Efek Framing Pemberitaan Televisi tentang Unjuk Rasa Duglas M. McLeod dan Benjamin H. Detenber

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pengantar

Penelitian ini berkaitan dengan pertanyaan mendasar tentang efek bagaimanakah yang ditimbulkan kepada penonton ketika terjadi pembingkaian (framing) pemberitaan oleh media tentang unjuk rasa. Dari studi ini diperoleh simpulan bahwa para pendukung status quo telah terpengaruh oleh framing tersebut dengan ditandai : makin kritisnya mereka terhadap unjuk rasa, makin tidak mengindentifikasikan diri mereka dengan para pemrotes, makin tidak kritis terhadap tindakan aparat kepolisian,dan makin tidak mendukung adanya hak para pemrotes tersebut. Para penonton yang termasuk golongan status quo ini juga makin tidak menganggap protes sebagai tindakan efektif, dan rendahnya persepsi terhadap nilai berita tentang unjuk rasa ini.

Kajian Teori :

  1. Literatur tentang studi komunikasi massa menampilkan temuan menarik bahwa media massa telah melakukan “delegitmitasi” atau “ marginalisasi” terhadap kelompok pengujunk rasa yang menentang status quo ( Cohen, 1980; Gitlin, 1980;McLeod & hertog, 1992, Shoemaker, 1984 )
  2. Penelitian dengan pendekatan analisis isi terhadap pemberitaan tentang unjuk rasa telah banyak dilakukan, kebanyakan menghasilkan temuan bahwa berita tersebut hanya berfokus pada apa yang nampak dalam aktivitas protes itu daripada isu yang diangkat; dengan menekankan pada kekerasan yang dilakukan oleh kaum pengunjuk rasa dan tidak melihat kritik sosial yang mereka lontarkan, para pengunjuk rasa itu ditempatkan sebagai lawan aparat kepolisian. Model pembingkaian ini kemudian dikenal sebagai “paradigma unjuk rasa”( Chan & lee, 1984 ). Kajian yang kemudian melihat bagaimana efek pemberitaan ini terhadap audiensnya masih jarang dilakukan.
  3. Dalam literatur tentang studi pembingkaian ( framing ) sebenarnya terdapat bagian yang secara khusus melihat bagaimana framing media ini kemudian memunculkan efek yang mungkin terjadi. Kajian semacam ini tidaklah menerapkan secara sempit, mekanistik, dan berpandangan deterministik tentang efek media ketika meneliti efek framing dari berita televisi. Namun demikian, dalam penelitian efek framing penonton dikonsepsikan sebagai pemroduksi makna yang aktif dari berbagai sumber informasi termasuk pesan-pesan media. Pendekatan seperti ini memiliki kemiripan dengan apa yang dikemukakan oleh Neuman et. all ( 1992) tentang “political cognition perspective”. Efek yang terjadi pada  audience dalam penelitian ini tidak dikonsepsikan sebagai perubahan sikap ; peneliti mengkonseptualisasikan efek pemberitaan media  sebagai bentuk dengan cara bagaimana audience memikirkan tentang peristiwa, isu, dan kelompok yang dituju dalam berita tersebut.
  4. Penelitian yang dilakukan ini merupakan perluasan dari studi McLeod terdahulu yang semula merupakan pengukuran empat variabel dependent berupa skala sikap kemudian diubah/ dikembangkan menjadi pengukuran skala kognisi politis dan ditambah dengan tujuh pengukuran dependent baru. Singkatnya, dalam penelitian ini akan diuji tujuh hipotesis tentang dampak framing dari tiga berita protes dengan berbagai variasi tingkatan dukungan terhadap status quo terhadap  persepsi yang terjadi pada audience tentang para pemrotes, polisi, yang diprotes, hak-hak para pemrotes untuk berekspresi, dukungan sosial yang diperoleh para pemrotes, dan nilai dari sebuah pemberitaan. Dengan menggunakan tiga berita, akan diketahui apakah dampak framing bersifat linier atau curvilinear. Sebagai tambahan dalam penelitian ini akan diajukan pertanyan tentang hubungan antara dukungan status quo dengan persepsi umum tentang protes sebagai bentuk partisipasi dalam demokrasi.
  5. Literatur yang membahas tentang Pemberitaan Media yang Memberi Dukungan terhadap status quo dapat digambarkan sebagai berikut :

Media massa di AS merefleksikan kepentingan struktur sosial yang ada ( Altschull, 1984 ; Breed, 1958; Tichenor,Donohue & Alien, 1973; Westergard, 1977 )

Dukungan terhadap status quo merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh yang terkategorikan dalam : bias individu selaku jurnalis, ideologi, praktik dan konvensi para profesional, tekanan organisasi, ikatan ekonomi, pandangan sosiokultural, ideologi hegemony

Meski penelitian sosiologi media melalui analisis isi membuktikan bahwa media umumnya mendukung status quo dan meminggirkan kelompok-kelompok yang menentang institusi resmi, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu media akan mengkritisi kelompok yang tengah berkuasa. Media akan semakin kritis manakala terjadi konflik di kalangan elit dalam struktur kekuasaan.

  1. Paradigma Unjuk Rasa  dan Teori Efek Framing

Yang dimaksud pemberitaan dengan paradigma unjuk rasa adalah peliputan berita yang mendukung status quo utamanya pemberitaan mengenai protes sosial; menurut McLeod dan Hertog ( 1998) dapat dilihat dari ciri-ciri liputan sebagai berikut sbb : struktur naratif, ketergantungan pada sumber-sumber dan definisi sosial, representasi daro opini publik, berbagai teknik delegitimasi, marjinalisasi dan demonisasi.

Menurut McLeod makin keras sebuah kelompok pengunjuk rasa menentang  status quo, maka semakin dekat media mempunyai karakteristik paradigma unjuk rasa tersebut. Peliputan media akan memarjinalkan kelompok penentang, khususnya pada kelompok yang dinilai memiliki struktur keyakinan dan strategi yang radikal.

Teori efek framing tidak hanya menekankan pada konstruksi tulisan berita namun juga mengkaji apa yang terjadi ketika khalayak menerima pesan- pesan tersebut. Teori ini juga memfokuskan pada bagaimana orang mengkonstruksikan makna dari pengalaman mereka sehari-hari, meliputi dari berbagai terpaan pesan media. Perspektif teoritis ini menyediakan kerangka konseptual yang bisa dipakai untuk memahami efek potensial yang sekiranya dihasilkan akibat terpaan berita mengenai unjuk rasa.

Dalam sebuah pengemasan peristiwa atau isu-isu menjadi sebuah berita, paradigma unjuk rasa merupakan sebuah bingkai berita. Pembingkaian berita tersebut mempengaruhi opini publik dengan membuat aspek tertentu dari isi berita menjadi lebih menonjol, dan dengan demikian akan menimbulkan pemikiran dan gagasan tertentu pada khalayaknya.

Kajian faming seringkali menyelidi pengarug dariberita pada persepsi kelompok khalayak dan interpretasi dari isu-isu yang tercakup didalamnya. Dalam berita mengenai aksi unjuk rasa, framing yang terjadi mungkin akan mempengaruhi penilaian mengenai kelompok yang berunjuk rasa.

  1. Hipotesis dan Permasalahan Penelitian

Masalah utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari berita televisi ( tentang unjuk rasa ) yang mengandung tingkatan dukungan tertentu terhadap status quo yang terjadi karena pembingkaiannya. Dalam penelitian tersebut diasumsikan bahwa pesan-pesan yang mengandung dukungan terhadap status quo pada tingkatan yang tinggi akan membawa implikasi yang signifikan terhadap konstruksi makna yang dihasilkan. Variasi dalam hal tingkatan dukungan terhadap status quo ini diasumsikan akan mempunyai efek linier terhadap persepsi khalayak tentang kelompok yang melakukan unjuk rasa.

Hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:

H1              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin kritis respon terhadap kelompok unjuk rasa.

H2              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin kecil rendah responden yang mengidentifikasi diri dengan kelompok unjuk rasa

H3              : semakin tinggi kevel dukungan status quo dalam berita, semakin sedikit responden yang kritis terhadap polisi

H4              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin kurang efektif aksi unjuk rasa menurut responden

H5              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin kurang dukungan terhadap hak berekspresi kelompok unjuk rasa

H6              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin rendah perkiraan dukungan sosial  bagi kelompok unjuk rasa.

H7              : semakin tinggi level dukungan status quo dalam berita, semakin kurang layak muat aksi unjuk rasa tersebut bagi responden.

Penggunaan berita dengan tiga kategori level dukungan terhadap status quo kemudian diperluas pada hubungan yang bersifat non linier sehingga rumusan pertanyaannya menjadi sbb:

  1. Apakah level dukungan status quo dalam berita akan menghasilkan berbagai hubungan non linier dengan penafsiran dukungan khalayak?
  2. Apakah level dukungan status qup dalam berita juga mempengaruhi persepsi umum dari aksi unjuk rasa yang mencakup : kemanfaatan sebuah unjuk rasa, sikap bermusuhan terhadap pelaku unjuk rasa, hak ekspresi kelompok unjuk rasa dan nilai sebuah berita aksi unjuk rasa.

Metode penelitian

  1. Partisipan terdiri dari 212 mahasiswa, M usia = 19,3 sebanyak 75 % partisipan ( n= 159 ) adalah wanita.
  2. Stimulus

Instrumen eksperimen berita 3 berita televisi pada aksi unjuk rasa anarkhis di luar kota Minneapolis, negara bagian Minesotta, kurun waktu 1986 – 1987. Masing-masing berita televisi dibuat dalam 1 paket siaran bersama 5 berita lain, sebuah jeda iklan,pengantar serta penutup siaran. Paket acara ini berdurasi 8 menit 45 detik, sehingga keseluruhan paket berita berdurasi 10 menit 10 detik, sampai 11 menit/. Ketiga berita yang menjadi target eksperiman disisipkan sebagai urutan berita keempat dari masing-masing paket berita.

  1.  Prosedur Eksperimen

Eksperimen dilakukan dengan design faktor tunggal ( single faktor ) yaitu desain posttes dianatara rancangan subjek, dengan proses randomisasi sesuai kondisi.

  1. Hasil Penelitian

Setelah melakukan analisis data dengan menjalankan 11 ANCOVAs secara terpisah menggunakan 6 variabel yang ada sebagai kovariat diperoleh interpretasi atau temuan sebagai berikut :

Audiens menjadi lebih kritis terhadap kelompok unjuk rasa

Audiens semakin kurang mengidentifikasi dengan kelompok unjuk rasa

Audiens semakin kurang kritis terhadap polisi

Audiens semakin menilai kurang efektif adanya aksi unjuk rasa

Audiens semakin kurang mendukung hak berekspresi dari kelompok unjuk rasa

Audiens semakin kurang memberi dukungan publik terhadap kelompok pengunjuk rasa

Audiens semakin menilai bahwa aksi unjuk rasa itu rendah nilai beritanya

Catatan atas Esai hasil penelitian ini:

  1. Kutipan hasil penelitian yang mencoba melihat efek yang mungkin ditimbulkan dalam proses pembingkaian berita oleh media untuk kasus unjuk rasa menurut saya merupakan satu contoh pengembangan pendekatan kajian media yang menarik dan relatif belum banyak dikenal oleh kalangan akademisi  komunikasi di Indonesia. Framing, semenjak diperkenalkan dan dijadikan salah satu metode analisis isi kualitatif selama ini memang lebih banyak diadopsi sebagai semata kajian media, khususnya ketika media diasumsikan memiliki kuasa tertentu untuk mendefinisikan persoalan dan sekaligus memberi bingkai persoalan tersebut dengan kaca mata ideologis tertentu. Keasyikan terhadap pendekatan framing betapapun diawali oleh konsepsi psikologi konstruktivis memang diakui memiliki keterbatasan khususnya ketika kita hendak mengetahui bagaimana implikasi proses framing media itu bagi publik. Padahal kita mengetahui bahwa proses komunikasi massa secara umum memanglah tidak bisa demikian mudah dipotong dan dihentikan justru hanya pada medianya tetapi juga harus menggapai ranah kognitif audiens selaku partisipan pokok dalam proses komunikasi massa itu sendiri.
  2. Keterbatasan itulah yang hendak diatasi oleh contoh penelitian ini. Hanya sayangnya, ada beberapa hal yang agak mengganggu karena meskipun diawal telaah teoritis diingatkan bahwa kajian ini tidak serta merta menerapkan model penelitian efek  secara sempit, mekanistik, dan berpandangan deterministik namun pada kenyataannya sulit untuk tidak berkarakter mekanistik ketika mengkaji proses konstruksi makna berita oleh audiens dengan melakukan eksperimen. Bukankah melakukan eksperimen mau tidak mau harus bersifat sempit dan deterministik.
  3. Berdasarkan telaah ini maka penulis memandang perlu memberi semacam catatan bahwa adalah lebih menarik dan menantang bila kajian terhadap konstruksi makna berita oleh audiens itu juga menggunakan pendekatan yang khas model konstruktivis. Misalnya dengan indepthinterview dan disertai penerapan Focus Group Discussion ( FGD ). Dengan ini maka banyak faktor latar belakang sosiokultural historis bahkan faktor lain semisal intensitas, orientasi terhadap isu konteks tertentu yang sudah barang tentu berpengaruh terhadap proses pemaknaan sebuah innformasi juga akan dapat terungkap.
  4. Terakhir, contoh penelitian ini, bagi saya pribadi tetap memiliki arti yang penting utamanya ketika hendak menjajagi model pengembangan kajian media yang lebih bersifat holistik.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 22 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: