MELURUSKAN PENGERTIAN /KONSEP “ KOMUNIKASI MASSA”

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Selama ini orang cenderung mengartikan KOMUNIKASI MASSA itu sama dengan alat atau benda-benda fisik yang berfungsi sebagai media massa seperti Televisi, Radio, Surat Kabar, Film, dll

Pandangan semacam itu sebenarnya tidaklah tepat. Mengapa ? Karena KOMUNIKASI MASSA sebenarnya lebih berarti sebagai suatu proses penyampaian informasi atau pesan-pesan yang ditujukan kepada khalayak massa dengan karakteristik yang tertentu.Bahwa untuk berlangsungnya proses penyampaian pesan itu memanfaatkan MEDIA MASSA  memang benar tetapi posisi media massa di sini hanyalah sebagai salah satu komponen atau sarana yang memungkinkan terjadinya proses tadi.

Mari kita kutip pendapat Wright (1975): “…Bukan komponen-komponen tekniknya yang memdedakan peralatan tertentu sebagai media massa, melainkan, komunikasi massa merupakan suatu jenis khusus komunikasi yang melibatkan kondisi-kondisi yang distinktif terutama di antaranya adalah keadaan khalayak, keadaan pengalaman komunikasi (communication experience) yang dirasakan oleh mereka yang ikut serta, dan keadaan komunikator”

Pernyataan Wright tersebut di atas secara implisit mengandung makna bahwa kondisi-kondisi khusus tertentu lah yang menjadikan fenomena komunikasi termasuk komunikasi massa( jadi bukan ditekankan pada medianya).Rumusan kerja (working definition) seperti itu menegaskan bahwa komunikasi massa tidak sinonim dengan komunikasi yang menggunakan alat-alat seperti radio, TV dsb.Selanjutnya, Wright memerinci ada tiga hal yang mencirikan suatu komunikasi disebut sebagai komunikasi massa. Yakni : (1) keadaan/ sifat khalayak; (2) pengalaman komunikasi ; (3) keadaan komunikator.

Keadaan atau sifat khalayak dalam komunikasi massa ditandai dengan besarnya jumlah mereka dan merupakan himpunan dari beraneka ragam manusia yang menurut perkiraan sumber informasi(komunikator) membutuhkan atau setidaknya menyukai informasi yang kurang lebih sama.Jadi isi media massa dikumpulkan, dipilihkan dan disajikan berdasarkan perkiraan bahwa hal-hal itu diperlukan atau disukai oleh khalayaknya.Tentu saja hal ini tidaklah mudah karena bagaimanapun akan ada semacam prediksi dari pihak pengelola media tentang selera atau minat audience-nya.Padahal sifat audience di sini adalah relatif luas, heterogen,dan anonim.Maksud istilah heterogen di sini adalah tiadanya batasan mengenai siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh memperoleh atau memanfaatkan informasi atau pesan yang disampaikan lewat komunikator. Sedangkan pengertian anonim di sini berarti komunikator tidak mengenal satu per satu siapa yang menjadi khalayaknya.

Tentang pengalaman komunikasi yang terjadi pada khalayaknya, yang membedakannya dengan jenis komunikasi yang lain adalah pada sifat hubungan mereka dengan komunikator yang terjadi secara  tidak langsung  artinya diantarai oleh  media.(Kata “media” ini sendiri adalah bentuk jamak dari medium yang artinya “mengantarai”)

Terakhir tentang keadaan komunikator yang mencirikan komunikasi  massa di sini maksudnya adalah bahwa si komunikator adalah sebuah institusi jadi bukan individu dan institusi sebagai komunikator di sini tidak lepas dari berbagai kekuatan yang mempengaruhinya baik internal maupun eksternal sehingga isi yang disajikannya pada akhirnya juga tidak lepas dari ”warna” media itu sendiri.

Melengkapi pengertian kita tentang komunikasi massa seperti kita kutipkan dari pendapat Wright tadi perlu dikemukakan bahwa menurut Gerbner (1967) pengertian komunikasi massa tidak semata-mata melihat pada media yang digunakan saja, dan juga bukan hanya dilihat dari keterlibatan “massa” di dalamnya. Gerbner menulis:

Signifikansi historik komunikasi massa tidak terletak pada konsep “masses” (massa) yang biasa. Ada  “masses” atau sekelompok orang dalam jumlah yang besar yang dijangkau oleh bentuk komunikasi publik yang lain jauh sebelum berkembangnya media massa modern. Akan tetapi alat-alat dan institusi-institusi produksi dan distribusi baru (media massa) memberikan cara-cara baru yang menjangkau masyarakat luas. Cara-cara baru ini bukan hanya secara teknologis, tapi juga secara konseptual dan ideologis berbeda dengan yang lama.”

Pendapat Gerbner tersebut menandaskan bahwa konsepsi tentang massa dalam konteks komunikasi massa adalah lebih berkaitan kepada pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui proses tersebut ketimbang jumlah orangnya.Menurut Gerbner,keadaan yang memungkinkan terjadinya komunikasi massa adalah pada sistem-sistem produksi dan distribusi massa yang mampu mencapai khalayak tersebut dengan pesan yang sama dalam rentang waktu yang singkat dan dengan begitu menciptakan dan memelihara sejumlah komunitas pengertian (communities of meaning) di tengah-tengah suatu masyarakat.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: