SINEMATOGRAFI V : FILM DOKUMENTER II (Menuju Pra produksi )

Documentary is a creative  treatment of actuality”

(Robert Flaherty , 1926)

Dalam film dokumentar selain mengandung fakta juga memuat subjektivitas si pembuatnya. Artinya apa yang kita rekam memang berdasarkan fakta yang ada, namun dalam  penyajiannya kita memasukkan pemikiran kita, ide-ide kita dan sudut pandang idealisme kita.

Perlakuan dalam pembuatan film dokumenter itulah yang disebut:

                  “Creative treatment”

Artinya : kita dituntut lebih kreatif dalam melihat sekeliling kita.

Kreatif itu membuat kejadian yang terlihat biasa, tanpa merekayasanya menjadi istimewa di mata orang lain

Langkah-langkah membuat film documenter

1. Menemukan Ide

2. Menuliskan Film Statement

3. Membuat Treatment atau outline

4. Mencatat Shooting List

5. Menyiapkan Editing Script

Menemukan Ide

1. ide datang begitu saja…

mis, ketika baca koran, dengar radio,buka situs, baca selebaran, dengerin kuliah, dimarahin ortu,ngobrol di cafe, kena tilang polisi….dll

2. ide itu ada di sekeliling kita…

lihat lingkungan tempat tinggalmu, sekitar kampusmu, di jalanan, di terminal,di rumah sakit, di tempat sampah, di stasiun…

3. ide paling sering muncul ketika dalam perjalanan atau di pinggir jalan…

4. ide biasa menjadi istimewa

Dian Herdiany (aktivis Indonesian Documentary) :

  “ Dokumenter itu melihat sesutau di sekitar kita, sesuatu yang tidak terlihat atau memang tidak mau kita lihat

5. Ide istimewa menjadi biasa

Ubah lagi pandangan bahwa sesuatu yang istimewa kemudian menjadi biasa (karena sudah ter’biasa

6. Ide spektakuler kadang perlu melihat sesuatu dengan logika terbalik….

Menuliskan Film Statement

  • Setelah muncul ide maka mulailah merencanakan sebuah karya film…
  • Biasanya ide yang sudah berputar2 di kepala perlu dirumuskan dalam satu paragraf kalimat…
  • Itulah yang disebut Film Statement…

Ilustrasi:

Ide:
“ Bagaimana sesungguhnya sosok seorang satpol pp di tengah maraknya penggusuran PKL”

Film Statement

“ Penertiban PKL selalu membawa cerita pedih bagi kalangan masyarakat bawah. Sumpah serapah tak luput ditujukan pada para petugas Satpol pp. Padahal mereka juga manusia biasa.Hidupnya juga tak semuanya mapan. Mungkin saudaranya ada yang juga PKL. Bagaimana polemik sebagai pribadi dan sebagai petugas bergejolak? Bagaimana petugas satpol pp harus menghadapi itu semua? Dalam penggusuran siapa saja yang jadi korban sesungguhnya?”

Sebelum membuat treatment kita perlu membuat riset kecil2an…

1. cari informasi sebanyak2nya dari berbagi sumber tentang ide film yang akan digarap…

2. datangi lokasi, ambil stok gambar/foto dan bila perlu lakukan wawancara dengan orang-2 yang terkait ide kita

Merencanakan strategi sebelum masuk medan perang

1. Pilih kejadian mana yg akan direkam mana yang tidak

2. mulai menentukan subjek yang menarik atau ‘aktor utama’ film dokumenter kita

Pemilihan Karakter/Aktor

  • Cari yang enak diajak bicara…
  • Cari yang terbuka terhadap kita…

Mengondisikan Lingkungan

  • Mulai memasuki lingkungan dengan “membawa kamera” tapi belum shooting beneran…
  • Tujuannya mengondisikan masyarakat supaya terbiasa dengan kehadiran kita plus kamera dan ketika shooting sungguhan mereka sudah tidak ‘nggumunan’…

Melakukan Riset Visual

  • Buka mata lebar-lebar dan perhatikan apa saja yang ada di lokasi tempat film itu akan dibuat.
  • Pilih angle mana yang menarik secara visual photografis…
  • Bila perlu dokumenkan angle dengan foto digital…

Mulai Membuat Outline

Membuat cerita rekaan tentang film dalam istilah film pre-production script….atau outline…

Peran penting Outline

1. Outline menjadi dasar pembuatan Script

2. Setiap paragraf dalam outline akan berperan sebagai sequence-sequence  yang akan membantu kita mengetahui hal apa saja yang harus diambil gambarnya untuk film

Lihat contoh Outline karya Fajar Nugroho berikut ini:

Kerajaan di Tepi Bengawan

Seorang gadis remaja, pulang dari gemerlap ibukota jakrta, tujuannya sebuah kota di Jawa Tengah bagian Selatan. Sebuah kota yang terletak di tepi Bengawan Solo. Sebuah kota yang dulunya sebuah desa bernama Solo. Di desa itulah, sekitar 3 abad lalu berdiri sebuah kerajaan dari darah keturunan Dinasti Mataram. Sebuah kerajaan yang dalam perjalanan waktunya penuh dengan pergolakan….. [    ]

Gadis remaja itu, Gusti Raden Ayu Timoer, lahir di Keputren Kraton Kasunanan Surakarta, dan melewati masa kecilnya di dalam benteng kerajaan. Ayahnya adalah….[   ]

Sejarah panjang dan turun-temurun pergolakan di tubuh Dinasti Mataram sendiri bermula ketika Dinasti ini mulai mendirikan kerajaanya di sebuah desa bernama Pleret…..[    ]

Pergolakan-pergolakan itu, membuat kerajaan Kartosura Hadiningrat hancur berantakan. Maka, …. [    ]

 

Dan seterusnya outline secara runtut berkisah mengenai pergolakan dalam kerajaan dan bagaimana kedudukan Putri Timoer sebagai anak tertua raja  yang tak mungkin menggantikan ayahandanya.

Outline di atas adalah contoh outline untuk film cerita rekaan. Dalam film dokumenter pada dasarnya juga tetap menampilkan benang merah apa yang terjadi dengan karakter utama, di suatu setting di suatu masa…pertanyaan yang harus dijawab adalah pertanyaan seputar siapa, apa, bagaimana, mengapa dan selanjutnya seperti apa…..

Fungsi Script

1. Script adalah alat struktural dan organizing yang dapat dijadikan referensi dan guide bagi semua orang yang terlibat

2. Script penting untuk kerja kameraman, karena dengan script kamareman akan menangkap mood, peristiwa ataupun masalah teknis dengan kerja kamera nantinya.

3.Script penting untuk panduan kerja editor nantinya.

Penting dalam pembuatan script

Dalam tahap pre-production – pembuatan script sudah mulai dipikirkan alur dramatic dalam struktur tiga babaknya….yaitu pengenalan tokoh– puncak dan penutup

Menentukan Sudut Pandang

1. Objective Point Of View (sudut pandang si pembuat film)

2. Native Point of View (sudut pandang sang pelaku )

Membuat Shooting List

Apa itu Shooting List?

Perkiraan-perkiraan apa saja gambar yang dibutuhkan untuk film nanti

Dasarnya adalah outline yang sudah kita buat.

Yang penting dalam Shooting List

  1. Merekam keseharian aktor utama/subjek kita
  2. Urutkan dari yang paling penting atau momen yang tidak bisa diulang
  3. Jangan pernah melupakan detil visual

Contoh Shooting List

  • Establish pedagang kaki lima jensud
  • Aktivitas PKL
  • Wawancara PKL
  • Establish kantor/markas satpol pp
  • Wawancara komandan satpol pp
  • Close up mobil satpol pp dengan pasukannya
  • Establish pasar wage
  • Penggusuran/penertiban
  • Wawancara Satpo pp

Dari Shooting List ke Shooting Schedule

Berdasar pd shooting list buat shooting schedule seperti contoh :

HARI 1 – Senin

  1. Situasi PKL Jensud
  2. Aktivitas PKL
  3. Wawancara dengan ketua Paguyuban PKL

dst………..

Hal lain yang perlu dipersiapkan

1. Membuat draft /acuan wawancara dengan subjek

2. Membuat Release Form ( surat kesediaan dari sumber bahwa hasil wawancara akan masuk dalam film dan persetujuan untuk dipublikasikan )…surat ini ditandatangi oleh subjek setelah dilakukan wawancara

Referensi :

Fajar Nugroho. 2007. Cara Pinter Bikin Film Dokumenter.Penerbit Indonesia Cerdas.  Yogyakarta.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 12 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: