Mengkaji Khalayak Media dengan Metode Penelitian Resepsi


Tri Nugroho Adi

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman

 

ABSTRAK

Artikel ini menyajikan uraian seputar metode penelitian resepsi, sebagai bagian dari bermacam model penelitian komunikasi kualitatif. Analisis resepsi dapat dikatakan menarik sebab ia mengambil teori dari ilmu sastra dan metodologinya dari ilmu-ilmu sosial. Ilmu sastra memberi kontribusi terhadap konsep yang mendukung komunikasi massa sebagai praktek produksi budaya dan penyebaran makna dalam konteks sosial. Sementara dari ilmu sosial, diadopsi dalam hal penggunaan model tertentu dari penyelidikan empiris ke dalam proses interaksi antara pesan media massa dan audiens mereka. Itulah inti dari analisis resepsi, yang bisa dikatakan sebagai kemunculan dari sebuah format baru dari audiens riset  pada sekitar tahun 1980an dan menghadirkan suatu artikulasi yang tegas pada kisaran kualitatif. Satu premis utama analisis resepsi bahwa untuk menghasilkan kajian khalayak yang meliputi penggunaan dan dampak maka sejatinya harus melalui terlebih dahulu kajian yang memadukan antara analisis isi dan analisis khalayaknya sekaligus. Analisis resepsi berasumsi bahwa teks dan penerima pesan itu adalah bagian dari unsur-unsur satu korpus kajian yang komplementer di  mana  kedua-duanya merupakan  aspek sosial komunikasi yang diskursif.

_________

Kata Kunci: analisis resepsi, praktek produksi budaya

A.     Sejarah Singkat Analisis Resepsi

 

Dalam tradisi studi audience, setidaknya pernah berkembang beberapa varian di antarannya disebut secara berurutan berdasar perjalanan sejarah lahirnya: effect research, uses and gratification research, literary criticism, cultural studies, reception analysis (Jensen&Rosengen,1995:174). Reception analysis bisa dikatakan sebagai  perspektif baru dalam aspek wacana dan sosial dari teori komunikasi (Jensen,1999:135). Sebagai respon terhadap tradisi scientific dalam ilmu sosial, reception analysis menandaskan bahwa studi tentang pengalaman dan dampak media, apakah itu kuantitatif atau kualitatif, seharusnya didasarkan pada teori representasi dan wacana serta tidak sekedar menggunakan operasionalisasi seperti penggunaan skala dan kategori semantik. Sebaliknya, sebagai respon terhadap studi teks humansitik, reception analysis menyarankan baik audience maupun konteks komunikasi massa perlu dilihat sebagai suatu spesifik sosial tersendiri dan menjadi objek analisis empiris. Perpaduan dari kedua pendekatan (sosial dan perspektif diskursif) itulah yang kemudian melahirkan konsep produksi sosial terhadap makna (the social production of meaning). Analisis resepsi kemudian menjadi pendekatan tersendiri yang mencoba mengkaji secara mendalam bagaimana proses-proses aktual melalui mana wacana media diasimilasikan dengan berbagai wacana dan praktik kultural audiensnya (Jensen, 1999:137).

Pemanfaatan teori reception analysis sebagai pendukung dalam kajian terhadap khalayak sesungguhnya hendak menempatkan khalayak tidak semata pasif namun dilihat sebagai agen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan makna dari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifat terbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak  (Fiske, 1987).

Adalah David Morley yang pada tahun 1980 mempublikasikan Studi of the Nationawide Audience kemudian dikenal sebagai pakar yang mempraktikkan analisis resepsi secara mendalam. Pertanyaan pokok studi Morley tersebut adalah mengetahui bagaimana individu menginterpretasikan suatu muatan program acara televisi dilihat dalam kaitannya dengan latar belakang sosio kultural pemirsanya.

Dalam tulisannya yang dimuat dalam Cultural Transformation : The Politics of Resistence (1983,dalam Marris dan Tornham 1999:474,475), Morley mengemukakan tiga posisi hipotetis di dalam mana pembaca teks (program acara) kemungkinan mengadopsi:

1.Dominant (atau ‘hegemonic’) reading : pembaca sejalan dengan kode-kode program (yang didalamnya terkandung nilai-nilai,sikap,keyakinan dan asumsi) dan secara penuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh si pembuat program.

2.Negotiated reading : pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kode program dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh si pembuat program namun memodifikasikannya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisi dan minat-minat pribadinya.

3.Oppositional (‘counter hegemonic’) reading: pembaca tidak sejalan dengan kode-kode program dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, dan kemudian menentukan frame alternatif sendiri di dalam menginterpretasikan pesan/program.

Kajian resepsi sebagaimana dilakukan oleh Morley di atas melandaskan diri pada pemikiran Stuart Hall, sekarang adalah Profesor Sosiologi di Open University, dan merupakan tokoh utama dalam sejarah kebangkitan politik Kiri di Inggris di tahun 1960-an dan 1970-an. Hall sendiri mengikuti gagasan Althusser dan berpendapat bahwa media muncul sebagai refleksi atas realitas di mana media itu terlebih dahulu mengkonstruksikannya.

 B.      Metodologi Resepsi

Analisis resepsi merupakan bagian khusus dari studi khalayak yang mencoba mengkaji secara mendalam proses aktual di mana wacana media diasimilasikan melalui praktek wacana dan budaya khalayaknya. Ada tiga elemen pokok dalam metodologi resepsi yang secara eksplisit bisa disebut sebagai “ the collection, analysis, and interpretation of reception data “ ( Jensen, 1999: 139) . Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, mengumpulkan data dari khalayak. Data bisa diperoleh melalui wawancara mendalam (baik individual maupun kelompok). Dalam uraian ini lebih ditekankan perolehan data melalui wawancara kelompok yang akrab disebut focus group interview, sebagaimana pernah dilakukan oleh Jensen (1999). Perlu ditekankan bahwa dalam analisis resepsi, perhatian utama dalam wawancara mendalam secara kelompok tetap harus berpegang pada “wacana yang berkembang setelah diantarai media di kalangan pemirsa”, artinya, wawancara berlangsug untuk menggali bagaimana sebuah isi pesan media tertentu menstimulasi wacana yang berkembang dalam diri khalayaknya.

Kedua,  menganalisis hasil atau temuan dari wawancara atau rekaman proses jalannya focus group discussions (FGD). Setelah wawancara dan FGD sebagaimana langkah pertama di atas dilakukan maka, tahap berikutnya peneliti akan mengkaji catatan wawancara tersebut yang berupa ratusan transkrip wawancara yang di dalamnya kemudian bisa disarikan berbagai kategori pernyaatan, pertanyaan, komentar dsb. dari peserta diskusi. Dalam tahap ini peneliti bisa memanfaatkan metode analisis wacana sebagaimana lazimnya dipakai dalam studi literer untuk menelaah makna-makna intersubjektif dan menginterpretasikan makna yang tersirat dibalik pola ketidaksepakatan pendapat di antara peserta dan sebagainya yang mungkin muncul dalam diskusi. Dalam tahap ini, peneliti kemudian tidak sekedar melakukan kodifikasi dari seberapa pendapat yang sejalan atau yang tidak sejalan melainkan lebih merekonstruksi proses terjadinya wacana dominan dan sebaliknya, dilihat dari berbagai latar belakang sosio kultural peserta diskusi.

Ketiga, tahap ini peneliti melakukan interpretasi terhadap pengalaman bermedia dari khalayaknya. Perlu dicatat bahwa dalam tahap ini sebenarnya seorang peneliti tidak sekedar mencocokkan model pembacaan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam acuan teoritis melainkan justru mengelaborasikan dengan temuan yang sesungguhnya terjadi di lapangan sehingga memunculkan model atau pola penerimaan yang riil dan lahir dari konteks penelitian sesungguhnya.

C. Langkah Penelitian dan Contoh Kasus

Untuk memberi ilustrasi mengenai langkah-langkah penelitian dengan metode resepsi bisa disimak contoh-contoh  berikut: Jensen (1988 ) melakukan penelitian tentang resepsi khalayak pemirsa televisi di Denmark terhadap acara topik dan  isu yang dibawakan dalam tayangan berita. Setelah menentukan satu mata acara berita yang menjadi fokus kajian maka  peneliti melakukan analisis isi terhadap tayangan berita televisi tersebut dan melakukan kodifikasi terhadap tema-tema sentral yang menjadi isu pemberitaan selama kurun waktu tertentu. Tahap selanjutnya, peneliti memilih secara acak penonton televisi yang dibedakan menurut umur, jenis kelamin dan berbagai karakter sosioekonomik yang beragam serta berasal dari berbagai wilayah yang berbeda.

Peneliti kemudian menentukan terdapat 33 informan yang berbeda karakteristiknya dan siap untuk diwawancarai secara mendalam. Wawancara dilaksanakan secara semi terstruktur, terfokus pada 10 berita utama yang disajikan dalam berita televisi tersebut. Dalam wawancara, peneliti menggali sejauh mana tema pokok dalam masing-masing berita tersebut dipahami dan dimaknai yang tak lain adalah mencoba bagaimana pemirsa melakukan resepsi sebuah pesan media. Hasil wawancara yang berupa rekaman transkrip tersebut kemudian dianalisis dan dikategorikan menjadi beberapa ‘themes’. Simpulan dalam penelitian tersebut, ternyata bahwa telah terjadi perbedaan signifikan antara ‘themes’ yang dikedepankan oleh jurnalis dengan yang ditangkap oleh pemirsa. Lebih jauh, kajian Jensen (1988) menguatkan perspektif baru dalam melihat khalayak sabagai agent aktif yang memiliki kuasa tersendiri di dalam menciptakan wacana yang berkembang dalam masyarakat, betatapun kuat dan  dominannya media di dalam menanamkam wacana di dalam masyarakat.

Contoh penelitian lain yang salah satu metodenya menggunakan analisis resepsi juga dilakukan oleh Adi (2008). Penelitian berjudul IDENTITAS KULTURAL DAN TELEVISI LOKAL (Studi Tentang Konstruksi dan Representasi Identitas Kultural dalam Tayangan Banyumas TV) tersebut mencoba menggali bagaimana resepsi (penerimaan) pemirsa terhadap tayangan-tayangan yang merepresentasikan identitas kultural mereka.  Berbeda dengan penelitian Jensen (1988), penelitian Adi (2008) menggunakan metode diskusi kelompok terfokus ( FGD) dalam menggali resepsi khalayak.

Tahap pertama penelitian dilakukan melalui analisis isi kualiatif untuk menentukan ‘themes’ dominan yang ditawarkan program acara.  Kemudian tahap selanjutnya peneliti menyelenggarkan FGD yang diikuti empat kelompok : (a) kelompok akademisi (lima orang partisipan), (b) kelompok mahasiswa ( lima orang partisipan), (c) kelompok pekerja (enam orang partisipan), (d) kelompok pegawai negeri (enam orang partisipan). Prosedur FGD dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana disarankan  oleh Pawito (2007) sebagai berikut:

(a)   Penentuan topik penelitian.

(b)   Perumusan panduan interview yang bersifat longgar agar jalannya diskusi bisa terarah.

(c)    Penyediaan paket pesan (rekaman tayangan acara televisi) sebaai bahan diskusi.

(d)   Penunjukkan moderator yang akan menjadi fasilitator dan mengajukan pertanyaan dalam diskusi.

(e)   Pengorganisasian kelompok dengan memerhatikan jumlah dan karakter kelompok sesuai dengan tujuan penelitian; jumlah dan nama-nama peserta yang akan diundang dalam masing-masing kelompok; menentukan waktu dan tempat diskusi; merencanakan intesif yang mungkin akan diberikan kepada partisipan jika memang dipandang perlu.

(f)     Menghadirkan partisipan untuk masing-masing kelompok pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Kegiatan FGD untuk masing-masing kelompok bisa mengambil waktu dan tempat yang berbeda.

(g)   Pencatatan jalannya diskusi ( menggunakan alat perekam baik audio maupun audiovisual) setelah paket pesan disampaikan kepada peserta diskusi. Waktu yang digunakan untuk penayangan paket pesan diusahakan tidak lebih dari 30 menit, kemudian diskusi dan interview bisa berlangsung selama sekitar satu jam.

(h)   Penyusunan transkrip hasil diskusi. Dalam transkrip  disertakan catatan tentang informasi nonverbal yang muncul selama diskusi berlangsung.

(i)     Analisis terhadap data yang telah disusun dalam transkrip. Analisis bersifat kualitatif dengan demikian memerlukan triangulasi utamanya triangulasi teori dan data.

(j)     Penarikan simpulan berdasar pada pertanyaan dan tujuan penelitian.

Data-data yang digali dalam penelitian ini menunjukkan adanya pola-pola pemaknaan kultural yang beragam dalam diri pemirsa terhadap teks, di mana latar belakang kultural yang mulivaset dalam diri seseorang memiliki kecederungan yang kuat memengaruhi pemaknaan terhadap teks tersebut.  Bila dikaitkan dengan beberapa kategori konsep identitas kultural yang menjadi perhatian penelitian tersebut maka bisa dilihat bagaimana pemirsa kemudian mendefinisikan teks itu menurut perspektif kultural mereka sendiri. Temuan ini  mengingatkan kita pada teori respon pembaca yang dikemukakan oleh Stanley Fish (dalam Littlejohn,2002:190). Menurut Fish makna itu terletak pada sisi pembaca dengan mekanisme yang kemudian dikenal sebagai teori respon pembaca. Teks menstimulasi pembaca aktif, namun dalam diri pembaca tersebut sudah terkandung makna, dan penafsiran lalu tidak bergantung pada teksnya. Dalam penafsiran, individu si pembaca itu tidaklah terlepas dari konteks komunitasnya. Menurut Fish  pembaca adalah bagian dari sebuah komunitas penafsir,  suatu kelompok yang saling berinteraksi satu dengan lainnya yang kemudian  mengkonstruksikan  realitas serta makna-makna bersama dan menjadikannya dasar di dalam pembacaan mereka. Dalam model penafsiran seperti ini maka tidak ada makna objektif tunggal dalam sebuah teks. Juga tidak ada yang disebut penafsiran yang benar. Segala sesuatu bergantung pada si pembaca. Teori respon pembaca inilah yang kemudian sangat berpengaruh dalam studi media.

Hasil penelitian tersebut juga menguatkan teori resepsi dimana dikenal tiga aktivitas dalam diri pemirsa yang berlangsung secara simultan yakni  membaca, memahami dan menafsirkan.  Pembacaan atau ‘reading’ berarti ada sebuah teks yang terbentuk dari simbol-simbol visual dan yang lainnya di mana dari teks tersebut terbentuk suatu makna tertentu; di sini pembacalah yang memiliki kemampuan di dalam mengonkonstruksi makna dari teks tersebut; dan disitulah terjadi interaksi antara teks dengan pembacanya. Pembaca menerima simbol-simbol yang ada di dalam teks dan ketika pembaca menilainya sebagai ‘masuk akal’ baginya maka mereka akan memahaminya dengan cara menempatkannya di dalam semacam ‘frame’. Pembaca kemudian menginterpretasikan simbol-simbol tersebut dengan cara mengaitkannya dengan apa yang tengah berlangsung dengan apa yang sekiranya menjadi maksud si pembuat teks serta apa yang kira-kira akan disampaikannya dengan teks itu (extratextual points of reference) (Real 1996:103-104). D.

D.Catatan Penutup

Mengkaji khalayak media dengan menggunakan analisis resepsi hingga saat ini masih belum banyak dilakukan. Beberapa implikasi yang perlu diperhatikan dalam melakukan penelitian resepsi di masa depan adalah perlunya memadukan antara metode penggalian data khalayak dengan menggunakan wawancara mendalam dan FGD sekaligus. Tidak begitu disarankan untuk hanya menekankan pendekatan wawancara mendalam individual karena sifat dari kajian resepsi tidak lain adalah melihat bagaimana wacana yang timbul sebagai bagian dari sebuah pertemuan antara berbagai individu yang berbeda karakterisktik ketika secara bersama-sama diminta untuk memberi respon terhadap stimulan pesan media tertentu. Untuk itu FGD diibaratkan sebuah laboratorium mini gambaran masyarakat yang beragam ketika mengkonstruksi makna dari wacana media yang berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Tri Nugroho. IDENTITAS KULTURAL DAN TELEVISI LOKAL (Studi Tentang Konstruksi dan Representasi Identitas Kultural dalam Tayangan Banyumas TV). Thesis Magister Pascasrjana Universitas Sebelas Maret. Surakarta. 2008. Tidak diterbitkan.

Fiske, John. Television Culture.London: Rotledge, 1997.

Jensen, Klaus Bruhn, “ News as Social Resources,” Dalam European Journal of Communication 3. 3  : 275-301, 1988

___________________. “Media Audiences. Reception Analysis; mass communication as the social production of meaning“. Dalam  Klaus Bruhn Jensen & Nicholas W Jankowski. ( eds.). A Handbook of Qualitative  Methodologies for Mass Communication Research. London : Routledge,1999.

Jensen, Klaus Bruhn & Rosengen,Karl Erik. “Five Tradition in Search of Audience”.Dalam Oliver Boyd-Barret & Chris Newbold (ed.). Approaches to Media A Reader.New York :Oxford University Press Inc, 1995.

Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication.(7ed.)USA: Wadworth, 2002.

Marris, Paul & Sue Thornham. Media Studies A Reader 2ed. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd., 1996.  

Morley, David. Family Television: Cultural Power and Domestic Leisure.London: A Comedia Book, 1986.

Pawito . Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : LkiS, 2007.

Real, Michael. R. Exploring Media Culture : A Guide. USA : Sage Publication, 1996.

 

 

 

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 16 Februari 2012.

14 Tanggapan to “Mengkaji Khalayak Media dengan Metode Penelitian Resepsi”

  1. salam. mas saya dari ilmu komunikasi UMS ini saya mengambil sekripsi dengan metode Resepsi analisis, saya kesulitan dalam mencari buku refrensi metode dan data yang mendukung tentang resepsi analisis. mautanya refrensi buku yang mendukung. terimakasih

    • Salam juga mas Fauzan Ahmad
      Tidak banyak buku dalam bahasa indonesia yang membahas mengenai metode analisis resepsi. Tapi beberapa literatur dalam bahasa Inggris berikut bisa anda manfaatkan:
      1. Klaus Bruhn Jensen. 1991. “Reception Analysis : Mass Communication ac Social Production Meaninng” dalam A Handbook of Qualitative Methodologies for Mass Communication Research. London: Routlegde
      2. Marris,Paul & Sue Thornham. 1999. Media Studies A Reader. Section 4. C2. The Poliitics of Reading hal 467 -503h. Edinburgh: Edinburgh Unoversity Press.
      3. Barrett, Oliver Boyd & Chris Newbold. 1995. Approach to Media A Reader. Section 10 “New Audience Research” . London : Arnold.
      Ctt: sewaktu saya studi di Prodi Ilmu Komunikasi UNS literatur tersebut tersedia di perpustakaan Fisip. Silakan berkunjung ke sana. Semoga sukses.

  2. terimakasih sebelum nya mas Adi atas refrensinya secepatnta saya akan akan mencari buku nya, bisa minta CV nya mas agar bisa syering tentang metode ini dan tentunya ilmu komunikasi yang lain, dan terimakasih doanya amin semoga di beri kelancaran!

  3. mau tanya, pak. makna kalimat ini apa ya? saya sulit menerjemahkanya

    “..gagasan Althusser […] bahwa media muncul sebagai refleksi atas realitas di mana media itu terlebih dahulu mengkonstruksikannya.”

    mohon penjelasan yg lebih rinci, terimakasih

    • Terimakasih atas tanggapan tulisan ini, saya akan coba memberi penjelasan rinci yang kira-kira demikian :
      Ungkapan diatas sebenarnya menggambarkan konsep teori konstruksi sosial (social construction), yang awalnya dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.
      Bagi kaum konstruksionis, realitas itu bersifat subjektif. Realitas itu hadir, karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas tercipta lewat konstruksi, sudut pandang tertentu dari wartawan. Disini tidak ada realitas yang bersifat objektif, karena realitas itu tercipta lewat konstruksi dan pandangan tertentu. Realitas bisa berbeda-beda, tergantung pada bagaimana konsepsi ketika realitas itu dipahami oleh wartawan
      yang mempunyai pandangan berbeda. Dalam konsepsi positivis diandaikan ada realitas yang bersifat “eksternal” yang ada dan hadir sebelum wartawan meliputnya. Jadi, ada realitas yang bersifat objektif, yang harus diambil dan diliput oleh wartawan. Pandangan semacam ini sangat bertolak belakang dengan pandangan konstruksionis. Fakta atau realitas bukanlah sesuatu yang tinggal ambil, ada, dan menjadi bahan dari berita. Fakta/realitas pada dasarnya dikonstruksi. Manusia membentuk dunia mereka sendiri. Dalam kata-kata yang terkenal dari Carey, realitas bukanlah sesuatu yang terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya diproduksi.

      Demikian sekelumit penjelasan, semoga bermanfaat.

  4. Reblogged this on ruenite and commented:
    http://www.beraskolop.blogspot.com

  5. Salam kenal saya farida dari UMS mahasiswa ilmu komunikasi…
    mas nugroho saya ingin minta bantuannya,…
    .saya membuat penelitian tentang resepsi tapi baru judul , latar belakang dan rumusan masalah saja yang dibuat, saya masih binggung apakah judul yang saya buat bisa masuk ke dalam golongan penelitian dengan resepsi.. judul saya: Perbedaan Kepuasaan Khalayak Terhadap Tayangan “Live Music”, DAHSYAT distasiun Televisi RCTI dan INBOX distasiun Televisi SCTV. bagaimana mas? masuk tidak pada penelitian resepsi? email saya sholikhahfarida@yahoo.co.id saya juga ingin berkonsultasi dengan anda ,… saya tunggu konfirmasinya ,, terimakasih:D

    • Kalau melihat judul yang telah anda buat, ada frase perbedaan kepuasan yang sebenarnya belum mengesankan sebuah penelitian resepsi, karena yang dipermasalahkan dalam kajian resepsi bukanlah soal bagaimana media memuaskan khalayaknya melainkan bagaimana khalayak yang aktif itu melakukan konstruksi pemaknaan sehubungan dengan main idea atau ideologi yang ditawarkan oleh media. Di sini media tidak lagi dipandang sebagai agent yang memiliki kuasa untuk mendefinisikan kebenaran atau menyajikan makna tetap, tapi kuasa itu ada dalam diri khalayak. Khalayak memiliki kewenangan apakah akan menerima gagasan pokok atau ideologi yang ditawarkan oleh media atau menolak, atau melakukan negosiasi. Sehingga bukan persoalan puas atau tidak puas, melainkan apakah dia menerima atau tidak menerima. Lalu pertanyaannya bagaimana dinamika proses penerimaan (atau penolakan itu), adakah kaitan antara background khalayak dengan konstruksi makna itu, adakah faktor dominansi “lingkungan sosio kultural”yang turut memengaruhinya ( yang dilihat dalam skala mikro melalui FGD misalnya). Begitulah sebenarnya yang mesti dilacak melalui kajian resepsi….. Semoga bermanfaat…

  6. Halo saya mahasiswa komunikasi yang sedang menyusun usulan masalah untuk skripsi, saya ingin mengangkat fenomena mengenai sticker line yang sedang marak digunakan. Pertanyaan saya, bisakah studi resepsi ini dijadikan metode penelitian saya walaupun konten media yang ingin saya teliti bukanlah konten dari media massa dan hanya dikonsumsi secara personal?

    • Studi resepsi memang lebih ditujukan untuk melihat bagaimana orang menerima teks media. Ada kuasa dibalik pemroduksi teks menyodorkan wacana tertentu, tapi ia tak semata menentukan. Ketika teks berinteraksi dengan khalayak maka terlahirlah makna yang merupakan konstruksi individu itu…. Nah, kira-kira apakah content dari stickerline memang pantas dicurigai menyodorkan wacana tertentu itu, dan apakah kira-kira memang ada sesuatu yang urgen dibalik pertanyaan kita terhadap media (apa pun medianya) itu? Anda bisa menduga sendiri jawabannya. Hari ini (12/12) saya menuliskan lagi tentang Reception Theory dalam kategori Cultural Studies. Semoga bermanfaat….

  7. Salam Kenal Mas Adi🙂
    Saya Lia Amelia Martin mahasiswi Ilmu Komunikasi UMM.
    Kebetulan skripsi saya juga menggunakan Analisis Resepsi. Apakah ada referensi lain selain ketiga buku yang telah Mas Adi sebutkan tadi? Kalau ada, dan saya boleh tahu, apa saja ya mas?
    Karena menurut saya, saya masih membutuhkan beberapa buku referensi lagi untuk lebih bisa memahami Analisis Resepsi. T
    Terima Kasih.

  8. Reblogged this on Dhea Qotrunnada and commented:
    izin reblog ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: