SEPUTAR DUNIA PENYIARAN DAN POTENSI PH LOKAL

Pendahuluan

RUU penyiaran yang baru tengah dibahas untuk menyiapkan regulasi yang mendukung perkembangan dunia penyiaran ke arah yang lebih ideal. Satu diantaranya, mengharuskan konten lokal sebanyak 20 persen dari keseluruhan program penayangan pada televisi yang beroperasi di suatu wilayah. Berbagai kencederungan semacam itu, telah menciptakan peluang bagi tumbuhnya rumah produksi lokal untuk mengeksplorasi kekayaan nilai lokal menjadi produk tayangan dengan konten lokal.

Masalah

Melihat hal tersebut, muncul pertanyaan tentang sejauh mana meluang PH lokal dalam prospek pertelevisian. Makalah ini akan menguraikan seputar dunia penyiaran dan potensi PH lokal

Pembahasan

DIAGRAM PENGGGOLONGAN LEMBAGA PENYIARAN
BERDASAR KARAKTER
(Effendi Gazali, dkk.,2003)

     
Lembaga Penyiaran Komersial Lembaga Penyiaran Publik Lembaga Penyiaran Komunitas
Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan penyiaran radio atau penyiaran televisi atau penyiaran berlangganan yang mendasarkan operasinya atas prinsip pencapaian keuntungan ekonomi Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan penyiaran radio atau penyiaran televisi atau penyiaran berlanggalan yang memberikan pengakuan secara signifikan terhadap peran supervisi atau evaluasi oleh publik melalui sebuah lembaga supervisi yg khusus didirikan utk itu. Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan penyiaran radio atau penyiaran televisi atau penyiaran berlanggalan yang memberikan pengakuan secara signifikan terhadap peran supervisi atau evaluasi oleh anggota komunitasnya melaluii sebuah lembaga supervisi yg khusus didirikan utk itu.

 

Khalayak Lembaga Penyiaran Komersial Lembaga Penyiaran Publik Lembaga Penyiaran Komunitas
  Umum, terbuka lebar Umum, lebih dari satu komunitas Satu komunitas tertentu saja

 

Visi

 

Dapat dinyatakan berbagai pernyataan ideal (hiburan,informasi dan pendidikan )namun semua visi itu implementasinya, khususnya untuk produksi dan pemasaran, tetap diperhitungkan berdasar prinsip pencapaian keuntungan ekonomi Meningkatkan kualitas hidup. Secara khusus meningkatkan apresiasi terhadap keanekaragaman yang ada di tengah masyarakat dengan harapan menciptakan kehidupan yang harmonis di antara berbagai komunitas  yang berbeda (living in colors) Meningkatkan kualitas hidup anggota komunitasnya. Secara khusus menjadi penyiaran yang bersifat “ dari.oleh dan untuk komunitas”
Pemilik /Pendiri Umumnya berbentuk Perseroan Terbatas (PT) sebagian dapat menjadi Terbuka (Tbk) dan menawarkan sahamnya di bursa saham Dapat dimiliki negara atau oleh pemerintah, atau non-pemerintah (swasta), umumnya oleh Perguruan Tinggi, Yayasan, LSM, bahkan dapat pula Perseroan Terbatas tertentu, sebagai bagian dari pelayanan publiknya, namun tetap harus membentuk Lembaga Supervisi yang independen Umumnya didirikan oleh yayasan atau LS bersama-sama dengan kesadaran yang tumbuh di dalam komunitas itu sendiri tentang kebutuhan akan sebuah Lembaga Penyiaran  Komunitas. Masalah Legitimasi dari anggota komunitas merupakan hal amat penting.

Bagaimana dengan istilah “Televisi Lokal” ?

Dasar : Undang-Undang Penyiaran No 32 Tahun 2002

Undang-Undang ini memberikan pengakuan hukum atas eksistensi lembaga penyiaran lokal, baik lembaga penyiaran komersial lokal, komunitas, maupun publik.

Klausul yang menyatakan televisi lokal yakni pasal 31 ayat (1) yakni :“Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran televisi terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan atau stasiun penyiaran lokal.”

Asumsi sekitar Televisi Lokal

Keberadaan penyiaran lokal atau komunitas sangat dibutuhkan, karena hal ini akan mencerminkan keseimbangan dan keadilan dalam memperoleh sekaligus menyampaikan informasi,

sebuah pengejawantahan ekspresi masyarakat lokal atau kelompok tertentu,

serta sebuah alternatif dari cengkeraman hegemoni dan dominasi penyiaran nasional yang belum tentu sesuai dengan keinginan masyarakat pendengar dan pemirsanya ( Widjanarka dkk,2003).

Wujud/pengejawantahan semangat otonomi daerah

Beberapa persoalan yang timbul dalam penyelengaraan televisi lokal

  • Bagaimana membuat rangkaian program acara yang menarik
  • Kesiapan SDM yang menangani siaran
  •  Kreativitas yang akan disajikan
  • Dan yang terpenting : bagaimana stasiun tersebut mampu mengambil dan memposisikan perannya bagi kemanfaatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat lokal

Bagaimana dengan “isi” Televisi Lokal ?

Ada dua kategori nasib TV lokal :

1. TV lokal yang berhasil mempertahankan jati diri kelokalan

2. TV lokal yang terpaksa mengurangi porsi kelokalan, dan larut dalam selera nasional ( mengapa??? )

Skenario TV lokal di masa depan

1. TV lokal membangun kerjasama dengan LSM, pendidikan penyelenggara komunikasi, juga pemerintah daerah membentuk semacam Forum Konsultatif Lokal (ctt. Adopsi dari gagasan Yayasan SET yang mengusulkan adanya Local Consultative Forum/LCF )

Forum ini berfungsi sebagai media yang mendiskusikan wacana penyiaran publik dan komunitas serta mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan penggalangan dana publik, perencanaan dan produksi program

2. Memberi kesempatan lebih luas pada PH lokal sebagai penyuplai tayangan audio visual untuk pemirsa lokal.

Bagaimana PH lokal menjawab tantangan ini?

1. Melakukan analisis karakter khalayak lokal

2. Mengidentifikasikan program-program tayangan yang “ diluar tradisi penyiaran komersial”

Bagaimana melakukan analisis karakter khalayak lokal ?

1. Sifat pemirsa lokal sebagai pemirsa alternatif

2. Mempertimbangkan aspek “interpelasi” (Althuser dalam Lapsley & Westlake, 1988:12). Dan “representasi” (Branston & Stafford, 1996:78).

Alternatif program-program tayangan yang sesuai dengan televisi lokal
(Effendy Gazali,dkk. 2003; Dornfield, 1998)

1. Program-program mengenai budaya dan tradisi serta kearifan lokal

2. Program-progam untuk meningkatkan apresiasi terhadap kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat (living in colors)

3. Program-program tentang kedalaman dan keteduhan agama serta budi pekerti

4. Progam-program yang mengkampanyekan pengakuan eksistensi sekaligus pemberdayaan kelompok-kelompok minoritas

5. Program-program untuk anak-anak yang bersih dari adegan kekerasan

6. Program-program untuk peningkatan kedudukan dan peran perempuan.

7. Program-program tentang pendidikan hak-hak dan kewajiban warga negara

8. Program-program dimana LSM dan lembaga pendidikan dapat mensosialisasikan kegiatan mereka

9.Program-program penyampaian buah pikir yang membuka kesempatan lahirnya pemimpin-pemimpin lokal yang berakar di tengah masyarakat

10. Program-program yang memperlihatkan proses pengambilan kebijakan yang memengaruhi kehidupan publik di balai kota

11. Program-program instruksional yang berisi petunjuk-petunjuk praktis untuk mengatasi persoalan keseharian khalayak di suatu daerah tertentu

12. Program-program iklan layanan masyarakat

13. program tentang acara-acara lokal di teater publik, sekolah publik dll.

Kesimpulan :

  1. Perkembangan dunia pertelevisian khususnya dengan lahirnya beberapa TV  Lokal membuka kesempatan bagi PH lokal untuk mengeksplorasi local wisdom menjadi produk audio visual yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
  2. PH lokal perlu melakukan kajian terhadap kharakteristik pemirsa lokal dan membuat peta koginitif mengenai tema-tema atau program apakah yang bisa digali

REFERENSI

  1. Branston, Gill & Roy Stafford. The Media Student’s Book. New York, N.Y.: Roudledge, 1996.
  2. Dornfield, Barry Producing Public Television, Producing Public Culture. Princeton: Princeton University Press, 1998.
  3. Gazali, Effendy.dkk.,Konstruksi Sosial Industri Penyiaran ( Plus Acuan Tentang Penyiaran Publik dan Komunitas). Jakarta: Penerbit Departemen Ilmu Komunikasi Fisip UI, 2003
  4. Lapsley, Robert. & Michael Westlake. Film Theory : An Introduction. Manchester: Manchester University Press, 1988.

*)Pokok-pokok pikiran disampaikan dalam Seminar Sehari :Peluang Bisnis PH Lokal dan Potensi Konten Lokal pada Masa Depan Industri TV Indonesia,diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Pariwisata bekerja sama dengan Jaringan Kerja Film Banyumas di Hotel Ardi Kercana Baturraden, Banyumas 3 Agustus 2010.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 5 November 2011.

2 Tanggapan to “SEPUTAR DUNIA PENYIARAN DAN POTENSI PH LOKAL”

  1. mhn izin cofas y p?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: