Postmodernisme, Hiperialitas Media dan Implikasi Kultural

Prolog

Suatu pagi, entah kenapa saya terhenyak oleh semacam kilatan pencerahan yang mengingatkan sekaligus menyadarkan betapa mengkonsumsi media massa sesungguhnya tak lagi nikmat. Bagaimana tidak, sekarang ini sulit sekali bisa membaca surat kabar atau mengkonsumsi media massa apa saja tanpa timbul perasaan curiga. Jangan-jangan kita dibohongi! Jangan-jangan kita disodori semacam ilusi. Tampaknya, setidaknya itulah yang saya rasakan, sulit bagi saya untuk menemukan moment indah jujur dialog batin ketika bercengkerama dengan media massa.

Media massa sekarang adalah media massa yang tidak lagi hidup di masa tradisional atau bukan pula hidup di alam modern. Terlalu banyak kekuatan dan kepentingan yang membuat media massa tidak lagi bisa berpijak pada (mitos ??) independensi dan objektivitas! Media massa kini adalah media massa yang berkiprah di zaman postmodern! Itu artinya, media massa lalu seakan memiliki kuasa untuk tidak saja menyajikan realitas melainkan justru menciptakan realitas itu sendiri. Zaman seperti apakah yang lalu mengubah watak media massa seperti itu? Apa implikasi kulturalnya ketika media massa berkembang dalam karakter yang demikian tadi?

Media dalam Wacana Postmodernisme

Dalam kamus The Modern-Day Dictionary of Received Ideas dituliskan begini : “Postmodernisme : kata ini tak punya arti. Gunakan saja sesering mungkin” Sungguh kontroversial! Demikianlah nasib wacana postmodernisme ini ketika berkembang dalam pembicaraan di bidang seni maupun filsafat. Di satu sisi, istilah ini memang digunakan dengan nada sinis dan berolok-olok. Ia di cap sebagai sekedar mode intelektual yang dangkal dan kosong atau paling banter sebuah refleksi yang bersifat reaksioner belaka. Namun di sisi lain, terdapat kenyataan bahwa wacana ini telah memikat sebagian besar masyarakat baik kalangan akademik maupun di luar akademik – menandakan bahwa ia tentu memiliki kemampuan meresonansikan sebuah krisis dan perubahan sosio kultural yang teramat fundamental ( Sugiharto, 1996 ).

Saya merasa perlu untuk mempersoalkan ( lagi ) postmodernisme dengan semangat bertanya-tanya yang jernih ketimbang terburu memperolokkannya, karena jangan-jangan memperolokkan wacana postmodernisme justru menandakan kedangkalan berpikir tersendiri.

Dalam wacana ilmu komunikasi kontemporer, setidaknya diwakili tulisan Dominic Strinati (1995) konsep postmodernisme dipergunakan untuk menggambarkan dan menganalisis aspek penting dalam kebudayaan kontemporer dan kehidupan sosial umumnya.  Menurut Strinati, konsep postmodern terkait dengan beberapa karakter berikut ini :

Runtuhnya batasan antara kebudayaan dan masyarakat. Postmodernisme dipakai untuk menggambarkan munculnya suatu tatanan sosial yang di dalamnya mengedepankan betapa penting dan kuasanya media massa serta budaya populer. Media massa dan segala rupa budaya populer mengendalikan  bahkan membentuk hubungan sosial yang lainnya. Gagasan pokok yang dikumandangkan : tanda-tanda kebudayaan populer dan citraan media secara signifikan berkembang dan mengendalikan penginderaan kita tentang realitas dan  menentukan bagaimana kita mendefinisikan diri dan dunia di sekitar kita. Inilah yang kemudian dikenal sebagai keadaan sosial yang dipenuhi oleh media ( a media-saturated society ).Media massa pada suatu saat memang pernah diasumsikan sebagai sebuah cermin dan ia merefleksikan realitas sosial. Kini, justru realitas itu hanya bisa didefinisikan melalui pantulan dari permukaan cermin  itu tadi. Masyarakat lalu diasumsikan ada  di dalam media massa. Media lalu menjadi semacam simulator yang berkuasa  mendestorsi realitas sesungguhnya. Lebih jauh lagi, dalam konsep postmodernisme menjadi sulit untuk memisahkan antara realitas ekonomi dengan budaya populer. Tindakan komsumsi misalnya, yakni apa yang kita beli dan apa yang menentukan apa yang sesungguhnya kita konsumsi, semakin dipengaruhi oleh kebudayaan populer. Dengan kata lain,  konsumsi semakin terikat dengan budaya populer karena budaya populerlah yang menentukan konsumsi.

Penekanan pada gaya ketimbang substansi dan isi. Keadaan ini merupakan implikasi dari kondisi di atas, dalam postmodernisme hal-hal yang ada di permukaan dan gaya menjadi lebih penting dan mengumandangkan semacam “designer ideology “. Atau dalam terminologi Harvey ( 1989 ) ,”images dominate narrative”. Masyarakat secara berangsur memang mengkonsumsi citra dan tanda-tanda demi citraan  itu sendiri ketimbang karena alasan kemanfaatannya atau karena nilai-nilai yang mungkin memang terpendam dalam bentuk simbolisasinya. Kita mengkonsumsi citra dan tanda tepatnya karena ia adalah citra dan tanda itu semata tanpa mempertanyakan nilai atau kegunaannya. Sebagai akibatnya, kualitas semisal spirit seni, integritas, keseriusan, keotentikan, realitas, kedalaman intelektual dan narasi lainnya senderung makin diabaikan. Selain itu, melalui teknologi virtual komputer seseorang bisa mengalami berbagai bentuk pengalaman sebagai tangan kedua. Simulasi permukaan inilah yang karenanya secara potensial bisa menggantikan pengalaman kehidupan sejati seseorang.

Runtuhnya batasan antara kebudayaan ( seni) tinggi dengan kebudayaan populer. Jika tanda-tanda kebudayaan populer dan citraan media mengambil alih pendefinisian kita terhadap realitas di luar sana, dan jika itu berarti  gaya lebih penting ketimbang isi, maka lalu menjadi sulitlah kita membedakan antara  seni dan kebudayaan populer.Tak lagi ada kriteria yang jelas yang bisa memilahkan antara seni dengan bentuk kebudayaan populer. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran yang ditujukan pada munculnya kebudayaan massa yang kemudian mengecilkan makna kebudayaan adi luhung.

Kekacauan dalam hal ruang dan waktu.  Kesadaran seseorang akan waktu kini makin terkacaukan karena waktu yang tengah berjalan dengan waktu yang akan terjadi ( kekinian dan keakanan ) kini makin terkompresi sedemikian rupa. Pertumbuhan yang sangat cepat tentang konsep ruang global dan waktu sebagai akibat dari dominasi media massa telah menyebabkan konsep ruang dan waktu terdistorsi dan membingungkan. Laju perpindahan kapital, uang dan informasi serta kultural telah mengganggu pergerakan waktu linier dan kemapanan ruang geografis.

Memudarnya “meta-narratives”. Berbagai metanarasi, seperti agama, ilmu pengetahuan, seni, Marxisme dan modernisme, dst. menjadi demikian longgar dan begitu leluasa dikritisi ( semau-maunya). Alhasil, orang menjadi sulit untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan makna hidupnya berdasarkan terang metanaratives apa pun pijakannya.

Hiperialitas Media

Bahasan tentang postmodernisme di atas, meski hanya sekilas, cukup memberikan gambaran tentang zaman atau peradaban di mana media massa sebagai salah satu makhluk-nya hidup dan berkiprah. Salah satu watak media massa yang kemudian berkembang dalam asuhan zaman postmodernisme itu adalah watak media yang cenderung hiperialis.

Istilah hiperialitas media ( hyper-riality of media ) diperkenalkan oleh Jean Baudrilard untuk menjelaskan perekayasaan ( dalam pengertian distorsi ). Dalam wacana posmedia yakni adanya sembiose antara realitas dan fantasi media, hiperealitas media diyakini berkembang ketika media dikendalikan oleh dua kekuatan utama yakni kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Objektivitas, kebenaran, keadilan dan makna sebagi kepentingan publik lalu dikalahkan oleh subjektivitas, kesemuan, dan permainan bahasa ( language game ). Media massa boleh jadi mencoba untuk merepresentasikan peristiwa – peristiwa secara objektif, jujur, adil, transparan  akan tetapi, berbagai bentuk  tekanan dan kepentingan ideologis telah menyebabkan media terperangkap  ke dalam  politisasi media dan hiperialitas media yang tidak menguntungkan publik.

Ketika media dikendalikan oleh berbagai kepentingan ideologi di baliknya maka, ketimbang menjadi cermin realitas ( mirror of reality ), media sering dituduh sebagai perumus realitas ( definer of reality ) sesuai dengan ideologi yang melandasinya ( Bennet, 1982 ). Beroperasinya ideologi  di balik media, tidak dapat dipisahkan dari mekanisme ketersembunyian dan ketidaksadaran yang merupakan kondisi dari keberhasilan sebuah ideologi. Artinya, sebuah ideologi itu menyusup dan menanamkan pengaruhnya lewat media secara tersembunyi dan ia merubah pandangan setiap orang secara tidak sadar ( Gramsci dalam Mouffe 1979 ).

Selain faktor tekanan ideologi dan kekuatan ekonomi, hiperialitas media juga dipicu oleh perkembangan teknologi media yang dikenal sebagai teknologi simulasi.  Simulasi sebagaimana diperkenalkan oleh Baudrillard (1983) adalah penciptaan model-model kenyataan yang tanpa asal-usul atau referensi realitas. Dalam konteks media, simulasi adalah penciptaan realitas media yang tidak lagi mengacu pada realitas di dunia nyata sebagai referensinya, sehingga ia menjadi semacam realitas kedua yang referensinya adalah dirinya sendiri yang disebut simulacrum.

Hiperalitas media mewarnai dengan sangat kental kehidupan komunikasi politik di Indonesia sejak zaman Orde Baru sampai dengan Orde Reformasi sekarang ini. Kita masih ingat tatkala Orde Baru berkuasa media massa dipenuhi oleh tontonan simulakrum mulai dari simulakrum konflik SARA, simulakrum konflik kekerasan antar partai dst. Di awal Orde Reformasi kita pun disuguhi paket simulakrum sandiwara peradilan mantan presiden Soeharto yang sesungguhnya hanyalah citra dan penanda artifisial yang tujuannya adalah demi popularitas rezim penguasa yang baru.

Implikasi Kultural

Hiperialitas media telah menciptakan berbagai persoalan sosiokultural yang berkaitan dengan pengetahuan, nilai dan makna. Berbagai masalah sosiokultural tersebut di antaranya ( Piliang, 2004 ):

Disinformasi. Simulakrum informasi yang didesain secara terus menerus dan sistematis pada gilirannya akan menciptakan ketidakpercayaan pada informasi itu sendiri. Alih-alih terciptanya pencarian kebenaran, kehadiran informasi justru menimbulkan ketidakpastian dan chaos. Berbagai wujud informasi mulai dari data angka statistik sampai hasil pemilu dan polling media pun pada akhirnya akan kehilangan kredibilitas karena terlalu seringnya informasi hadir dengan berbagai topeng kesemuan yang menyertainya.

Depolitisasi. Berbaurnya antara realitas dengan simulakrum, antara kebenaran dan kepalsuan, antara fakta dan rekayasa,  akan mengakibatkan massa yang kehilangan daya kritisnya. Hal ini makin menguatkan timbulnya komunikasi satu arah karena massa yang dihadapi media adalah massa sebagai the silent majority (mayoritas yang diam ).

Banalitas informasi. Kalau dicermati berbagai informasi yang diusung media kontemporer ( video, televisi, internet, produk seni, dll ) sesungguhnya adalah informasi yang remeh temeh; informasi yang tidak bisa diambil hikmah darinya. Akan tetapi sungguh ironis, informasi itu terus saja disampaikan, berita terus saja diproduksi. Di negeri ini, tidak sulit mencari tayangan sinetron yang mengalir nyaris tanpa makna; atau berbagai talkshow yang mengupas dunia selebrity namun dari sisi kehidupan yang tak ada artinya untuk ditampilkan di hadapan publik; juga seabrek infotaintmen yang mengobrak-abrik sisi privat para artis dan dianggap bermanfaat bagi publik, dst. Di dalam dunia banalitas informasi apapun bisa dikomodifikasikan sebagai informasi. Celakanya, dalam dunia seperti ini pulalah orang memang kemudian tidak mengejar makna namun mencari kenikmatan menonton media itu sendiri. Massa memang tidak lagi mampu menginternalisasi dan menyublimasikan makna dari berjuta citra dan tanda yang dikonsumsinya.

Fatalitas informasi. Informasi yang membiak tanpa kendali pada akhirnya akan menciptakan kondisi fatalitas informasi  yaitu kecenderungan pembiakan informasi ke titik ekstrim,yaitu ke arah yang melampaui nilai guna, fungsi dan maknanya. Dalam kondisi seperti ini, informasi kehilangan logikanya sendiri. Informasi tidak lagi mempunyai tujuan, fungsi dan makna. Informasi di dalam media cenderung diolah dan berkembang menjadi superlatif; diwujudkan secara berlebihan. Di salah satu tayangan talkshow pernah ada informasi  tentang berapa banyak jerawat yang tumbuh pada wajah salah seorang artis.Apa perlunya informasi seperti ini sehingga dihadirkan dalam sebuah talkshow bahkan menjadi salah satu pertanyaan kuis yang menyertai acara tersebut?

Hipermoralitas. Salah satu konsekuensi dari wacana kecepatan dan keharusan informasi adalah  kecenderungan dekonstruksi terhadap berbagai kode-kode sosial, moral atau kultural. Hiperialitas media adalah ajang terjadinya pembongkaran berbagai batas ( sosial, moral, kultural, seksual) sedemikian rupa, sehingga menciptakan semacam kekaburan batas atau ketidakpastian kategori. Dalam situasi seperti ini maka media sudah tidak lagi mengkomunikasikan batas-batas antara benar/salah; berguna/tak berguna; baik/buruk. Media lalu tercabut dari struktur moral yaitu lenyapnya batas-batas moral di dalam sebuah ketelanjangan media.

Epilog

Tema yang sengaja dipilih untuk direnungkan dalam tulisan ini sesungguhnya berangkat dari sebuah keprihatinan melihat kecenderungan munculnya watak-watak media di Indonesia yang mencerminkan zaman postmodern. Kita adalah bangsa yang secara sosio kultural begitu cair dan mudah sekali mengadopsi teknologi komunikasi mutakhir. Berapa kali lompatan peradaban sesungguhnya telah terjadi dalam kehidupan kultural bangsa ini sebagai akibat ketergesaan di dalam mengadopsi teknologi media baru, namun sedikit yang menyadari bahwa generasi sekarang ini sudah telanjur terjerembab ke dalam ekstasi konsumsi media hiperialis yang sesungguhnya kosong belaka itu.

Saya tidak yakin apakah ada strategi jitu guna membendung keperkasaan mekanisme simulakrum media hiperialis, apalagi kalau mengingat karakter massa di negeri ini ketika berhadapan dengan media cendeung menjadi objek dan bukan subjek. Namun, setidaknya dalam semangat idealis yang tersisa kita perlu melakukan dehiperialisasi media, dengan menciptakan semacam regulasi yang mengendalikan ekstrimitas komunikasi dan informasi sehingga dalam batas tertentu informasi  bisa diinterpretasikan dan dicerna masyarakat secara logis dan bermakna. Untuk melengkapi itu, perlu dikonstruksikan semacam pendidikan kultural yang melahirkan masyarakat kritis dan dengan demikian menghindarkan terciptanya masyarakat yang diam. Sayangnya, paragraf terakhir ini sangat tidak mudah untuk dilaksanakan atau jangan-jangan sudah makin sulitlah berani mengejawantahkan suatu idealisme karena telanjur terkurung dalam dunia simulakrum? Semoga saja tidak……..   

 

            Daftar Pustaka

Bennet, Tonny. (1982 ). “Media, Reality, Signification” dalam Michel Gurevitch .( ed), Culture, Society and The Media. Methuen.

Baudrillard, Jean. (1983).Simulation. New York :  Semiotex(e).

Mouffe, Chantal.(ed) (1979 ). Gramsci and Marxist Theory, London : Routlegde and Kegan Paul

Piliang, Yasraf Amir. ( 2004 ). Posrealitas : Realitas Kebudayaan dalam Era Postmetafisika. Bandung: Jalasutra.

Strinati, Dominic.(1995 ). An Introduction to Theories of Populer Culture. London and New York : Routledge

Sugiharto, I Bambang. (1996 ). Postmodernisme Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 25 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: