BUDAYA MEDIA DAN BUDAYA CITRA

Budaya Media

Salah satu pengertian budaya media adalah suatu kondisi proses kebudayaan di mana dialektika dari berbagai unsur budaya dalam membentuk sosok mapan sementara dari suatu kebudayaan melibatkan banyak interaksi media. (Umar Kayam,1997) Artinya : Kebudayaan tidaklah merupakan produk akhir yang mantap selama-lamanya. Ia senantiasa dibentuk dalam kondisi tesis-antitesis  antara berbagai unsur budaya.

Dalam masyarakat tradisional (dengan penyangga ekonomi pertanian) istilah ‘budaya media’ punya arti tersendiri.  Masyarakat etnik dengan  latar pertanian tradisi pada perkembangan dialektiknya mencapai ‘sosok  budaya ‘ (sistem pertanian, kekerabatan,sistem budaya) melalui wahana media yang erat dengan ritual/upacara. Upacara-upacara tersebut mempunyai makna yang khas sebagai ‘media’  karena berfungsi menyampaikan informasi.

Dalam perkembangannya, bentuk-bentuk kesenian seperti teater, senitari, musik, kesusastraan, seni rupa, wayang, dll menjadi semacam media yang digunakan untuk menyampaikan informasi tentang berbagai sistem (kepercayaan, pertanian, kekerabatan, sistem kesenian).  Dengan demikian, media dalam masyarakat tradisional identik dengan “media lisan”, “media telinga dan media mata” serta “media pertunjukan”

Dalam masyarakat modern (dengan ciri : bercorak industri, iptek maju, ekonomi pasar bebas, sistem politik terbuka, sistem pendidikan masyarakat luas)——istilah ‘budaya media’ memiliki makna yang sebenarnya. Inilah masyarakat yang memanfaatkan media (informasi) nyaris semaksimal-maksimalnya sehingga hidup sehari-hari nyaris lumpuh bila pada suatu ketika ‘sang budaya modern’ itu hilang tercabut dari masyarakat.

Perkembangan media massa  mulai dari Gutenberg menemukan mesin cetak, surat kabar, radio, TV, film sampai media online/ internet dst. Maka informasi memasuki berjuta-juta kepala manusia serta menanamkan dan membentuk opini. Kondisi  di ataslah yang diistilahkan “the global village” oleh Marshall Mc Luhan. Ia menyebut perkembangan ini pergeseran dari : MASYARAKAT MEDIA BUDAYA TRADISIONAL, yang menyaksikan informasi bersama dalam suatu komunitas lewat ritual—— menuju : KOMUNITAS MASYARAKAT YANG MENGASINGKAN DIRI dalam ruang-ruang tertutup menikmati informasi dalam kumpulan keluarga.

Budaya Citra

Dalam kerja media, fakta diolah menjadi berita yang memang telah dinanti oleh calon pembaca /pendengar/pemirsa. Sayangnya, media bukan hanya sekedar merepresentasikan realitas, ia juga memproduksinya. Maka, ketika berita sama dengan ‘fakta plus makna’, maka media telah mengubah fakta menjadi “faktoid” yang lebih kuat daya persuasinya kepada masyarakat.

Para profesional public relation mengetahui betul dan sering memanfaatkan daya penggada (multipier effect) dari media. Mereka pun merekayasa CITRA (Image) dari bahan data fakta ini secara kreatif menjadi citra yang kaya pesan, kenikmatan, dan makna. Inilah yang disebut :”the era of imagologi”—- keadaan ketika citra menjadi lebih penting dari realitas empiriknya. Realisme citra ini sudah pasti tidak menginduk pada realisme empirik, tetapi pada SIMBOLIKNYA.

Demikianlah, misal, bisnisman sukses ditayangkan dengan mobil BMW, naik heli, bahkan jet pribadi—mereka lalu menjadi selebrity dan selebrity adalah ciptaan media. Media kemudian jadi jembatan antara realitas empirik dan realitas mimpi. Dalam kondisi itu muncullah “elite without power” yaitu suatu lapis masyarakat atas yang kaya dan ternama (rich & famous), namun tak memiliki basis kekuatan nyata (real power). Bintang2 film/sinetron. Bintang musik, bahkan sekarang para taipan bisnis dan advokat kondang adalah contoh hasil rekayasa media. Mereka merasa perlu menjaga citranya di masyarakat lewat public relation.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: