MENGKAJI FILM DENGAN PENDEKATAN KRITISISME PSIKOANALITIK : petunjuk praktis dan contoh kasus

Langkah – Langkah

I.  Menentukan film sebagai kasus.

( Misal; film Final Evaluation, The Dark Knight dll)

 Film tidak harus film barat, film Indonesia juga bisa asal pilih yang bermutu dan sekali lagi bermuatan psikologis.

II.  Menonton filmnya, mencari informasi latar belakang film tersebut dan mencatat garis besar jalan ceritanya

Pada tahap ini sebenarnya anda sudah masuk dalam kajian sintagmatik film ( mencari makna literer, sesuai dengan plot/alur cerita) yang nantinya akan diperdalam ketika sudah mengkaji karakter tokoh

Pertanyaan yang harus dijawab pada tahap ini:

FILM TERSEBUT BERCERITA TENTANG APA?

III.  Mulai  melakukan analisis KARAKTER PEMAIN

Untuk ini anda bisa menggunakan model analisis karakter Vladimir Propp

Apa itu analisis karakter Vladimir Propp, kita simak berikut ini.

      Analisis Propp sering disebut  “Film Narrative”

  • Pada dasarnya semua film adalah naratif — they tell stories
  •  Pelopor narratology Vladimir Propp (1975). Ia mengkaji beberapa folk-tales Rusia untuk melihat kemiripan dalam pola dasar cerita (fungsi)

    7 karakter dramatis:

  1. Penjahat         :melawan sang pahlawan
  2. Dermawan : menolong sang pahlawan dengan magicnya
  3. Penolong        : membantu sang pahlawan menyelesaikan tugas
  4. Putri    : mencari calon suami
  5. Pengirim : mengirim sang pahlawan menjalankan misi
  6. Pahlawan : mencari sesuatu dan melawan penjahat
  7. Pahlawan  palsu : mengklaim sebagai pahlawan tetapi ketahuan.

Misal, fungsi dari Propp tampak dalam plot berikut :

  • Situasi awal
  • Pelanggaran larangan
  • Penjahat melukai
  • Menerima  resep dari penolong
  • Pahlawan palsu ditunjukkan

The function of Narrative

  1. Naratif berfungsi sebagai properti of human mind seperti halnya ‘bahasa’
  2. Narasi memiliki fungsi sosial dalam masyarakat yang tidak bisa ‘dihilangkan’ ( mis. Sebagai sarana pengungkapan mitos)

Tujuan analisis Propp

     1. Menggali fungsi/elemen penting dalam sebuah cerita ( memahami dasar fomula yang digunakan )

     2.  Menemukan urutan peristiwa /logika dalam sebuah narasi. Urutan /susunan elemen dalam cerita akan mempengaruhi persepsi kita tentang ‘arti’ dari cerita tersebut.

 IV. Menganalisis Anatomi Konflik

  Karen Jehn mengurai anatomi konflik dengan menanyakan :

    1.   Apa yang memicu konflik

    2.   Siapa saja yang terlibat dalam konflik

    3.   Apa isu yang disengketakan

    4.   Bagaimana strategi yang dipakai masing-masing   fihak  yang berkonflik untuk mencapai kemenangan

    5.   Konflik meluas/mereda

    6.   Apa konsekuensi dari konflik yang terjadi

V. Menerapkan analisis psikologis karakter dengan teori Psikoanalisis.

   ( Ingat materi kuliah minggu kemarin..)

   Coba terapkan analisis kepribadian Freud  :

   Id…

   Ego….

   Super ego….dst. 

  Ingat dan terapkan teori defence mechanisme atau mekanisme pertahanan diri dari Freud juga

VI. Terakhir melakukan analisis simbol dengan menggunakan Teori  Simbol .

  Teori ini digunakan sebagai interpretasi terhadap simbol tokoh dalam film.

CONTOH KAJIAN FILM DENGAN PENDEKATAN PSIKOANALISIS

Konflik dan Dissociative Identity Disorder dalam Film The Dark Knight

sumber : http://mysurrealistthink.blogspot.com/

 Sejarah lahirnya Batman dan munculnya “The Dark Knight

The Dark Knight merupakan sekuel terbaru film superhero Batman yang lahir pada tahun 1939. Tokoh ini lahir dari seorang pria kelahiran New York, Bob Kane. Bersama rekannya Bill Finger sebagai pembuat cerita, maka tokoh satria kelalawar yang hingga kini dikenal dengan Batman muncul pertama kali dalam bentuk komik bergamabar pada DC Comic edisi 27 pada bulan Mei 1939. Tokoh ini mendapat inspirasi dari gambar Leonardo davinci tentang konsep pesawat Ornithoper yang dilengkapi dengan sayap kelalawar.  Sejak Batman muncul sebagai hero baru dalam DC Comics, tokoh ini langsung mendapat sambutan luar biasa dari pembacanya.

Batman untuk konsumsi TV yang mulai ditayangkan tahun 1965 dan mendapat sukses di seluruh dunia. Batman diperankan oleh Adam West dan Robin oleh Burt Ward. Dalam perjalanannya sekitar hampir 7 dekade, telah mengalami perkembangan, pergantian dan interpretasi ulang dalam bentuk komik, serial film, program TV, dan film feature yang sangat popular pada pertengahan 60-an, serta dalam novel-novel. Sampai akhirnya tokoh ini menarik simpati Warner Brothers untuk menarik sang kelelawar ke layar lebar. Maka pada tahun 1989 untuk pertamakalinya Batman muncul di layar lebar dengan judul sederhana, “BATMAN”. Film ini disutradarai Tim Burton. Film tersebut sukses berat di seluruh dunia yang menyebabkan Burton kembali menyutradarai film Batman yang kedua (1992) yang kali ini berjudul “BATMAN RETURNS”. Sekuel ke tiga dengan judul “BATMAN FOREVER” diproduksi pada tahun 1995. Tokoh Batman diperankan oleh Val Kilmer, Two Face oleh Tommy Lee Jones dan Jim Carey sebagai The Riddler.  Sukses film terdahulu membuat sekuel selanjutnya muncul pada tahun1997 dengan judul “BATMAN AND ROBIN” yang diperankan oleh George Clooney sebagai Batman, Chris O’Donnel sebagai Robin, Alicia Silverstone jadi Batgirl, Arnold Schwarzenegger jadi Mr. Freeze dan Uma Thurman sebagai Poison Ivy.

Bob Kane meninggal dunia pada tahun 1998 di Selatan California, dan ia tetap menjaga kontrol kualitas terhadap komiknya. Ia tetap memegang hak cipta Batman. 10 tahun kemudian release pertama sekuel Batman ke-enam yang berjudul “THE DARK NIGHT” setelah “BATMAN BEGIN” dan disutradarai Cristopher Nolan akhirnya diluncurkan pada 18 Juli 2008 dengan perubahan-perubahan dan konflik yang lebih kompleks. Film ini merupakan puncak kesuksesan dari 4 sekuel terdahulu yang bertahan lama dalam puncak film dunia.

Karakter Pemain

Vladimir Propp mengungkapkan Karakter adalah produk dari plot dimana sifat karakter hanya sebagai fungsi. Fungsi berarti karakter sebagai elemen pendukung plot. Sedangkan Tzevetan Todorov menjelaskan bahwa Fiksi memiliki 2 jenis naratif yaitu character oriented dan plot oriented.

Dalam film ini, pembentukan karakter pun berjalan dengan wajar. Artinya tak ada tokoh jahat yang tampil tanpa latar belakang psikologis yang ‘membenarkan’ tindakannya. Walaupun mengambil tema superhero, namun film ini jauh dari berkesan fantastis dan film ini masih berpijak pada logika dan hukum-hukum alam. Karakter Batman tak pernah digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kekuatan super seperti halnya superhero lain. Batman merupakan orang biasa yang didukung oleh peralatan canggih dan teknologi mutakhir dalam menjalankan aksinya sebagai “Pahlawan” di Gotham city. Tokoh ini masih bisa terluka dan yang lebih penting Batman masih punya emosi naluri sebagai manusia biasa. Berikut beberapa karakter dalam film “The Dark Knight” :

  1. Christian Bale sebagai Bruce Wayne / Batman: Ia adalah Seorang billionaire yang melindungi Gotham City dari dunia kejahatan di malam hari. Kepribadian Batman dibentuk kuat dan mapan.
  2. Heath Ladger sebagai The Joker : Joker digambarkan sebagai badut sakit jiwa, pembunuh, pelawak yang memiliki kecenderungan penyakit skiszofrenia dan tanpa memiliki empati.
  3. Aaron Eckhart sebagai Harvey Dent / Two-Face: Pengacara daerah Gotham yang disebut sebagai Gotham’s “Ksatria Putih”; perjuangan melawan Joker mengubah Dent ke dalam sifat sifat kejam, dan menjadi “Two-Face”. Bagi Batman Dent adalah wujud Batman di Siang hari.
  4. Gary Oldman sebagai Yakobus Gordon: Letnan dari Gotham City Police Department dan salah satu dari sedikit polisi yang baik. Ia membentuk persekutuan tidak resmi dengan Batman dan Dent. Ketika Joker membunuh Komisaris Polisi Loeb, Walikota Garcia memberi Gordon posisi. Oldman menggambarkan karakter nya seperti “yang tidak berubah, berbudi luhur, kuat, gagah berani.
  5. Maggie Gyllenhaal sebagai Rahel Dawes: Asisten Gotham DA. Dan teman masa kecil Bruce Wayne. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang mengenal identitas Batman.

Teori Konflik

“You cannot not to be in conflict”.  Secara teori, konflik memiliki pengertian fisik dan non-fisik. Menurut Kamus Merriam Webster dan Advance, konflik dapat diartikan sebagai Perlawanan mental sebagai akibat dari: kebutuhan, dorongan, keinginan atau tuntutan yang berlawanan, Tindakan perlawanan karena ketidakcocokan / ketidakserasian, Berkelahi, berperang, atau baku hantam. Konflik sendiri memiliki tingkatan. Dalam Encyclopedia of Professional Management (Editor Lester Robet Bittle, mcgraw-Hill, Inc, 1998), dijelaskan bahwa tingkatan konflik itu antara lain dijelaskan seperti berikut:

  1. The unvisible conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini adalah konflik yang masih ada di batin kita (tidak kelihatan). Ada beberapa ketidakcocokan antara kita dengan orang lain, tetapi ketidakcocokan itu tidak nampak atau tidak muncul ke dalam ucapan mulut, sikap, dan tindakan.
  2. The perceived / experienced conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini adalah konflik yang sudah kita ketahui, kita alami atau sudah nampak. Kita dengan orang lain sudah sama-sama mengalami perbedaan yang kita munculkan dalam bentuk perlawanan. Perbedaan itu bisa jadi berbeda dalam pendapat, harapan, kebutuhan, motif, tuntutan atau tindakan. Perlawanan itu bisa jadi dalam bentuk perlawanan mulut atau sikap.
  3. The fighting. Pada tingkatan ini, konflik sudah berubah menjadi perlawanan fisik, baku hantam, perkelahian, atau hal-hal yang semisal dengan itu. Menurut kamus, fighting adalah melawan orang lain dengan pukulan atau senjata (blow or weapon).

Penyebab konflik sangat beragam, namun secara garis besar dapat dipahami mengenai teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik yaitu:

1.      Teori hubungan masyaraka, Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.

2.      Teori kebutuhan manusia, Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.

3.      Teori negosiasi prinsip, Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.

4.      Teori identitas, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.

5.      Teori kesalahpahaman antarbudaya, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.

6.      Teori transformasi konflik, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Anatomi Konflik

Pada tingkatan apapun konflik yang terjadi, pada dasarnya konflik melibatkan unsur-unsur dasar yang khas. Kemunculannya dipicu oleh suatu kejadian penting. Sejalan dengan hal tersebut di atas, Karen Jehn mengurai anatomi konflik dengan menanyakan :

1.      Apa yang memicu konflik

2.      Siapa saja yang terlibat dalam konflik

3.      Apa isu yang disengketakan

4.      Bagaimana strategi yang dipakai masing-masing fihak fihak yang berkonflik untuk mencapai kemenangan

5.      Konflik meluas/mereda

6.      Apa konsekuensi dari konflik yang terjadi

Psikoanalisis dan Teori Kepribadian

Proses penciptaan tokoh dan karakter dalam tema superhero, memiliki korelasi dengan teori psikoanalisis dan teori kepribadiaan, serta konsep dramaturgi yang dikemukankan oleh Erving Goffman. Hal terkait dengan keseragaman superhero ala Amerika yang menolak untuk dikenali jati dirinya oleh publik.

Sigmund Frued berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Masing-masing sistem tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga sistem ini meliputi : Id, Ego, dan Superego. Masing-masing sistem atau instansi memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri.

Id. Kehidupan psikis seseorang bak gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan laut, sedangkan bagian terbesar dari gunung tersebut tidak tampak, karena terendam di dalam laut. Kehidupan psikis seseorang sebagian besar juga tidak tampak ( bagi diri mereka sendiri ), dalam arti tidak disadari oleh yang bersangkutan.  Meski demikian, hal ini tetap perlu mendapat perhatian atau diperhitungkan, karena mempunyai pengaruh terhadap keutuhan pribadi ( integrated personality ) seseorang. Dalam pandangan Frued, apa yang dilakukan manusia -khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dikehendaki- untuk sebagian besar tidak disadari oleh yang bersangkutan. Hal ini dinamakan “ketaksadaran dinamis”, ketaksadaran yang mengerjakan sesuatu. Dalam Id berlaku : bukan aku (= subjek ) pelakunya, melainkan ada yang melakukan dalam diri aku.

Ego. Ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego merupakan mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewani manusia dan hidup sebagai wujud yang rasional ( pada pribadi yang normal ).  Aktivitas Ego ini tampak dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan dunia nyata dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Tugas pokok Ego adalah menjaga integritas pribadi dan menjamin penyesuaian dengan alam realitas. Selain itu, juga berperan memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan. Jadi, Fungsi Ego adalah menjaga integritas kepribadian dengan mengadakan sintesis psikis.

Superego. Fungsinya adalah mengkontrol ego. Ia selalu bersikap kritis terhadap aktivitas ego, bahkan tak jarang menghantam dan menyerang ego. Superego ini termasuk ego, dan seperti ego ia mempunyai susunan psikologis lebih kompleks, tetapi ia juga memiliki perkaitan sangat erat dengan id. Superego dapat menempatkan diri di hadapan Ego serta memperlakukannya sebagai objek dan caranya kerapkali sangat keras. Bagi Ego sama penting mempunyai hubungan baik dengan Superego sebagaimana halnya dengan Id. Ketidakcocokan antara ego dan superego mempunyai konsekuensi besar bagi hidup psikis.Superego merupakan sistem kepribadian yang melepaskan diri dari Ego. Aktivitas Superego dapat berupa self observation, kritik diri, larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Superego terbentuk melalui internalisasi ( proses memasukkan ke dalam diri ) berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama di masa kanak-kanak.

  Defence Mechanisme dan Dissociative Identity Disorder (DID)

Selain Id dan Superego, menurut Frued, ada mekanisme lain yang juga berpengaruh terhadap perilaku manusia, terutama perilaku yang tidak sehat . Mekanisme ini dinamakan defence mechanisme atau mekanisme pertahanan diri. Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak.

Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan.

Pemecahan kepribadian atau sering juga disebut kepribadian ganda, atau juga lebih terkenal dengan nama alter ego. Merupakan suatu keadaan di mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Kepribadian itu biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu atau memiliki dua pribadi sekaligus. Kadang si penderita tidak tau bahwa ia memiliki kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya. (Wikipedia)

Menurut DSM-IV, diagnosis yang benar untuk dissociative identity disorder (DID) adalah jika seseorang itu mempunya 2 ego yang berbeda (alter ego), di mana masing2 ego mempunyai perasaan, kelakuan, kepribadian yang exist secara independent – dan ‘keluar’ dalam waktu yang berlainan. Kasus DID kadang di-misunderstood sebagai schizophrenia.  Schizo berasal dari bahasa yunani, yang berarti “splitting away from” sehingga hal ini menyebabkan kebingungan. Padahal split personality ini cukup berbeda dengan gejala2 yang ditemukan dalam schizophrenia.

Ada 2 teori utama tentang DID. Yang satu mengatakan bahwa DID bermula sejak kecil, akibat kekerasan fisik atau sexual yang parah (abuse). Kekerasan ini menyebabkan terpisahnya dan terbentuknya alter sebagai pelarian dari trauma. Teori lain menganggap DID sebagai perwujudan social role yang dipelajari (role-enactment). Alter yang muncul saat dewasa, biasanya disebabkan oleh suggestion dari therapist.

Identitas dan Dramaturgi

Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul “The Presentational of Self in Everyday Life” memperkenalkan konsep dramaturgi yang bersifat penampilan teateris. Banyak ahli mengatakan bahwa dramaturginya Goffman ini ini berada di antara tradisi interaksi simbolik dan fenomenologi (Sukidin, 2002: 103).

Dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Goffman menyebutnya sebagai bagian depan (front) dan bagian belakang (back). Front mencakup, setting, personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri). Sedangkan bagian belakang adalah the self, yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan acting atau penampilan diri yang ada pada Front.

Fokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka melakukannya. Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik.

Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” (impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.

Teori Simbol

Teori ini digunakan sebagai interpretasi terhadap simbol tokoh dalam film “The Dark Knight”. Susanne Langer adalah orang yang mengemukakan teori simbol. Ia mencoba untuk melihat isu dan masalah estetika lewat ekspresi, emosi pada seni bentuk, tulisan dan arti dari simbol. Langer membedakan antara tanda dan simbol. Tanda digunakan untuk menyatakan suatu hal, keadaan atau kejadian. Tanda merujuk pada objeknya sehingga tanda dan objek memiliki hubungan.

Biasanya tanda merangsang subjek untuk bertindak. Tanda dibedakan lagi menjadi tanda alamiah dan tanda buatan. Simbol mengacu pada konsep dan sifatnya tidak selalu merangsang subjek untuk bertindak, namun lebih membuat kita mencoba memahaminya. Simbol adalah representasi mental dari subjek. Tanda dan objeknya hanya bersifat denotatif sementara simbol dan objeknya bersifat denotatif dan konotatif.

Simbol dibedakan menjadi dua, simbol diskursif yaitu simbol yang rasional dan dapat dimengerti secara logika. Simbol ini dapat ditangkap oleh kemampuan akal budi, contohnya bahasa dan simbol representasional yaitu simbol yang sifatnya spontan dan intuisi langsung. Simbol seperti ini terdapat dalam karya seni dimana hubungan elemen simbol kita tangkap secara keseluruhan.

Langer menyebutkan bahwa seni adalah living form yang memiliki ciri khas tersendiri karena realitas yang diangkat adalah subjektif. Pengalaman subjektif dapat menjadi isu suatu bentuk simbolis yang menunjukkan ekspresi yang kuat sehingga bentuk seni tampak hidup. Estetika mesti berangkat dari pengalaman pribadi yang khusus sehingga disebut karya seni. Croce menyebutkan pengetahuan intuitif adalah pengetahuan ekspresif. Intuisi memiliki bentuk, sedang perasaan hanyalah gelombang sensasi. Ungkapan estetis adalah sebuah sintesis. Tidak mungkin membedakan antara yang langsung dan yang tak langsung.

Metode

Untuk menjelaskan peran dan karakter konflik, kepribadian dan simbol yang muncul penulis menggunakan metode Analisis Interpretif terhadap alur dan pendalaman karakter masing-masing peran utama, yaitu Batman, Joker dan Two Face. Beberapa sudut pandang penulis gunakan untuk melihat karakter dan pemaknaan terhadap peran dan simbol yang digunakan dalam film The Dark Knight.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 17 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: