CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS (CDA)

Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi, titik singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Bagaimana bahasa dipandang dalam analisis wacana. Dalam analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis / CDA), wacana disini tidak dipahami semata sebagai studi bahasa. Pada akhirnya, analisis wacana memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis disini agak berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks disini berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.

 PERBEDAAN ANALISIS WACANA DALAM PARADIGMA POSITIVIS, KONSTRUKTIVIS, DAN KRITIS.

  • PARADIGMA POSITIVIS

Penganut aliran ini, bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek diluar dirinya. Salah satu ciri dari pemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Konsekuensi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantik. Oleh karena itu, tata bahasa, kebenaran sintaksis adalah bidang utama dari aliran positivisme-empiris tentang wacana. Analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana lantas diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran (menurut sintaksis dan semantik).

  • PARADIGMA KONSTRUKTIVIS

Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana. Bahasa dipahami dalam paradigma ini diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Analisis wacana dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makn-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan.

  • PARADIGMA KRITIS

Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Bahasa disini tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak diluar diri si pembicara. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai  representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa, batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat.

KONSEPTUAL TEORITIK YANG MENDASARI ANALISIS

  • WACANA   IDEOLOGI

Makna itu diproduksi secara dinamis, baik dari sisi pembuat maupun khalayak pembaca. Keduanya memiliki andil dalam proses pemaknaan, pada titik inilah ideologi bekerja. Menurut Raymond William mengklasifikasikan penggunaan ideologi tersebut dalam tiga ranah yaitu:

a. Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok kelas tertentu.

Definisi ini terutama dipakai oleh kalangan psikologi yang melihat ideologi sebagai seperangkat sikap  yang dibentuk dan diorgnisasikan dalam bentuk yang koheren.  Ideologi bukan sistem unik yang dibentuk oleh pengalaman seseorang, tetapi ditentukan oleh masyarakat di mana ia hidup, posisi sosial dia, pembagian kerja, dan sebagainya.

b. Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat, ide palsu atau kesadaran palsu yang bisa dilawankan dengan pengetahauan ilmiah.

Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu di mana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain yang tidak dominan. Di sini, ideologi disebarkan lewat berbagai instrumen dari pendidikan, politik, sampai media massa.  Ideologi di sini bekerja dengan membuat hubungan-hubungan sosial tampak nyata, wajar, dan alamiah, dan tanpa sadar kita menerima kebenaran.

c. Proses umum produksi makna dan ide.

Ideologi di sini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna.  Di sini, ada suatu proses produksi makna dan ide yang terlihat jelas dalam teks dengan berbagai komentar yang ada, dan diterima apa adanya tanpa dipertanyakan.

  • INTERPELASI

Ideologi dalam pengertian Althusser selalu memerlukan subjek, dan subjek memerlukan ideologi. Ideologi adalah hasil rumusan dari individu-individu tertentu. Keberlakuannya menuntut tidak hanya kelompok yang bersangkutan akan tetapi selain membutuhkan subjek ideologi juga menciptakan subjek. Usaha inilah yang dinamakan interpelasi. Ideologi dalam pandangan Althusser bukan hanya membutuhkan subjek tetapi juga menciptakan subjek. Dengan kata lain ideologi menempatkan seseorang bukan hanya posisi tertentu dalam suatu relasi sosial, tetapi juga hubungan antara individu dengan relasi sosial tersebut. Dan relasi tersebuat adalah imajiner karena ia bekerja melalui pengenalan atau pengakuan dan identifikasi untuk menempatkan atau menyapa seseorang dalam posisi seseorang. Ideologi menginterpelasi individu sebagai subjek dan menempatkan seseorang dalam posisi tertentu. Konsep interpelasi adalah konsep yang penting dalam dunia komunikasi. Semua tindakan komunikasi, menurut John Fiske, pada dasarnya menyapa seseorang, dan dalam penyapaan atau penyebutan itu selalu terkandung usaha menempatkan seseorang dalam posisi dan hubungan sosial tertentu. Dalam penyapaan dan penyebutan itu dan dalam menanggapi komunikasi, kita berpartisipasi dalam lingkungan sosial kita, dan lebih ideologis, konstruksi. Semua tindakan komunikasi pada dasarnya adalah proses interpelasi yang menempatkan individu dalam subjek tertentu. Dua konsekuensi dari penyapaan dan komunikasi ini adalah pertama, bagaimana wartawan atau lebih luas media menempatkan khalayak pembacanya dalam posisi tertentu. Kedua, bagaimana khalayak menempatkan dirinya dalam kisah dan berita yang disajikan media.

  • REPRESENTASI

Istilah representasi sendiri menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Representasi ini penting dalam dua hal. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebutditampilkan sebagaimana mestinya. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat, aksentuasi, dan bantuan foto macam apa seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak. Persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana realitas atau objek tersebut ditampilkan? Pada level pertama, adalah peristiwa yang ditandakan sebagai realitas. Pada level kedua, bagaimana realitas itu digambarkan. Pada level ketiga, bagaimana peristiwa tersebut diorganisir ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis.

TOKOH-TOKOH YANG TERKAIT DENGAN KONSEPTUAL TEORITIK YANG MELANDASI ANALISIS WACANA

  • ALTHUSSER

Inti dari gagasan Althusser adalah mengkombinasikan teori narsis dan psikoanalisis. Ada dua gagasan Althusser, pertama mengenai interpelasi yang berhubungan dengan pembentukkan subjek ideologi dalam masyarakat. Argumentasi dasarnya adalah organ yang secara tidak langsung mereproduksi kondisi-kondisi produksi dalam masyarakat. Gagasannya yang kedua adalah mengenai kesadaran. Kalau interpelasi berhubungan dengan begaimana individu ditempatkan sebagai subjek dalam tata sosial, maka kesadaran berhubungan dengan penerimaan individu tentang posisi-posisi itu sebagai suatu kesadaran. Mereka menerima hal itu sebagai suatu kenyataan, suatu kebenaran.

  • FOUCAULT

Konsep Foucault mengenai wacana adalah bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi, dan apa efek dari produksi wacana. Salah satu yang menarik dari konsepnya adalah tesisnya mengenai hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Kuasa menurutnya tidak dimiliki tetapi dipraktekkan dalam suatu ruang lingkup dimana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu sama lain. Kuasa tidak datang dari luar tetapi menentukan susunan, aturan-aturan, dan hubungan-hubungan itu dari dalam. Kekuasaaan baginya, selalu terakulasikan lewat pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kuasa. Penyelenggaraan kekuasaan menurutnya slalu memproduksi pengetahuan sebagai basis dari kekuasaannya. Hampir tidak mungkin kekuasaan tanpa ditopang oleh suatu ekonomi politik kebenaran. Konsepnya ini membawa konsekuensi untuk mengetahui kekuasaan dibutuhkan penelitian mengenai produksi pengetahuan yang melandasi kekuasaan. Karena setiap kekuasaan disusun, dimapankan, dan diwujudkan lewat pengetahuan dan wacana tertentu. Wacana tertentu menghasilkan kebenaran dan pengetahuan tertentu yang menimbulkan efek kuasa. Kebenaran bukan suatu yang abstrak, tetapi ia diproduksi, setiap kekuasaan menghasilkan dan memproduksi kebenaran sendiri melalui mana khalayak digiring untuk mengikuti kebenaran yang telah ditetapkan tersebut. Menurut nya kuasa tidak bersifat subjektif. Kuasa tidak bekerja secara negatif dan represif, melainkan dengan cara positif dan produktif. Strategi kuasa bekerja melalui normalisasi dan regulasi, menghukum dan membentuk publik yang disiplin. Publik tidak dikontrol lewat kekuasaan yang sifatnya fisik tetapi dikontrol, diatur, dan didisiplinkan lewat wacana. Kekuasaan dalam pandangaannya disalurkan melalui hubungan sosial, dimana memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagi baik atau buruk, sebagai bentuk pengendalian perilaku lebih dari secara sederhana digambarkan sebagai bentuk restriksi.

  • ROGER FOWLER, ROBERT HODGE, GHUNTER KRESS, DAN TONY TREW

Dalam membangun model analisisnya Roger Fowler, dkk mendasarkan pada penjelasan Halliday mengenei struktur dan fungsi bahasa. Fungsi dan struktur bahasa ini menjadi dasar struktur tata bahasa, dimana tata bahasa itu menyediakan alat untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Yang dilakukan oleh Roger dkk, adalah meletakkan tata bahasa dan praktik pemakaiannya tersebut untuk mengetahui praktik ideologi. Yang menjadi titik perhatian penganalisisan teks berita dengan memakai kerangka yang dibuat oleh Fowler, dkk adalah pada praktik pemakaian bahasa yang dipakai. Ada dua hal yang dapat diperhatikan:

a. Kata

Kata-kata yang digunakan bukan hanya penanda atau identitas tetapi dihubungkan dengan ideologi tertentu, makna apa yang ingin dikomunikasikan pada khalayak, serta pihak-pihak yang diuntungkan dan mana pihak yang dirugikan dengan pemakaian kata tersebut.

b.   Susunan Kata / Kalimat

Yang ditekankan disini ialah bagaimana pola pengaturan, penggabungan, penyusunan tersebut menimbulkan efek tertentu, apakah membuat satu pihak diuntungkan atau punya citra positif dibandingkan pihak lain atau peristiwa tertentu dipahami dalam katagori tertentu yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan kategori pemahaman lain.

  • THEO VAN LEEUWEN

Leeuwen memeprkenalkan model analisis wacana untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu keompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Bagaimana suatu kelompok dominan lebih memegang kendali dalam menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya, sementara kelompok lain yang posisinya rendah cenderung untuk terus menerus sebagai objek pemaknaan, dan digambarkan secara buruk. Analisis Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua pusat perhatian yaitu:

a. Proses pengeluaran (exclusion).

Apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan, dan strategi wacana apa yang dipakai untuk itu. Proses pengeluaran ini secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan melitimasi posisi pemahaman tertentu.

b. Proses pemasukan (inclusion).

Inclusion berhubungan dengan pertanyaan bagaimana masing-masing pihak atau kelompok itu ditampilkan dalam pemberitaan. Proses inclusion ini juga menggunakan strategi wacana dengan memakai kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk kalimat tertentu, cara bercerita tertentu, masing-masing kelompok direpresentasikan dalam teks.

  • PERBEDAAN KARAKTERISTIK ANALISIS ISI MEDIA YANG KONVENSIONAL DENGAN ANALISIS WACANA KRITIS

Pembeda

Analisis isi

Analisis wacana kritis

Sifat

Kuantitatif

Kualitatif

Teks atau pesan yang diteliti

Teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata)

Teks komunikasi yang bersifat laten (tersembunyi)

Kualitas pesan

Hanya mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what)

Lebih kepada “bagaimana ia dikatakan” (how)

Tujuan

Melakukan generalisasi, bahkan melakukan prediksi

Tidak untuk melakukan generalisasi

MODEL-MODEL ANALISIS WACANA KRITIS

  • SARA MILLS

Titik perhatian Sara Mills terutama pada wacana mengenai feminisme yaitu bagaimana wanita ditampilkan dalam teks, baik dalam novel, gambar, foto, ataupun dalam berita. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Sara Mils sering juga disebut sebagai perspektif feminis. Titik perhatian dari perspektif wacana feminis adalah menunjukkan bagaimana teks bias dalam menampilkan wanita. Sara Mills lebih melihat pada bagaimana posisi-posisi aktor ditampilkan dalam teks. Selain posisi-posisi aktor dalam teks, Sara Mills juga memusatkan perhatian pada bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Sehingga pada akhirnya cara penceritaan dan posisi-posisi yang ditampilkan dan ditempatkan dalam teks ini membuat satu pihak menjadi legitimate dan pihak lain menjadi illegimate.

A.  Posisi: Subjek-Objek

Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan, atau peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana berita yang mempengaruhi pemaknaan ketika diterima oleh khalayak. Mills lebih menekankan pada bagaimana posisi dari berbagai aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa itu ditempatkan dalam teks, posisi tersebut pada akhirnya menentukan bentuk teks yang hadir ditengah khalayak.Wacana media bukanlah sarana yang netral, tetapi cenderung menampilkan aktor tertentu sebagai subjek, yang mendefinisikan peristiwa atau kelompok tertentu. Posisi itulah yang menetukan semua bangunan unsur teks, dalam arti pihak yang mempunyai posisi tinggi untuk mendefinisikan realitas akan menampilkan peristiwa atau kelompok lain dalam bentuk struktur wacana tertentu yang akan hadir pada khalayak.

B.  Posisi Pembaca

Bagaimana posisi pembaca ditampilkan dalam teks. Dalam suatu teks posisi pembaca sangatlah penting dan haruslaah diperhitungkan dalam teks. Model yang diperkenalkan Mills, teks adalah suatu hasil negosiasi antara penulis dan pembaca. Oleh karena itu, pembaca disini tidaklah dianggap semata sebagai pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melakukan transaksi sebagaimana akan terlihat akan teks. Bagi Mills, membangun suatu model yang menghubungkan antara teks dan penulis disatu sisi dengan teks dan pembaca disisi lain, mempunyai sejumlah kelebihan.

  1. Akan secara komprehensif melihat teks bukan hanya berhubungan dengan faktor produksi tetapi juga resepsi.
  2. Posisi pembaca disini ditempatkan dalam posisi yang penting. Hal ini karena teks memang ditujukan secara langsung atau tidak berkomunikasi dengan khalayak.

Berita bukanlah semata hasil produksi dari awak media atau wartawan, dan pembaca tidaklah ditempatkan semata sebagai sasaran, karena berita adalah hasil negosiasi wartawan dengan pembaca. Oleh karena itu, dalam mempelajari konteks tidak cukup hanya konteks dari sisi wartawan, tetapi perlu juga mempelajari konteks dari sisi pembaca.

C. Kerangka Analisis

Sara Mills dengan memakai analisis Althusser lebih menekankan bagaimana aktor diposisikan dalam teks. Posisi ini dilihat sebagai bentuk pensubjekan seseorang: satu pihak mempunyai posisi sebagai penafsir sementara pihak lain yang menjadi objek yang ditafsirkan. Secara umum, ada dua hal yang diperhatikan dalam analisis.

  1. Bagaimana aktor sosial dalam berita tersebut diposisikan dalam pemberitaan sapa pihak yang diposisikan sebagai penafsir dalam teks untuk mamaknai peristiwa dan apa akibatnya.
  2. Bagaimana pembaca diposisikan dalam teks. Teks berita dimaknai disini sebagai hasil negosiasi antara penulis dan pembaca. Disini tentu saja bisa bermakna khalayak macam apa yang diimajinasikan oleh penulis untuk ditulis.
  • TEUN VAN DJIK

Model yang dipakai oleh van Dijk sering disebut sebagai “kognisi sosial”.  Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Perlu juga dilihat bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga kita memperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bisa semacam itu.  Wacana oleh van Dijk mempunyai tiga dimensi/bangunan: teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.  Inti analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu satuan analisis.  Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks  dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan tema tertentu.  Pada level kognisi sosial, dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan koteks sosial, mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah.

A.  Analisis Sosial

Kognisi sosial merupakan dimensi untuk menjelaskan bagaimana suatu teks diproduksi oleh individu/kelompok pembuat teks. Cara memandang atau melihat suatu realitas sosial itu yang melahirkan teks tertentu.  Analisis sosial melihat bagaiman teks itu dihubungkan lebih jauh dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat atas suatu wacana.  Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara bersama-sama dalam analisis van Dijk.

B. Teks

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya dalam tiga tingkatan.  Pertama, struktur makro: makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur merupakan struktur wacana berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh.  Ketiga, struktur mikro, adalah makana wacana yang dapat diamati dari bagian kecil suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, dan gambar.

  • NORMAN FAIRCLOUGH

Analisis Norman Fairclough, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro.  Dia berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual dengan konteks masyarakat yang lebih luas.  Titik perhatiannya adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan.  Bahasa secara sosial dan historis adalah bentukan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial.  Analisis harus dipusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.  Bahasa sebagai praktik sosial mengandung sejumlah implikasi.

Pertama, wacana adalah bentuk tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk representasi ketika melihat dunia atau realitas.

Kedua, model mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.  Analisa teks menurut Fairclough dilihat dari tiga unsur berikut :

Unsur

Yang ingin dilihat

Representasi

Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks

Relasi

Bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks

Identitas

Bagaimana identitas wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam tek
  • PERBANDINGAN MODEL-MODEL ANALISIS WACANA

Persamaan model-model analisa wacana di atas : pertama, ideologi menjadi bagian yang sentral bahkan bagian terpenting dari analisi semua model.  Kedua, semua model berpandangan kekuasaan menjadi bagian yang sentral dalam setiap analisis.  Ketiga, semua model berpandangan bahwa wacana dapat dimanipulasi oleh kelompok dominan atau kelas yang berkuasa dalam masyarakat untuk memperbesar kekuasaannya. Keempat, unit bahasa untuk mendeteksi ideologi dalam teks.  Perbedaan terutama terletak pada bagaimana hubungan antara teks dengan konteks sosial masyarakat.  Secara umum ada tiga tingkatan analisis dalam analisis wacana yaitu: mikro, meso, dan makro. Analisis mikro yaitu analisis pada teks semata yang dipelajari terutama unsur bahasa yang dipakai  Analisis meso yakni analisis pada diri individu sebagai penghasil teks, terrmasuk juga analisis pada sisi khalayak sebagai konsumen teks. Analisis makro yakni analisis struktur sosial ekonomi, politik, dan budaya masyarakat. Model Roger Fowler, Robert Hodge, Gunther Kress, Tony Trew Theo van Leeuwen, Sara Mills, menggunakan tingkat analisis mikro dan makro, sedangkan Van dijk dan Norman Fairclough menggunakan analisis mikro, meso, dan makro.

Model Roger Fowler dkk, dan Theo Van Leeuwen memusatkan analisisnya terutama pada keterkaitan pada analisis ditingkat makro dan analisis di tingkat mikro. Sementara model Sara Mills dipertanyakan bagaimana subjek membentuk dan memposisikan subjek pada posisi tertentu. Bagaimana pembaca ditempatkan dalam relasi sosial tertentu yang seringkali timpang dalam hubungan sosial. Pada model van Dijk dan Fairclough bukan semata memasukkan konteks sebagai variabel penting dalam analisis tetapi juga analisis pada tingkat meso, bagaimana konteks itu diproduksi dan dikonsumsi. Baik Van Djik maupun Fairclough menyadari adanya kesenjangan yang besar diantara teks yang sangat mikro dan sempit dengan masyarakat yang luas dan besar. Analisis wacana pad dasarnya ingin memperlihatkan bagaimana pertarungan-pertarungan kekuasaan yang ada di masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Eriyanto. 2001, Analisis Wacana- Pengantar Analisis Teks Media, LKIS, Yogyakarta

Sobur, Alex. 2001, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, Remaja Rosdakarya, Bandung.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 18 Agustus 2011.

2 Tanggapan to “CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS (CDA)”

  1. salut akan tulisan ini. menyajikan dalam bahasa yang lugas populer dan mudah dimengerti. MOhon ijin mengutip dan saya sertakan sumber dari “sinau komunikasi”.. nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: