CONTENT ANALYSIS

Definisi

Content analysis is research technique for the objective,systematic and quantitative description of the manifest content of communication ( Berelson 1952 : 18 )

Content analysis is any technique for making inferences by objectively and systematicaly identifiying specified characteristic of message ( Holsty 1969 : 14 )

Research technique for making replicable and valid references from data to their context ( Krippendorf 1980 )

Content analysis is a method of studying and analyzing communication in systematic, objective, and quantitative manner for the purpose of measuring variables ( Kerlinger 1973 )

Jadi dalam sebuah analisis isi mensyaratkan :

Systematic Pilihan terhadap sampel dan prosedur ( coding, pengukuran )harus jelas
Objective Tidak boleh ada bias peneliti

Bila penelitian diulang oleh peneliti lain hasilnya sama

Kuantitatif Logika analisis kuantitatif

Pernyataan dibuat dalam kuantitatif

Isi manifest Analisis isi dipusatkan pada upaya melihat arti sesungguhnya dari isi yang manifest

Kegunaan   Content Analysis

1. Menggambarkan isi komunikasi (media ) —- “to identify what exist”

Misal : persoalan apa, peristiwa,karakter, dan percakapan  yang ada dalam sebuah opera sabun dalam satu kurun waktu penayangan satu minggu ( Katzaman 1972 )

2.  Menguji hipotesis tentang sebuah karakteristik pesan

Misal :  Jika karakteristik sebuah sumber pesan ( media ) adalah A maka muatan pesan-pesan yang diproduksi adalah x dan y;

Jika karakteristik sumber pesan adalah B maka muatan pesan-pesan yang diproduksi adalah w dan z

3. Membandingkan isi media dengan kenyataan sesungguhnya

Misal : Penelitian Davis ( 1951 ) menemukan bahwa liputan kriminal di surat kabar Colorado tidak berkaitan dengan data perubahan angka kejahatan sesungguhnya.

De Fleur ( 1964 ) membandingkan gambaran televisi tentang dunia kerja dengan data lapangan pekerjaan sesungguhnya yang diambil dari sensus US.

Gerbner ( 1969 ) membandingkan kekerasan di televisi dengan kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lapangan

4. Sebagai langkah awal menuju studi efek media

Misal : Gerbner yang melakukan analisis isi terhadap tayangan televisi selama bertahun-tahun akhirnya menemukan bahwa gambaran kekerasan atau kejahatan di televisi ternyata menjadi isi yang dominan. Dari sini   maka Gerbner meneruskan penelitian tentang efek kultivasi yang mungkin ditimbulkan oleh media

 Langkah –langkah  Content Analysis

  1. Menentukan pertanyaan atau hipotesis penelitian
  2. Menentukan populasinya
  3. Menentukan sampel yang tepat dari populasi yang telah ditentukan
  4. Menentukan unit analysis
  5. Menyusun kategori dari isi yang dianalisis
  6. Membuat sistem penghitungan/pengukuran
  7. Membuat pilot study ( percobaan )
  8. Melakukan koding berdasarkan kategori/definisi yang ditentukan
  9. Melakukan analisis data
  10. Membuat simpulan

Ad. 1  Menentukan pertanyaan atau hipotesis adalah tahap yang amat krusial. Sebuah pertanyaan penelitian dalam content analysis harus berangkat dari konseptual teori yang ada.Misal :

Teoritik : Feminis —- Fenomena : makin meningkatnya pemahaman tentang gerakan feminis —— pertanyaan : apakah ada peningkataan tertentu di dalam periklanan yang melibatkan perempuan ( representasi ide, endorser dll )

Teoritik : Ekonomi politik media ——-Fenonema/ pertanyaan : ada tidaknya perbedaan isi antara media yang berada dalam satu group kepemilikan dengan media yang berdiri sendiri

Ad. 2 Menentukan populasi berkaitan dengan pembatasan dari cakupan definisi yang dipakai.

Misal : Penelitian tentang karakter tematik lagu-lagu Punk yang diproduksi secara underground —- batasan populasi : Underground dalam wilayah mana? Semua lagu Punk yang pernah diproduksi atau kurun waktu tertentu? Dst…..

Ad.3   Menentukan sampel yang tepat dari populasi yang telah ditentukan. Menggunakan asas representatif, artinya sampel diasumsikan harus mewakili karakteristik  populasinya. Teknik : Multistage sampling, stratified sampling, dll

Ad. 4. Menentukan unit analisis. Unit analisis adalah satuan data terkecil yang benar-benar akan dihitung.

Misal : Isi tekstual —- unit analisis : kata, simbol, tema, keseluruhan artikel atau berita

Televisi atau film —- unit analisis :  karakter/tokoh; tindakan; atau keseluruhan acara tersebut.

Dominick and Rauch ( 1972 ) : Studi tentang “ the Image of Woman in Network TV Commersials “ —– unit analisis : Karakter perempuan yang mengisi iklan dengan kriteria (a) muncul di layar setidaknya selama tiga detik atau ( b) melakukan dialog setidaknya satu baris

Ad 5. Menentukan kategori. Syarat yang harus dipenuhi :

 

Mutually exclusive Satu unit analisis hanya dapat ditempatkan dalam satu kategori tertentu
Exhaustive Masing-masing unit analisis harus dapat dimasukkan dalam kategori yang ada
Reliable Pengkoder yang berbeda harus sepakat terhadap penempatan unit analisis dalam kategori yang ada (intercoder reliability )

 

Ad. 6. Membuat sistem penghitungan/pengukuran. Jenis pengukuran :

Nominal — menghitung frekuensi pemunculan

Interval — menggunakan skala misal :studi tentang citra perempuan dalam iklan :

Independent ——.——-.——–.——-.——. Dependent

Dominant ——-  .——-.——–.——-.—— . submissive

Ratio — dikaitkan dengan ruang dan waktu media. Misal Media cetak : Column/inch ; Televisi : waktu tayang iklan,jenis acara yang tayang dalam waktu tertentu.

 

Ad. 7. Membuat pilot study ( percobaan ) Sebelum analisi isi dilakukan biasanya dilakukan uji coba koding ( memasukkan unit analisis dalam kategori tertentu). Tujuannya untuk melihat apakah kategori atau definisi yang dibuat sudah mantap sesuatu dengan kaidah poin  5 di atas

Ad.8  Melakukan Coding

Orang yang melakukan coding disebut Coder. Dalam sebuah penelitian analisis diwajibkan menghadirkan pengkoder lebih dari satu. Umumnya jumlah Coder  antara 3 sampai 6 pengkoding.

Untuk menjaga reliabilitas maka dilakukan prosedur sbb: dalam Pilot Study ( langkah 7 ) dilakukan iji coba coding. Koefisien reliabilitas yang bisa diterima umumnya 10 % sampai dengan 25 %

Holsty mengajukan rumus reliabilitas intercoder sbb :

 

Reliability =   2    M

N1+N2

M= jumlah keputusan coding yang disepakati ( sama) antara dua pengkoder

N1 dan N2 adalah total jumlah keputusan koding yang dilakukan oleh pengkoder 1 dan 2

 

Misal dua pengkoder mengkoding 50 unit analisis dan sepakat ( sama) sejumlah 35 dari keseluruhan koding itu maka penghitungan :

 

Reliablitiy =   2 ( 35 ) =  70

50+50

Rumus di atas kadang dikritisi karena ada kemungkinan terjadi kesepakatan pengkodingan terjadi secara kebetulan maka dirumuskan lagi sebagai berikut :

Scott ( 1955 )  menyajikan indek pi

 

pi = _% observed agreement – % expected agreement

1-    % expected agreement

 

Advantages of Content Analysis

  1. Sebuah metode riset yang transparan. Bisa direplikasi dan dijadikan rujukan yang relatif objektif
  2. Bisa dijalankan untuk studi longitudinal analysis dengan relatif mudah
  3. Sebuah metode unobstrusive , tidak memerlukan keterlibatan partisipan
  4. metode yang fleksibel , bisa diterapkan untuk beragam bentuk informasi yang tidak terstruktur

Disadvantages

  1. Untuk coding yang dilakukan secara manual sulit untuk tidak memasukkan unsur interpretasi pengkoding dalam melakukan koding
  2. Persoalan muncul ketika tujuan penelitian lebih pada makna laten ketimbang makna manifest
  3. content analysis tidak mampu menjawab pertanyaan “ mengapa” dari  hasil temuan yang diperoleh
  4. content analysis kadang bisa bersifat tidak teoritis/tidak berdasar pada teori yang ada

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 25 Oktober 2011.

2 Tanggapan to “CONTENT ANALYSIS”

  1. […] isi dari segala teks media ( misal iklan). Dua pendekatan utama itu adalah : semiotic analysis dan content analysis.  Kedua pendekatan ini memiliki dasar ideologi yang berbeda sehingga biasanya peneliti tidak […]

  2. […] Analisis isi kuantitatif , karena berbeda sifatnya dengan analisis isi kualitatif, menyaratkan alat ukur yang bisa mendeteksi secara stabil, meminimalisir penilaian, kriteria yang  tegas dalam pendefinisian elemen pesan sehingga bisa terdeteksi dengan jelas dan adanya indikator yang bisa menandai muncul tidaknya masing-masing elemen data di atas. Kriteria yang dipakai dalam pemilihan data  digunakan untuk  penelitian seksama terhadap isi pesan yang ditentukan sebelumnya. Sebagai contoh, studi mengenai seberapa sering Departemen Perdagangan menggunakan rujukan berdasar  peraturan-peraturan yang dikeluarkan konggres bisa diperoleh dengan meneliti semua laporan tahunan yang dikeluarkan departemen tersebut.  Setiap kali merujuk pada peraturan konggres bisa dicatat dan dihitung dalam skala rating banyak sedikitnya rujukan. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: