PENDEKATAN DALAM STUDI FILM

Graeme Turner (1999) dalam Film as Social Practice mengelompokkan kajian film dalam dua pendekatan:

  1. Studi film sebagai teks
  2. Studi film dalam kaitannya dengan audience

I. STUDI FILM SEBAGAI TEKS

  1. “cine-semiology”
  2. “Film Narrative”
  3. “Ideology in the Text”

CINE-SEMIOLOGY

“The signifying systems”

1. The camera

   “…..the most complex set of practices in film production involves the manipulation of the camera itself”

  1. Sudut pandang kamera (camera angles) — sudut pandang karakter
  2. Pergerakan kamera
  3. Komposisi imaji dalam bingkai

Pengambilan gambar sebagai penanda

Pergerakan kamera sebagai penanda

2. Lighting

Dua fungsi pencahayaan dalam film:

  1. Ekspresi – penciptaan mood
  2. Kontribusi dalam detil naratif –misal karakter atau motivasi

3. Sound

Fungsi sound :

a. Membantu fungsi naratif

b. Menguatkan suasana/emotif film

c. Menampilkan ‘cultural background’

d. Sebagai ‘a transitional device’

4. Editing

Fungsi editing …” the construction of the relationship between shots”

Contoh Problematik dalam “cine-semiology”:

Aspek editing :

Perhatikan pola editing dalam film, apakah ada hal prinsip dalam editing tersebut?

Apa kontribusi editing terhadap makna film itu

Aspek Language:

Apakah ada perangkat bahasa selain bahasa verbal mis. gesture,pakaian, dll. yang berperanan signifikan?

Apakah perangkat musik yang menyertai film juga berfungsi sebagai ‘bahasa’?

Bagaimana kaitan antara analogy bahasa ini dengan fungsi film sebagai communicative practice?

FILM NARRATIVE

Pada dasarnya semua film adalah naratif — they tell stories

Pelopor narratology Vladimir Propp (1975). Ia mengkaji beberapa folk-tales Rusia untuk melihat kemiripan dalam pola dasar cerita (fungsi)

7 karakter dramatis yang disusun Propp

  1. Penjahat   :melawan sang pahlawan
  2. Dermawan : menolong sang pahlawan dengan magicnya
  3. Penolong  : membantu sang pahlawan menyelesaikan tugas
  4. Putri  : mencari calon suami
  5. Pengirim : mengirim sang pahlawan menjalankan misi
  6. Pahlawan : mencari sesuatu dan melawan penjahat
  7. Pahlawan  palsu : mengklaim sebagai pahlawan tetapi ketahuan.

The function of Narrative

  1. Naratif berfungsi sebagai properti of human mind seperti halnya ‘bahasa’
  2. Narasi memiliki fungsi sosial dalam masyarakat yang tidak bisa ‘dihilangkan’ ( mis. Sebagai sarana pengungkapan mitos

IDEOLOGY IN THE TEXT

Analisis ideologi dalam teks memungkinkan kita melihat hubungan antara film dengan konteks kulturalnya

Film dilihat sebagai teks di mana terjadi pertarungan ideologi

II. STUDI FILM DALAM KAITANNYA DENGAN AUDIENCE

“ The film’s meaning is not simply a property of its particular arrangement of elements; its meaning is produce in relation to audience, not independently” (Turner 1999: 144)

Audience, Texts and Meanings

Dikaji dalam perspektif teori resepsi

Reception analysis bisa dikatakan sebagai  perspektif baru dalam aspek wacana dan sosial dari teori komunikasi (Jensen,1991:135).

Sebagai respon terhadap studi teks humansitik, reception analysis menyarankan baik audience maupun konteks komunikasi massa perlu dilihat sebagai suatu spesifik sosial tersendiri dan menjadi objek analisis empiris.

Perpaduan dari kedua pendekatan (sosial dan perspektif diskursif) itulah yang kemudian melahirkan konsep produksi sosial terhadap makna (the social production of meaning). \

Asumsi dalam reception analysis

Menempatkan khalayak tidak semata pasif namun dilihat sebagai agen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan makna dari berbagai wacana yang ditawarkan media(film).

Makna yang diusung media lalu bisa bersifat terbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak. (Fiske, 1987,dalam Jensen, 1991:147)

Dalam Cultural Transformation : The Politics of Resistence (1983,dalam Marris dan Tornham 1999:474,475), Morley mengadopsi pemikiran Hall mengemukakan tiga posisi hipotetis di dalam mana pembaca teks (film) kemungkinan mengadopsi:

  1. Dominant (atau ‘hegemonic’) reading
  2. Negotiated reading
  3. Oppositional (‘counter hegemonic’) reading

Dominant (atau ‘hegemonic’) reading

Pembaca sejalan dengan kode-kode film(yang didalamnya terkandung nilai-nilai,sikap,keyakinan dan asumsi) dan secara penuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh si pembuat film.

Negotiated reading

Pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kode film dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh si pembuat film namun memodifikasikannya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisi dan minat-minat pribadinya.

Oppositional (‘counter hegemonic’) reading

Pembaca tidak sejalan dengan kode-kode film dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, dan kemudian menentukan frame alternatif sendiri di dalam menginterpretasikan film.

Referensi:

James Monaco dalam How to Read a Film (1981)

Robert Stam et.al (eds) dalam New Vocabolaries in Film Semiotics (1992)

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 November 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: