THEORIES OF DISCOURSE

  •  Bab 5 buku Littlejohn ini akan berkaitan dengan wacana. Wacana adalah bentuk yang kompleks dalam sebuah struktur pesan.
  • Analisis wacana berarti analisis yang mencoba melihat bagaimana pesan itu diorganisasikan, digunakan dan dipahami.
  •  Menurut Scott Jacobs terdapat tiga persoalan mendasar terkait  dengan analisis wacana:
  1. Masalah makna :Bagaimana orang memahami pesan? Informasi apa yang melekat dalam sebuah pernyataan sehingga lawan bicara bisa menangkap apa yang hendak diutarakan?
  2. Masalah tindakan : Bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu akan dilakukan lawan bicara kita sehubungan dengan pernyataan yang kita tujukan kepadanya? Bagaimana kita yakin bahwa kita memilih informasi atau strategi yang tepat dalam menyampaikan sesuatu sehingga lawan bicara kita akan memahami apa yang kita harapkan?
  3. Masalah koherensi : Bagaimana kita menentukan pola–pola dalam berbicara sehingga  pernyataan kita bisa logis?
  • Dalam berkomunikasi kita menggunakan wacana untuk mencapai apa yang kita harapkan dan untuk itu kita menjalankannya menurut sebuah aturan tertentu.

SPEECH-ACT THEORY

  • Dicetuskan oleh Lidwig Wittgenstein,seorang filsif Jerman yang  pemikirannya kemudian dikenal sebagai ordinary language philosophy.
  • Lidwig mengajarkan bahwa arti bahasa bergantung pada penggunaannya sesungguhnya. Bahasa yang digunakan sehari-hari itu tak ubahnya sebuah permainan bahasa karena di dalamnya terdapat berbagai aturan main.
  • Konsep permainan bahasa ini kemudian dikembangkan oleh Later J.L. Austin yang mengutarakan penggunaan praktis bahasa dalam tindakan  bahasa( speech acts).
  • Perilaku bahasa adalah adalah unit dasar bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan makna, dan penggunaannya berkaitan dengan ekspresi niatan.Biasanya tindakan bahasa berbentuk kalimat, tetapi juga bisa hanya berupa kata atau frase sepanjang telah mengikuti aturan tertentu yang diperlukan agar bisa  mencapai tujuan, suatu niatan tertentu.
  • Ketika orang menggunakan bahasa maka ia melakukan suatu tindakan tertentu. Tindakan itu bisa berupa pernyataan, pertanyaan, perintah, janji dan sejumlah kemungkinan lainnya. Berbicara dengan demikian tidak hanya berarti menyusun suatu pernyataan tertentu melainkan benar-benar melakukan sesuatu.
  • Speech act theory tidak hanya berhubungan dengan rujukan seseorang ketika menggunakan sebuah simbol bahasa melainkan juga berkaitan dengan niatan ( intensi) untuk melakukan sesuatu tindakan.
  • Ketika seseorang mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan bahasa terdapat empat jenis tindakan bahasa yang terjadi:
  1. an utterance act : pengungkapan lewat kata-kata tertentu
  2. a propositional act : mengucapkan sesuatu yang menurut keyakinan kita benar
  3. a illocutionary act : dilakukan untuk memenuhi niatan yang akan kita lakukan sehubungan dengan pernyataan tersebut. Di sini si pembicara melakukan sesuatu agar lawan bicaranya memahami apa yang kita niati.
  4. a prelocutionary act : dilakukan untuk meyakinkan bahwa lawan bicara kita benar-benar melakukan sesuatu menurut apa yang kita harapkan.
  • Dalam speech-act theory makna sebuah ujaran sebenarnya terletak pada kekuatan illocutionary itu tadi. Terdapat beberapa aturan yang harus diikuti dalam illocutionary act yang disebut constitutive rules:
  1. the propositional content rules : di sini si pembicara harus menyatakan bahwa ia akan benar benar melakukan sesuatu seperti yang ia katakan
  2. preparatory rules : di sini harus tercipta kondisi tertentu sehingga baik bagi si pembicara maupun lawan bicara yakin bahwa sesuatu itu yang akan dilakukan dan bukan hal yang lain
  3. sincerity rule
  4. essensial rule

ANALISIS PERCAKAPAN

  • Analisis percakapan masih termasuk dalam studi sosiologi tepatnya adalah dalam kajian etnometodologi yakni studi tentang bagaimana orang-orang menjalani kehidupan sehari-harinya.
  • Percakapan sebagaimana aspek kehidupan sosial lainnya dipandang sebagai kemampauan sosial karena dalam percakapan mensyaratkan adanya sesuatu yang dilakukan bersama-sama lewat sebuah pembicaraan.
  • Dalam analisis percakapan akan diteliti secara detil sekuen-sekuen tertentu dalam sebuah pembicaraan
  • Percakapan dilihat sebagai bagian dalam sebuah tindakan yang dilakukan seseorang ketika hendak melakukan sesuatu.Dan yang terpenting dalam analisis percakapan adalah bagaimana suatu tindakan dinayatakan dalam bentuk bahasa.
  • Analisis percakapan akan melihat bagaimana orang mengorganisasikan pola-pola percakapan sehingga tercipta sebuah koherensi atau disebut coversational coherence.Yakni kepaduan antara makna dan jalinan percakapan yang terjadi.

[…………]

CATATAN

  • Wacana merupakan bagian tak terpisahkan dalam telaah bahasa atau komunikasi pada umumnya. Lewat analisis wacana kita bisa menggali makna lebih dalam dari sekedar apa yang tertuang dalam sebuah teks tertulis. Dalam wacana kita menemukan semacam pola-pola tertentu yang diatur oleh sebuah aturan main. Wacana lalu menjadi semacam strategi komunikasi tertentu yang senantiasa melibatkan baik si pembicara maupun lawan bicaranya.
  • Aturan main yang berlaku dalam sebuah tindakan bahasa menjadi bagian yang penting karena bagaimanapun dalam sebuah komunikasi orang berusaha menggunakan pola-pola yang bisa diprediksikan
  • Rules atau aturan yang menjadi patokan dalam wacana ini sayangnya tak bisa lepas dari kritikan, utamanya berkaitan dengan prinsip koherensi dan kekuatan eksplanatorynya. Prinsip koherensi sangat terikat secara logis internal dalam bahasa sehingga akan senantiasa berubah sesuai dengan konteks waktu dan situasinya akibatnya sangat sulit untuk bisa menerapkan konsep ini secara general. Juga dalam hal eksplanatory, aturan yang berlaku dalam sebuah bahasa tak bisa dilepaskan dari konteks kultur di mana bahasa itu berkembang.
  • Salah satu penerapan dari rules theory dan menjadi salah satu bagian benting bab ini adalah speech-act theory. Beberapa konsep yang saya anggap penting di dalam teori ini adalah soal locutionary, illocutionary dan perlocutionary. Bagi saya pembagian teoritis semacam itu terkesan dipaksa-paksakan sehingga memang perbedaan di antara konsep-konsep tersebut menjadi sulit dilacak atau dibedakan. Kalaupun kita bisa membedakan makna di antara konsep-konsep itu tetap akan menjadi pertanyan apa sesungguhnya manfaatnya bagi pemahaman tentang tindakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Yang lebih penting sebetulnya bagaimana membuat deskripsi sejelas-jelasnnya soal perbedaan strategi bahasa dilihat dari intensi yang dimaksudkannya. Karena memang intensi adalah bagian tak terpisahkan dalam sebuah perilaku bahasa.
  • Terapan selanjutnya dari rule theory adalah analisis percakapan. Bagi saya analisis percakapan memang tidak bisa dilepaskan dari kajian induknya yakni etnometodologi.Yang seringkali mendatangkan persoalan adalah pada strategi penelitian atau analisis percakapan yang mengandaikan bisa menangkap pola koherensi makna dalam sebuah tindakan percakapan hanya dengan mengkaji secara detil sekuen-sekuen tertentu dari percakapan itu. Bagaimanapun makna atau kekuatan percakapan adalah ada pada seluruh proses percakapan itu dan bukan pada bagian per bagiannya.
  • Keberatan kedua dari analisis percakapan adalah pada proses analisisnya yang menurunkan derajad aktualitas percakapan menjadi sebuah teks terlepas dari konteks dan opini atau intensi si pembicara yang terlibat. Di sini si peneliti berlaku sebagai penafsir tunggal atas makna yang inheren dalam sebuah sekuen percakapan atau teks tadi.
  • Analisis wacana sebagaimana kita pelajari dalam bab ini nampaknya memang baru sekedar pengenalan menuju domain kajian wacana yang lebih kompleks. Beberapa teori atau penerapan dalam analisis wacana dalam bab ini belum menyasar pada kekuatan sosial kultural yang turut menentukan dalam proses terbentuknya wacana yang berkembang dalam masyarakat. Ada persoalan penting yang juga belum disinggung dalam bab ini yakni soal makna yang terkandung dalam sebuah teks. Sebagaimana konsep post struktural yang meyakini bahwa makna yang melekat pada teks tidaklah bisa dilihat sebagai sebuah kebenaran mutlak. Selalu ada multi interpretasi dan salah satu makna yang terungkap dalam teks hanyalah salah satu alternatif kebenaran saja.
  • Bagaimana pun chapter yang membicarakan soal theories of discourse ini patut dicermati karena di dalamnya kita bisa berkenalan dengan salah satu momen komunikasi yang teramat penting yakni “wacana” atau sebutlah dalam term bab ini “percakapan”, sesuatu yang karena terlalu sering dan lumrah  kita lakuakan dalam kehidupan sehari –hari mengakibatkan kita lupa akan pentingnya proses di dalamnya, padahal pemahaman akan proses percakapan akan sangat menentukan dalam hal bermutu tidaknya perilaku komunikasi yang kita lakukan.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: