STUDI TANDA DALAM MEDIA MASSA: REPRESENTASI IDENTITAS DIRI KAUM PRIA MODERN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA

ABSTRAK

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan bagaimana majalah-majalah pria dewasa di Indonesia dalam mengkonstruksi citra identitas diri ( self identity ) kaum pria modern.Penelitian ini juga mencoba mengetahui konsep atau perspektif media massa di Indonesia dalam hal identitas diri kaum pria modern, sebagai bagian dalam wacana postmodern dewasa ini. Berdasarkan analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa majalah pria dewasa di Indonesia – dalam hal ini majalah F H M, MATRA, Male Emperium,POPULER, Mens’Health, Edisi Januari 2004 sampai dengan Februari 2005 sebagai sampel — mencoba menkonstruksikan citra identitas diri kaum pria modern sebagai pria yang masih harus menanggung mitos keperkasaan dan makhluk yang lebih utama ketimbang lawan jenisnya; pria yang senantiasa berdandan, tampil resik, harum dan perlente, menyukai pergaulan dan kerja, selalu menjaga kebugaran dan tak sungkan “berlelah-lelah” merawat diri serta mengeluarkan biaya khusus untuk mendapatkannya atau populer dengan sebutan pria metroseksual. Selain itu kita temukan juga majalah-majalah pria dewasa dalam telaah kita menangkap sekaligus mem-frame ada semacam krisis identitas diri bagi pria modern ketika dia harus menterjemahkan identitasnya di dalam rumah. Media-media ini juga mengkonstruksi identitas diri  pria modern adalah pria yang tak harus tunduk pada suatu norma-noram kultural hitoris.

________________

Kata kunci : identitas diri ( self identity ), konstruksi, majalah pria dewasa

PENDAHULUAN

“Wacana kolonial, seperti hubungan antara identitas ego dan manifestasinya yang di bawah sadar, selalu dibayangi ketakutan akan perpecahan dirinya sendiri. Hal ini berputar terus melalui citraan media dan wacana budaya populer, keduanya membuktikan kekuatan dan pembaharuannya atas kekurangannya”

 ( Stevenson, 1999)

Proses yang dilakukan oleh media massa sarat dengan tindak produksi dan konstruksi nilai –tanda. Itulah tesis pokok yang mendasari penelitian ini. Yang dimaksud dengan media massa di sini adalah majalah, dalam hal ini majalah yang segmentasinya adalah pembaca pria dewasa.

Berbeda dengan majalah wanita yang lebih dahulu marak dan banyak memproduksi nilai tanda demi mengekspresikan konsep cantik, majalah pria dewasa nampaknya tidak hanya menyajikan konsep tampan – sebagai lawan cantik. Selain karena kodratnya yang memang tidak hanya disibukkan dengan urusan  memoles wajah – meski sekarang ini ada gejala banyak pria metropolitan yang suka berpenampilan klimis – citra pria dewasa modern yang coba direpresentasikan dalam majalah pria dewasa nampaknya lebih kompleks; ia tidak hanya berkaitan dengan penampilan tetapi lebih dari itu berhubungan dengan penyataan, yakni penyataan citra identitas diri.

Coba simak ilustrasi berikut ini : sebuah majalah bertajuk Male Emperium (ME) edisi Januari tahun 2005, menampilkan judul salah satu rubriknya di halaman coverPria tanpa perkawinan : Sex Yes, Marriage No ! “ Sementara di halaman sampul depan majalah lainnya yakni Men’s Health (Edisi Indonesia)terpampang judul :12 Makanan Super Pria. Dan masih banyak lagi tema-tema pokok yang menjadi unggulan dalam tiap edisi dari beberapa majalah pria dewasa lainnya yakni dalam Matra, Populer, yang intinya seakan hendak berujar: inilah dia citra pria modern! – lengkap dengan perangkat teknologi pencitraan yang serba semiotis.

Lalu apa yang menarik sehingga perlu meneliti ini? Penelitian ini akan sedikit banyak bersinggungan dengan praktek pertandaan di media massa cetak dengan meminjam konsep psikologi vision dan visuality.Vision adalah apa yang secara psikologi dapat dilihat oleh mata manusia. Visuality merujuk pada bagaimana vision dikonstruksi dalam beragam cara, bagaimana kita melihat, bagaimana kita dapat, dibolehkan, atau dibuat untuk melihat, dan bagaimana kita melihat yang terlihat atau yang tidak terlihat itu ada. Frase yang mirip konotasinya dengan visuality adalah scopic regime. Keduanya merujuk pada apa yang dilihat dan bagaimana itu dilihat adalah sesuatu yang terkonstruksi secara kultural ( Rose, 2001 ). Kongkritnya, penelitian ini nantinya akan berurusan dengn tanda-tanda dan kode-kode dalam majalah pria dewasa dan melihat bagaimana mitos identitas diri ( self identity) pria modern Indonesia ditampilkan dalam majalah.Adapun tesis awal yang dikemukakan dalam kajian ini berbunyi : Proses yang dilakukan oleh media massa sarat dengan tindak produksi dan konstruksi nilai–tanda.  Pernyataan ini berlandaskan pada teori bahwa representasi dalam media massa lebih dilihat sebagai suatu proses mengkonstruksi dunia sekitar kita dan juga proses memaknainya ( Sturken dan Cartwright, 2001 ).

METODE  PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika. Majalah-majalah pria dewasa yang menjadi kajian adalah F H M, MATRA, Male Emperium,POPULER, Mens’Health, Edisi Januari 2004 sampai dengan Februari 2005. Korpus atau satuan data berupa teks, baik verbal maupun citra visual,yang diambil secara acak dengan pedoman pada asas kelayakan, yakni peneliti merasa cukup terhadap data bersangkutan, yang dianggap telah merepresentasikan tentang apa yang ingin ditemukan dalam penelitian ini.

HASIL PENELITIAN

Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini terangkum dalam pokok – pokok berikut ini :

Pertama, citra identitas diri pria modern yang dikonstruksikan oleh media dalam hal ini majalah pria dewasa di Indonesia  – F H M, MATRA, Male Emperium,POPULER, Mens’Health – ternyata adalah  pria yang masih harus menanggung mitos keperkasaan dan makhluk yang lebih utama ketimbang lawan jenisnya. Mitos keperkasaan itu dibangun dalam mekanisme pendisiplinan tubuh. Mitos keperkasaan ini juga merambah ke makna konotasi perkasa dalam arti kemampuannya untuk menundukkan lawan jenisnya secara seksual. Ada semacam benang merah yang mengaitkan antara kebugaran tubuh – keperkasaan fisik – keperkasaan seksual – dan kebahagiaan. Ikatan ini dibina terus bahkan menjadi semacam ideologi tersendiri yang lalu mencoba memberi definisi siapakah lelaki ideal dan siapa yang bukan.

Kedua, identitas diri pria modern yang juga dimitoskan adalah pria yang senantiasa berdandan, tampil resik, harum dan perlente, menyukai pergaulan dan kerja, selalu menjaga kebugaran dan tak sungkan “berlelah-lelah” merawat diri serta mengeluarkan biaya khusus untuk mendapatkannya atau populer dengan sebutan pria metroseksual. Untuk melengkapi itu, pria modern juga harus senantiasa meng- Up date dirinya dengan perangkat teknologi yang serba canggih baik dalam konteks fungsional maupun artifisial. Identitas terakhir ini akrab dikenal pria teknoseksual. Dunia lelaki dengan identitas yang semacam itu lalu didefinisikan sebagai dunia di luar rumah: ia yang sukses berkarir dan juga berbahagia di kala senggang. Dunia siang lelaki yang diwarnai kesuksesan kerja dan juga dunia malam lelaki yang penuh dengan  kegairahan seksual.

Ketiga, majalah-majalah pria dewasa dalam telaah kita juga menangkap sekaligus mem-frame ada semacam krisis identitas diri bagi pria modern sebenarnya ketika dia harus menterjemahkan identitasnya di dalam rumah. Dalam beberapa kasus, media mengkonstruksi pria yang harus bekerja di kawasan dalam rumah ( house husband ) ternyata di-frame sebagai korban dari lawan jenisnya. Eksistensi wanita lalu menjadi sosok yang mengancam jati diri lelaki. Konsep ini kembali menguatkan mitos bahwa pria haruslah lebih dimenangkan, dan wanita adalah pihak yang dinomorsekiankan. Pria adalah subjek dan wanita adalah objek.

Keempat,  media mengkonstruksi identitas diri  pria modern adalah pria yang tak harus tunduk pada norma-noram kultural hitoris. Di sini ditemukan kontradiksi bahkan nyaris menjadi paradok sebenarnya, yakni ketika media membangun identitas diri pria modern dalam setting kultural yang patriarki sementara dalam waktu yang bersamaan media juga hendak mencabut identitas diri pria modern dari kekuatan norma kultural yang melingkupinya. Jadilah pria modern itu yang tak harus punya komitmen menjadi sosok utama keluarga layaknya suami, juga tak harus memilih hidup berumahtangga ketika kerja dan kegairahan kehidupan malam sudah bisa mengisi hidupnya.

Kelima, corak perspektif yang dibangun beberapa majalah tersebut memang tidaklah seragam, tapi dalam pembacaan semiotik level kedua, atau dalam tataran konotatif, majalah pria dewasa yang nampaknya mengumbar sensualisme sebenarnya tidaklah semata menyajikan hiburan.Sukar ditutupi bahwa memang ada nuansa “anti-feminist”justru  ketika media-media ini mencoba membangkitkan nilai-nilai maskulinitas.

IMPLIKASI

Beberapa temuan di atas bila kita diskusikan dengan kajian teoritis mengenai media dalam fungsinya sebagai Ideological State Apparatus, sebenarnya dapat kita terawang sebagai berikut:Bahwa media sendiri tidak bisa dipungkiri  adalah korban dari kerja mitos yang senantiasa menaturalisasikan sejarah.Sebagaimana dikemukakan Barthes ( dalam Fiske 1990 ) bahwa mitos tidak lain merupakan produk kelas sosial ( atau kekuatan sosial ? penulis ) yang mencapai dominasi  melalui sejarah tertentu.Di sinilah tampil kapitalisme sebagai kekuatan yang sudah hampir pasti menentukan hidup matinya media. Kapitalismelah yang lalu menjadi roh kehidupan media dan tak henti-hantinya menjadikan media sebagai alat menumbuhkan perasaan tertentu dari kondisi sosial yang dihasilkan industrialisasi pada abad ke-19.Rasa ketidakpuasan yang tiada henti, rasa kekurangan tak berkeputusan akan aktualisasi diri dalam penanda-penanda kelas sosial yang artifisial adalah akibat dari kerja mekanisme kapitalisme.Kapitalisme lalu juga menuntut peran-peran maskulinitas tertentu yang melekat dalam identitas diri pria modern, yang pada gilirannya akan mendapat pelabelan berdasarkan penanda produk – produk canggih, modern, dsb dan menjamin perputaran modal bagi kekuatan kapitalis itu tentunya.

Mencermati konsep atau perspektif media massa di Indonesia dalam hal konstruksi identitas diri pria modern ini nampaknya membawa kita pada simpulan bahwa media – media tersebut tak luput juga dari gelombang arus dunia hiperreal (realitas semu ) yang menjadi isu sentral wacana postmodern. Bisa jadi media massa di Indonesia telah turut andil dalam menyajikan pengalaman transformasi dalam cara manusia ( pria dewasa modern) melihat diri sendiri secara ontologis di antara objek-objek kebudayan ciptaannya. (Baudrillard dalam Piliang 1998 )

Terakhir, bila memang benar bahwa media bisa menjebak pembaca sehingga  terjadi misrecognition (Lacan dalam Anika 1977 ) tentu juga akan terjadilah misrecognition identity. Alangkah malangnya makhluk pria modern itu ketika “aku” yang dibangunnya adalah “aku yang lain” . “Aku” yang telah mengalami penanaman dan pelekatan identitas melalui perampasan individu dari kondisi “naturalnya” dan memasukkan individu dalam suatu tatanan simbolik yang berisi regulasi-regulasi, bahasa dan penamaan dari lingkungannya.

Bahasan di paragraf terakhir di atas  sudah  barang tentu bukan lagi cakupan dalam penelitian ini, perlu perspektif psikoanalisis untuk mendekatinya dan mensyaratkan pendekatan lain semisal reception analysis  yang  mudah-mudahan  terbangunkan gairahnya sebagai implikasi teoritis maupun metodologis bagi peneliti lain ketika kajian ini penulis publikasikan.

________________

Daftar Pustaka:

Berger, Arthur Asa,2000, Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Tiara Wacana, Jogja

Budiman, Kris,2004,Jejaring Tanda-Tanda, Indonesiatera, Magelang

Fiske, John, 1990, Introduction to Communication Studies, 2nd edition, Roudlegde

Garland, David,1990, Punishment and Modern Society,Clarendon Press Oxford

Gauntlett, David., 2002, Media, Gender and Identity, Routledge, London

Gidden, Anthony, 1991,  Modernity and Self Identity: Self and Society in the Late Modern Age, Polity, Cambridge

Lemaire, Anika, 1977, Jacques Lacan ( Trans. David Morley) , Routlegde & kegan Paul, London

Luke, Carmen., 1996, The Literacy Lexicon, , Prentice Hall, New York/Sidney

Moleong, Lexy, J,1991,Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung

Nasution, S., 1988, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung

Piliang, Yasraf A,1997, Realitas-Realitas Semu Masyarakat Konsumer: Estetika Hiperalitas dan Politik Konsumerisme, dalam ECSTASY GAYA HIDUP, Idi Subandy Ibrahim ( ed), Mizan, Bandung

Piliang, Yasraf A,1998, Sebuah DUNIA YANG DILIPAT Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, Mizan, Bandung

Rose, Gillian, 2001, Visual Methodologies, Sage Publication, London

Siregar, Ashadi.1997.Popularisasi Gaya Hidup: Sisi Remaja dalam Komunikasi Massa, dalam ECSTASY GAYA HIDUP, Idi Subandy Ibrahim ( ed), Mizan, Bandung

Stevenson, Nick, 1995, Understanding Media Culture, Sage Publication, London

Sturken, M. dan Lisa Cartwright, 2001, Practices of Looking, an Introduction to Visual Culture, Oxford University Press, New York

Sunardi, St. 2002, Semiotika Negativa, Kanal, Yogyakarta

Jurnal

D, Pawito, Analisis Semiologi: Sebuah Pengantar, dalam Jurnal DINAMIKA , edisi No 2 Tahun  1997

Online document:

Daniel Chandler, Semiotic for Beginner,dalam http//www.aber.ac.uk/media/document/S4B di akses 7 Januari 2004

Catatan : Penelitian ini dilakukan pada tahun 2005

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 November 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: