BAHASA JURNALISTIK I

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Mengapa ada istilah bahasa jurnalistik? Apakah berbeda dengan standar penggunaan bahasa pada umumnya? Sumadiria (2006 :7) mengungkapkan, bahasa jurnalistik hakikatnya serupa dengan bahasa baku. Pola kata, kalimat dan alinea merujuk pada situasi resmi. Ditambahkannya, hakikat bahasa jurnalistik adalah efektif, yakni pembentukan kalimat yang gramatikal, pemilihan diksi, penghindaran kata tutur dan istilah asing yang sudah ada padanannya.

Bahasa jurnalistik sesungguhnya bahasa yang digunakan oleh kalangan jurnalis agar pesan dapat mudah dipahami. Untuk itu, sebuah kemutlakan untuk merujuk pada prinsip-prinsip kelogisan suatu kata. Bila dianggap ‘sedikit berbeda’ dengan standar bahasa baku, adalah pada sifat ekonomi kata, yakni penggunaan kalimat yang singkat dibandingkan kalimat yang beranak-pinak.

Oleh karenanya, bahasa jurnalistik sejatinya berfungsi sebagai media ekspresi, sinyal, deskripsi dan argumentasi diri manusia. Sebagai konsekuensi dari ketidaksendirian manusia dalam kehidupannya, maka bahasa pun berfungsi sebagai pembentuk, pemertahananan, pemerjelas hubungan di antara anggota masyarakat, penyampai informasi di antara anggota masyarakat dan penyedia kerangka dan pengorganisasian wacana yang relevan dengan situasi. Melalui bahasa, sesungguhnya manusia dapat menciptakan representasi-representasi realitas yang tidak semata refleksi dari realitas yang ada sebelumnya. Melainkan juga mampu memberikan peranan dalam mengkonstruksi realitas. Bahasa, bagi manusia memiliki kekuatan untuk menjelaskan sesuatu di luar dirinya, dia tidak saja bekerja sebagai saluran untuk mengkomunikasikan informasi tentang keadaan mental utama, atau perilaku melainkan menata hubungan-hubungan dan identitas sosial. Bahasa dimaknai sebagai sesuatu yang merepresentasikan untuk membentuk makna tertentu, terlibat dalam konstelasi sosial dalam proses produksi dan reproduksi makna, selain itu sebagai sebuah lambang atau simbol yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain berdasakan kesepakatan bersama.

Diksi Jurnalistik

Diksi didefinisikan sebagai pilihan kata, dengan kata lain dalam konteks aktivitas jurnalistik, seorang jurnalis dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memilih penggunaan kata yang secara tepat menjelaskan fenomena yang hendak disampaikan sekaligus mengekspresikan apa dan bagaimana fenomena tersebut berlangsung. Diksi bukan sekadar permasalahan linguistik atau tata bahasa belaka, melainkan harus mempertimbangkan aspek-aspek psikologi dan sosiologi komunikasi masyarakat pengguna media. Keraf (dalam Sumadiria, 2006: 30) mengungkapkan, terdapat tiga hal mendasar yang berkaitan dengan diksi, yakni:

  1. Diksi mencakup pengertian kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, membentuk pengelompokkan kata-kata atau menggunakan ungkapan yang tepat.
  2. Diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai.
  3. Diksi hanya dimungkinkan bila seseorang menguasai sejumlah besar kosakata.

Dalam sebuah naskah, seorang jurnalis dituntut untuk berpegang pada prinsip pendayagunaan kata, yakni bagaimana dia secara tepat dalam memilih kata untuk mengungkapkan gagasan dan seberapa sesuai kata tersebut dalam mendeskripsikan suatu fenomena yang ada di lapangan. Keraf (2006: 88-89) mengungkapkan, terdapat sejumlah prasyarat yang diperlukan agar seorang penulis naskah dapat memilih kata yang tepat, yakni:

1. Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi.

Kata udara dingin digunakan secara denotatif untuk mendeskripsikan suhu udara, namun kita dapat menggunakan secara konotatif ketika kita mendeskripsikan kebiadaban seseorang pada ungkapan penjahah berdarah dingin.

2. Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.

Tidak semua kata-kata yang sinonim dapat dipertukargunakan pada setiap kesempatan, melainkan harus sesuai dengan konteks. Kata bahagia lebih sesuai dalam mengungkapkan perasaan seorang kakek saat mendapatkan cucu untuk kali pertama daripada kata girang.

3. Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaan.

Seringkali kata-kata mirip dalam ejaan namun beda arti seperti, karton dengan kartun atau bawah dengan bawa.

4. Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri.

Meskipun kita memiliki selera bahasa sendiri, namun ada baiknya dalam sebuah naskah yang akan diakses media massa untuk menghindari istilah-istilah yang kita reka sendiri atau belum akrab dipergunakan dikarenakan akan sangat mungkin disalahartikan bahkan tidak dimengerti. Kata purwarupa tidak akrab dibandingkan dengan contoh awal.

5. Tidak terlalu mudah mengadopsi istilah asing.

Meskipun diperbolehkan, ketika kita memiliki padanan yang sudah akrab diketahui, maka istilah asing disarankan untuk tidak dipergunakan.

6. Membedakan kata umum dan kata khusus.

Menggunakan kata-kata tergantung dengan kebutuhan akan deskripsi realitas, sehingga kita dapat memilih kapan kita menggunakan istilah olahragawan dan kapan kita menggunakan istilah pemain sepakbola.

7. Mempergunakan kata-kata indra yang menunjukkan persepsi bersifat khusus.

Untuk memudahkan imajinasi pembaca dengan fenomena yang dipaparkan, maka kita dapat menggunakan kata-kata yang bersifat peraba, perasa, penciuman, pendengaran dan penglihatan.

D. Perubahan Makna

1. Perluasan Makna.

Perubahan atas suatu kata terjadi perluasan/ pengembangan/ melampaui arti pada asal kata ini bermula.

Contoh dari perluasan makna adalah kata saudara, bapak, ibu, adik yang sebelumnya menggambarkan pertalian darah kini meluas pada orang lain. Pula dengan istilah putra dan putri, yang dulu merupakan sebutan bagi anak-anak raja kini meluas pada semua anak dari seluruh lapisan.

2. Penyempitan Makna

Makna pada kata tersebut saat ini menjadi lebih sempit dari awal kata ini digunakan. Contohnya adalah kata bau, dimana dulu mendeskripsikan seluruh udara yang terbaui kini menyempit pada udara yang menimbulkan perasaan ketidaknyamanan.

3. Ameliorasi

Proses perubahan makna di mana pada saat ini, kata tersebut dipersepsikan lebih tinggi derajatnya dibandingkan pada masa lalu.

Contoh :

Wanita dipersepsi lebih tinggi dibandingkan perempuan, sebutan istri daripada bini.

4. Peyorasi

Proses perubahan makna pada saat ini, kata tersebut dipersepsikan lebih rendah derajatnya dibandingkan pada masa lalu.

Contoh :

Hubungan suami istri dibandingkan dengan bersebadan, toilet daripada kakus.

5. Metafora

Perubahan makna karena persamaan sifat antara dua objek.

Contoh :

Berbisa ucapannya adalah kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan orang yang bila berkata-kata kerap menyakiti orang.

6. Metonimi

Perubahan makna karena hubungan erat diantara kata-kata yang terlibat.

Contoh :

Gedung Sate sebangun maknanya dengan Gubernur Jawa Barat.

REFERENSI :

  1. Keraf, G (2006). Diksi dan gaya bahasa. Gramedia, Jakarta
  2. _______(2006). Komposisi. Gramedia, Jakarta
  3. _____________(2006) Bahasa jurnalistik. Simbiosa Rekatama Media, Bandung
  4. _____________(2006). Jurnalistik indonesia. Simbiosa Rekatama Media, Bandung
  5. Widjanarko,Wisnu & Tri Nugroho Adi (2010) Modul Kuliah Dasar-Dasar Jurnalistik. Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 1 November 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: