasi politik di masa mendatang.

SEJARAH

Surat kabar menjadi sarana utama komunikasi politik sejak abad 18 s.d. pertengahan abad 20. Fungsi surat kabar dalam masa ini : melaporkan peristiwa politik; sebagai platform dalam ekspresi pendapat politik; sarana bagi partai dan organisasi politik dalam mengutarakan ideologinya;senjata yang dipakai dalam percaturan antar kekuatan politik; “watchdog” bagi tindakan pemerintah.

DEFINISI DAN CAKUPAN  KAJIAN KOMUNIKASI POLITIK

Secara umum komunikasi politik bisa didefinisikan sebagai segala proses transmisi informasi ( termasuk fakta, opini, keyakinan, dll ), pertukaran dan pencarian yang dilakukan oleh partisipan di dalam  aktivitas politik  yang dilembagakan.

Di dalam pelaksanaannya komunikasi politik mencakup kegiatan :

1. aktivitas yang ditujukan untuk membentuk,menggerakkan, dan menyelanggarakan partai politik

2. segala bentuk kampanye yang diorganisasikan untuk menggalang kekuatan dukungan politik untuk kepentingan partai, kebijakan atau pemerintah dengan cara mempengaruhi opini dan perilaku publik

3. berbagai proses yang melibatkan ekspresi, pengukuran dan penyebaran juga managemen pendapat umum ( termasuk informal, diskusi interpersonal )

4. aktivitas media massa di dalam melaporkan atau memberi komentar terhadap peristiwa politik

5. proses-proses informasi publik dan debat yang berkaitan dengan kebijakan-jebijakan politik

6. sosialisasi informasi politik dan pembentukan dan penguatan kesadaran politik

MEDIA MASSA DAN POLITIK MASSA

Kajian komunikasi politik selama abad 20an diwarnai oleh trend adanya politik massa. Dengan ini maka, peran pemimpin politik untuk mengendalikan pilihan individu dalam sebuah masyarakat menjadi penting

Isu sentral yang menjadi perhatian adalah : peranan dan pengaruh pers yang makin terkomersialisasi, khususnya di dalam mempengaruhi keseimbangan kekuatan di antara pemerintah mapan dan para penentang dari kalangan sosialis atau kelompok radikal; tantangan yang dihadapi dalanm “propaganda” lalu adalah bagaimana mendapatkan dukungan popularitas dan bagaimana menciptakan perencana kampanye yang profesional dan ilmiah dengan  mengunakan segala sarana komunikasi dan teknik komunikasi dan pengukuran opini

MEDIA MASSA DAN PARTAI POLITIK

Pertanyaan mendasar yang dihadapi dalam kaitan antara media massa dengan partai politik adalah hubungan antara pers dan partai politik dan bagaimana status kepemilikan dan monopoli sarana komunikasi yang ada.

Menurut Seymor-Ur ( 1974 ) terdapat tiga sifat dasar hubungan politis antara surat kabar dan partai politik :

1. hubungan organisasional – surat kabar menjadi milik suatu partai dan dirancang untuk melayani kepentingan dan tujuan partai

2. mendukung tujuan partai – surat kabar bisa menentukan untuk mendukung suatu partai lewat editorialnya dan secara konsisten membela kebijakan-kebijakan partai tersebut ( misal. Di AS dan Eropa kontionental sampai dengan PD II

3. hubungan yang terbentuk antara pembaca dan dukungan yang diberikan kepada suatu partai

Isu seputar kepemilikan media pada mulanya dilandasi ketakutan mendasar bahwa pers dengan modal besar yang menjadi penopang suatu partai akan mendominasi sirkulasi infomasi dan mempengaruhi opini publik  secara langsung. Namun, dengan adanya perkembangan koorperasi modern yang memiliki tujuan beragam serta kepentingan multinasional, sekarang ini makin berkurang ditemui surat kabar yang mengikatkan diri kepada suatu partai tertentu. Lahirnya alternatif media komunikasi  yang ditawarkan radio dan televisi  diantaranya juga dikarenakan adanya ketakutan akan monopoli kapitalis terhadap pers

PROPAGANDA

Propaganda menjadi awal studi komunikasi politik modern, khususnya menanggapi adanya pemanfaatan sarana komunikasi ( pers dan film) selama dan setelah  PD I guna mempromosikan patriotisme dan ideologi lainnya)

Konsep “propaganda”  memiliki konotasi negatif karena dikaitkan dengan bentuk komunikasi persuasif di mana : komunikasi adalah semata untuk tujuan si pengirim dan bukan si penerima juga bukan demi kepentingan bersama; melibatkan kontrol dalam derajad yang tinggi dan pengendalian sumber; tujuan dan kadang identitas si sumber seringkali disembunyikan. Secara umum propaganda adalah bersifat manipulatif yang kuat bersifat searah dan memaksa ( Jowet & Donnell 1987 )

Riset propaganda yang dilakukan pada tahun 1940-an dan 1950-an kendati demikian menunjukkan bahwa individu memiliki kemampuan untuk tidak terpengaruh oleh pesan-pesan persuasif manakala terjadi konflik dimana memunculkan opini dan opini yang ada lebih terkait pada keyakinan personal atau ketika norma dari suatu kelompok sosial atau kelompok rujukan lebih kuat mempengaruhi individu.

Dalam konteks tersebut lahirlah konsep ‘two- step flow ‘ of communication yang mengatakan bahwa suatu pesan politik seringkali harus melewati kelompok kecil yang berpengaruh atau pemimpin opini, di mana merekalah yang mendorong terciptanya efek yang semula direncanakan ( Lazarsfeld, et al. 1944 )

RISET KAMPANYE PEMILU

Studi sistematis terhadap komunikasi dalam pemilu dimungkinkan karena adanya perkembangan teknik pengukuran sikap dan pendapat dan metode analisis statistik multivariat. Meski demikian kajian tersebut hanya terbatas pada studi efek jangka pendek  dan tidak bisa digunakan untuk menguji efek perubahan politik jangka panjang atau pada institusional

Dalam konteks di atas Televisi tampil menjadi media komunikasi yang utama sebagai sarana kampanye.TV memiliki reputasi sebagai media yang memiliki kemampuan manipulatif. Disinilah lahir konsep  “pseudoevent” yang digunakan untuk menggambarkan berita-berita artifisial bentukan.

Riset dalam komunikasi politik, khususnya tentang kampanye ini menandaskan pentingnaya penggunaan berbagai sarana kampanye oleh para politisi dan fungsi kampanye bagi publik.Bagi media, kampanye menjadi lahan utama yang menarik ditawarkan publik di antara berita-berita yang lainnya. Bagi publik, kampanye pemilu menawarkan berbagai keuntungan: informasi yang mengaitkan dengan peristiwa politik,dasar untuk mengambil keputusan, menguatkan keyakinan.

EFEK POLITIK DARI TELEVISI

Perkembangan Televisi sebagai media kampanye utama dalam hubungannya dengan perubahan masyarakat ternyata memunculkan dampak yang tidak  direncanakan sebelumnya. TV bisa jadi telah mendorong sentralisasi politik, menurunnya organisasi massa berbasis bawah, menurunnya divisi ideologi partisan ( karena TV lebih populer di kalangan lapisan menengah ), dan merebaknya penggunaan polling sikap dan pendapat sebagai panduan dalam perencanaan kampanye dan monitor kesuksesan, serta pemilihan lebih dibentuk oleh perhatian sesaat dan isu tunggal.

Dalam jangka pendek, politisi lebih membutuhkan akses ke media ketimbang sebaliknya, dan peran politik media sebagai penentu kebijakan makin berkembang dan makin sensitif.

Penelitian tentang peran TV sebagai media yang memberi keuntungan bagi pemimpin kharismatik dan membuka jalan bagi manipulasi lewat personality dan pembentukan citra ternyata tidak didukung oleh data-data empiris.Reputaso yang dimiliki TV tidak kemudian menggeser variabel lainnya termasuk kualitas politik yang dimainkan.

LOGIKA MEDIA vs LOGIKA PARTAI

Yang mewarnai peranan media massa dalam kegiatan politik adalah apa yang kemudian dikenal sebagai logika media.

Logika media mengacu pada perhatian akan media terhadap bentuk daripada isi;kemasan dan representasi daripada isu-isu dan kebijakan.Logika media tidak hanya dijalankan oleh media namun juga oleh kalangan politisi.

Dewasa ini televisi di dlm meliput kampanye pemilu lebih menitikberatkan pada aspek kepribadian dan feature human interest, sebagai aspek yang menjadi “horse race” dalam pemilu daripada pilihan-pilihan demokratis yang semestinya dikedepankan.

TV juga dikaitkan dengan menurunnya kualitas rasional politik ketika spot iklan menjadi perhatian yang lebih utama ketimbang penampilan retorika politiknya.

Namun demikian, di satu sisi, televisi juga telah membentuk format baru pemberitaan dengan lebih memberikan bobot pada informasi politik.Format news bari ini mencakup program debat di antara pemimpin partai,reportase mendalam, serta kemampuan media untuk meliput berbagai kegiatan politik di kalangan dewan dsb– sesuatu yang bagi publik relatif tidak bisa diikuti dengan sendirinya.

INFORMASI POLITIK vs PERSUASI POLITIK

Secara khusus kampanye memiliki beberapa tujuan utama :

1. menginformasikan kebijakan dan usulan program;

2.menetapkan dan memodifikasi partai dan citra kepemimpinan

3.melakukan identifikasi partai dengan suatu isu tertentu;

4.menarik perhatian massa

5. menggerakkan pendukung

Selain penekanan di atas ada bukti yang cukup meyakinkan bahwa tujuan kampanye yang utama adalah pada fungsi pembelajaran terhadap suatu informasi.

Ada dua bentuk pembelajaran yang terjadi dalam kampanye :

1. dalam bentuk “agenda –setting”

2. dalam konsep “knowledge gap”.Berkaitan dengan ketidaksamaan struktur pengetahuan dalam keseluruhan populasi sebagai akibat dari perbedaan pengetahuan tentang partai dari mereka yang memiliki kekayaan sumber informasi.

KOMUNIKASI POLITIK SEBAGAI PROSES INTERAKTIF

Kajian tentang potensi persuasi dalam sebuah kampanye pemilu meski tidak semuanya sampai pada kesimpulan yang memuaskan setidaknya membawa pada pemahaman akan persoalan kemungkinan dan kondisi tertentu yang mempengaruhi tercapainya efek yang diperkirakan.

Perkembangan penting dalam riset komunikasi politik adalah mulai diperhatikannya pada aspek motivasi audience, kemungkinan kegunaan dan kepuasan dalam komunikasi politik dan pada sifat dasarnya  yang interaktif.

Model awal yang dipakai dalam komunikasi persuasif – meminjam konsep advertising– mengandaikan penerima sebagai pasif daripada partisipan yang aktif.Asumsi semacam ini tidaklah tepat dan utamanya tidak cocok bila diterapkan dalam politik.

Konsep yang kemudian mengandaikan penerima sebagai audience potensial yg. memiliki harapan dan motivasi yang beragam, termasuk dalam hal harapan akan apa yang diinformasikan,digerakkan kembali, dihibur, digairahkan dan disarankan.Audience tidak saja bervariasi di dalam kekuatan motivasi untuk terlibat di dalam politik tetapi juga di dalam keyakinan politik itu sendiri.

Bahasa Politik

Kajian komunikasi politik yang didasarkan pada studi tentang pendapat umum dan kampanye meliputi juga studi tengan bahasa dan rhetorika, yang menekankan pada pemakaian simbol politik dan pada teks dan dokumen politik dan tidak memusatkan pada efek pesan yang ditimbulkannya.

Kajian linguistik politik juga memusatkan pada pemakaian manipulasi dalam propaganda.Politik secara garis besar lalu berarti permainan kata-kata ( Graber 1981)

Kata-kata dan frase di dalam politik dapat membawakan pemahaman dan makna simbolik yang bisa menolong komunikator menyampaikan tujuannya.

Menurut Graber ( 1976 ) terdapat lima fungsi pokok bahasa dalam politik :

1. informational

2. Agenda setting

3. interpretation dan linkage

4. projection to past and future

5. action simulation

TEORI KRITIS

Studi tentang bahasa politik juga menjadi sentral dalam tradisi riset komunikasi politik lainnya, yang didasari oleh teori neo-Marxist.

Teori masyarakat massa versi kiri/kritis memandang media massa secara umum sebagai instrumen bagi “represi yang ditoleransi”, menyebarkan konformitas, ideologi konsumerisme,kesadaran dan budaya.

Meskipun terdapat berbagai varian dalam teori kritis namun pada umumnya pendekatan ini memandang media massa sebagai sarana propaganda bagi kelas penguasa. Dalam hal ini dikenal konsep Hegemoni sebagaimana dioperkenalkan oleh Gramsci.

Penelitian tentang hal diatas dengan menggunakan metode analisis isi terhadap berita menunjukkan bahwa pesan yang dibawakan suatu pemberitaan acapkali menebarkan semacam kesadaran sosial dan dukungan terhadap kekuatan politik atau sosial yang telah  mapan.

Pendekatan kritis memberikan keuntungan bagi kajian komunikasi politik karena tidak semata mengkonstrasikan diri pada efek jangka pendek semata yang dilakuklan oleh pengkampanye, melainkan melihat perubahan politik dilihjat dari proses historis, juga memberi perspektif lebih luas terhadap komunikasi politik dengan melihat makna yang melekat dalam  praktek dan ritualnya.

Teori kritis mengingtakan kita bahwa pesan tidaklah diterima semata sebagaimana dikehendaki oleh pengirim. Media massa juga tidaklah sebagai pembawa pesan yangnertal namun senantiasa membawa nilai-nilai politik budaya dan informasi. Media selalu bisa menjandi instrumen politik

 OPINI PUBLIK DAN “THE SPIRAL OF SILENCE”

Konsep “the spiral of silence” merupakan teori tentang terbentuknya pendapat umum sebagai buah dari perkembangan konsensus politik dominan yang kemudian dikuatkan oleh media massa.

Oleh Noelle-Neumann (1984) teori ini digambarkan sebagai gagasan bahwa pada umumnya orang secara psikologis menghindari isolasi dan ketidaknyamanan karena ketidaksesuaian dengan pendapat umum.

 KECENDERUNGAN RISET KOMUNIKASI POLITIK

Terdapat sejumlah perkembangan utama dalam tradisi riset komunikasi politik( Chafee, 1977):

1.pergeseran dalam pemahaman bahwa komunikasi politik tidaklah “transportasi” satu arah suatu informasi dan keyakinan namun  merupakan bentuk interaksi dan transaksi di antara pengirim dan penerima

2. pelan-pelan terjadi pergeseran minat dari penekanan pada sikap sebagai objek pengaruh kepada kognisi politik tertentu : kesadaran akan isu,pembentukan citra didasarkan pada informasi, konotasi dan asosiasi.

3.  mulai ada kecenderungan penelitian holistik, melihat peristiwa kehidupan politik dalam kacamata kritis yang berlangsung dari waktu ke waktu dan melibatkan berbagai partisipan yang berbeda tidak hanya pada komunikator dan penerimanya

Selain itu juga ada gejala memusatkan perhatian pada aspek ritual komunikasi publik, dalam misalnya kampanye pemilu tidak sekedar sebagai bentuk tujuan persuasif melainkan bentuk ekspresi simbolik dan merayakan semacam keyakinan dan nilai-nilai

Terakhir adanya perhatian pada media drama atau fiksi khususnya film dan televisi sebagai media potensial yang bisa menjadi sarana komunikasi politik

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 19 Juni 2012.

Satu Tanggapan to “POLITICAL COMMUNICATION (Denis McQuail)”

  1. […]  Political Communication – Studi tentang peran yang dimainkan komunikasi di dalam sistem politik. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: