KAJIAN PSIKOLOGI KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK

Pengertian Komunikasi Kelompok

Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to-face interaction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to recall personal characteristics of other members accurately).

Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu :

  1. interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci.
  2. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok.
  3. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
  4. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.

Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau group merupakan sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan tertentu (a small collection of people who interct with each other, usually face to face, over time order to reach goals).

Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :

  1. elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
  2. elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
  3. elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
  4. elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.

 KOMUNIKASI ANTAR KELOMPOK

1. Dominansi Sosial

Masyarakat terbentuk dari sebuah sistem berdasarkan hirarki yang di dalamnya terdiri dari berbagai kelompok. Kelompok yang menempati tempat teratas dalam hirarki disebut kelompok dominan. Sebaliknya, kelompok yang menempati bagian bawah dari sistem hirarki tersebut dikatakan sebagai kelompok  subordinat.

Kelompok dominan digolongkan sebagai kelompok yang memiliki nilai sosial positif dan kelompok subordinat dikatakan sebagai kelompok  dengan nilai sosial negatif. Dikarenakan banyak keuntungan dari kepemilikan nilai sosial positif tersebut, maka konsep ini menjelaskan bagaimana kelompok dominan berusaha untuk melanggengkan kepemilikannnya agar ia dan kelompoknya tidak mendapatkan nilai sosial negatif.

Setelah memahami adanya hirarki sosial berdasarkan kelompok tersebut, sejatinya hakekat dasar manusia adalah hadirnya  keinginan untuk mempertahankan dan menjaga hirarki sosial berbasis kelompok (group-bases social hierarchies).  Sidanius and Pratto kemudian menyatakan adanya hirarki sosial berdasarkan kelompok dan hirarki sosial berdasarkan individu. Hirarki sosial berdasarkan kelompok dapat dibedakan atas 3 ( tiga ) sistem kategori sosial, yaitu:

  1. Sistem berdasarkan umur (aged-based). Sistem yang memberikan kekuasaan lebih pada individu dewasa daripada anak-anak.
  2. Sistem berdasarkan jender (gender-based). Dimana pria memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada perempuan.
  3. Sistem berdasarkan  arbitrary-set. Suatu  sistem dimana kekuasaan-kekuasaan dalam masyarakat disusun berdasarkan kelompok etnis, bangsa, ras, kasta, kelas sosial, agama dan lainnya.

Hirarki sosial berdasarkan kelompok ini dibentuk dan dipertahankan melalui 3 (tiga) proses, yaitu :

  1. Aggregated Individual Discrimination. Adalah segala perilaku individu yang melakukan diskriminasi terhadap individu lain. Mengacu pada perilaku sederhana yang dilakukan sehari-hari, misalnya promosi pegawai harus dari etnis tertentu
  2. Aggregated Institutional Discrimination. Adalah diskriminasi yang didukung oleh peraturan, prosedur dan perilaku sosial sebuah institusi yang dilegalkan. Institusi ini mempertahankan hirarki dengan menggunakan sistematik teror. Dimana kelompok hegemoni melakukan kekerasan dan paksaan terhadap kelompok subordinat.
  3. 3.      Behavioral asymmetry. Group based social hierarchy dibuat dan dijaga keberlangsungannya oleh suatu mekanisme yang disebut behavioral asymetry. Secara umum akan terdapat perbedaan perilaku dari individu yang berasal dari kelompok yang berbeda-beda. Perbedaan perlakuan tersebut akan mendukung dan memperkuat adanya group-based hierarchical dalam sistem sosial. Behavioral Asymetry ini juga akan dipengaruhi oleh adanya legitimizing myths, stereotip, sosialisasi dan lainnya. Sejauh ini terdapat empat macam behavioral asymetry, yaitu:
  • asymmetrical ingroup bias. Hampir di seluruh budaya, umumnya manusia bersikap etnosentris dan menyenangi kelompoknya dibanding kelompok luar. Namun dengan adanya system sosial, tidak seluruh kelompok akan menunjukkan ingroup bias pada tingkat yang sama. Kelompok dominan/hegemoni akan memperlihatkan tingkat ingroup favoritism dibandingkan kelompok subordinat.
  • outgroup favoritism or deference, merupakan kecenderungan untuk lebih menyukai kelompok outgroup. Hal ini biasanya jarang terjadi, namun apabila terjadi maka ini merupakan akibat adanya kesenjangan antara ingroup-outgroup begitu kuat.
  • self-debilitation. Terjadi ketika kelompok subordinat menunjukkan perilaku yang destruktif yang tinggi daripada kelompok dominan.
  • ideological asymmetry. Paham-paham yang mendukung adanya ketidaksetaraan antar kelompok-kelompok dalam masyarakat, seperti sexism, rasisme dan lainnya.

Berdasarkan hasil observasi mengenai adanya sistem hirarki atau stratifikasi sosial dalam masyarakat tersebut maka Sidanius dkk (1994) mengajukan tiga asumsi yakni :

  • Sistem hirarki berdasarkan usia dan gender akan selalu ada dalam semua sistem sosial dalam masyarakat, namun sistem berdasarkan arbitrary set selalu muncul dalam sistem yang ditopang oleh keberhasilan ekonomi
  •  Hampir semua konflik antar kelompok dan tekanan-tekanan pada kelompok lain merupakan manifestasi dari sifat dasar manusia untuk selalu membetuk hirarki sosial dalam masyarakat.
  • Human sosial system merupakan alat untuk menyeimbangkan dari pengaruh dua kekuatan yaitu kekuatan yang mendukung adanya hirarki kelompok-kelompok dalam masyarakat berdasarkan ketidaksetaraan sosial dan kekuatan yang ingin menciptakan susunan masyarakat berdasarkan kesetaraan sosial.

Berdasarkan tiga asumsi dasar diatas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya konsep ini ingin memahami hubungan intrapersonal, interpersonal, intergoup dan mekanisme institusional yang menghasilkan dan menjaga agar hirarki sosial yang ada dalam kelompok-kelompok masyarakat serta bagaimana sistem hirarki itu pada akhirnya mempengaruhi mekanisme tersebut.

Sistem hirarki yang ada pada masyarakat tidak terjadi dalam waktu singkat dan mudah, melainkan membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang serta berdasarkan atas sejarah keberadaan berbagai kelompok dalam masyarakat. Menurut Sidanius & Pratto (1999) kelompok dominan akan cenderung mempertahankan kedudukannya dengan berbagai cara yang diaktualisasikan melalui perilaku anggota kelompok dominan. Kecenderungan perilaku anggota kelompok itu dikatakan sebagai social dominance orientation (Orientasi Dominansi Sosial).

Konsep dominasi sosial mengasumsikan masyarakat dalam dominasi kelompok tertentu akan menyebabkan munculnya praktek sosial yang berkaitan dengan hierarki dan justifikasi.  Beberapa eksperimen mengungkapkan bahwa orientasi psikologi dapat mempengaruhi dominasi sosial.  Individu dengan kecenderungan inklusif, empati dan respektful dan berada pada kelompok subordinat akan cenderung untuk memilih kelompok dengan karakteristik inklusif dan berdasarkan kepada azaz persamaan, tanpa hierarki.  Sedangkan pada kelompok individu dengan kecenderungan untuk berkompetisi dan mendapat perlakuan mengancam serta berada pada kelompok yang dominan akan lebih memilih kelompok yang dominan.  Range dari orientasi dominasi sosial tersebut berada pada kisaran rendah (untuk orang yang memilih paham kesamaan) dan kisaran tinggi pada kelompok yang memilih paham dominasi dalam kelompoknya.

Individu yang memiliki SDO yang tinggi umumnya mengikuti kelompok dan norma yang mempertahankan sistem hierarki (hierarchy-enhancing) seperti kepolisian,pengadilan, dan banyak perusahaan.  Sedangkan untuk individu yang memiliki SDO yang rendah, terdapat kecenderungan untuk memilih kelompok yang merendahkan status kelompok dan tidak mengalami perbedaan kekuasaan (hierarchy-attenuating). Secara signifikan SDO dipengaruhi oleh sedikitnya 4 (empat) hal, yaitu :

  • SDO didorong oleh keanggotaan seseorang dalam sebuah kelompok berdasarkan sistem arbitrari. Umumnya anggota kelompok dominan atau individu yang mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok dominan akan memiliki SDO yang tinggi daripada individu yang berasal dari kelompok subordinat.
  • Tingkat SDO dipengaruhi oleh latar belakang dan sosialisasi individu, seperti tingkat pendidikan seseorang, kepercayaan agama dan seluruh pengalaman sosialisasi lainnya, seperti perang, depresi dan bencana alam.
  • Setiap manusia dilahirkan dengan perbedaan temperamen dan kepribadian. Salah satunya adalah empati, dimana seseorang dengan empati tinggi memiliki SDO rendah.
  • Tingkat SDO seseorang tergantung pada jender. Dimana pria memiliki tingkat SDO lebih tinggi dibanding wanita.

2. Modal Sosial

Suatu komunitas akan jauh lebih baik ketika di dalamnya terdapat niat baik, simpati dan hubungan sosial. Ditambahkannya, situasi tersebut adalah sebuah modal bersama yang hanya terjadi bila di antara masyarakat terkait satu sama lain. Konsep ini baru mulai akrab dikenal masyarakat ketika dipopulerkan oleh Coleman (dalam Pargal, Huq dan Giligan, 1999) yang menyatakan bahwa modal sosial merupakan kumpulan sumberdaya yang melekat dalam hubungan keluarga dan dalam komunitas organisasi sosial.

Sesungguhnya tidak pernah ada masyarakat melainkan para individu yang saling terkait satu sama lain dan berupaya menuju kebaikan bersama. Modal sosial berakar pada karakteristik, kaidah moral dan keanggotaan individual. Interaksi antar individu dapat melahirkan suatu perangkat kehidupan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan mereka yang berinteraksi tersebut. Konsep dasarnya adalah, bagaimana interaksi tersebut dapat membuat mereka yang terlibat untuk mau berkomitmen satu sama lain dan membawa keuntungan bagi kehidupan mereka.

Dalam kerangka ini, kesediaan untuk terlibat dalam jaringan sosial atau kegiatan non-profit, sikap saling peduli dan mengedepankan hubungan timbal balik serta dapat mempercayai, merupakan suatu potensi bagi individu-individu yang terlibat di dalamnya untuk mencapai kebaikan yang diharapkan oleh lingkungan. Akumulasi rasa saling percaya yang ada sebuah komunitas, sebagaimana yang ditunjukkan oleh keragaman dan kombinasi aksi sukarela, pada akhirnya dapat menghasilkan kehidupan  bermasyarakat yang lebih baik, di mana dalam hal ini melalui tersedianya pemerintahan yang berorientasi pada publik.

Karakter lain yang membedakan Putnam dengan konseptor lain dalam menjelaskan modal sosial adalah sifat modalitas tersebut dapat menjelaskan keterlibatan seseorang dalam proses politik pada kerangka demokratis, Putnam juga menjelaskan, bahwa modal sosial menimbulkan dua efek politis, yakni membangun kebiasaan untuk bekerjasama dan kepedulian membangun lingkungan yang baik serta mengarahkan pada ketertarikan dan percaya akan suatu kebutuhan atas pemerintahan.

Referensi :

Widjanarko, Wisnu & Tri Nugroho Adi . 2009. Modul Kuliah Psikologi Komunikasi. Jurusan Ilmu Komunikasi. Tidak diterbitkan.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 31 Oktober 2011.

Satu Tanggapan to “KAJIAN PSIKOLOGI KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK”

  1. […]  Small Group Communication – Studi tentang sistem komunikasi di antara tiga atau lebih individu yang saling berinteraksi dengan tujuan bersama dan saling memengaruhi di antara mereka. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: