KAJIAN SINEMA III : TEORI FILM CHRISTIAN METZ

Pengantar

l  Teori film diawali pada tahun 1907 dengan pelopor di antaranya: Ricciotto Canudo (1879-1923).

l  Disusul oleh teoritikus film : Louis Dellue, Jean Epstein, Germain Dulac,Koulechov, Poudovkin.

l  Christian Metz dari Ecole des Hautes Etudes et Sciences Sociales (EHESS) Paris kemudian dikenal sebagai figur utama pemikiran  semiotik sinematografi

Kontribusi Metz dalam teori film

l  Penggunaan peralatan konseptual linguistik struktural untuk meninjau kembali teori film yang sudah ada

Sinema sebagai Langage  dan bukan Langue

l  Apa itu langage ? Bahasa pada tingkatan umum :bahasa binatang,tanda lalu lintas,dll

l  Apa itu langue ? Bahasa manusia :bahasa Prancis,bahasa Inggris,bahasa Indonesia,dll

l  Menurut Metz: sinema itu dapat dikelompokkan dalam langage dan bukan langue. Mengapa ?

l  Karena sinema tidak memiliki padanan fonem sebagai kesatuan bunyi terkecil dari artikulasi kedua – yang digabungkan menjadi fonem atau morfem :kesatuan makna terkecil dari artikulasi pertama

l  Misal :  penanda “kuda” (terdiri dari empat fonem /k/+/u/+/d/+/a/, yang morfemnya adalah /kuda/

l  Dalam sinematografi penanda /kuda/dapat diungkapkan dengan gambar kuda apakah itu close up shot,medium shot, dll

l  Metz berpendapat : bahwa sebuah shot lebih dekat dengan kalimat daripada kata

l  Misalkan : (shot) seorang yang berjalan di jalanan, hal ini sepadan dengan kalimat : seorang berjalan di jalanan

Tanda Sinematografis

l  Berbeda dengan “tanda” (sign) bahasa di mana hubungan bersifat arbitrer (semena) antara tanda dan benda, penanda sinematografis memiliki hubungan ‘motivasi’ atau ‘beralasan’ dengan petanda yang tampak jelas melalui hubungan penanda dengan alam yang dirujuk.

l  Petanda sinematografis selalu kurang lebih ‘beralasan’ dan ‘tidak pernah semena’

l  Hubungan motivasi antara penanda dengan petanda sinematografis itu berada pada tingkat denotatif maupun konotatif

l  Hubungan denotatif yang beralasan itu disebut analogi; karena memiliki persamaan perseptif dan auditif antara penanda/petanda dengan referen.

 

DENOTATIF DAN KONOTATIF  DALAM SINEMA

l  Sebuah imaji film atau suara memiliki arti denotatif : dia adalah sebagaimana adanya dia dan kita tidak perlu berusaha banyak untuk mengenalinya.

l  Sebuah film juga  memiliki kesanggupan konotatifnya sendiri secara khas;…..

l  Misal: shot “mawar”….

l  Si pembuat film tentunya sudah melakukan pilihan tertentu: apakah mawar putih atau merah ( yg secara kultur berbeda ),…

l  diambil dari sudut tertentu,dengan kamera bergerak atau tidak,…

l  mawar itu segar atau layu…,

l  duri-durinya kelihatan jelas atau tersembunyi…

l  Itu semua bantuan khas untuk konotasi sinematik

KONOTASI PARADIGMATIK

l  Jika perasaan kita tentang konotasi sesuatu shot (misal mawar tadi) yang khas tergantung dari kenyataan bahwa ia sudah dipilih dari serentetan kemungkinan shot-shot yang lain, maka kita dapat mengatakan bahwa ini —dalam bahasa semiologi— sebuah konotasi paradigmatik.

l  Sebaliknya jika arti dari ‘mawar’  bukan tergantung dari perbandingan shot itu dengan shot-shot lain yang potensial, tapi tergantung pada perbandingan shot itu dengan shot-shot yang mendahului atau yang sesudahnya, maka itu berarti bicara tentang  KONOTASI SINTAGMATIK, artinya makna yang kita peroleh ialah karena shot itu dibandingkan dengan shot-shot lain yang kita memang lihat

PARADIGMATIK DAN SINTAGMATIK

l  Kedua poros yakni paradigmatik dan sintagmatik memiliki nilai nyata sebagai alat untuk memahami apa arti film.

l  Sesungguhnya sebagai sebuah seni, film hampir seluruhnya tergantung dari kedua perangkat pilihan ini.

3 macam isyarat sinematik

l  Peter Wollen dalam Sign and Meaning in The Cinema (1969) meminjam ‘trikotomi’ C.S. Peirce :

l  A. Ikon : sebuah isyarat di mana penunjuk (signifier) menggambarkan apa yang ditunjuk ( the signified) terutama melalui kemiripannya

l  B. index : yang mengukur kualitas, bukan karena ia sama atau identik dengan itu, tapi karena ia mempunyai hubungan yang erat dengannya.

l  C. Simbol (lambang) : suatu isyarat bebas di mana penunjuk tidak memiliki hubungan langsung atau hubungan index dengan yang ditunjuk, tapi menyajikan dengan cara lazim yang telah disepakati (konvensi)

Dua istilah dalam studi literer yang saling berhubungan dan berguna untuk melukiskan cara utama film dalam menyampaikan makna konotatif yaitu metonim dan synechdoch

l  Metonim ( <etimologi= menggantikan nama) sebuah detil atau pengertian yang ada hubungannya dan dipergunakan untuk menampilkan ide atau objek

l  Misal :  mahkota —– menunjuk pada ide kerajaan

l  Synechdoch: kiasan di mana suatu bagian mewakili keseluruhan atau keseluruhan mewakili bagian.

l  Misal : polisi —- mengiaskan hukum;close up barisan sepatu berbaris —-tentara

 

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 3 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: