SINEMATOGRAFI II: SKENARIO

Fungsi Literer

  • Dalam film, terdapat fungsi literer. Fungsi ini membuat banyak orang menjadi penggemar film.
  • Mereka menonton film dengan maksud selain mendapatkan hiburan juga mendapatkan pengalaman lain. Bahkan banyak juga yang belajar dari sebuah film.
  • Yang dimaksud dengan fungsi literer ini adalah : pengalaman emosional dan intelektual yang dialami seseorang ketika membaca sebuah karya tekstual.

Ide

  • Dalam menuliskan sebuah tema cerita yang hendak dituangkan dalam sebuah skenario kita perlu ide.

Sumber Ide

Ide bisa berlimpah sumbernya beberapa sumber ide adalah sebagai berikut :

  • Pengalaman pribadi, teman keluarga dll.
  • Inspirasi
  • Cerita rakyat, legenda
  • Mitos
  • Modifikasi film lama
  • Media massa
  • Untuk mendapatkan ide, kita wajib untuk membuatnya menjadi sebuah cerita.
  •  Ide atau gagasan akan jadi sesuatu yang menarik apabila mengandung unsur kreativitas. 
  • Ketika kita memiliki suatu ide atau gagasan, akan menjadi sesuatu yang kreatif apabila kita juga memikirkannya sehingga menjadi sesuatu yang baru, yang dapat memecahkan persoalan untuk mempertahankan pengetahuan atau wawasan yang orisinal.
  • Cerita dan skenario adalah pintu gerbang terciptanya sebuah film.
  • Dengan membaca sebuah skenario maka kita dapat langsung mendapatkan gambaran tentang bagaimana film itu nantinya.
  • Maka    skenario merupakan rekomendasi resmi tentang bagaimana film itu akan dibuat.
  • Maka dapat dikatakan skenario merupakan film dalam bentuk tertulis.
  • Dengan membaca skenario kita dapat seolah-olah sudah dapat melihat film itu sendiri.

Seno Gumira Ajidarma seorang penulis skenario mengatakan bahwa ada dua kriteria skenario.

  • Kriteria fungsional : harus bisa digunakan sebagai rancangan untuk membuat film
  • Kriteria substansial : bisa menggerakkan emosi dan merangsang pikiran sebagai karya tekstual yang mandiri.
  • Suatu skenario yang baik harus dapat memenuhi kedua kriteria tersebut. Sebagai sebuah karya seni sekaligus produk komersil.
  • Maka tidak semata-mata hanya dapat digunakan untuk membuat sebuah film secara teknis. Namun juga harus dapat berbicara dan memiliki makna ketika masih dalam bentuk skenario sekalipun.
  • Dalam prakteknya, hanya dengan melihat atau membaca sebuah skenario saja, kita dapat merasakan emosi, bobot dan bahkan tiap adegan yang tertulis dalam skenario tersebut.

Penggolongan skenario:

  • Skenario Komunikatif : skenario yang dapat dimengerti
  • Skenario Ekspresif : skenario yang bisa menggugah kehendak, menggerakkan emosi, jiwa dan pikiran dan memberikan pengalaman literer kepada pembacanya.
  • Skenario Gagal: skenario yang tidak dapat dituangkan dalam bentuk audio visual secara tepat seperti maksud pembuatnya.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 5 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: