Feminisme, Representasi Perempuan dan Pornografi dalam Film

Sekilas Feminisme
Feminisme  adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria.
Feminisme  merupakan suatu gerakan untuk membebaskan kaum perempuan.
Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis , Charles Fourier pada tahun 1837.
Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, “Perempuan sebagai Subyek” ( The Subjection of Women) pada tahun (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Berbagai Aliran
Feminisme liberal

Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah terdapat pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual.

Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik

Feminisme radikal

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”.

Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi.

Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.

Feminisme Anarkis

Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange).

Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.

Feminisme sosialis

Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan.

Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.

Feminisme postkolonial

Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama.

Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama.

FEMINISME DAN MEDIA/FILM
Semenjak adanya buku Friedan (1963), para feminis belajar banyak tentang  pola seksis, kesulitan-kesulitan dalam mengubah pola tersebut dan peran media dalam memapankannya, selanjutnya, mereka mematahkan pola tersebut.
Awalnya feminisme ini berkutat seputar isu ras kulit putih, kelas menengah, heteroseksual dan perempuan barat.
Beberapa feminis percaya bahwa ini bukan lagi hanya masalah ras atau kelas yang memisahkan antar perempuan, tapi media. Oleh karena itu, mereka kemudian lebih cenderung fokus pada relasi perempuan dan media.
Teori Feminis Film
Teori ini dipengaruhi oleh feminisme gelombang kedua (second wave feminism) dan perkembangan kajian keperempuanan.
Sarjana-sarjana feminis mulai menangkap isyarat dari teknologi baru yang muncul dalam gerakan analisis film ini.
Usaha awalnya di Amerika pada awal tahun 1970-an, secara umum berdasar pada teori sosiologi dan fokus pada fungsi karakter perempuan pada narasi atau genre film-film tertentu dan tentang stereotype seperti refleksi pandangan masyarakat tentang perempuan.
Karya Rosen, Popcorn Venus: Women, Movies, and the American Dream (1973), dan Molly Haskell, From Reverence to Rape: the Treatment of Women in Movies (1974), menganalisis tentang bagaimana perempuan dipotret dalam sebuah film.
Kajian di atas terhubung pada konteks historis yang luas dan potret stereotype tentang perempuan yang ditampilkan sebagai subjek atau objek, dan jumlah durasi yang diberikan untuk penampilan perempuan.
Teoretis feminis seperti Dow, mencoba menjelaskan secara lengkap tentang strategi yang digunakan oleh para retoris untuk mengkomunikasikan ideologi feminis yang dapat menarik perempuan untuk menggunakan usaha mereka dan memperoleh legitimasi publik.
Tuchman (1978) mengkaji bahwa, media secara umum merepresentasikan hal yang salah tentangperempuan.
Bahkan pemusnahan simbolik (simbolic annihilation) juga terjadi disini, seperti yang disampaikan oleh Boyd-Barret dan Newbold (1995) tentang hipotesis refleksi, bahwa media merefleksikan nilai-nilai dominan yang ada di aspek sosial masyarakat.

Representasi Perempuan dan Pornografi

Permasalahan lain yang menyangkut relasi perempuan dan media adalah pornografi. Pornografimenjadi musuh utama perempuan yang dirasa lebih kejam dibanding domestivikasi dan  kekerasan terhadap perempuan, karena pornografi yang ada, dewasa ini, seakan-akanmenjadikan perempuan sebagai objek seks belaka.
Dworkin dan MacKinnon (dalam Duggan dan Hunter,2006: 32) berargumen bahwa pornografi adalah akar dari eksploitasi dan diskriminasi yang pernah ada terhadap perempuan.Ini yang dikhawatirkan MacKinnon sebagai pembatasan ekspresi perempuan, jika objektivikasi secara seksual masih direpresentasikan dalam media.
Protes tentang pornografi dan perempuan masih dilangsungkan oleh MacKinnon terhadap kebijakan tentang pornografi di Indianapolis, Amerika.
Ia skeptis tentang logika biner dalam menetapkan mana yang boleh dan tidak tentang potret seksual secara legal, dalam masyarakat yang patriarkis seperti itu.
Iluatrasi :
Membaca Objektivitasi Perempuan dalam film Paku  Kuntilanak
Dengan alur yang ganjil Paku Kuntilanak  memotret perempuan hanya dari aspek seksual semata, tanpa menonjolkan aspek lainnya seperti kecerdasan maupun fungsi sosial mereka. Misalnya, Kunti membunuh seorang gadis yangmencuci di kali pada malam hari. Sungguh ganjil, apalagi dengan pakaian yang terbuka danmemperlihatkan bagian dada, kamera secara sengaja menembak lensa utama pada dada gadis itu.Jika ditelisik secara semiotik, adegan ini hanya sebagai pemanis saja, karena secara logika, tidak mungkin ada seseorang yang mencuci di kali pada malam hari.
Keganjilan ini ditambal dengan konyol oleh sutradaranya dengan menghadirkan suami sang gadis yang berdialog, ”tuhkan…udah dibilang jangan nyuci malem-malem..jadi tidur kan,” ketika melihat istrinya terbaring. Padahal ia sudah mati dibunuh Kunti. Dialog tersebut saya kira bertujuan supaya adaunsur ketidaklaziman yang dilakukan sang istri, sehingga suaminya harus melontarkan kalimat ”tuh kan…udah dibilang…”.  Cerita tetap bergulir, setelah mengetahui istrinya mati, suaminya melihat ada gadis mandi di kali, dengan telanjang dada, tapi hanya tampak dari belakang.
Media, pornografi dan potret perempuan secara politis memang mensubordinasikan perempuan.
Pornografi = laku?!!!
Ketika dianalisis secara ekonomis, ternyata konten dengan unsur pornografi semacam ini memang laku di pasaran. Bayangkan saja, film sekelas Paku Kuntilanak  dapat menjual 600.000 tiket dengan estimasi penghasilan total 12 Miliar rupiah.
Betapa perempuan, pornografi dan media menjadi lahan basah pengeruk keuntungan yang juga mentransfer gagasan-gagasan seputar keperempuanan dengan rekonstruksi dan representasi nilai-nilai patriarki di dalamnya.Disaat beberapa pihak menikmati keuntungan tersebut, perempuan, lagi-lagi harus merana dengan tekanan sosial, domestivikasi serta ekspektasi-ekspektasi seksual di masyarakat, karena siaran media (film) tersebut.
 Inilah yang kemudian dikatakan oleh Tuchman (1978) sebagai pemusnahan simbolik perempuan di media, bahwa mereka dapat punah dan hanya menjadi makhluk sub-ordinat dari laki-laki
Referensi
Boyd-Barret dan Newbold, Approaches to Media: A Reader  (1994)
Lisa Duggan dan Nan D. Hunter, Sex Wars: Sexual Dissent and Political Culture(2006)
Margareth Walters, A Very Short Introduction: Feminism (2005)
Rosemarie.1997.Feminist Thought : A Comprehensive Introduction.USA:Westview Press
Shefti Latiefah. 2011. Representasi Perempuan sebagaiObjek Seks dalam Film “Paku Kuntilanak” sebuah kajian semiotika dalam perspektif feminisme Mahasiswa Kajian Media, Universitas Paramadina, Jakarta

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 29 November 2011.

2 Tanggapan to “Feminisme, Representasi Perempuan dan Pornografi dalam Film”

  1. Kalo konsep feminisme dalam film “Perahu Kertas” bisa sedikit anda jelaskan? terimakasih

    • Maaf baru bisa balas sekarang. Sampai saat ini saya belum sempat menyaksikan film dimaksud, sehingga belum bisa mendeskripsikannya dalam konsep feminisme. Suatu saat mungkin bisa dipertimbangkan dlm diskusi kelas dan saya sajikan reviewnya dalam posting kemudian. Trims telah singgah di blog pembelajaran ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: