MERUMUSKAN HIPOTESIS

Pendahuluan

Tugas yang harus dilakukan oleh seorang peneliti setelah melakukan telaah terhadap hasil-hasil penelitian terdahulu lewat studi kepustakaan atau kajian pustaka, kemudian si peneliti juga telah menetapkan serta merumuskan masalah penelitian ,maka tibalah saatnya merumuskan hipotesis. Sampai dengan tahap perumusan hipotesis, seorang peneliti diharapkan sudah memiliki cukup bekal informasi baik menyangkut metode penelitian yang akan diterapkan maupun bahan-bahan pembanding yang akan dipakai untuk mengembangkan hipotesisnya maupun mempertajam analisisnya.

Harus diakui merumuskan hipotesis adalah tahapan yang sukar dalam rangkaian penyusunan desain penelitian.Ini makin terasa manakala permasalahan yang hendak dijawab memang tidak memiliki ‘kerangka teori ‘ yang jelas.Di samping itu, kesukaran merumuskan hipotesis juga disebabkan oleh terbatasnya kemampuan peneliti untuk memanfaatkan kerangka teori ‘ yang sudah’ada secara logis.

Hipotesis :perlu atau tidak?

 Pertanyaan mengenai perlu tidaknya suatu hipotesis jawabnya sudah jelas bergantung pada sifat penelitian yang hendak dilakukan.Suatu penelitian yang sifatnya eksploratif, apabila memang hendak disertai dengan hipotesis sebenarnya justru akan membatasi ‘keterbukaan’ terhadap  masuknya informasi-informasi yang sangat dibutuhkan.Bukankah sifat penelitian eksploratif sebenarnya memang hendak mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang dapat digali berkaitan dengan permasalahan yang diteliti?Penelitian eskploratif memang bersifat pendahuluan sebelum penelitian yang terperinci dan mendalam dilaksanakan.

Sementara penelitian yang bersifat deskriptif, yang tidak hanya sekedar bermaksud mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, sudah membutuhkan adanya suatu hipotesis tertentu.Kehadiran hipotesis menjadi sangat perlu ketika tujuan penelitian itu sudah mengarah pada eksplanatif, karena penelitian eksplanatif sudah berkenaan dengan upaya verifikasi, di mana langkah pokok dituntun oleh komponen “masalah – hipotesis – data – analisis – kesimpulan”.Komponen-komponen tersebut dijalin oleh suatu kerangka teori.

Definisi Hipotesis

Ada berbagai batasan yang dikemukakan oleh berbagai ahli mengenai apa yang dimaksudkan dengan hipotesis.

F.N Kerlinger ( dalam Malo,2000) memberikan batasan “ hipotesis adalah kesimpulan sementara atau proposisi tentatif tentang hubungan antara dua variabel atau lebih”

K.D Bailey ( dalam Malo, 2000) berpendapat “suatu hipotesis merupakan suatu preposisi yang dinyatakan dalam bentuk yang dapat diuji dan meramalkan suatu hubungan tertentu antara dua variabel”

Sementara Treelease (1960,dalam Nazir 1983) memberikan definisi hipotesis sebagai” suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati

Sedangkan Good dan Scates (1954, dalam Nazir 1983) menyatakan bahwa “hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya”

Berdasarkan berbagai batasan yang dikemukakan di atas dapatlah ditarik pemahaman bahwa suatu hipotesis adalah suatu pernyataan tentang fakta yang dapat diamati yang dirumuskan dalam bentuk yang dapat diuji dan menjelaskan bentuk hubungan yang ada antara dua atau lebih variabel;dan pernyataan tersebut masih merupakan jawaban sementara suatu permasalahan penelitian.

Kegunaan Hipotesis

 Secara garis besar kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut(Nazir 1983):

1.Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian

2.Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.

3.Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh

4.Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta

Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari(Nazir 1983) :

  1. Pengamatan yang tajam dari si peneliti
  2. Imajinasi serta pemikiran kreatif dari si peneliti
  3. Kerangka analisis yang digunakan oleh si peneliti
  4. Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh peneliti

Ciri-ciri Hipotesis

 Kriteria suatu hipotesis yang baik adalah :

1.  Menggambarkan keadaan atau hubungan di antara variabel

2. Harus memberi petunjuk bagaimana variabel-variabel yang dicantumkan dalam hipotesis dapat diamati atau diukur dalam penelitian empiris.

Dengan kata lain, perumusan suatu hipotesis sedapat mungkin sederhana;bergantung dalam penggunaan variabel-variabelnya; dan variabel tersebut harus dinyatakan dalam batasan yang kongkret, sehingga dapat diamati dan diukur.

Berdasarkan pemikiran bahwa permasalahan penelitian yang dirumuskan dalam suatu penelitian harus dapat dijawab dan diteliti secara empiris,maka hipotesis yang merupakan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan penelitian hendaknya didasarkan pada teori dan /atau asumsi-asumsi. Yang  dimaksudkan dengan asumsi adalah pernyataan yang berperanan sebagai titik tolak untuk mempelajari suatu gejala atau variabel maupun hubungan di antara variabel. Dari teori-teori yang ada dapat dikemukakan asumsi-asumsi tentang keadaan atau hubungan variabel-variabel yang tercakup dalam permasalahan penelitian.Hipotesis untuk permasalahan penelitian yang didasari oleh landasan-landasan yang demikian itulah, yang memungkinkan untuk menjawab permasalahan penelitian dengan baik.

Jenis-jenis Hipotesis

 Isi dan rumusan hipotesis bisa bermacam-macam, pembedaannya bergantung pada pendekatan kita dalam membaginya.Dilihat dari sifat hubungan antara variabel yang tercermin dalam rumusan hipotesis kita mengenal :

1.Hipotesis deskriptif :yaitu hipotesis yang menggambarkan karakteristik satuan awal yang menjadi fokus perhatian penelitian, berdasarkan variabel tertentu;

 

2.Hipotesis korelasional : yaitu hipotesis yang menggambarkan hubungan di antara dua atau lebih variabel, tapi tidak menunjukkan variabel mana yang menjadi sebab dan variabel mana yang menjadi akibat dalam hubungan tersebut;

 

3.Hipotesis kausalitas : yaitu hipotesis yang selain menggambarkan hubungan di antara dua atau lebih variabel, juga menunjukkan variabel mana yang menjadi sebab dan variabel mana yang menjadi akibat dalam hubungan tersebut.

 

Berikut ini adalah contoh kaitan antara tema permasalahan penelitian yang diangkat, bagaimana asumsi-asumsi mengenai permasalahan penelitian tersebut dirumuskan, kemudian berdasarkan pada asumsi-asumsi tersebut dirumuskan hipotesis untuk permasalahan yang bersangkutan.

Contoh : Hipotesis deskriptif

Permasalahan Penelitian: Apakah penerimaan terhadap proses pembaharuan mempunyai perbedaan pada mereka yang berasal dari suatu lingkungan sosial tertentu?

Asumsi:

  1. Tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang memungkinkan keterbukaan untuk meniru proses pembaharuan.
  2.  Nilai yang dianut seseorang merupakan dasar pengaraj bagi penerimaan proses pembaharuan
  3.  Tingkat informasi yang dimiliki seseorang dapat memberi pandangan mengenai suatu proses pembaharuan

 

Hipotesis Umum :   Orang yang berasal dari lingkungan sosial yang terbuka lebih mudah menerima proses pembaharuan

Hipotesis Khusus:

Orang dengan pendidikan yang tinggi relatif lebih mudah menerima proses pembaharuan

  1. Orang yang berorientasi pada nilai-nilai yang modern lebih mudah meneria proses pembaharuan.
  2. Orang yang memiliki banyak informasi lebih mudah menerima proses pembaharuan

Contoh : Hipotesis Korelasional

Permasalahan Penelitian :   Hal – hal yang berhubungan dengan tingkat hasil produksi suatu perusahaan.

 

Asumsi :

 

  1. Jumlah tenaga ahli dalam suatu perusahaan berhubungan dengan tingkat hasil produksi
  2. Tenaga ahli akan sulit bekerja di bawah peraturan kerja yang ketat.
  3. Peraturan kerja dalam perusahaan berhubungan dengan tingkat hasil produksi

Hipotesis :   Semakin besar jumlah tenaga ahli dalam suatu perusahaan, semakin rendah tingkat keketatan peraturan kerja perusahaan, berhubungan dengan hasil produksi yang semakin meningkat.

Contoh : Hipotesis Kausalitas

Permasalahan Penelitian :  Mengapa timbul kecenderungan berbuat tindakan kriminal dalam suatu lingkungan masyarakat

Asumsi :

  1. Suatu lingkungan masyarakat mempunyai suatu daya absorbsi, yaitu daya serap atau peredam terhadap gejala sosial yang dapat menimbulkan goncangan.
  2. Seseorang dapat merasa frustasi apabila merasa tersisihkan dari lingkungan masyarakatnya.
  3. Seseorang yang merasa frustasi lebih mudah dirangsang untuk cenderung berbuat tindakan kriminal.

Hipotesis :   Untuk mereka yang berada pada lingkungan masyarakat yang sangat rendah daya absorbsinya jika mereka merasa semakin tersisihkan dari lingkungan masyarakatnya, maka mereka semakin mudah dirangsang untuk cenderung berbuat tindakan kriminal.

Selain pembedaan jenis hipotesis menurut sifat hubungan antara variabel yang tercermin di dalamnya, kita juga mengenal pembedaan jenis hipotesis menurut cara peneliti penyusun pernyataan dalam hipotesisnya, yakni hipotesis kerja dan hipotesis nol

Hipotesis Nol, mula-mula diperkenalkan oleh bapak statistika Fisher, diformulasikan untuk ditolak sesudah pengujian.Dalam hipotesis nol ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”.Perumusannya bisa dalam bentuk :  “Tidak ada beda antara …..dengan ……”. Hipotesis Nol dapat juga ditulis dalam bentuk : “…tidak mem..”

Hipotesis Nol biasanya diuji dengan menggunakan statistika, dan seperti telah dinyatakan di atas, hipotesis nol biasanya ditolak.Dengan menolak hipotesis nol, maka kita menerima hipotesis pasangannya, yang disebut hipotesis alternatif.

Hipotesis Nol biasanya digunakan dalam penelitian eksperimental.Dalam perkembangannya hipotesis nol juga digunakan dalam penelitian sosial, seperti penelitian di bidang sosiologi, pendidikan dan lain-lain.

 

Hipotesis Kerja, sebaliknya, mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di dalamnya.Hipotesis kerja dirumuskan biasanya sebagai berikut:

“Andaikata ……maka…”

Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima.Hipotesis kerja biasanya dirumuskan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain  yang non eksperimental.Dengan adanya hipotesis kerja, si peneliti dapat bekerja lebih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.

Menggali dan Merumuskan Hipotesis

 Tak dapat dipungkiri bahwa menemukan suatu hipotesis mensyaratkan kemampuan si peneliti untuk dapat mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel yang dapat diukur dengan memanfaatkan suatu kerangka analisis yang dibentuknya.Dibutuhkan suatu seni tersendiri karena pada dasarnya si peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka.Dalam penggalian hipotesis, seorang peneliti harus ( Nazir ,1983) :

  1. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan;
  2. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu dengan yang lain dalam fenomena yang sedang diselidiki;
  3. Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan satu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Goode dan Hatt ( 1952)demikian juga Good dan Scates (1954) memberikan empat buah sumber untuk menggali hipotesis:

  1. Kebudayaan di mana ilmu tersebut dibentuk, atau pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
  2. Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori dan teori memberi arah kepada penelitian.
  3. Materi bacaan dan literatur
  4. Data yang tersedia
  5. Imajinasi atau angan-angan
  6. Wawasan, serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
  7. Analogi juga merupakan sumber hipotesis.Pengamatan terhadap jagad raya yang serupa atau pengamatan yang serupa pada ilmu lain, merupakan sumber hipotesis yang baik. Mengamati response berat hewan terhadap makanan, membrikan analogi tentang adanya response tanaman terhadap zat hara.Darinya dapat dirumuskan hubungan antara tumbuh dengan zat hara dalam tanah.
  8. Reaksi individu dan pengalaman.Reaksi individu terhadap sesuatu, ataupun pengalaman-pengalaman sebagai suatu konsekunsi dari suatu fenomena dapat merupakan sumber hipotesis. Reaksi tanaman terhadap pestisida, reaksi ayam terhadap suntikan suatu obat dapat merupakan sumber hipotesis

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 16 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: