EFFECTIVE SPEAKING I: MEMAHAMI PENDENGAR, LANGKAH PERTAMA KE ARAH BERBICARA EFEKTIF

Saya tidak berkeberatan kalau orang memandang arlojinya pada saat saya berbicara, tetapi saya tegas berkeberatan apabila mereka mulai menggoncang-goncangkan arlojinya untuk memastikan apakah arlojinya masih jalan. ( Lord Birkett)

Pengantar

Pernahkah anda merasa grogi ketika diminta berbicara di depan orang banyak, meski orang-orang itu sudah anda kenal sekalipun. Setiap kali hendak naik panggung, keringat dingin keluar, tenggorokan dan mulut terasa kering, tangan jadi gemetaran dan celakanya kita jadi kesemutan dan akhirnya …blank! Kita malah gak tahu apa yang hendak akan kita omongkan.

Jika demikian terjadi pada diri anda, maka tulisan ini akan sedikit banyak membantu. Apa yang saya sampaikan sebenarnya juga merupakan pengalaman pribadi, yang karena keadaan maka sampai sekarang menjadi agak terbiasa berbicara di hadapan umum/orang banyak. Memang sampai sekarang pun saya masih merasa perlu belajar berbicara efektif. Tepatnya melalui tulisan ini saya mengajak anda untuk belajar bersama-sama dan mengalami bersama-sama berproses untuk bisa berbicara efektif di depan umum. Lewat pengalaman plus pembacaan dari literatur para ahli, semoga tulisan serial  ini akan menemukan kemanfaatannya. Disamping dari catatan pengalaman saya pribadi, sebagian besar naskah tulisan ini diadaptasi dari buku Effective Speaking karangan Christina Stuart (1988). Selamat menikmati…

PERTAMA. Tidak ada seorang pun merupakan ‘pembicara sejak lahir’. Kita sering melihat seorang pembicara yang mengagumkan, menyampaikan pidato dengan penuh wibawa sekaligus menarik penuh humor, cerdas dan berakal budi namun tidak terkesan angkuh. Tahukah anda bahwa para pembicara ulung pun senantiasa berlatih untuk bisa berbicara handal, dengan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Kalau kita membaca kisah para orator atau setidaknya yang kita kenal sebagai pembicara ulung, kesimpulannya sederhana:  bahwa berbicara di depan publik merupakan keterampilan yang bisa dipelajari.

Belajar berbicara di hadapan publik bisa dimulai dari sekarang. Cobalah anda cari pokok pembicaraan yang menarik buat anda lalu berdirilah di depan cerman yang agak lebar yang bisa mencerminkan seluruh badan anda. Kemudian mulailah berbicara. Bayangkan pendengar anda melihat anda berbicara kepada mereka. Nilailah diri anda sendiri apakah anda telah mengemukakan materi pembicaraan dengan penuh percaya diri atau terkesan ragu dan tidak pasti. Bagaimana dengan suara yang keluar dari mulut anda, menarik hati atau membosankan. Apakah anda juga telah melakukan isyarat tubuh yang wajar dan tatapan atau kontak mata yang baik. Bila anda belum bisa melakukan itu semua, tak perlu berkecil hati. Sekali lagi, tak seorang pun dilahirkan sebagai pembicara yang cakap. Seperti dikatakan Emerson : “ Semua pembicara ulung mula-mula adalah pembicara yang tidak cakap.”

KEDUA. Menjadi pembicara yang efektif  bisa diawali dengan belajar terlebih dahulu menjadi pendengar yang baik. Tidak banyak yang cakap berkonsentrasi sehingga ketika mendengarkan orang berbicara maka mereka akan mudah terganggu utamanya oleh pikirannya sendiri.  Inilah yang disebut sebagai “ turun ke route 350 “ . Pikiran manusia memproses kata berkecapatan kira-kira 500 setiap menit. Tapi kita mengucapkan kira-kira 150 kata setiap menit, jadilah selisih antar keduanya adalah 350 kata. Ketika para pendengar melamun, kemungkinannya mereka berada di route 350.

Mengapa begitu sulit orang untuk mendengarkan (pembicaraan anda). Ada beberapa sebab:

  1. Mereka sudah mengetahui lebih dahulu apa yang akan dikatakan oleh pembicara sehingga mereka mengalihkan perhatian.
  2. Mereka sedang merencanakan apa yang harus mereka katakan sewaktu gilirannya tiba.
  3. Mereka mungkin lelah atau cemas, mungkin terlampaui sulit untuk berkonsentrasi.
  4. Mereka tidak dapat mendengar atau merasa jemu dengan suara pembicara yang bernada  datar.
  5. Pokok pembicaraan yang diketengahkan terlalu rumit dan sukar untuk diikuti.
  6. Pokok pembicaraannya terlalu sederhana dan mendasar.
  7. Pembicara kurang memiliki keyakinan yang teguh.
  8. Kursinya keras dan kurang nyaman; udaranya terlalu panas atau terlampau dingin dan bisingnya lalu lintas yang terasa mengganggu.

KETIGA. Pembicara yang belum berpengalaman biasanya terlalu mengandalkan kata-kata sehingga ia mengabaikan faktor lainnya yang dapat menimbulkan dampak sebagai pembicara  yang berhasil. Menurut pakar komunikasi Albert Mehrabian, kata-kata hanya menghasilkan 7 persen pengaruh dari pembicara atas hadirin. Sejumlah 55 persen lainnya berasal dari apa yang tampak, yaitu bagaimana penampilannya, ekspresi muka, gerak isyarat, bahasa isyarat dan sikap badan, dst. Sedangkan 38 persen dari dampaknya berasal dari suara; apakah ida dapat dipercaya; apakah suaranya beraneka ragam; dan menarik untuk didengar?

Ketika kita berdiri di depan umum untuk berbicara, maka pada saat bersamaan pendengar akan menilai kita. Mungkin mereka akan berkata dalam hati ‘ ia tampak gelisah’ atau ‘ia tampak sangat yakin’. Seringkali bahkan pendapat itu sudah terbentuk sebelum pembicara mengucapkan sepatah kata dan hanya didasarkan sepenuhnya atas efek visual. Beberapa pembicara dapat membangkitkan semangat dan bersikap antusias sementara  yang lainnya kelihatan tidak bergairah dan tidak bersemangat. Berdasarkan efek visual ini para pendengar akan mengambil keputusan apakah ada gunanya memerhatikan pembicara.

Jadi perlu diingat bahwa bagaimana kita berbicara sering lebih penting daripada apa yang kita katakan. Suatu pembicaraan yang logis serta layak dapat menjadi musnah tak berarti oleh penyajian yang buruk, sedangkan pembicaraan yang tersusun kurang baik atau tidak asli agaknya dapat lebih menghibur dan meyakinkan jika disajikan dengan penuh vitalitas.

Lalu, bagaimana kita mengatasi kesulitan mendengarkan secara kurang baik dengan memanfaatkan aspek visual dalam berbicara? Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan. Pertama, gunakan ekspresi wajah, kontak mata, gerak isyarat; hindari perangai gugup. Kedua,libatkan! Bereaksilah dan berinteraksilah dengan pendengar. Ketiga, jelaskan bila mana perlu dengan alat peraga, materi tulisan  serta pengalaman mendengar. Keempat, gunakan kegairahan, kesungguhan hati serta vitalitas.

Perbedaan antara menulis dan berbicara, dan aneka macam teknik yang diperlukan agar dapat berbicara secara efektif.

  1. Penulis tidak dapat melihat pembaca; pembicara dapat melihat pendengar.
  2. Penulis tidak dapat bereaksi; pembicara dapat memperlambat / mempercepat/men   gulang dan melibatkan para pendengar;
  3. Penulis mengandalkan kata semata; pembicara dapat memakai bahasa isyarat dan suara untuk penegasan, kegairahan serta emosi;
  4. Penulis dapat memilih kata secara teliti tetapi tidak dapat menggantinya; pembicara dapat bersikap lebih menyesuaikan dan relevan dengan mengubah dan membuat kalimat yang berbeda-beda agar lebih sesuai dengan pendengar;
  5. Penulis hanya sekali menjelaskan pokok pembicaraan dan pembaca data mengulang membaca; pembicara harus mempunyai kerangka sederhana, yang dapat mudah diikuti, dan mengulangi ringkasan berikut contoh-contoh yang relevan.
  6. Penulis memperoleh perhatian lebih banyak dari pembaca; pembicara harus mendapatkan dan harus dapat tetap menguasai perhatian pendengar dengan memahami kebutuhannya.

Setelah kita mencoba memahami psikologis pendengar atau calon pendengar maka tugas seorang pembicara tentu saja adalah merencanakan sebaik-baiknya apa yang hendak ia bicarakan atau sampaikan di depan public. Materi ini akan kita bahas dalam tulisan selanjutnya.

(….bersambung …. )

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: