KONSEP DIRI I

Prinsip Dasar Konsep Diri

Istilah ini merujuk pada pemahaman dan pengetahuan seseorang atas dirinya sendiri.

Konsep diri tidak bersifat bawaan dari lahir, melainkan sesuatu yang didapat melalui proses pembelajaran, pengorganisasian diri dan senantiasa dinamis.

Byron & Byrne (2001): Konsep Diri merupakan kerangka yang memandu bagaimana kita memproses informasi tentang diri dan keberadaan kita dalam lingkungan.

De Vito (2006) :… melalui konsep diri, individu akan memiliki skema dalam mengevaluasi perasaan dan pemikiran kita sehingga seseorang dapat menerima seperti apa dirinya serta aspek-aspek positif dan negatif dirinya.

Cooley (1992) :  konsep diri individu seseorang secara signifikan ditentukan oleh apa yang difikirkannya tentang fikiran orang-orang atas dirinya.

Mulyana (2002) : perasaan diri bersifat sosial, sehingga melalui orang-orang yang terdekat dan paling bermakna, maka terbangun suatu tafsir atas apa yang sesungguhnya dimaksud dengan diri.

Kendzier & Whitaker, 1997: Konsep diri dibangun melalui mekanisme internal di mana setiap individu mendesain sendiri impresi dirinya melalui apa-apa yang diingat, diketahui dan dibayangkan tentang dirinya

Self Esteem

Untuk memahami konsep diri, maka salah satunya adalah dengan mengidentifikasi bagaimana kita mengevaluasi diri secara positif-negatif dalam garis kontinum.

Self Esteem merupakan perasaan dan sikap individu atas dirinya sendiri, khususnya bagaimana kita menyukai dan menghargai kedirian kita.

Mruk (dalam Gamble & Gamble, 2004): penghargaan kita atas diri kita sendiri berbasis pada kompetensi diri, kebaikan, karakter diri, perasaan dan stabilitas diri.

Sedikides (1993): melalui akurasi, pengimbuhan nilai positif dan konfirmasi berkala atas pengetahuan diri maka akan terbangun proses penghargaan diri yang kondusif bagi individu dalam interaksi sosial.

Bagi individu yang memiliki self esteem yang tinggi, maka proses identifikasinya cenderung melalui evaluasi diri, sebaliknya bagi mereka yang cenderung memiliki self esteem yang rendah, akan cenderung menggunakan perbandingan dengan orang atau kelompok lain.

Self Esteem berorientasi ganda, pemenuhan penghargaan dari orang lain dan atas diri sendiri.

Pemenuhan penghargaan dari orang lain berbentuk apresiasi, status dan penerimaan diri. Bila individu tidak mendapatkan hal tersebut, maka dirinya merasa cemas dan inferior dalam situasi sosial.

Sedangkan penghargaan atas diri sendiri didasarkan oleh kompetensi, kepercayaan diri, prestasi serta kemandirian.

Untuk direnungkan

Apa peran Self Esteem dalam proses komunikasi khususnya komunikasi interpersonal ?

Self Awareness

Konsepsi ini menekankan pada kesadaran bahwa individu ada, berada dan mengada dalam kehidupan.

Ada merujuk pada bentuk fisik, berada menggambarkan pada kehadiran individu pada situasi sosial dan mengada menunjukkan bahwa individu memiliki makna dalam situasi sosial.

Self Awareness memandu kita untuk melampaui keterbatasan fisik dalam wujud imajinasi, spirit dan harapan.

Identifikasi kesadaran diri sesungguhnya merujuk pada pemahaman diri sebagai subjek yang dikenali sebagai konstruk yang dibagi bersama, dimiliki sendiri bahkan tidak diketahui atau justru malah orang lain yang memahaminya.

Konsep ini lebih popular dengan pendekatan Johari Window, suatu interpretasi psikologis dari Joseph Luft dan Harrington Ingham dengan menggunakan illustrasi empat sisi jendela.

Panel I disebut Ranah Terbuka

yakni sisi pribadi yang disepakati untuk dibagi dan menjadi ranah publik, di mana individu dan orang lain mengetahuinya.

Nama, orangtua, alamat, sekolah, agama dan etnis adalah sesuatu yang biasanya menjadi ranah yang boleh diketahui bersama

Besarnya ranah ini akan sangat berkait dengan sejauhmana kesediaan kita untuk berbagi informasi atas diri.

Panel II disebut Ranah Buta

Sisi di mana kita justru tidak mengenali diri melainkan malah orang lain yang dapat mengetahuinya.

Terkadang tanpa kita sadari, kita memiliki potensi yang konstruktif, atau sebaliknya, kita merasa diri kita adalah orang yang menyenangkan padahal di sekeliling kita tidak ada satu pun yang mau mengajak kita berkawan, adalah gambaran pada panel buta.

Ketidaksadaran ini dapat direduksi dengan kesediaan diri untuk mau mencari informasi atau opini yang berasal dari luar diri kita.

Panel III disebut  Ranah Sembunyi

Sisi tempat kita tidak menyediakan ruang untuk berbagi dengan orang lain.

Terkadang kita tidak merasa nyaman akan realitas yang kita miliki sehingga merasa dapat mengganggu konsep diri kita secara keseluruhan.

Stigma negatif atas sebagian sisi diri kita, membuat kita senantiasa untuk menjaga agar informasi tersebut tetap menjadi privasi diri.

Panel IV disebut Ranah Ketidaktahuan

sisi di mana secara pribadi dan sosial tidak ada yang mengetahuinya.

Hanya melalui pengetahuan dan pengalaman saja, seseorang baru dapat melampaui ketidaktahuannya.

Konsep kesadaran diri sangat berkaitan dengan komunikasi, khususnya dengan relasi antar pelaku komunikasi.

Salah satu faktor agar komunikasi berjalan dengan efektif adalah bagaimana memperluas ranah keberbagian informasi diantara para pelaku komunikasi itu sendiri.

Johnson (1991) mengungkapkan: diperlukan kesediaan untuk menyadari, menerima, mempercayai dan bersikap terbuka pada diri sendiri untuk kemudian secara bersamaan melakukan tindakan yang sama kepada lawan bicara kita.

Keterbukaan diri memberikan setidaknya kemanfaatan berupa pembentukan dasar hubungan yang sehat, semakin luasnya ranah informasi yang dibagi dan diketahui bersama, meningkatkan kebahagiaan.

Self Efficacy

Unsur konsep diri lainnya adalah keyakinan bagaimana seseorang dapat memiliki kecakapan dalam pencapaian tujuan tertentu.

Berbeda dengan self esteem yang berorientasi pada keberhargaan diri, maka self efficacy lebih menekankan pada keyakinan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan atau direncanakan.

Bandura,1977: Self efficacy merupakan evaluasi diri atas kesanggungan atau kompetensi diri individu dalam penyelesaian tugas atau menghadapi rintangan

Byron & Byrne, 2001: Self Efficacy mewujud dalam performa seseorang

Identitas Sosial Sebagai Penanda Diri Yang Lain

Konsep ini diperkenalkan oleh Henry Tajfel dan John Turner dengan penekanan utama pada  bagaimana seseorang menggunakan kelompok sosial tertentu yang dipandangnya dapat memberikan perasaan positif tertentu pada dirinya.

Secara umum konsep ini diterjemahkan melalui 3 ( tiga ) ide utama, yaitu kategorisasi, identifikasi dan komparasi (Tajfel, 1978)

Proses kategorisasi

Menghasilkan persepsi stereotipe, yaitu persepsi terhadap anggota suatu kelompok yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dijadikan acuan untuk membedakannya dari kelompok lain.

Kategorisasi individu, merupakan proses pengelompokan individu dalamm upaya memahami lingkungan sosialnya.

Penggunaan kategorisasi misalnya murid, guru, Muslim, Hindu, Hitam, atau Putih, dsb.

Proses Identifikasi

Terjadi pada saat seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tempat ia bergabung.

Tajfel menyatakan bahwa,  identitas sosial dikonsepsikan dengan mengaitkan pengetahuan individu tentang perasaan memiliki suatu kelompok sosial tertentu dan emosi, juga evaluasi signifikan yang dihasilkan dari keanggotaan suatu kelompok.

Setiap individu mengidentifikasikan dirinya lebih dengan in-groupnya dan hal itu akan mengurangi perbedaan di antara diri dan in-group.

Jika terjadi peningkatan identifikasi terhadap kelompok (in-group), seseorang merubah dari kutub personal ke intergroup

Tajfel 1978; Tajfel & Turner 1979: Identitas Sosial menghadirkan relasi antar kelompok dalam konteks sosial yang nyata di mana secara komprehensif memaparkan relasi antar kelompok dan perubahan sosial dalam masyarakat yang terkelompokkan secara sosial, konflik sosial, serta relasi antar kelompok.

Secara sederhana, masyarakat membutuhkan identitas sosial positif yang menuntut mereka untuk membangun nilai pembeda yang positif bagi kelompok mereka sendiri yang dibandingkan dengan kelompok lain.

Keanggotaan dalam kelompok itu membuat individu memiliki identitas diri dan self esteem.

Pada saat kelompok memperoleh kesuksesan, self esteem individu akan ikut naik, dan sebaliknya ketika kelompok mendapatkan kegagalan maka self esteem individu turut terancam.

Pada keadaan itu individu merasa harus mempertinggi ketertarikan kepada kelompoknya dan meningkatkan rasa nyaman kepada kelompok lain.

Alih-alih identitas personal yang berhubungan dengan perilaku interpersonal — yang berarti perbedaan di antara diri dan orang lain —  maka identitas sosial terkait dengan perilaku intergroup-yang berarti perbedaan di antara kelompok atau ‘kita’ dan ‘mereka’.

Turner (1987) mencoba menjelaskan pertentangan di antara aspek psikologi dalam identitas dengan membedakan 3 (tiga) level dalam self-definition dengan konsep kategorisasi diri miliknya:

A supra–order level, diri diartikan sebagai seorang manusia: menunjuk pada identitas berdasarkan perbandingan diantara spesies (persamaan dengan ras manusia, perbedaan dengan bentuk kehidupan lain).

An intermediate level of self-definition, diri diartikan sebagai anggota suatu kelompok (kesamaan ingroup dan perbedaan intergroup); menunjuk pada sebuah identitas sosial berdasarkan perbandingan intergroup (in-species)

A subordinate level of self-identification, diri diartikan sebagai sesuatu yang unik (perbedaan di antara diri dan orang lain dalam suatu kelompok); menunjuk pada identitas personal berdasarkan perbandingan interpersonal (in-group).

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: