KRITISISME PSIKOANALITIK DALAM FILM

Pengantar

Kritisisme psikoanalitik adalah bentuk aplikasi psikoanalitis yaitu ilmu pengetahuan yang menaruh perhatian pada interaksi dari proses-proses kesadaran dan ketidaksadaran dan dengan hukum-hukum pemfungsian mental.

Kritisisme psikoanalitis dengan demikian adalah salah satu bentuk studi yang menggunakan konsep-konsep psikoanalitik untuk memahami suatu subjek permasalahan secara khusus seperti dalam bidang politik, antropologi, kritik sastra dan kajian sinema.

Ketidaksadaran

Penggagas awal : Plato,Nietzsche,Bergson dll. Kemudian dikembangkan sepenuhnya oleh Sigmund Freud.

Freud adalah orang yang tertarik untuk membantu orang, tetapi di bidang karirnya yang luar biasa dia juga menulis dongeng/cerita rakyat, humor, dan teater

Ilustrasi gunung es

  • Kehidupan mental seseorang dapat dilihat sebagai gunung es.
  • Puncak gunung es yang terlihat di air adalah bagian kesadaran seseorang
  • Sisa dari gunung es adalah bagian yang terbesar dan tidak terlihat—itulah kira-kira ketidaksadaran.

Freud menulis :….

  • “Apa yang ada dalam benak anda tidak identik dengan apa yang anda sadari, apa yang terjadi di dalam pikiran anda dan apa yang anda dengar darinya adalah dua hal yang berbeda”
  • Ini berarti kita tidak sepenuhnya mengendalikan diri kita setiap waktu, kita dipengaruhi oleh cara yang sulit untuk kita mengerti dan kita melakukan sesuatu untuk alasan yang tidak kita mengerti atau kita tidak mengakui diri kita sendiri.
  • Pendeknya, kita tidak sepenuhnya makhluk yang rasional yang bertindak pada basis logika dan kecerdasan,namun sebaliknya justru emosional dan hal lain yang tidak rasional atau irasional

Ernest Dichter (perintis riset motivasi )

  • “…. banyak keputusan keseharian kita diperintah oleh motivasi yang tidak kita kendalikan dan yang sering kita tidak sadari (hal. 12, The Strategic of Desire 1960)

Contoh hasrat ketidaksadaran dalam diskusi tentang korek sigaret

  • “kepercayaan terhadap korek menjadi penting karena berhubungan secara integral dengan dasar (ketidaksadaran) alasan menggunakan korek”
  • “Alasan dasar menggunakan korek…keinginan untuk menguasai dan kekuatan….”
  •  “Kapasitas untuk memanggil api, tidak terelakkan memberikan tiap manusia,anak-anak atau orang dewasa, rasa kekuatan”
  • “api dan kemampuan untuk memerintahkannya merupakan suatu penghargaan karena mereka diasosiasikan tidak hanya masalah kehangatan, tetapi juga dengan kehidupan itu sendiri
  • Jadi korek rokok menjadi penting bagi orang karena korek penuh dengan kekuatan, tetapi (merupakan) keinginan dan hasrat yang tidak disasari

ID, EGO dan SUPEREGO

  • Id, ego dan superego adalah bagian dari apa yang seringkali dihubungkan dengan hipotesis struktural freud tentang pemfungsian mental
  •  Id perupakan representasi kejiwaan dari suatu dorongan
  •  Ego terdiri fungsi-fungsi yang berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungannya
  • Superego terdiri dari aturan moral pikiran kita sebagaimana suatu aspirasi atau masukan ideal kita
  • Id dan superego berperang satu dengan yang lain
  • Sementara ego mencoba untuk menengahi di antara dua hal tersebut — antara keinginan untuk kesenangan dan ketakutan untuk hukuman, antara dorongan dan kesadaran

Freud dalam New Introductory Lectures on Psychoanalysis

  • Id…sebagai kekacauan, semacam kancah untuk melakukan kesenangan…
  • …insting tersebut penuh dengan energi, tetapi tidak memiliki organisasi dan tidak akan menyatu, hanya keinginan hati untuk mendapatkan kepuasan bagi keinginan insstingtual, berkaitan dengan prinsip kenikmatan….

Brenner (1974)…

  • Superego berhubungan dengan  fungsi moral dari kepribadian.

1. persetujuan dan ketidaksetujuan dari tindakan dan harapan dengan dasar ralat

2. observasi diri yang kritis

3. penghukuman diri

4. permintaan untuk perbaikan atau penyesalan untuk hal yang salah

5. memuji diri sebagai penghargaan atas budi luruh atau pemikiran dan tindakan yang diinginkan

Kita dapat menggunakan konsep-konsep dari id, ego dan superego untuk membantu kita memahami teks. Di dalam suatu teks, karakter-karakter yang ada mungkin dapat dilihat dari figur id yang penting, atau figur ego ataupun figur superego

SIMBOL-SIMBOL

  • Psikoanalisis adalah seni interpretasi
  • Psikoanalisis berupaya mencari makna perilaku orang dan seni yang mereka ciptakan
  • Satu cara yg dapat kita lakukan untuk menerapkan teori psikologi adalah dengan memahami bagaimana kerja kejiwaan dan mempelajari bagaimana menginterpretasikan hal penting yang tersembunyi dari apa yang dilakukan orang dan peran fiksi.
  • Misal : Kita bisa mengajukan pertanyaan apa makna yang dikatakan Hamlet tentang ini dan itu? Atau … Apa artinya ketika Hamlet tidak mampu bereaksi? Kita ingin tahu mengapa.
  • Dari hal itulah muncul simbol-simbol.
  • Simbol adalah sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan di antaranya tersembunyi dan setidaknya tidak jelas.
  • Simbol berhubungan dengan ketidaksadaran.
  • Simbol adalah kunci yang memungkinkan kita untuk membuka pintu yang menutupi perasaan-perasaan ketidaksadaran dan kepercayaan kita melalui penelitian yang mendalam

Kesulitan menginterpretasi symbol

  • Simbol seringkali ambivalen dan dapat dijelaskan dengan cara yang bervariasi terantung dari orientasi seseorang.

Klasifikasi symbol

1. konvensional ( kata-kata yang kita pelajari untuk menyebut/menggantikan sesuatu

2. aksidental ( sifatnya individual,tertutup dan berhubungan dengan sejarah hidup seseorang)

3. universal ( berakar dari pengalaman semua orang )

Analisis simbolis ini bisa diterapkan dalam mimpi-mimpi yang menjadi gambaran visual seperti dalam film, televisi bahkan komik.

  • Pertanyaan yang diajukan : apa yang sedang terjadi? Apa yang dikatakan di sana? Kepuasan apa yang kita peroleh? Apa yang dikatakan/diceritakan kepada kita oleh bermacam simbol kepahlawanan tentang diri kita sendiri dan masyarakat kita?

MEKANISME PERTAHANAN DIRI
(variasi teknik yg dipergunakan ego untuk mengendalikan insting dan mencegah keinginan )

  • Ambivalensi

Perasaan simultan tentang cinta dan kebencian atau atraksi dan penarikan/pemunduran kepada orang atau obyek yang sama. Kadangkala perasaan tersebut berubah dengan cepat kepada orang yang mengharap dapat memuaskan harapan yang kontrakdiktif

  • Penghindaran

Menolak untuk terlibat dengan subyek yang menyusahkan/menyedihkan karena mereka berhubungan dengan ketidaksadaran seksual atau dorongan seksual.

  • Penyangkalan atau penolakan

Menolak untuk menerima realitas dari sesuatu yang membangkitkan kegelisahan denganmemblokirnya dari kesadaran atau menjadi terlibat dengan fantasi penuh.

  • Fiksasi/perasaan mendalam

Keasyikan yang obsesif atau memisahkan dari sesuatu, umumnya sebagai hasil dari beberapa pengalaman traumatic

  • Identifikasi

Keinginan untuk menjadi “seperti” orang lain atau sesuatu di dalam beberapa aspek dari pemikiran atau perilaku.

  • Proyeksi

Upaya untuk menyangkal perasaan diri sendiri yang negatif atau bermusuhan dengan menghubungkan ke orang lain. Jadi seseorang yang membenci seseorang akan memproyeksikan kebencian tersebut kepada orang lain, dan menerima bahwa seseorang tersebut adalah seseorang yang dibenci.

  • Rasionalisasi

Penawaran alasan logis atau alasan perilaku yang dibangkitkan oleh ketidaksadaran dan faktor-faktor penting  yang irasional

  • Formasi reaksi

Hal ini terjadi ketika bagian dari sikap-sikap ambivalen menimbulkan persoalan, sehingga satu elemen ditekan dan dibuat tidak sadar dgn menekankan pada hal lain (kebalikannya), meskipun hal tersebut tidak hilang.

  • Regresi /kemunduran

Kembali ke tahap awal di dalam perkembangan kehidupan ketika berkonfrontasi dengan  ketegangan/stress atau kegelisahan – pada situasi yang memprovokasi.

  • Represi

Menunjukkan kesadaran tentang ketidaksadaran harapan instingtif, memori, keinginan dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan mekanisme pertahanan yang paling mendasar

  • Supresi

Bertujuan untuk meletakkan di luar pikiran dan suatu kesadaran yang dirasakan individu sebagai menyakitkan.

Referensi :

Selanjutnya anda dipersilakan mempelajari buku Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques , 2nd edition. Terjemahan Setio Budi HH. Penerbit Universita Atma Jaya Yogyakarta. 2000. Ch.III

Silakan juga membuka laman berikut ini:

http://cinemapoetica.com/esai/memetakan-kompleksitas-kajian-dan-teori-film-bagian-3/

http://cinemapoetica.com/esai/memetakan-kompleksitas-kajian-dan-teori-film-bagian-4/

http://www.columbia.edu/itc/architecture/ockman/pdfs/feminism/mulvey.pdf

http://www.danasnow.com/archive/category/art/mulvey_visual_pleasure_and_narrative_cinema/

http://virtual.clemson.edu/caah/women/flc436/mulvey.html

http://culturalstudiesnow.blogspot.com/2011/05/visual-pleasure-and-narrative-cinema.html

http://culturalstudiesnow.blogspot.com/2011/05/visual-pleasure-and-narrative-cinema_20.html

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 Oktober 2011.

2 Tanggapan to “KRITISISME PSIKOANALITIK DALAM FILM”

  1. pak saya copy materi ini yaaa
    hehehe

  2. Pak? tugas sisipanya kajian sinemanya bikin pusing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: