KAJIAN SINEMA IV : Teori Film Christian Metz (2)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Film dan Linguistik Struktural

Fakta satu:

Film bukan bahasa tapi ia seperti suatu bahasa. Dan karena mirip dengan bahasa, maka beberapa metode yang dipergunakan untuk mempelajari bahasa mungkin bermanfaat untuk mempelajari film

Semiotika Film

Fakta dua:

Para ahli semiotika menerima telaah film sebagai bahasa dengan merumuskan kembali konsep bahasa tulisan dan lisan.

Christian Metz dalam “Film Language”

Fakta tiga:

“Kita mengerti sebuah film bukan karena kita mengetahui sistemnya, kita memperolah pengertian tentang sistemnya karena kita mengerti film itu.”

Dengan kata lain: “Bukan karena bahasa suatu sinema maka ia bisa menceritakan kisah-kisah yang begitu bagus, tapi karena ia menceritakan kisah-kisah yang bagus ia menjadi bahasa”

“sinema= Isyarat sirkuit pendek”

Fakta empat :

Bagi ahli semiologi, isyarat harus terdiri dari dua bagian: yang memberi arti dan yang diberi arti. Tapi dalam film,pemberi arti dan yang diberi arti hampir-hampir identik; isyarat sinema adalah isyarat sirkuit pendek (mis: gambar buku secara konsep lebih dekat kepada buku daripada kata ‘buku’)

Menurut Christian Metz :

Sebuah gambar mempunyai hubungan langsung dengan apa yang ia beri arti, sedangkan kata jarang sekali melakukan hal itu. Karena sifat isyarat sirkuit pendek itulah maka film begitu sulit diperbincangkan…

“Sebuah film sulit diterangkan, karena ia mudah dimengerti”

“Sinema, seni yang mudah, selalu terancam menjadi korban kemudahan ini”

SEMIOTIKA FILM

A. Problem “meaning” (makna)

Perhatian utama semiotika film adalah bagaimana makna dibangkitkan dan disampaikan. Dua kunci ide semiotika adalah tanda dan hubungan-hubungannya

Dalam analisis semiotika, keputusan dan pemisahan (sementara) dibuat di antara isi dan bentuk, dan perhatian difokuskan pada sistem tanda yang menyusun teks. Misal: makanan yang ditampilkan dalam adegan film tidak bisa dilihat semata sebagai roti, nasi, steak atau lontong melainkan sebagai sistem tanda yang menyampaikan makna berhubungan dengan, misalnya status, selera, kecanggihan, sebuah sistem budaya/kebangsaan tertentu,dst

Pelajaran Saussure :

Konsep mempunyai makna karena faktor relasi-relasi, dan dasar dari relasi tersebut adalah oposisi (berlawanan)

“Konsep tidak didefinisikan pada isi positifnya tetapi negatifnya, melalui relasi dengan istilah-istilah lain dalam sistemnya “(Saussure,1966:117)

Bukan “isi” yang menentukan makna tetapi “hubungan-hubungannya” dalam bermacam-macam sistem

B. KONOTASI DAN DENOTASI

Konotasi < (Lt) connotare, ‘menjadi tanda’ Mengarah kepada makna-makna kultural yang terpisah/berbeda dengan kata atau bentuk lain komunikasi Melibatkan simbol-simbol,historis,dan hal-hal yang berkaitan dengan emosional

Denotasi : menunjukkan arti literatur atau yang eksplisit dari kata-kata dan fenomena yang lain.

Perbandingan antara Konotasi dan Denotasi

Konotasi Denotasi
Pemakaian figur Literatur
Petanda Penanda
Kesimpulan Jelas
Memberi kesan tentang makna Menjabarkan
Dunia mitos Dunia keberadaan/eksistensi

C. SINKRONIK DAN DIAKRONIK

Analisis sinkronik melihat pola berlawanan yang terpasang yang terpendam dalam sebuah teks/film (struktur paradigmatik)

Analisis diakronik memusatkan perhatian pada rangkaian peristiwa/kejadian (struktur sintagmatik)

Elemen analisis :Sinkronik dan Diakronik

Sinkronik Diakronik
Bersamaan/serempak Berangkaian
Baku/statis Evolusioner
Seketika dalam waktu Perspektif historis
Relasi-relasi dlm sistem Relasi-relasi dlm waktu
Analisis fokus Perkembangan fokus
paradigmatik Sintagmatik
Levi-Strauss Propp

Analisis Sintagmatik

Sintagmatik adalah semacam rantai;teks diuji sebagai rangkaian dari kejadian-kejadian yang membentuk narasi.  Ide mengacu pada karya Vladimir Propp (1928); menghubungkan esensi atau unit dasar narasi sebagai ‘fungsi’ (= tindakan dari sebuah karakter,didefinisikan dari sudut pandang signifikansinya sebagai bagian dari aksinya)

Fungsi diformulasikan sbb:

  1. Fungsi karakter dijalankan secara stabil;tetap pada bagian cerita terlepas dari siapa fungsi karakter dipenuhi
  2. Sejumlah fungsi yang dikenakan dalam kisah/cerita tersebut terbatas
  3. Rangkaian/urutan fungsi selalu identik
  4. Semua kisah/cerita adalah sama setiap strukturnya

Selengkapnya mengenai fungsi-fungsi Propp sebagai berikut:

FUNGSI-FUNGSI DARI PROPP:

Penandaan

Definisi Ilustrasi

α

Situasi awal Anggota keluarga atau sosok pahlawan dikenalkan

β

Ketidakhadiran Salah satu anggota keluarga tidak berada di rumah

γ

Pelarangan Larangan yang ditujukan kepada sang pahlawan

δ

Kekerasan Larangan dilanggar

ε

Pengintaian Penjahat melakukan usaha pengintaian

η

Pengiriman Penjahat menerima informasi tentang korbannya

Ϛ

Tipu daya Penjahat berusaha menipu korbannya

Ө

Keterlibatan  Si korban tertipu, tanpa disadari membantu musuhnya.

A

Kekejian Penjahat yang melukai anggota keluarga

A

Kekurangan Salah satu angota keluarga kekurangan sesuatu atau mengingingkan sesuatu

B

Mediasi Terjadi keadaan yang malang, sang pahlawan dikirim

C

Aksi balik Seseorang setuju untuk melakukan aksi balik
Keberangkatan Sang pahlawan meninggalkan rumah

D

Fungsi pertama seorang penolong Sang pahlawan diuji, menerima pertolongan dari dukun/seseorang

E

Reaksi dari pahlawan Sang pahlawan beraksi terhadap penolong masa depannya

F

Resep dari sang dukun Sang pahlawan belajar menggunakan magic

G

Pemindahan ruang Sang pahlawan mengarah pada obyek yang diselidiki

H

Perjuangan Pahlawan dan penjahat bertempur langsung

J

Cap Sang pahlawan mulai dikenal kepahlawnannya

I

Kemenangan Penjahat dikalahkan

K

Pembubaran Kemalangan dihilangkan/hapus
Kembali Sang pahlawan kembali

Pr

Pengejaran Pengejaran : Sang  pahlawan dikejar

Rs

Pertolongan Sang pahlawan ditolong dari pengejaran

O

Kedatangan tak dikenal Sang pahlawan, tidak dikenal, pulang ke rumah atau pasa negeri orang lain

L

Tidak bisa mengklaim Pahlawan palsu hadir tanpa mendapatkan kepahlawannya

M

Tugas berat Tugas berat ditawarka kepada sang pahlawan

N

Solusi Tugas diselesaikan

Q

Pengenalan sang pahlawan dikenali

Ex

Pemaparan Dipaparkan : pahlawan palsu atau penjahat

T

Perubahan rupa Sang pahlawan mendapat penampilan baru

U

Hukuman Penjahat dihukum

W

Pernikahan Sang pahlawan menikah dan memperoleh tahta

SUMBER : Berger,2000:19-20

Analisis Paradigmatik

Upaya penyelidikan pola-pola pasangan oposisi (berlawanan) yang tersembunyi dan menghasilkan makna.

Jonathan Culler (1976) : “Kaum strukturalis pada umumnya mengikuti Jakobson dan menggunakan pasangan oposisi sebagai basis kerja pikiran manusia yang mendasari produksi makna”

Contoh kutub oposisi dalam sebuah film

Kebebasan Pengawasan
Individual Organisasi
Kemauan keras Kekuasaan
Melarikan diri Penjebakan
Kepercayaan Kecurangan

Claude Levi-Strauss :

…analisis sintagmatik memperlihatkan makna yang manifest (nyata/tampak) dan analisis paradigmatik teks memperlihatkan makna yang laten. Struktur manifest berarti apa yang terjadi disana; struktur laten berarti teks tersebut bicara tentang apa

D.Intertekstualitas

….semua teks berhubungan dengan teks yang lain …

Mikhail Bakhtin : “ ketika kita berbicara, apa yang kita katakan akan terikat pada sesuatu yang pernah kita katakan sebelumnya dan ucapan-ucapan yang kita harapkan akan dibuat (dikatakan) pada masa yang akan datang.

E. Kode-kode

Kode adalah  pola-pola asosiasi yang sangat kompleks, yang dipelajari oleh masyarakat ataupun sebuah kebudayaan. Kode atau struktur rahasia di dalam pikiran orang, memengaruhi cara individu menginterpretasikan tanda dan simbol yang mereka temui dari media atau dalamkehidupan sehari-hari.

Pertanyaan seputar ‘kode’

Karakteristik kode: pertalian,kejelasan,nyata(konkrit),kesinambungan,kongkrit.

Manifestasi kode: kepribadian (psikologi),peran-peran sosial (psikologi sosial),institusi ( sosiologi), ideologi-ideologi (politik), ritual-ritual (antropologi) .

Problematika: pencipataan kode,modifikasi kode,pertentangan kode,aturan/hukum

Kode dalam budaya poluler: formula dalam cerita spionase,cerita detektif,film koboi,petualangan fiksi ilmiah,musik pop,periklanan,komedi situasi

Ritual : waktu makan, minum di bar,memberi hadiah,kencan,menonton TV, belanja di supermarket,perilaku pada tangga berjalan, kontes olah raga, berpakaian

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 3 Oktober 2011.

10 Tanggapan to “KAJIAN SINEMA IV : Teori Film Christian Metz (2)”

  1. mas,punten, mau tanya, bisa kasih referensi buku ga yg membahas tentang teori-teori film, kyk structuralis, formalist dan psikoanalitical?
    makasi sblmnya..:)

    • Setahu saya buku NEW VOCABULARIES IN FILM SEMIOTICS: Structuralism, post structuralism and beyond. By :Robert Stam, Robert Burgoune and Sandy Flitterman- Lewis, Roudedge: London, 1998 adalah buku yang lumayan komprehensif membicarakan teori-teori yang mbak cari. Memang buku ini agak ensiklopedis sifatnya tapi cukup bagus koq. semoga bermanfaat.

  2. Mas, kalo tentang subgenre film ada gak?

    • Trims, telah singgah di sini. Tentang Subgenre film? kalau tulisan khusus tentang itu belum ada. tapi suatu saat saya sisipkan link atau ebook yang ada tentang subgenre film, mungkin ke tautan website tempat saya mengajar.

  3. boleh tahukah buku yang berisi teori film itu buku apa ? apakah bapak punya buku novel dan film milik pamusuk eneste dan buku transformasi novel ke dalam bentuk film karya asrul sani ?

    • Buku tentang teori film sebetulnya banyak, tapi untuk kelas perkenalan khususnya yang mengkaji film saya cukup menggunakan ini :
      Asrul Sani, Cara Menghayati Film, Bandung :Cakra, 1987
      Berger, Arthur Asa Media AnalysisTtechniques. 2 ed. USA: Sage Publication, 1998
      Fiske, J. Introduction to Communication Studies. London : Meuthuen, 1982.
      Turner, Graeme. Film as Social Practice. 3 ed. London : Routledge, 1988
      Morley, David. The ‘Nationwide’ Audience : Structure and Decoding. London: BFI,1980
      Morley, David. Family Television: Cultural Power and Domestic Leisure.London: A Comedia Book, 1986.
      Morley, David. “Cultural Transformation : The Politics of Resistence” dalam Marris, Paul & Sue Thornham. Media Studies A Reader 2ed. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd, 1996.
      Morley, David. Television, Audiences and Cultural Studies. London: Rotledge, 1992.

      Tentang buku yang anda maksud saya belum punya he he Tq semoga bermanfaat…

  4. Ass.. pak Adi, saya almnus Unsoed yg skrg tengah mengerjakan tesis film dengan Christian Metz sebagai tokohnya. Mau tanya ketika sudah memetakan 8 langkah metz ke dalam analisis struktur filmnya, bagaimana cara memaknai film tersebut dari sisi semiotikanya? apakah pengerjaannya sama dengan barthes dengan mencari konotasinya ? atau bgmn ya pak? mohon bantuannya. terimakasih sebelumnya

    • Sebenanrnya, kalau sudah berhasil memetakan 8 langkah metz, maka anda tinggal mengeksekusi lebih lanjut masing-masing pasangan klasifikasi sintagmatig itu menuju pada pemaknaannya. Akan riskan kalau kemudian justru berbalik ke model Barthes, karena simiotik film Metz ini ketika menyoal oposisi sintagmatik/paradigmatik agak berbeda pandangan dengan Barthes, Metz lebih menekankan pada sisi sintagmatignya,atau pada denotatifnya ( itulah sebabnya dia menawarkan konsep la grande syntagmatique, sintagmatig besar, yang merupakan deskripsi diskursus naratif dalam bahasa sinematik) demikian katanya : Metz suggests that denotation is to be studied before connotation. According to him, the denotation is the basic form of cinematic material, because it presents, it doesn’t interpret. Denotation is the images that make up a story. Connotation has to come second, he says, because what the images connote is not directly presented by the basic material of the film and connotation is only partly indicated by the denotation ( Dalam Braudy 1998; 91).
      Sementara untuk menafsirkan shot dari “sisi semiotik” yang anda maksudkan, kalau memang masih setia dengan Metz, coba anda kaitkan dengan pendekatan psikoanalisis, karena selain memasukkan konsep struktural linguistik ( dengan penekanan versi Metz), Metz juga dikenal memasukkan pendekatan psikoanalitik sebagai “psikoanalisis yang menandai –sinema” lewat bukunya Le signifiant-imaginair. Psychoanayse et cinema (1975).

  5. baik pak, akan saya coba baca-baca kembali.. akan tetapi jika bapak berkenan, ike ingin share lebih lanjut mengenai metz. jika ada waktu dan senggang, bisakah bapak saya temui di kampus? mohon konfirmasinya. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: