FOTO CERITA

Foto cerita adalah sebuah narasi dalam bentuk sekumpulan foto dirangkai dalam satu topik. Foto cerita yang lengkap terdiri dari headline, naskah dan pengaturan tata letak foto yang saling mendukung. Semua itu akan menunjang pemahaman ide cerita yang ingin disampaikan.

Selain foto cerita ada pula foto esai. Terkadang foto cerita memang dapat digabungkan dengan foto esai, tetapi sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Esai foto lebih cenderung simbolis dalam mengungkapkan cerita dan tidak harus sebuah perkembangan dari suatu kejadian. Sementara foto cerita lebih menekankan pada alur /perkembangan dari suatu foto ke foto berikut.

Ide sebagai dasar

Banyak orang mengatakan, foto cerita baik yang berasal dari sebuah ide yang baik pula. Adapun idenya awalilah dengan melakukan riset kecil. Riset tersebut dilakukan dengan mengajukan pertanyaan, surfing di internet atau penelusuan pustaka. Dari hasil riset, kembangkanlah menjadi sebuah gambar sederhana dari ide tersebut. Cobalah susun gambar-gambar tersebut menjadi sebuah cerita, seperti yang kita inginkan dari ide awal. Bila sudah terangkai, diharapkan dapat menjadi panduan dalam pemotretan nanti.

Mulai Membidik

Membuat foto cerita membutuhkan waktu untuk melakukan pendekatan intensif terhadap subjek foto, sehingga mereka tidak asing dengan keberadaan kita. Kedekatan terhadap subjek foto, akan menentukan hasil foto kita nantinya.

Selama melakukan pemotretan, beberapa hal di bawah ini dapat menjadi panduan dalam merangkai foto cerita atau foto esai :

  • foto long shot, dipakai untuk menggambarkan suasana subjek dan lingkungan sekelilingnya
  • foto medium shot, memperlihatkan kejadian saat itu.
  • Foto close up menampakkan emosi dari subjek itu.
  • Foto utama/lead photo, foto paling menonjol dari keseluruhan
  • Foto portrait, menggambarkan tokoh kunci dari sebuah foto cerita
  • Foto interaksi, memaparkan bagaimana subjek melakukan interaksi/berhubungan dengan lingkungannya
  • Foto sekuen, memaparkan tahapan perkembangan dalam pemotretan
  • Closer, foto penutup.

Sebuah foto esai atau foto cerita tidak mesti menampilkan semua ketentuan di atas. Hanya saja, foto utama dari penutup alat penting disajikan sebaik mungkin. Sementara lainnya dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Hal mendasar wajib menjadi pegangan fotografer, yaitu mesti mempercayai emosi kita, apakah saat beriteraksi dengan subjek foto,dari situ hendaknya abadikan momen yang dirasakan.

Edit dan Perwajahan

Berbekal panduan di atas dan riset yang kita buat, kita bisa menduga apakah fotonya sudah selesai atau belum, ingatlah untuk membuat contact print seusai pemotretan, hal ini amat membantu dalam proses editing dan lay out/perwajahan halaman.

Dari contact print, potong fotonya menjadi kecil-kecil dan susun berdasarkan cerita yang ingin disampaikan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyusunan foto adalah logika kita dan kejadian saat pemotretan berlangsung. Jangan melakukan editing foto lebih dari 7 untuk Koran dan 15 untuk majalah. Selain akan membingungkan ceritanya, juga bisa menjadi pengulangan foto. Dari susunan foto tersebut pilihlah salah satu foto yang menurut anda paling kuat dan jadikan foto tersebut sebagai foto utama/ lead.

Referensi :

Wahyu Budi Priyatna. MODUL PRAKTIKUM FOTOGRAFI UNTUK PUBLIKASI.Direktorat Program Diploma Institut Pertanian Bogor, 2009.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: