Transformasi Etika Komunikasi Individual ke Sistem Sosial

 

Saya akan mengawali tulisan ini dengan mengemukakan sebuah kisah seseorang lelaki sebut saja namanya Badrun. Di  lingkungan rumah tangganya, si Badrun ini dikenal sebagai suami kalem pendiam, lemah lembut budi bahasanya dan tidak neko-neko. Entah tepat atau tidak, lelaki semacam itu menurut saya terbilang pada kategori suami yang takut pada istri karena ada kesan dominasi kendali rumah tangganya dipegang oleh istri meski sosok kepala rumah tangga secara kasat mata tetaplah pada diri si Badrun. Namun, lain kondisi lain pula kisahnya. Si Badrun yang kalem itu ternyata dikenal sebagai atasan dan juga rekan kerja yang garang. Tutur katanya yang kalem berubah total menjadi “beringas” ketika dia sudah memasuki dunia kerja. Tak jarang bawahannya menjadi sasaran bulan-bulanan semburan kata-kata dan juga tingkah laku yang sebetulnya lebih tepat disebut kasar ketimbang tegas. Ia adalah sosok yang mendominasi dan tak kenal kompromi. Amat berbeda dengan sosok Badrun sebagai suami di rumahnya.

Kisah yang kedua bercerita tentang seseorang lelaki lain sebut saja namanya Karimun. Ia adalah sosok warga masyarakat yang dikenal jujur dan mau berkiprah secara sosial dalam lingkungan kampung. Dalam urusan uang/kas RT, ia sering diminta mengelola dan pelaksanaannya beres-beres saja. Tapi tunggu dulu. Lain Karimun di rumah lain pula Karimun di tempatnya bekerja. Karir yang mengantarkan Karimun sehingga berhasil menduduki posisi penting dalam lingkungan instansi tempat dia bekerja ternyata telah merubah karakter atau tepatnya telah membuat dia menjadi seseorang yang berkarakter lain  dibanding sosoknya yang dikenal di lingkungan rumah tangga atau kampungnya. Singkat cerita, Karimun dikabarkan terlibat dalam sebuah kasus korupsi yang merugikan negara dalam jumlah yang cukup mencengangkan.

Apa yang sama dan berbeda dari kedua cerita tersebut? Persamaannya, di antara keduanya kita menemukan adanya kesenjangan antara karakter perilaku seseorang dalam lingkup pribadi dan lingkup sosial. Perbedaaanya, di antara kedua perilaku tersebut kita menerapkan standar penilaian etika yang berbeda. Kisah Badrun berkaitan dengan etika keramahan kelembutan dalam berkomunikasi dsb. Sedangkan dalam diri Karimun yang kita persoalkan adalah etika perilaku yang berkaitan dengan nilai kejujuran dst.

Menilai tingkah laku (komunikasi seseorang ) menurut tolok ukur norma yang menjadi dasarnya adalah termasuk penilaian etika komunikasi. Penilaian etika berfokus pada tingkat-tingkat kebenaran dan kesalahan dalam perilaku manusia. Ketika kita mengecam seseorang karena tidak efisien, konfromis, boros, malas atau lamban, kita mungkin tidak akan serta merta menyebutnya tidak etis. Namun, standar-standar seperti kejujuran, menepati janji, dapat dipercaya, adil dan manusiawi biasanya memang digunakan untuk membuat penilaian etika tentang kebenaran dan kesalahan dalam perilaku manusia.

Tulisan ini selanjutnya tidak hanya mempersoalkan penilaian etis terhadap sekelumit contoh fenomena keseharian yang sudah diutarakan di depan. Dengan teramat sederhana dan jauh dari kata sempurna, tulisan ini akan lebih banyak melihat bagaimana seseorang dalam konteks situasi yang berbeda mengesankan adanya perbedaan karakter perilaku yang berbeda yang tentunya mengandung perbedaan nilai dilihat dari standar perilaku komunikasi etisnya. Lebih jelasnya masalah pokok tulisan ini adalah mencoba menjawab persoalan berikut:

Bagaimana kita bisa menjelaskan, dengan perspektif etika komunikasi, perbedaan karakter seseorang utamanya dilihat dari perilaku komunikasinya ketika berada dalam ranah yang berbeda misalnya dalam ranah interaksi individu ( interpersonal ) dan ranah sosial ( sistem sosial )?

Etika Komunikasi : konstruksi yang terikat budaya

Etika adalah standar-standar moral yang mengatur perilaku kita : bagaimana kita bertindak dan mengharapkan orang lain bertindak ( Verderber dalam Mulyana, 1996 : v ). Etika pada dasarnya merupakan dialektika antara kebebasan dan tanggungjawab, antara tujuan yang hendak dicapai dan cara untuk mencapai tujuan itu. Ia berkaitan dengan penilaian tentang perilaku benar atau tidak benar, yang baik atau tidak baik, yang pantas atau tidak, yang berguna atau tidak berguna, dan yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Beberapa filosof membedakan antara etika dan moral sebagai konsep. Etika dinyatakan sebagai kajian umum dan sistematik tentang apa yang seharusnya menjadi prinsip benar dan salah dalam perilaku manusia. Sementara moral ( atau moralitas) adalah standar benar dan salah yang praktis, spesifik, disepakai bersama dan dialihkan secara kultural ( Johannesen,  1996 : 1)

Etika tidaklah datang dari ruang hampa, melainkan melalui evolusi masyarakat yang  bersangkutan dalam mengembangkan realitas sosialnya. Dengan kata lain, etika terikat  budaya ( culture – bound): berkembang secara inheren dalam budaya, tepatnya dalam filsafat atau pandangan hidup suatu masyarakat ( Mulyana, 1996 : vi ).

Menurut McCroskey ( dalam Mulyana, 1996 :vi ) sistem-sistem etika dikonstruksi oleh manusia, bukan bawaan, namun dipelajari oleh setiap generasi penerus. Individu-individu mengembangkan dan menetapkan etika melalui apa yang kemudian disebut  typications  yang berasal dari stock of preconstituted knowledge mereka untuk mencap individu –individu, motif-motif, tujuan-tujuan dan pola-pola tindakan. Tipifikasi – tipifikasi ini bergantung pada sistem relevansi, tujuan, minat atau kepentingan, rencana-rencana dan harapan-harpan individu  yang bersangkutan, yang semuanya terendapkan dalam pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya.

Etika suatu masyarakat tentang suatu hal termasuk di dalamnya etika komunikasi insani bersifat relatif, artinya hanya berlaku untuk masyarakat  tersebut dan tidak mengikat masyarakat-masyarakat lainnya. Setiap bangsa memiliki definisi tersendiri mengenai konsep kebenaran, rasionalitas, objektivitas, kesopanan, penghinaan, kebebasan, tanggung jawab atau kebohongan secara berlainan pula.

Problematika etika komunikasi juga didasari pada kenyataan bahwa komunikasi terdiri dari berbagai konteks. Ada komunikasi antarpersona, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik, komunikasi organisasi, komunikasi massa dan komunikasi budaya ( Tubbs dan Moss, dalam Mulyana 1996 : vii ). Etika komunikasi menjadi muskil karena kita sulit menerapkan suatu standar untuk semua situasi komunikasi, pada setiap waktu dan dalam setiap budaya ( Mulyana 1996 : vii ). Untuk itu diperlukan pendekatan atau perspektif situasional dalam menerapkan kajian mengenai etika komunikasi insani.

“Diri” pada individu : otonomkah ?

Sebelum kita mencoba menelaah persoalan perbedaan perilaku komunikasi seseorang dalam konteks situasi yang berbeda, maka perlu terlebih dahulu kita menengok sisi dalam individu yang sebut saja sebagai “diri”, yakni subjek sang “aku” dalam individu seseorang yang senantiasa dihadapkan pada situasi pencarian jati diri atau identitasnya.

Wacana filsafat klasik yang menyoal seputar “siapakah aku manusia” mencatat nama besar Descartes yang merumuskan “diri” sebagai sang aktor pelaku yang dengan “cogito”-nya menentukan lakunya. Konsepsi Descartes ini menempatkan subjektivitas sebagai pusat pada rasionalitasnya, kesadarannya. Inilah dasar peradaban pencerahan yang menempatkan manusia sebagai pelaku otonom untuk memaknai, memberi arti lewat kesadaran rasionalitas ( Sutrisno, 2004: 1 )

Ketika Freud “menemukan” psikoanalisis di mana penentu otonomi manusia bukan pada kesadarannya tetapi justru ketidaksadarannya digugat baliklah manusia sebagai subjek pelaku atau aktor dalam hidupnya. Subjektivitas dalam diri manusia sebagai agent atau agency dikritisi justru karena ia tidak 100 % otonom lantaran sebagian dirinya ditentukan oleh super ego-nya ( tradisi baik buruk; norma salah benar yang dihunjamkan dan dikonstruksikan sebelum kesadarannya tumbuh dewasa )  dan sebagian lain ditentukan serta dikonstruksikan oleh naluri insting libido untuk terus hidup. Jadi, perumusan diri manusia sebagai subjek oleh otonom kesadarannya dalam dirinya, tepat pada struktur kepibadiannya, menurut Freud tidak otonom lagi karena dikonstruksikan oleh super ego dan id ( naluri kelangsungan hidup ).

Otonomi subjektivitas  sebagai aktor diguncang pula oleh pemikiran Marx dengan analisis struktural kesosialan manusia. Dalam konsepsi Marx, manusia tidak otonom dan bukan subjek rasional merdeka kehendak kalau dia terlahir miskin karena dikonstruksikan oleh relasi ekonomi modal dan tanpa alat kerja. Kondisi miskin material, tak bermodal, tak berakses kekuasaan dan relasi ekonomis membuatnya tidak menjadi diri otonom bahkan heteronom secara sosial dan struktural ( Sutrisno, 2004 : 2 )

Berkat dua pemikir tersebut maka pembentukan proses menjadi diri seseorang di abad ke-20 ini dikritisi sebagai bukan melulu individu otonom pemakna hidup tetapi ia dibentuk oleh konstruksi relasi-relasi sosial ekonominya yang tidak otonom lagi.

Catatan tentang proses menjadi diri seseorang di atas sengaja ditampilkan karena menurut saya memiliki keterkaitan dengan persoalan keputusan yang harus diambil seseorang dalam menentukan suatu perilaku ketika berada dalam suatu konteks lingkungan atau situasi tertentu; atau berkaitan dengan persoalan mendasar penilaian etika komunikasi insani. Saya memang pernah terkesima dengan paham konstruktivis sebagaimana tersirat di dalam uraian di atas walaupun  tidak sepenuhnya saya setuju dan mendasarkan diri melulu pada konsep ini dalam analisis selanjutnya. Namun dalam kesempatan ini saya tidak akan memperdebatkan soal ini, yang ingin saya telaah lebih lanjut justru mencari penjelasan bagaimana konstruksi yang terjadi dari interaksi atau relasi sosial ekonomi ( dan kultural  tentunya ) lalu membawa implikasi terhadap terbentuknya diri dan juga karakter perilaku seseorang.

Ketegangan antara I dan Me

Mempersoalkan etika komunikasi sesungguhnya memasuki wilayah yang pelik karena komunikasi manusia itu sendiri merupakan persoalan yang pelik juga. Umumnya kita menilai etika komunikasi kita sendiri berdasarkan niat yang kita miliki. Namun ketika kita menilai etika komunikasi orang lain, kita menilai etika komunikasi mereka berdasarkan tindakan-tindakan mereka yang kasat mata. Masalahnya, niat yang sama mungkin diwujudkan lewat tindakan yang berbeda, atau tindakan yang sama mungkin berdasarkan niat yang berbeda. Dengan kata lain, ketika kita melakukan penilaian terhadap etika komunikasi seseorang berarti kita menimbang antara sisi dalam dan sisi luar manusia. Sisi dalam adalah niat atau intensi sedangkan sisi luar adalah wujud tindakan. Masalahnya, antara niat dan perwujudan itu ternyata tak selalu berjalan lurus.

Selain adanya kemungkinan tidak konsistennya antara sisi luar dan sisi dalam dari tindakan seseorang seperti di atas, penilaian etika komunikasi manusia makin tidak mudah karena juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dalam diri seseorang rupanya senantiasa ada ketegangan antara  I dan Me. Saya meminjam konsep ini dari perbendaharaan kajian interaksi simbolik manusia. Menurut Mead ( dalam Littlejohn,2001: 146-147), seseorang memiliki kemampuan untuk melihat dirinya sekaligus sebagai subjek dan objek. Diri seseorang bersifat reflektif, dalam arti seseorang bisa melihat dirinya sebagaimana tercermin dalam gambaran orang lain terhadap diri kita.  Mead membuat teoritisasi tentang tentang “diri” seseorang yang berkembang melalui proses dua tahap : Play Stage dan Game Stage.

Play stage mencakup pembelajaran melalui pengambilalihan sikap-sikap dari orang –orang terdekat di sekeliling orang tersebut ( misalnya orang tua ).  Sedangkan game stage melibatkan pembelajaran melalui pengadopsian sikap-sikap dari orang – orang lain dan karenanya berarti belajar untuk memfungsikan diri ke dalam kelompok-kelompok sosial.  Dalam fase game stage inilah muncul konsep generalized other yakni segenap sikap atau nilai-nilai yang ada dalam suatu masyarakat atau komunitas. Seseorang dapat  melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakatnya dengan cara  saling berbagi nilai-nilai dengan orang-orang lain dalam masyarakat. Konsep I dan Me menurut Mead tadi ada dalam proses game stage ini. I adalah respons seseorang secara spontan terhadap orang lain. Sifatnya relatif tidak terkendali. Sedangkan Me adalah proses adopsi dari generalized other tadi. Di dalamnya mencakup segenap sikap-sikap, nilai-nilai norma dan sebagainya. Perilaku yang terkendali dengan memperhatikan masyarakat di sekililingnya dengan demikian adalah ekspresi dari Me seseorang ( dan kadang senantiasa berseberangan dengan I seseorang itu sendiri ).

Untuk melengkapi penjelajahan kita akan keunikan perilaku seseorang ada baiknya kita tambahkan pemahaman kita mengenai konsep “diri” menurut Mead dengan konsepsi “diri” menurut Goffman ( dalam Mulyana, 2001:107-112 ). Teori diri menurut Goffman ini sering disebut sebagai pendekatan dramaturgis. Pendekatan ini secara khusus berintikan pandangan bahwa ketika manusia  berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola kesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya.  Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukkan bagi orang lain.

Pengembangan diri  sebagai konsep oleh Goffman nampaknya mendapat pengaruh dari gagasan Cooley tentang the looking glass self ( dalam Mulyana, 2001 :107-113). Gagasan diri  menurut Cooley terdiri dari tiga komponen : Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampil bagi orang lain; Kedua, kita membayangkan bagaimana penilaian mereka atas penampilan kita; Ketiga, kita membayangkan sejenis perasaan diri seperti kebanggaan atau malu, sebagai akibat membayangkan  penilaian orang lain tersebut.  Lewat imajinasi, kita mempersepsi  dalam pikiran  orang lain suatu gambaran  tentang penampilan kita, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter, kawan-kawan kita dan sebagainya, dan dengan berbagai cara kita terpengaruh olehnya.

Konsep tentang diri  memang menjadi sentral dari pemikiran Goffman. Namun berbeda dengan para ahli psikologi, konsep diri yang menjadi fokus dramaturgis bukanlah konsep diri yang dibawa seseorang aktor dari situasi ke situasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu melainkan diri  yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan mengatur interaksi-interaksi spesifik. Jadi diri lebih bersifat sosial daripada psikologis.  Menurut Goffman, diri  adalah suatu hasil kerjasama yang harus  diproduksi baru dalam setiap peristiwa interaksi sosial. Karena merupakan produk interaksi dramatik, diri bersifat rentan terhadap gangguan selama pertunjukkan.

Dalam pandangan Goffman kehidupan ini memang  bagaikan panggung teater yang memungkinkan  sang aktor memainkan berbagai peran di atas satu atau beberapa panggung, dan memproyeksikan citra-diri tertentu kepada orang yang hadir, sebagaimana yang diingikan sang aktor dengan harapan bahwa khalayak bersedia menerima citra-diri sang aktor dan memperlakukan sesuai dengan citra-dirinya itu. Seringkali sang aktor melakukan pengelolaan kesan tersebut tanpa sadar, ada kalanya setengah sadar, namun terkadang  juga dengan kesengajaan penuh demi kepentingan pribadi, finansial, sosial atau politik tertentu. Tetapi pengelolalan kesan yang disengaja juga terkadang menimbulkan resiko, karena khalayak aktif menafsirkan perilaku sang aktor. Dan menurut saya, pada titik inilah maka persoalan  etika komunikasi insani akan muncul.

Diskusi

Beberapa catatan teoritis yang menjelajahi persoalan kepelikan manusia sebagai subjek yang harus senantiasa mengambil pilihan sadar untuk berperilaku komunikasi tertentu sehingga bisa diteropong kadar etis tidaknya, setidaknya membawa saya untuk bisa melakukan refleksi terhadap penilaian etika komunikasi sebagaimana dimulai dalam tulisan ini.

Namun, harus disadari bahwa tidak semua kejadian bisa diteropong  secara transparan dengan dua kriteria : etis atau tidak etis. Selain harus memperhatikan faktor situasional dan dengan demikian harus melihat persoalan dalam perspektif situasinya, kita juga harus mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa diliputi misteri.

Sekarang bagaimana dengan kasus Badrun dalam awal tulisan ini? Dengan memperhatikan perspektif teori dan beberapa catatan yang telah kita kumpulkan saya cenderung hanya berkomentar bahwa tidak ada yang perlu dipersoalkan dengan si Badrun. Salah satu jawabannya, karena bagaimanapun Badrun tengah memainkan diri sebagai aktor dalam dua buah panggung  yang jelas-jelas berbeda settingnya. Dalam konsepsi dramaturgis, perilaku Badrun adalah contoh ketika seseorang dengan sengaja melakukan pengelolaan kesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya.

Kalaupun hendak dipersoalkan mengenai kadar etis tidaknya perilaku dia adalah pada setting tempat dia bekerja. Itupun mungkin hanya jatuh pada penilaian perilaku komunikasi antar personanya yang tidak menyenangkan.  Dan kalau sudah sampai pada tolok ukur menyenangkan atau tidaknya seseorang maka sanksi yang patut dijatuhkan hanyalah bahwa orang lalu cenderung hanya berhubungan dengan Badrun dalam tataran hubungan fungsional semata. Tentunya kita harus mengakui bahwa dalam setiap individu ada ruang-ruang pribadi yang bisa dimasuki oleh orang lain dan yang tidak. Orang yang memiliki perilaku komunikasi yang tidak menyenangkan biasanya juga tidak berkesempatan untuk memasuki ruang pribadi dalam batin seseorang.

Lalu bagaimana dengan tokoh kedua yang kita tampilkan di awal tulisan ini? Menurut saya, dalam kasus Karimun kita menemukan titik awal yang mudah  dijadikan pijakan untuk melakukan kajian etika komunikasinya. Pertama, kita akan begitu mudah menilai kadar etis tidaknya seseorang ketika akibat yang ditimbulkan atas perbuatan seseorang itu membawa implikasi yang cukup besar bagi orang-orang disekitarnya. Kedua, kejujuran dan tidak adalah konsep nilai yang paling mudah diterjemahkan dalam ukuran operasionalnya. Dan jelas Karimun akan mendapat penilaian yang tidak lulus. Namun sebagaimana saya janjikan dalam tulisan ini, kita tidak cukup hanya sampai pada penilaian etis tidaknya seseorang melainkan mempersoalkan mengapa seseorang menjadi tidak konsisten utamanya ketika kita melihatnya dari satu nilai ukuran yang sama untuk dua situasi yang berbeda.  Dengan kata lain, bagaimana seseorang bisa jujur dalam konteks lingkungan komunikasi pribadi ( antar persona atau kelompok kecil ) tetapi juga tidak jujur dalam situasi sosial ?

Dalam kasus Karimun sebenarnya kita akan berurusan dengan karakter moral seseorang. Pertimbangan sifat karakter moral dalam penilaian etika komunikasi dapat dilihat dari deskripsi para ahli etika sebagaimana ditulis DeGeorge ( dalam Johannesen 1996 : 11 ) berikut: Seseorang yang menurut kebiasaan cenderung bertindak secara moral sebagaimana mestinya berarti memiliki karakter yang baik. Jika terbiasa bertindak secara tidak bermoral, ia memiliki karakter yang jelek secara moral. Bila kita terapkan dalam diri si Badrun maka patut dipertanyakan apakah sesungguhnya Karimun memang memiliki karakter moral yang jelek ( tidak jujur ) bahkan ketika sedang menjalankan peran sebagai “orang jujur “ di kampung? Apakah karena perbedaan situasi artinya karena godaan yang lebih menggiurkan sehingga ia memilih  untuk berkehendak tidak jujur? Seandainya memang ternyata Karimun adalah orang yang karakter moralnya tidak jujur maka perilaku dia di kampung sesungguhnya hanyalah model permainan peran pengelolaan kesan yang semata dikendalikan tujuan tertentu. Dalam hal inilah kita bisa mengatakan bahwa sifat asasi manusia yang senantiasa menjadi pemain dalam panggung sandiwara kehidupan tidak selamanya luput dari resiko jatuh pada perilaku tidak etis.

Lalu pertanyaan yang kemudian tiba-tiba muncul di benak saya adalah : apakah ketika “diri” dalam sosok Karimun yang terkonstruksi sebagian oleh super ego-nya ( tradisi baik buruk; norma salah benar yang dihunjamkan dan dikonstruksikan sebelum kesadarannya tumbuh dewasa )  dan sebagian lain ditentukan serta dikonstruksikan oleh naluri insting libido untuk terus hidup senantiasa bisa lepas dari penilaian etis?  Dalam hal ini saya hanya bisa berkomentar bahwa proses terjadinya “diri” secara internal dalam diri seseorang adalah memang bukan wilayah etika, ia akan menjadi persoalan ketika “diri” itu sudah mengejawantah dalam tindakan-tindakan, khususnya tindakan yang membawa implikasi bagi orang –orang lain. Sedangkan tindakan yang akan membawa implikasi bagi “diri”nya sendiri kita serahkan saja pada yang namanya HATI NURANI.

Pada awal tulisan ini dibuat ada semacam harapan bagi saya untuk bisa membuat semacam analisis filsafat moral tentang fenomena perilaku komunikasi seseorang seperti beberapa contoh yang saya tuliskan. Namun pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa kemampuan saya untuk melakukan telaahan etika ternyata tidak cukup memadai sehingga saya terpaksa berperangai sebagai “ilmuwan” dan bukan belajar untuk menjadi “filsuf”. Dengan mengutip beberapa perspektif teori yang hanya sekelumit saya tahu saya tidak yakin apakah tulisan ini memang layak disebut makalah pelajaran etika atau filsafat moral. Namun dari usaha yang kecil ini setidaknya saya bisa menarik kesimpulan betapa sesungguhnya mempelajari etika ( komunikasi ) dan itu berarti  mempraktekkan etika ( secara normatif) dan tidaklah sesederhana yang saya bayangkan. Manusia adalah sekali lagi merupakan sosok yang demikian misterius. Ia menjadi manusia justru karena senantiasa diberi kebebasan untuk berkehendak dan memilih. Padahal manusia itu ternyata berdiri pada kontinum antara posisi bebas dan sekaligus juga tidak bebas. Ia bahkan hampir tidak bisa bebas menentukan makna hidupnya karena “diri” dalam dirinya juga tak luput dari konstruksi relasi sosial ekonomi dan kultural. Perumusan “diri” manusia sebagai subjek oleh otonom kesadarannya dalam dirinya, tepat pada struktur kepibadiannya, juga tidak otonom lagi karena dikonstruksikan oleh super ego dan id ( naluri kelangsungan hidup ).

Kalau sudah demikian, dapatkah etika memaksakan seseorang untuk senantiasa sadar akan apa yang menjadi diri dan kehendaknya? Saya tidak menemukan jawaban itu.Yang pasti ketika seseorang senantiasa untuk belajar mengenal dirinya dan senantiasa sadar untuk menjadi pemenang ketika terjadi pertentangan antara I dan Me  dalam dirinya, dengan  bercermin pada nilai-nilai ( sosial ) yang lebih luas ketimbang nilai-nilai pribadi yang masih dalam kuasa definisinya, maka seseorang itu akan menjadi sosok yang mendekati etis. Kesadaran adalah kunci yang paling tepat ketika kita akan mencoba mentransformasikan etika komunikasi pribadi dalam sistem sosial.

Daftar Pustaka

Johannesen, Richrad. L. ( 1996 ) Etika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Littlejohn, Stephen W.(2001). Theories of Human Communication. 7 ed. United States of America : Wadsworth/Thomson Learning.

Mulyana, Deddy. ( 1996 ). Pengantar – Etika Komunikasi : Konstruksi Manusia Yang Terikat Budaya  dalam Richard L. Johannesen. Etika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya

______________.( 2001) Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sutrisno, Mudji. ( 2004). Rumitnya Pencarian Diri Kultural . Dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto ( Eds.) Hermeneutika Pascakolonial Soal Identitas. Jogjakarta : Penerbit Kanisius.

 

 

 

 

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 28 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: