Review : Gunter, Barrie. Media Research Methods : Measuring Audiences, Reactions and Impact. London : Sage Publications, 2000. Ch.3

Overview of Media Research Methodologies: Media Output

Adalah Weber (1907), Blumer (1933)  dan Levi-Strauss (1963) yang tulisan-tulisannya mengilhami lahirnya qualitative content analysis. Riset media jenis ini memanfaatkan interpretasi dan gaya hermeneutik sebagai landasan metodologinya. Metode pengumpulan datanya bisa berupa observasi, wawancara mendalam dan bermacam variasi yang dipakai dalam analisis isi kualitatif (Gunter, 2000:82).

Perbedaan mendasar antara metodologi kuantitatif dan kualitatif dapat dilacak pada tempat dimana makna suatu teks media itu berada. Analisis kuantitatif menekankan pada makna tetap dari teks media yang bisa diidentifikasi secara berulang oleh ‘pembaca’ yang berbeda dengan menggunakan kerangka analisis yang sama. Sedangkan prosedur analisis isi  kualitatif  lebih menekankan pada kemampuan teks di dalam membawakan suatu keragaman makna bergantung pada si penerimanya (Gunter, 2000: 82).

Hijmans (1996, dalam Gunter 2000:83) mengklasifikasikan beberapa model analisis isi kualitatif:

  1. analisis semiotik-struktural
  2. analisis wacana
  3. analisis retorik
  4. analisis naratif
  5. analisis interpretatif

Berikut ini dijelaskan secara singkat konsep pokok dari kelima model analisis isi kualitatif tersebut:

Analisis semiotik-struktural memusatkan perhatian pada makna terdalam suatu pesan. Metode ini menekankan, tidak pada makna manifes melainkan pada hubungan struktural dalam representasi suatu teks karena, ‘bukan “isi” yang menentukan makna, melainkan “hubungan” dalam suatu sistem’ (Berger, 1993:7). Makna simbolik suatu pesan dan hubungan referensialnya menjadi kajian pokok dalam analisis semiotik. Produksi makna didasarkan pada sebuah konvensi, kode-kode dan persetujuan kultural. Analisis semiotik modern kemudian dikenal mengacu pada karya pakar linguistik Swiss Ferdinand de Saussure dan filsuf Amerika Charles Saunders Pierce (Gunter,2000:83).

Analisis wacana merupakan suatu bentuk studi kritik linguistik (Fowler,1991 dalam Gunter 2000:87). Analisis wacana telah digunakan untuk membedah makna suatu teks tertulis, namun kemudian juga dipakai untuk mengakaji media audio visual. Penerapan analisis wacana dalam studi media berkembang  dari kajian semiotik namun yang lebih menekankan pada kajian makna dalam bahasa menurut asumsi ideologi implisit yang dikandungnya, dan analisis wacana lebih memperhatikan khususnya pada komponen linguistik dari bahasa yang digunakan dalam suatu media.

Analisis retorik memusatkan pada pertanyaan bagaimana pesan dipresentasikan secara tekstual maupun visual. Analisis retorik merupakan jenis umum dari analisis stilistik – yakni penggarapan termasuk presentasi dari suatu pesan dan pilihan-pilihan yang telah dibuat oleh si komunikator  menjadi pokok dari analisis retorik. Pendeknya, analisis ini memfokuskan pada pembedaan gambaran dalam wujud komposisi, bentuk, penggunaan metafora dan struktur argumentasi atau logika yang diterapkan (Gunter, 2000:89).

Analisis naratif berfokus pada struktur formal namun dalam perspektif naratif. Dalam analisis naratif teks dipandang sebagai sebuah jalinan kisah (stories). Pesan digarap dan dihadirkan atau diedit dalam versi sekuel suatu peristiwa, di mana elemen-elemennya digambarkan dan diberi karakter menurut struktur yang dipakainya. Prosedur analisis ini memfokuskan pada rekonstruksi dan deskripsi dari struktur narasi yang menjadi dasar dari pelaku, pilihan,kesulitan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri si tokoh pelaku (Burke,1969; Chatman,1978 dalam Gunter, 2000:90).

Para peneliti yang menggunakan analisis interpretatif dituntut untuk bisa menggambarkan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan mengarahkan pada penemuan dan pembentukan suatu teori. Analisis isi interpretatif ditandai dengan suatu prosedur yang bersifat kumulatif dan komparatif. Analisis kumulatif diawali secara terbuka, dengan menerapkan konsep yang memandu observasi dan analisis, menguji antara pemahaman teoritis dengan data empiris, menyesuaikan konsep dan pekerjaan dengan hipotesis yang bersifat sementara (Gunter,2000:91).

Dengan memperhatikan beberapa model analisis isi kualitatif di atas maka minat pokok analisis isi kualitatif sesungguhnya adalah bukan semata pada apa yang nampak dari tema-tema yang ada, sumber informasi atau kategori pelaku, melainkan dari bagaimana tema-tema, sumber-sumber atau tindakan ditempatkan. Dengan kata lain, keseluruhan variasi pola-pola linguistik dan format produk dapat dianalisis untuk menyingkap makna-makna yang mungkin tidak serta-merta bisa ditangkap bila hanya menggunakan penghitungan frekuensi elemen-elemen isi seperti dalam analisis kuantitatif.

II

Uraian Gunter mengenai analisis media kualitatif di atas menurut saya merupakan salah satu teks yang bisa mengisi kekosongan akan adanya metodologi analisis isi media kualitatif. Banyak buku yang mengangkat tema tentang analisis teks media kualitatif namun pada umumnya langsung membidik pada satu model khusus misalnya model semiotik (struktural), wacana, dst. Uraian tentang analisis isi media yang bersifat kualitatif seperti dilakukan Gunter masih sangat jarang kita temukan. Namun sayangnya, dalam tulisan Gunter ini belum di-breakdown secara detil langkah-langkah operasional misalnya untuk model analisis interpretatif. Hal yang sama juga berlaku untuk analisis naratif maupun retorik. Sedangkan analisis semiotik struktural dan wacana umumnya sudah amat banyak ditulis sampai dengan tahapan analisis yang operasional oleh beberapa ahli (baca: Fowler,1995;Daniel Chandler,2002)

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: