MENEMUKENALI MASALAH DALAM PENELITIAN

Konsep dasar dan sumber masalah

Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena,adanya kemenduaan arti (ambiguity), adanya halangan dan rintangan, adanya celah ( gap) baik antara kegiatan ataupun antara fenomena, baik yang telah ada maupun yang akan datang. Sumber ditemukannya “masalah” sebenarnya banyak, tetapi kalau mau di sederhanakan bisa dikategorikan dalam dua sumber.

Pertama, masalah yang kita temui dari kehidupan sehari-hari.Bisa dari hasil obrolan di warung,dari diskusi dengan teman, bisa dari pembacaan di koran, dari peristiwa yang kita lihat di televisi, dari pengamatan di sekeliling kehidupan kota atau desa kita dsb.Yang menjadi persoalan kemudian, apakah seluruh kapasitas intelektual di kepala kita siap menangkap fenomena menarik yang tersebar di sekeliling kita?

Sampai di sini “masalah” yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari ini masih harus kita “bahasakan” dengan kerangka teori yang kita miliki. Mengapa demikian? Karena tujuan kita menangkap “masalah” memang adalah untuk “digarap” menjadi sebuah penelitian ilmiah. Sementara tugas kita sebagai calon intelektual yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi sarjana adalah berlatih untuk meneliti secara ilmiah, academic exercises,  sehingga sumber dan cara penyelesaian penelitian itu juga harus beranjak dari kajian teori yang kita pelajari selama ini.

Kedua, masalah yang sumbernya dari buku.Dari literatur yang berhubungan dengan keilmuan kita. Yang kedua ini juga sangat bervariasi.Mulai dari rangkaian teori yang kita pelajari dan ternyata ada celah yang membutuhkan pembuktian di lapangan.Dari laporan penelitian yang terekam dalam jurnal dan ternyata di bagian akhir laporan itu ada implikasi teoritis perlu tidaknya penelitian lebih lanjut.Dari informasi baru yang terbit lewat buku baru dan menawarkan temuan baru tetapi konteksnya berbeda dengan konteks tempat kita tinggal, sehingga perlu dibuktikan keberlakuannya dalam konteks masyarakat tempat kita tinggal,dsb.

Satu pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam pemilihan persoalan atau masalah dalam penelitian adalah apakah kita ingin mengadakan penelitian yang bersifat terapan atau penelitian yang bersifat dasar. Yang dimaksud dengan penelitian terapan adalah penelitian yang mempunyai tujuan praktis, yakni meneliti suatu masalah yang hasilnya diharapkan berupa rekomendasi-rekomendasi yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan masalah tersebut.Contoh penelitian terapan, ini saya ambil dari proyek penelitian yang kebetulan salah seorang alumnus kita terlibat di dalamnya, adalah penelitian tentang bagaimana masyarakat di kabupaten Kebumen dalam mengakses media massa dan media komunikasi pada umumnya untuk keperluan memenuhi kebutuhan informasi. Bisa ditebak bahwa tujuan dari penelitian semacam ini adalah mendeteksi kira-kira saluran informasi apa saja yang paling tepat manakala pemerintah kabupaten Kebumen hendak menyalurkan informasi pembangunan kepada masyarakat di wilayah tersebut. Konon, pemerintah Kebumen memang sedang membenahi sistem informasi pemerintahan daerahnya dalam upaya meningkatkan peran pemda untuk mensukseskan sistem pemerintahan berbasis otonomi daerah.  Contoh lain, ini pernah diajukan dalam salah satu proposal angkatan 2000, penelitian yang mencoba mengangkat kesiapan suatu pemerintah daerah ketika hendak mendirikan sebuah stasiun televisi lokal di daerah tersebut. Dan contoh-contoh lain yang kira-kira bisa anda tebak sendiri “gaya dan arah” penelitiannya.Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa penelitian terapan diupayakan dapat membantu usaha penelitian pada umumnya dengan : (1) memberikan bukti-bukti yang meyakinkan akan manfaat penelitian sosial bagi masyarakat pada umumnya; (2) menggunakan dan mengembangkan teknik yang juga dapat dipakai dalam penelitian dasar; (3) memberikan data dan pikiran yang dapat mempercepat proses generalisasi ( Stouffer, 1950, dalam Mely G Tan,1986)

Bagaimana dengan penelitian dasar? Pengertian penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian dan keingintahuan terhadap hasil suatu akitivitas ( Nasir 1983 : 29 ). Penelitian dasar dengan demikian tidak terlampau mengarah pada kemanfaatan praktis atau titik terapan.Perhatian utama penelitian jenis ini adalah kesinambungan dan integritas dari ilmu dan filosofi.Penelitian murni bisa diarahkan ke mana saja, tanpa memikirkan ada tidaknya hubungan dengan kejadian-kejadian yang diperlukan masyarakat. Proses pemikiran si peneliti bisa membawanya ke mana saja, tanpa memikirkan sudut apa dan arah  mana yang akan dituju. ( Hogben, 1938, dalam Nasir, 1983) Contoh penelitian murni biasanya memang lebih banyak dilakukan oleh ilmuwan eksak, misalnya penelitian tentang rantai genetik,penelitian tentang  nucleus, dan sebagainya. Dalam ilmu sosial, sebenarnya agak susah untuk membatasi apakah penelitian yang dilakukan dikategorikan “murni” atau bernada “terapan”, karena sebenarnya istilah “murni” dan “terapan” dalam penelitian sosial hanya mendefinisikan area yang hanya berbeda dalam konsep. Dalam praktek, yang satu membayangi yang lain.Hanya mungkin pada sisi segera atau tidaknya suatu hasil penelitian dapat digunakan masyarakatlah yang lebih bisa dijadikan patokan bahwa penelitian tersebut tergolong terapan. Sementara penelitian sosial yang mencoba untuk, misalnya, menguji keberlakuan suatu teori dalam suatu konteks tertentu bisa dikategorikan sebagai penelitian dasar, karena hasil penelitian ini lebih bermakna sebagai upaya untuk mengembangkan perspektif keilmuan tertentu.

Merumuskan dan menetapkan masalah

Pertanyaan yang segera muncul tatkala calon peneliti mulai menemukan adanya fenomena yang menarik untuk diteliti adalah bagamana menetapkan, merumuskan dan menyusun suatu permasalahan penelitian.Ada beberapa cara yang dapat membantu anda,misalnya:

(1)                      Inventarisasikan dalam suatu daftar, semua tema permasalahan penelitian yang akan anda teliti, yang timbul dalam pikiran anda.Teliti kembali daftar tersebut, untuk menetapkan tema mana yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian yang akan anda laksanakan

(2)                      Untuk itu anda dapat mempertanyakan satu per satu tema permasalahan penelitian dalam daftar tersebut: Apakah permasalahan tersebut cukup penting,atau cukup berarti untuk diteliti?Apakah manfaat meneliti permasalahan tersebut bagi diri anda sendiri;bagi orang lain atau masyarakat?Apakah permasalahan tersebut tidak terlalu luas? Apakah mungkin untuk meneliti permasalahan tersebut ditinjau dari sudut kemampuan anda?;ditinjau dari sudut lama waktu penelitian?;ditinjau dari sudut besarnya biaya yang diperlukan untuk penelitian tersebut?Apakah  permasalahan tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang baru; dalam permasalahan yang dibahas?; dalam cara atau metode yang digunakan, ataupun dalam hasilnya nanti?

(3)                      Melakukan inventarisasi dan evaluasi daftar calon permasalahan seperti di atas paling tidak akan memperjelas permasalahan yang akan anda teliti dan menghilangkan atau mengurangi kesulitan yang mungkin dapat ditimbulkan oleh permasalahan penelitian. Jangan sampai terjadi permasalahan penelitian yang Anda buat justru mendatangkan atau menjadi masalah untuk Anda.Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan anda, mengenai berbagai tulisan yang berkaitan dengan tema permasalahan penelitian tersebut. Bahan-bahan itu nantinya akan sangat bermanfaat ketika anda mulai menuangkannya dalam “studi pustaka” atau penyusunan “kerangka teori” dalam usul penelitian Anda.

(4)                      Setelah bahan terkumpul Anda dapat mulai menyusun kerangka sementara mengenai pokok-pokok yang akan Anda tulis dalam permasalahan penelitian seperti : menyusun dan menuliskan ide-ide pokok yang akan dibahas; dan mencatat berbagai pendapat dari berbagai sumber yang membahas hal-hal yang berkaitan erat dengan tema permasalahan penelitian Anda.

(5)                      Akhirnya, rumuskan dan tuliskan secara lengkap permasalahan penelitian anda dengan sistematis dan logis, yang mencakup hal-hal apa yang melatarbelakangi timbulnya permasalahan penelitian anda tersebut dalam bagian Latar Belakang Masalah kemudian isi permasalahan penelitian anda itu sendiri dalam Rumusan Permasalahan dan kemudian rumuskan pula Tujuan dan Manfaat penelitian yang akan anda lakukan(dimodifikasi dari Malo,2000: 30)

Faktor- faktor yang Memengaruhi Permasalahan Penelitian

Ada beberapa faktor yang akan memengaruhi, terutama dari segi manfaat isi, perumusan atau penetapan suatu permasalahan penelitian, yaitu meliputi hal-hal seperti :

(1)    Paradigma penelitian yang digunakan oleh peneliti;

(2)    Nilai dari penelitian yang bersangkutan

(3)    Kebereaksian (reactivity) dalam pelaksanaan pengumpulan data penelitian yang bersangkutan;

(4)    Metodologi yang digunakan oleh peneliti;

(5)    Satuan analisis yang ditetapkan oleh peneliti;

(6)    Waktu penelitian tersebut dilaksanakan.

Istilah paradigma umumnya dimengerti sebagai suatu cara pandang atau sudut pandang yang digunakan oleh seseorang ataupun sekelompok orang dalam memandang suatu gejala; sehingga berdasarkan paradigma tersebut, seseorang atau sekelompok orang dapat mengartikan gejala yang bersangkutan. Sebagai suatu konsep, istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang diperkenalkan oleh Kuhn kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya Sociology of Sociology ( 1970). Adalah kemudian George Ritzer, yang mencoba merumuskan pengertian paradigma yang telah dikemukakan Kuhn dan Friedrichs dalam karyanya Sociology: A Multiple Paradigm Science (1980). Menurut Ritzer pengertian paradigma adalah :

“Pandangan yang mendasar dari ilmuawan tentang apa yang menjadi pokok permasalahan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahun. Jadi sesuatu yang menjadi pokok persoalan dalam satu cabang ilmu menurut versi ilmuwan tertentu. Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut”

Paradigma dengan demikian, menurut Ritzer, merupakan kesatuan konsensus yang terluas dalam suatu disiplin yang membedakan antara komunitas ilmuwan yang satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan pada pengertian paradigma di atas, dimungkinkan terdapat dua ilmuwan atau peneliti dari dua komunitas yang berbeda mempunyai sudut pandang yang juga berbeda tentang apa yang menjadi fokus perhatian atau permasalahan dari satu gejala sosial yang sama. Pada paradigma yang berbeda, para peneliti bisa saja menggunakan teori-teori, konsep-konsep, atau istilah-istilah yang berbeda, yang kesemuanya itu berdasar pada paradigma yang dianut oleh peneliti.( Penjelasan lebih mendalam beserta contoh kasusnya akan kita pelajari lebih lanjut kelak dalam mata kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi).

Sekedar ilustrasi, di sini dikemukakan suatu fenomena yang sama yakni permasalahan ledakan penduduk (over population), tetapi ditanggapi secara berbeda oleh dua ilmuwan yang berbeda paradigma yakni seorang Malthus dan Marx.Menurut Malthus, ledakan penduduk adalah berkaitan dengan aturan (law) tertentu yakni bertambah menurut aturan deret ukur ( 1,2,4,8,16,32,…….). Sedangkan menurut Marx, ledakan penduduk berkaitan dengan masalah yang berkaitan dengan faham kapitalisme, di mana  kondisi itu akan menimbulkan masalah eksploitasi tenaga kerja manusia. Menurut Marx, permasalahan utama untuk mengatasi ledakan penduduk adalah mengubah kapitalisme menjadi sosialisme melalui class struggle; sedangkan menurut Malthus, untuk mengurangi masalah yang timbul karena ledakan penduduk maka perlu dilakukan moral restraint, refrain from sex dan delay marriage dan sebagainya.

Dalam paradigma tertentu, baik tersirat maupun tersurat tercakup nilai-nilai tertentu. Yang dimaksudkan dengan nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik atau buruk; segala sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan terjadi. Dari contoh dua ahli ilmu sosial, Malthus dan Marx, yang mendasarkan pada dua paradigma yang berbeda, tersirat pertanyaan-pertanyaan bagaimana sesuatu itu “seharusnya”.Semua orang -– termasuk peneliti — mempunyai nilai-nilai tertentu, sebagian mungkin menyadari dan sebagian lain mungkin tidak menyadari nilai-nilai mereka.

Menurut pendapat G. Mc Cain dan E.M. Segal ( dalam Malo, 2000:33), bahwa dalam meneliti suatu gejala, seorang peneliti tidaklah melihat suatu gejala kemudian menginterpretasikan gejala tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalamnnya, tetapi melihat gejala yang telah diinterpretasikan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.Demikianlah dalam melakukan penelitian,seorang peneliti ketika menetapkan dan merumuskan suatu permasalahan, sedikit banyak dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalamannya, termasuk nilai-nilai peneliti yang berbeda. Peneliti yang mempunyai nilai yang berbeda, dapat berbeda pula dalam melihat dan menetapkan fokus perhatian dalam permasalahan penelitian mereka, dalam mengamati satu gejala sosial yang sama.

Hal lain yang dapat memengaruhi penetapan permasalahan penelitian adalah kebereaksian (reactivity) dalam pelaksanaan pengumpulan data suatu penelitian, sehingga data yang hendak dikumpulkan tidaklah sebagaimana yang dimaksudkan dalam permasalahan penelitian yang bersangkutan. Kebereaksian (reactivity) ini, dikenal pula dengan sebutan Hawthorne effect. Sebutan ini diambil dari studi Hawthorn Plant of The Western Electric Company di Chicago di mana keadaan kebereaksian tersebut ditemukan.Dalam studi tersebut, orang-orang yang menjadi objek penelitian studi— yaitu para pekerja perusahan yang bersangkutan— sadar bahwa kehadiran peneliti di lingkungan mereka adalah untuk meneliti tingkah laku mereka sewaktu bekerja. Hal itu menyebabkan tingkah laku mereka tidak terjadi sebagaimana biasanya. Akibat adanya kebereaksian ini dapat memengaruhi maksud dan tujuan permasalahan penelitian yang semula ingin diamati oleh peneliti.

Kemudian yang juga dapat memengaruhi permasalahan penelitian adalah metodologi yang digunakan oleh peneliti.Yang dimaksud dengan metodologi dalam penelitian adalah keseluruhan proses berpikir dari mulai menemukan permasalahan  kemudian penjabaran dalam suatu kerangka teoritis tertentu, serta pengumpulan data bagi pengujian empiris sampai dengan penjelasan dan penarikan kesimpulan gejala sosial yang diteliti.Dengan kata lain, metodologi adalah “filsafat-nya” dari penelitian dan bukan semata-mata cara mengumpulkan data. Metodologi penelitian berbeda dengan metode penelitian. Yang dimaksud dengan metode adalah cara mengumpulkan data dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data dan alat pengumpulan data.

Untuk mengatahui berbagai karakteristik metodologi yang dipakai dalam penelitian mulai dari yang bersifat kuantitatif maupun yang kualitatif kelak akan kita pelajari dalam sub pokok bahasan perbedaan pokok penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Satuan analisis dalam penelitian sosial dapat bervariasi. Untuk penelitian yang mengunakan unit satuan analisis individu atau kelompok-kelompok kecil disebut sebagai penelitian mikro.Mengenai batasan jumlah individu dalam suatu kelompok yang dapat dikategorikan sebagai penelitian mikro memang tidak ada konsensus. Ada yang menggunakan 3 – 5 orang sebagai batasan mikro, tapi ada juga yang lebih. Contoh penelitian mikro ini, misalnya : studi tentang “Kohesi sosial organisasi kedaerahan mahasiswa Unsoed”. Sedangkan penelitian lain yang menggunakan unit satuan analisis yang cukup luas, misalnya bangsa, negara, benua, dan sebagainya. Penelitian yang mencakup banyak individu dan pada wilayah yang luas sekali disebut penelitian makro.Contoh penelitian makro  : studi yang menggunakan sensus data penduduk; atau studi tentang kematian dan kelahiran di negara-negara berkembang.

Bagi sebagian peneliti adakalanya terlebih dahulu menetapkan satuan unit analisis kemudian dijadikan dasar di dalam menetapkan permasalahan penelitian yang dilakukan. Tetapi ada juga yang tidak begitu mempermasalahkan mengenai batasan satuan unit  analisis , yang penting menetapkan permasalahan penelitian terlebih dahulu baru kemudian membuat keputusan berkenaan dengan satuan analisisnya.

Yang terakhir yang dapat memengaruhi penetapan suatu permasalahan penelitian adalah faktor waktu pelaksanaan penelitian yang bersangkutan. Waktu pelaksanaan penelitian biasanya dibedakan berdasarkan pada penelitian atau studi cross sectional dan penelitian atau studi longitudinal, atau biasanya juga disebut penelitian atau studi time series. Suatu penelitian cross sectional merupakan penelitian mengenai sejumlah analisis yang dilihat berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik tertentu, misalnya berdasarkan umur, pendidikan, penghasilan dsb., di mana pelaksanaan pengumpulan datanya dilakukan dalam satu waktu tertentu.Sedangkan penelitian longitudinal merupakan penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan tidak dalam satu waktu, akan tetapi dalam waktu yang berbeda. Dalam penelitian longitudinal seandainya satu permasalahan penelitian yang sama akan dilaksanakan untuk sampel yang sama dalam waktu yang berbeda , biasanya penelitian “longitudinal” yang demikian disebut sebagai panel studi. Sedangkan seandainya satu permasalahan penelitian yang sama akan dilaksanakan untuk sampel yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula, biasanya penelitian “longitudinal” yang demikian itu disebut trend studi.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 18 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: