SERBA – SERBI ILMU DAN TEORI KOMUNIKASI

Pengertian Ilmu

“Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum” (Nazir, 1998)

“Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal: adanya rasionalitas,dapat digeneralisasikan, dan dapat disistematisasi” (Shapere, 1974)

“Ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi” (Tan, 1954)

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal, baik yang menyangkut alam ( natural) atau sosial ( kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berpikir.

Pengertian Ilmu Komunikasi

Berger dan Chafee dalam buku mereka Hanbook of Communication Science (1987) memberikan satu definisi yang cukup jelas mengenai ilmu komunikasi. Menurut Berger dan Chafee, ilmu komunikasi adalah “suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem  tanda dan lambang”

Pengertian ilmu komunikasi sebagaimana tercermin dari definisi menurut Berger dan Chafee di atas setidaknya menyiratkan adanya 3 (tiga) pokok pikiran:

Pertama, objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.

Kedua ,ilmu komunikasi bersifat “ilmiah empiris”(scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk-bentuk teori-teori) harus berlaku umum.

Ketiga, ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi,proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.

Jadi dapat disingkat bahwa“ilmu komunikasi pada dasarnya adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses dan pengaruhnya yang dilakukan secara rasional dan sistematik, serta keberannya dapat diuji dan digeneralisasikan”

Tradisi Keilmuan Komunikasi

Griffin ( 2003:21-35) menguraikan tentang kategori tradisi keilmuan komunikasi.

Tradisi pertama,

  • proses komunikasi sebagai pengaruh dari suatu hubungan interpersonal.
  • Carl I.Hovland oleh Schramm dipandang sebagai pemasang tiang utama ilmu komunikasi dengan kajian persuasinya, sebagai contoh,menekankan adanya perbedaan antara reaksi komunikan terhadap pesan-pesan yang disampaikan sumber yang berkrdibilitas tinggi dan sumber berkredibilast rendah(Griffin,2003 :23).
  • Dikenal “the socio-psychological tradition dan mendapat dukungan signifikan dari penelitian-penelitian Universitas Yale.

Tradisi kedua,

  • Dikenal  the cybernetic tradition yang memandang komunikasi sebagai proses pentransmisian informasi.
  • Dasar ide tradisi ini adalah model matematik penyampaian signal dari Shannon dan Weaver(1949) yang memandang komunikasi sebagai suatu proses yang linier
  • Shannon dan Weaver juga mengidentifikasi tiga tingkat permasalahan dalam studi ilmu komunikasi(keakuratan simbol,ketepatan pentransmisian,dan keeektifan pengaruh).
  • Secara umum kemudian Norbert Weiner (1967:23), dengan konsep tentang feedback-nya, mencetuskan tradisi sibernetik ini dan mengantar pada pemahaman komunikasi sebagai penghubung bagian-bagian terpisah dalam suatu sistem, termasuk untuk komunikasi sosial.

Tradisi ketiga,

  • The rhetorical tradition,menempatkan komunikasi sebagai seni berbicara kepada umum.
  • Tentunya, dasar tradisi ini erat terkait dengan tradisi retorika klasik pada abad-abad sebelum Masehi, yang kemudian dikembangkan dalam aktivitas  propaganda dan upaya-upaya melakukan persuasi
  • Tiga dasar utama yang disodorkan dalam tradisi ini adalah logos (logika),ethos (etika), dan pathos (emosi) yang mengantar pada sebuah keyakinan umum bahwa kesempurnaan komunikasi ditentukan oleh latihan dan praktek.

Tradisi keempat,

  • the semiotic tradition, memandang komunikasi sebagai suatu proses pemaknaan bersama simbol-simbol komunikasi.
  • Semiotik merupakan suatu studi tentang simbol dan kata semiology  dipopulerkan oleh Ferdinand de Saussure (Hodge dan Kress, 1988:13-36).
  • Dalam perkembangannya, tradisi semiotik ini menjembatani studi tentang bahasa, lambang-lambang non-verbal, serta gambar-gambar dengan penekanan yang bergeser pula menuju cara tanda-tanda itu bisa menghasilkan arti dan cara aplikasinya untuk mengurangi kesalahpahaman (Barthes, 2003:355;dan Griffin,2003 :23)

 Tradisi kelima,

  • the socio-cultural tradition, yang dikembangkan ahli bahasa Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf,memaknai proses komunikasi sebagai upaya penciptaan dan pembentuk realitas sosial (Kay dan Kempton,1984:65-67)
  • Pemikiran mereka dilandasi hipotesis bahwa struktur bahasa suatu kebudayaan dapat mempertajam hal-hal yang yang dipikirkan dan dikerjakan manusia.
  • Tradisi sosio-kultural ini pada masa sekarang mengantar pada pemahaman bahwa melalui proses komunikasi maka realitas  sosial sapat dihasilkan, dipertahankan,disempurnakan dan dialihgenerasikan (Carey,1989:23; dan Fiske, 1987:4-6)

Keenam,

  • the critical tradition yang meyakini komunikasi sebagai “a reflective challenge of unjust discourse’ (Grifin,2003: 10-11).
  • Dalam kehidupan media massa, pengikut tradisi ini menentang penggunaan media massa sebagai alat untuk mengontrol masyarakat (Habermas,2001:102-104; dan Rogers,1994: 108-125).
  • Ahli-ahli teori ini mengkritisi keadaan masyarakat sekarang dalam tiga bentuk:penguasaan bahasa untuk menciptakan ketimpangan kekuasaan,peran negatif media massa untuk keperluan represi, serta ketergantungan membuta pada metode ilmiah dan penerimaan hasil-hasil ilmiahnya

Ketujuh,

  • mirip dengan tradisi semiotik,The phenomenological tradition memaknai komunikasi sebagai bertemunya pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain melalui sebuah dialog.
  •  Ahli psikologi Carl Rogers (1961:24; dan 1957:95-97) mengajukan tiga faktor untuk keberhasilan komunikasi :kongruensi, kesetaraan penghargaan dan empati.
  • Tradisi fenomenologis ini dapat dikatakan mendewakan pengalaman langsung pribadi dan mengesampingkan segala bentuk referensi apapun.

Terakhir,

  • The ethical tradition yang memandang proses komunikasi dalam kaitannya dengan tanggung jawab etik manusia-manusia yang menginteraksikan karakter secara lugas dan menguntungkan
  • Keintiman terhadap masalah etik ini mau tidak mau mengantar pada persoalan-persoalan mendasar semacam kejujuran, kebenaran,keakuratan, alasan-alasan mendasar, konsekuensi, pemahaman dan respek dalam suatru aktivitas komunikasi.

 

Dichotomy Trap (Reardon & Rogers)

  • Pertama,tradisi sosio-psikologis, retorika, dan fenomenologis berkecenderungan pada komunikasi interpersonal.
  • Kedua, tradisis sibernetik,semiotik, sosio-kultural,kritis dan etis mengarah pada perkembangan komunikasi massa.
  • Dalam perkembangannya,di antara kedua kubu tersebut muncul satu kutub lain yang biasa disebut sebagai komunikasi publik dan komunikasi kelompok (Griffin, 2003: 227)

McQuail (2000:12-13) :

  • Pendekatan struktural, yang diadopsi  dari sosiologi, menekankan pada konsekuensi dari komunikasi massa pada lembaga-lembaga sosial yang lain jika pertanyaan utamanya berkait dengan pemakaian dan dampak media.
  • Pendekatan behavioral, memanfaatkan  rintisan psikologi dan psikologi sosial, dengan fokus pada perilaku manusia bila terkait dengan pemilihan, pemrosesan dan tanggapan terhadap pesan-pesan komunikasi.
  • Pendekatan kultural, yang berakar pada ilmu-ilmu humanistik, dengan memusatkan kajian pada makna dan bahasa atas dasar konteks sosial dan pengalaman budaya tertentu.

Teori Komunikasi:Sifat,Tujuan, Fungsi dan Pengembangannya

Pengertian Umum “Teori” dalam Komunikasi

  • Teori adalah abstraksi dari realitas
  • Teori terdiri dari sekumpulan prinsip-prinsip dan definisi-definisi yang secara konseptual mengorganisasi aspek-aspek dunia empiris secara sistematis
  • Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan aksioma-aksioma dasar yang saling berkaitan.
  • Teori terdiri dari teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima/ terbukti secara empiris

Bandingkan pendapat Maxwell E.Mc Comb dan Lee B.Becker (1979:ix) teori adalah :

  • “… a map. It is based on observations from the past, but it is geared toward the future.It helps to explain.And it helps to predict”
  • (“… suatu peta. Ia diperoleh berdasarkan observasi-observasi di masa lalu, tetapi diarahkan ke masa depan.Ia membantu dalam menerangkan.Dan ia membantu kita dalam meramalkan gejala”)

Dari pengertian-pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa teori:

  • merupakan “konseptualisasi atau penjelasan logis dan empiris tentang suatu fenomena”.
  • Yang dimaksud fenomena di sini adalah peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Peristiwa itu, seperti dimaksud oleh Berger dan Chaffee (1987), mencakup produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia
  • Teori juga merupakan sebuah “peta”, seperti dikatakan oleh Mc Comb dan Becker(1979), maksudnya adalah teori seperti sebuah sketsa atau gambaran dari realita yang dengan begitu bukanlah secara mendetail melainkan secara prinsipiil saja sifatnya.
  • Dari definisi kedua ahli ini juga nampak bahwa teori memiliki esensi sekaligus fungsi menerangkan dan meramalkan di samping menyebut (berdasar pada) observasi serta kemungkinan memberikan arah ke depan, yang kurang lebih sama dengan fungsi generalisasi.

Dua  ciri umum sebuah teori:

  • Pertama,semua teori adalah “abstraksi” tentang suatu hal.Dengan demikian teori sifatnya terbatas.
  • Kedua, semua teori adalah konstruksi ciptaan individual manusia.Oleh karena itu sifatnya relatif dalam arti tergantung pada cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek hal yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan di sekitarnya.

Penjelasan dalam Teori

Menurut Littlejohn (1987)

  • Penjelasan dalam teori berdasarkan pada “prinsip keperluan” (the principle of necessity),  yakni penjelasan yang menerangkan variabel-variabel apa yang kemungkinan diperlukan untuk menghasilkan sesuatu.
  • Contoh: Untuk menghasilkan x, barangkali diperlukan adanya y dan z.

Selanjutnya,Littlejohn menjelaskan bahwa prinsip keperluan ini ada tiga macam:

  1. Causal necessity (keperluan kausal),
  2. Practical necessity(keperluan praktis), dan
  3. Logical necessity  ( keperluan logis)

Keterangan :

  • Keperluan kausal berdasarkan asas hubungan sebab-akibat.Umpamanya, karena ada y dan z maka terjadi x.
  • Keperluan praktis menunjuk pada kondisi hubungan “tindakan-konsekuensi”.Kalau menurut prinsip keperluan  x terjadi karena y dan z, maka menurut prinsip penjelasan keperluan praktis y dan z memang bertujuan untuk, atau praktis akan, menghasilkan x.
  • Keperluan logis berdasarkan pada azas konsistensi logis. Artinya, y dan z secara konsisten dan logis akan selalu menghasilkan x.

Penjelasan dalam teori juga dibagi dalam dua kategori:

  • Penjelasan yang memfokuskan pada orang/pelaku (person centered) yaitu menunjuk pada faktor-faktor internal yang ada di dalam seseorang ( si pelaku).
  • Penjelasan yang memfokuskan pada situasi (situation centered),yang memfokuskan pada situasi menunjuk pada faktor-faktor yang ada di luar diri orang tersebut ( faktor-faktor eksternal)

Sifat,Tujuan dan Fungsi Teori

Abraham Kaplan (1964):

  • Sifat dan tujuan teori bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta tersebut.
  • Teori yang baik adalah teori yang sesuai dengan realitas kehidupan.
  • Teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.Apabila konsep dan penjelasan teori tidak sesuai dengan realitas, maka keberlakuannya diragukan dan teori demikian tergolong teori semu.

Teori juga mempunyai fungsi.Menurut Littlejohn(1987), fungsi teori ada 9 (sembilan):

Fungsi pertama teori mengorganisasikan dan menyimpulkan tentang sesuatu hal :

  • Dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukannya secara sepotong-potong.
  • Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan dunia.
  • Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dicari dan ditemukan.Pengetahuan kita tentang pola-pola dan hubungan-hubungan ini kemudian diorganisasikan dan disimpulkan.
  • Hasilnya(berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.

Fungsi yang kedua memfokuskan :

  • Hal-hal atau aspek-aspek dari suatu objek yang diamati harus jelas fokusnya.
  • Teori pada dasarnya hanya menjelaskan tentang suatu hal, bukan banyak hal.

Fungsi yang ketiga menjelaskan :

  • Teori mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya.
  • Penjelasan ini tidak hanya berguna untuk memahami pola-pola, hubungan-hubungan, tetapi juga untuk menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.

Fungsi keempat, pengamatan :

  • Teori tidak saja menjelaskan tentang apa sebaiknya diamati tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya.
  • Oleh karena itu teori yang baik adalah teori yang berisikan konsep-konsep operasional.Konsep operasional ini penting karena bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.

Fungsi teori kelima adalah membuat prediksi:

  • Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercerminkan dalam kehidupan di masa sekarang.
  •  Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, “public relation”, dan media massa.

Fungsi yang keenam adalah fungsi heuristik atau heurisme :

  • Teori yang diciptakan dapat merangsang timbulnya upaya-upaya penelitian selanjutnya.
  • Hal ini dapat terjadi apabila konsep-konsep dan penjelasan-penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

Fungsi yang  ketujuh , komunikasi :

  • Teori seharusnya tidak menjadi monopoli si penciptanya.
  • Teori harus dipublikasikan, didiskusikan, dan terbuka terhadap kritikan-kritikan. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.

Fungsi yang  kedelapan, fungsi kontrol, bersifat normatif:

  • Asumsi-asumsi teori dapat kemudian berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari.
  • Teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.

Fungsi teori yang terakhir adalah fungsi “generatif”.

  • Fungsi ini terutama sekali menonjol di kalangan tradisi/aliran interpretatif dan teori kritis.
  • Menurut pandangan aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

 Pengembangan Teori

Proses pengembangan dan pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan eksperimental yang lazim dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam.

Menurut pendekatan ini, biasa disebut “hypothetic-deductive methode’ (metode hipotetis-deduktif), proses pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut:

  1. “development questions” ( mengembangkan pertanyaan)
  2. “forming hypothetese” (membentuk hipotesis)
  3. “testing the hypothetese ( menguji hipotesis)
  4. “formulating theory” (memformulasikan teori)

Ada beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengevaluasi kesahihan teori:

  • Pertama, adalah “kecukupan teoritis” (theoritical scope).Yang menjadi pokok persoalan di sini adalah apakah suatu teori yang dibangun memiliki prinsip “generality”  atau keberlakuan umum.
  • Patokan kedua, adalah “ kesesuaian”(appropriatness), yakni apakah isi teori sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan/permasalahan-permasalahan teoritis yang diteliti.
  • Ketiga adalah “Heuristic”.Yang dipertanyakan adalah apakah suatu teori yang dibentuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan.
  • Keempat,Validitas (validity) atau konsistensi internal dan eksternal merupakan patokan yang keempat.Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten dengan pengamatan.Sementara itu,konsistensi eksternal mempertanyakan apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori-teori lainnya yang telah ada.
  • Patokan kelima adalah “parsimony” (kesederhanaan).Inti pemikirannya adalah bahwa teori yang baik adalah teori yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana.

Komponen Konseptual Komunikasi

Adalah Frank E.X.Dance (1976), seorang sarjana Amerika yang menekuni bidang komunikasi, melakukan inventarisasi 126 definisi komunikasi yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.Dari definisi-definisi tersebut ia menemukan 15 (lima belas) komponen konseptual pokok.Berikut adalah gambaran mengenai kelima belas komponen tersebut disertai contoh-contoh definisinya

1. Simbol-simbol/verbal/ujaran

Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal “ (Hoben, 1954.

2.  Pengertian /Pemahaman

“Komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain.Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku” ( Anderson, 1959)

3. Interaksi/Hubungan/prosesSosial

“Interaksi, juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi”(Mead, 1963)

4. Pengurangan rasa ketidakpuasan

“Komunikasi timbul di dorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpuasan,bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego”(Barnlund, 1964)

5. Proses

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain” (Berelson dan Steiner, 1964)

 6. Pengalihan/Penyampaian/Pertukaran

“Penggunaan kata komunikasi tampaknya menunjuk kepada adanya sesuatu yang dialihkan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya.Kata komunikasi kadang-kadang menunjuk kepada apa yang dialihkan, alat apa yang dipakai sebagai saluran pengalihan, atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan, atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan.Dalam banyak kasus, apa yang dialihkan itu kemudian menjadi milik atau bagian bersama.Oleh karena itu komunikasi juga menuntut adanya partisipasi.”(Ayer,1955)

7.  Menghubungkan/Menggabungkan

“Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dalam kehidupan dengan bagian lainnya “ (Ruesch,1957)

8. Kebersamaan

“Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang(monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih” (Gode, 1959)

 9.   Saluran/alat/Jalur

“Komunikasi adalah alat pengiriman pesan-pesan kemiliteran perintah/order, dan lain-lain, seperti telegraf, telepon, radio, kurur, dan lain-lain”(American College Dictionary)

 10.     ReplikasiMemori

 “Komunikasi adalah proses yang mengarahkan perhatian seseorang dengan tujuan mereplikasi memori” (Cartier dan Harwood,1953)

  11.     TanggapanDiskriminatif

 “Komunikasi adalah tanggapan deskriminatif dari suatu organisasi terhadap suatu stimulus”(Stevens,1950)

 12.     Stimuli

 “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli deskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima”(Newcomb,1966)

 13.     Tujuan/Kesengajaan

 “Komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima”(Miller, 1966)

 14.     Waktu/situasi

 “Proses komunikasi merupakan suatu transfer dari suatu keseluruhan struktur situasi ke situasi yang lain sesuai pola yang diinginkan”(Sondel, 1956)

 15.     Kekuasaan/Kekuatan

 “Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan/kekuasaan”(Schacter,1951)

 

Model-Model Dalam Ilmu dan Riset Komunikasi

Bill dan Hardgrave (1973:21-40) mendefinisikan model sebagai bentuk representasi teoritis dan sederhana dari suatu dunia yang nyata (“.a theoritical and simplified representation of the real world”).

Menurut kedua ilmuwan tadi, suatu model bukanlah alat yang dengan sendirinya memberikan kejelasan, tetapi ia memang membantu secara langsung dalam merumuskan teori

Keterangan ini menyiratkan kerterkaitan dan seringkali juga  membingungkan, antara model dengan teori. Sebab hubungan yang ada di antara keduanya memang begitu erat.

Penulis lain, Deutsch (1952: 357) menegaskan bahwa model adalah struktur simbol-simbol dan aturan-aturan pelaksanaan yang dibuat agar diperoleh hal-hal yang relevan di dalam suatu struktur atau proses-proses yang ada atau sedang berlangsung.

Sebuah model memberikan kerangka yang dapat kita gunakan dalam memikirkan suatu masalah, meskipun dalam versi-versinya yang awal, model tidak dapat mengarahkan dibuatnya ramalan yang berhasil.

Model juga dapat menunjukkan  kesenjangan yang penting dalam pengetahuan kita tentanmg hal-hal yang tidak nampak atau tidak muncul sebelumnya. Disamping itu, model juga dapat memberikan bidang-bidang yang dibutuhkan dalam riset sesuai atau  yang relevan dengan tujuan.Bahkan kegagalan yang dirasakan, apabila model ini diuji, akan memungkinkan dikemukakannya model lain yang baru, yang lebih sempurna.

Fungsi-fungsi Model

Deutsch (1952:360-361) mengemukakan empat fungsi model, yakni :

1. Mengorganisasikan (organizing)

2. Heuristik (Heuristic)

3. Meramalkan (predictive)dan

4. Pengukuran (measuring)

  •  Fungsi mengorganisasikan dilihat dalam kemampuannya untuk menyusun dan menghubung-hubungkan data serta menunjukkan kesamaan-kesamaan dan hubungan-hubungan yang ada di antara data yang sebelumnya tidak pernah dirasakan
  • Fungsi prediksi atau meramalkan terlihat ketika suatu model yang baru dapat memberikan penjelasan tentang sesuatu atau beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah dimengerti.
  • Fungsi heuristik nampak ketika suatu model dipakai untuk prediksi tetapi tidak terbukti, mungkin dikarenakan kurang memadainya teknik-teknik pengukuran, dapat dijadikan alat heuristik yang memungkinkan diperolehnya fakta yang sebelumnya tidak diketahui atau bahkan metode-metode yang baru.
  • Fungsi pengukuruan terlihat manakala suatu model memungkinkan memberikan prediksi-prediksi yang bersifat kuantitatif dengan tingkatan tertentu tentang “kapan/bilamana” dan “sejauhmana”, dengan kata lain model berkaitan dengan ukuran fenomena tertentu.


~ oleh Tri Nugroho Adi pada 28 Oktober 2011.

Satu Tanggapan to “SERBA – SERBI ILMU DAN TEORI KOMUNIKASI”

  1. Reblogged this on Dhea Qotrunnada and commented:
    izin reblog pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: