BAHASA JURNALISTIK II

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Mengingat sifat komunikasinya yang searah, maka menjadi tugas jurnalis untuk mengemas berita yang secara tepat dapat merepresentasikan fakta yang dipaparkannya, sekaligus mampu menimbulkan persepsi yang identik pembacanya sebagaimana yang dikehendaki oleh penulis berita.

Untuk mencapai hal itu, maka seorang jurnalis dituntut untuk memahami aspek segmental dari bahasa yang berwujud kalimat efektif, yakni kebertautan kata yang mampu mengajak pembacanya mengadakan penghayatan/ internalisasi sejelas dan sesegar sebagaimana kali pertama pikiran penulis berpindah dalam sebuah naskah.

Terdapat tiga prasyarat seorang pencipta teks untuk menyusun sebuah kalimat yang efektif, yakni:

  1. Perbendaharaan kata.
  2. Penguasaan struktur bahasa.
  3. Pengemasan gagasan.

Aspek perbendaharaan kata seseorang akan sangat terkait dengan frame of reference dan field of experience-nya sedangkan kemampuan menguasai struktur bahasa erat hubungannya dengan pengetahuan tentang sintaksis/ pola pembentukan kalimat dan identifikasi jenis kata. Dalam konteks pendidikan kejurnalistikkan, maka poin a dan b dipandang menjadi keharusan, mengingat sejak pendidikan dasar telah mempelajari pengetahuan bahasa secara formal serta sebagai subjek sosial, maka manusia seiring perjalanan waktu akan memperkaya dirinya dengan berinteraksi dan menyimpannya dalam memori berbentuk bahasa. Oleh karenanya, dalam proses belajar pembuatan kalimat efektif, akan lebih menitikberatkan pada aspek pengemasan gagasan dan penalaran.

Kesatuan Gagasan

Sebuah kalimat yang efektif mengandung sebuah ide pokok atau kesatuan gagasan. Gagasan bisa bersifat:

  1. Kesatuan Tunggal

Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo akhirnya dibentuk juga oleh pemerintah pusat.

  1. Kesatuan Majemuk

“Kalau beli minuman tersebut, berarti kita membantu pendidikan masyarakat tentang bahaya AIDS, karena produsennya menyelenggarakan kampanye tentang penyakit itu,” ungkap Desvita Yuniarwati kepada teman-temannya soal pilihannya pada minuman saat makan siang itu.

  1. Kesatuan Pertentangan

Meskipun peringkat daya saing Indonesia versi Forum Ekonomi Dunia atau WEF mulai membaik, posisi Indonesia tetap terendah di kawasan Asia.

  1. Kesatuan Pilihan

“Fidesz akan ikut ambil bagian jika ketua parlemen atau presiden republik ini mengundang para pemimpin partai politik dalam pertemuan yang tak melibatkan pemerintah”.

Koherensi

Sebuah kalimat dianggap koheren ketika di dalamnya terkandung hubungan timbal balik dan jelas antar kata dan terbangun skema struktur kalimat yang jelas.

Contoh koherensi rusak:

  1. Penempatan kata yang tidak sesuai dengan pola kalimat (S-P-O-K)

anjing kemarin pagi di dekat rumah tetangga  saya lari ketakutan melihatnya.

  1. Kesalahan dalam menggunakan kata depan/ penghubung/ imbuhan

meski masyarakat Bali mendapatkan keuntungan dari sektor pariwisata, namun kita tidak dapat memungkiri munculnya dampak negatif daripada  perkembangan ini.

  1. Tumpang tindih majemuk

banyak para serdadu Israel melakukan kebiadaban di Libanon Selatan.

Penekanan

a) Penempatan subjek-predikat

Kelompok oposisi Thailand mulai memprotes perkembangan yang mengkhawatirkan ini dan meminta militer segera kembali ke jalur demokrasi.

b) Penggunaan repetisi

harapan kita demikianlah dan demikian pula harapan setiap masyarakat Sidoarjo dalam kasus lumpur yang tak berkesudahan itu.

c) Pertentangan

militer kita tidak lembek dan malas, melainkan tegar dan terlatih.

d) Partikel penekan

Bakri Gruplah yang paling bertanggung jawab dalam kasus Lapindo

Tidak seorang pun yang merasa senang dengan peristiwa tersebut.

Struktur Gaya Bahasa

1. Klimaks

Urutan gagasan dari yang tidak begitu penting hingga lebih/ sangat penting.

Contoh:

Pemerintah kini akan meningkatkan pelayanan kesejateraan pada publik, salah satunya adalah dengan mengontrol harga sembako dan utamanya menurunkan tarif BBM, listrik dan membebaskan anak pada usia sekolah dari kewajiban membayar biaya pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.

2. Antitesis

Gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata/ kalimat yang berlawanan.

Contoh:

Meskipun wacana memandirikan PERSIB bergulir kencang, justru pihak eksekutif-legislatif kota Bandung kembali menyepakati alokasi anggaran untuk tim yang pada liga Indonesia kemarin jauh dari penampilan yang dikatakan sempurna.

3. Repitisi

Tuturan perulangangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan pada kehendak ide yang hendak disampaikan.

Contoh:

”Keberhasilan pendidikan ditentukan bukan hanya ketersediaan sarana dan prasarana semata, melainkan justru bertumpu pada kualitas pendidiknya. Sekali lagi, kualitas pendidiknya!” tutur, Tri Nugroho Adi, Sekretaris Jurusan Komunikasi UNSOED

 4. Perumpamaan

Memperbandingkan dua hal yang berbeda untuk menyamakan dua kesifatan yang sama.

Contoh:

”keinginannya melamar putri gubernur itu sempat dicibir banyak orang, seolah pungguk merindukan bulan, mengingat dia hanya seorang anak petani biasa saja. Namun, kini semua cibiran itu bak masuk ke liang lahat, ketika melihat Bagus bersanding dengan Tata, gadis yang dulu dikenalnya ketika sama-sama kuliah di Program Komunikasi  IPB”.

 5. Personifikasi

Memberikan fungsi-fungsi hidup kepada benda mati.

Contoh:

Bogor memang tak salah dijuluki sebagai kota hujan. Seminggu saya berada di kota ini, nyaris sepekan pula kota ini tak henti-hentinya dibilas tangisan langit yang tiada henti.

 6. Depersonifikasi

Memberikan fungsi-fungsi benda mati kepada manusia.

Contoh :

Arif berdiri tegak mematung, tatapannya membatu pada papan pengumuman yang tepat berada di depannya.

 7. Alegorik

Menggunakan kiasan flora/ fauna mengekspresikan perilaku manusia dalam sebuah fenomena.

Contoh:

Mendengarkan cerita mbok minah dalam menyiasati berbagai problema kehidupannya yang begitu pelik dan rumit, mengingatkan kita pada sosok sang kancil.

 8. Prolepsis

Menggunakan asumsi-asumsi untuk menggambarkan aktivitas pra-kegiatan utama yang hendak disampaikan.

Contoh:

Pemilihan presiden masih setahun lagi, namun geliat mereka yang berminat untuk menjadi nakhoda republik ini tampat tak kuasa terbendung lagi. Hal ini tampak dari gencarnya mereka melakukan kegiatan yang tak dapat dipungkiri, memang berusaha mendulang simpati publik.

 9. Hiperbola

Melebih-lebihkan dari realitas yang sesungguhnya

Contoh:

Betapa dahsyatnya banjir pekan lalu di Jakarta, hingga tugu monas pun tak lagi terlihat.

10. Litotes

Merendahkan diri dari realitas yang sesungguhnya.

Contoh:

Ketika ditanya tentang latarbelakang pendidikannya, Mas Krishna – begitu biasa diakrabi – hanya beujar, ” apalah artinya saya dibanding dengan senior-senior saya, saya cuma mengertinya ilmu komunikasi saja, itu pun hanya doktor di dalam negeri”.

 11. Ironi

Menggambarkan realitas yang sesungguhnya dengan tuturan yang bertentangan.

Contoh:

Sebuah anugrah yang luar biasa bagi kota Bogor ketika mendapat penghargaan sebagai kota dengan pengelolaan transportasi terbaik se-Indonesia. Boleh jadi, lembaga tersebut memang begitu menikmati keheningan saat kendaraan angkutan tidak dapat bergerak karena saking macetnya di berbagai sudut kota.

 12. Oksimoron

Menggunakan kalimat yang memberikan alternatif arahan kepada pembacanya.

Contoh:

Menjadi seorang dosen memang bukan sebuah profesi yang akan menjanjikan limpahan materi layaknya seorang pengusaha. Namun demikian, keleluasaan hidup, larut dalam samudra ilmu dan kebanggaan sebagai seorang pendidik, boleh jadi menjadi alasan utama bagi Prasetyo memilih karir sebagai seorang pengajar di salah PTN ternama di kota Bogor.

Standar Bahasa Jurnalistik

  1. Membatasi diri dari singkatan/ akronim.
  2. Tidak menghilangkan imbuhan, awalan, akhiran.
  3. Menggunakan kalimat-kalimat secara teratur, logis dan lengkap.
  4. Menghindari dari ungkapan klise, mubazir dan mencapuradukkan kalimat bentuk pasif dengan aktif.
  5. Menghindari kata/ kalimat yang terlalu teknis dan penggunaan bahasa asing.
  6. Kesadaran etis.

REFERENSI :

  1. Keraf, G (2006). Diksi dan gaya bahasa. Gramedia, Jakarta
  2. _______(2006). Komposisi. Gramedia, Jakarta

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 1 November 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: