THEORIES OF SYMBOLIC INTERACTION, STRUCTURATION, AND CONVERGENCE & THEORIES OF SOCIAL AND CULTURAL REALITY

PENGANTAR

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Berbeda dengan pokok bahasan dalam chapter-chapter sebelumnya (khususnya ch.6 dan 7 ) maka dua chapter berikut ini tidak lagi berfokus pada aspek psikologi ( cognitif) dalam menjelaskan tentang makna komunikasi. Dalam dua kelompok teori yang akan kita pelajari ini, makna sebuah komunikasi lebih ditempatkan pada lokus sosial. Lebih spesifik, teori-teori berikut memahami makna sebagai hasil dan dipelihara dalam sebuah interaksi antar kelompok-kelompok sosial masyarakat.Interaksi itu dibentuk, dipelihara dan juga berubah melalui sebuah konvensi yang berlaku dalam sebuah kelompok sosial atau budaya tertentu. Konvensi ini – meliputi aturan, norma,peran dan makna pada gilirannya akan menentukan realitas dalam sebuah kebudayaan itu sendiri.

PERBEDAAN POKOK ANTARA KELOMPOK TEORI CHAPTER 8 DAN CHAPTER 9

KELOMPOK TEORI

THESIS

THEORIES OF SYMBOLIC INTERACTION,STRUCTURATION, AND CONVERGENCE

 

MAKNA DALAM KOMUNIKASI DIBENTUK,DIPELIHARA DAN BERUBAH DALAM SEBUAH INTERAKSI ANTARA KELOMPOK SOSIAL MASYARAKAT
THEORIES OF SOCIAL AND CULTURAL REALITY  MAKNA ATAU REALITAS(ATURAN DAN BUDAYA) ADALAH BENTUKAN SOSIAL/KONSTRUKSI SOSIAL

THEORIES OF SYMBOLIC INTERACTION,

STRUCTURATION, AND CONVERGENCE

ADA TIGA TEORI POKOK :

  1. SYMBOLIC INTERACTION = KEY WORD society, self dan mind; social act; meaning; generalized other; significant other
  • § Pernjelasan konseptual pokok
  • § Makna /meaning merupakan konsep utama dalam teori interaksi simbolik dan dipahami sebagai hasil dari interaksi.
  • § Tokoh utama pengembang teori ini adalah Mead yang lekat dengan tiga rangkaian konsep society – self dan mind.
  • § MIND Menurut Mead :
  • § MIND adalah proses dan bukan struktur.
  • § MIND berkaitan dengan penggunaan simbol – simbol untuk merujuk pada objek.
  • § MIND berkaitan dengan upaya pencarian alternatif dalam sebuah action.
  • § Manusia melakukan proses penyusunan bahasa tubuh sebagai sarana komunikasi dan dikaitkan dengan makna yang dipahami umum, dan dengan itu seseorang berupaya mengutarakan keinginan atau hasratnya dengan tujuan orang lain melakukan sesuatu menurut keinginan si komunikator
  • § Kita senantiasa memahami dan menerjermahkan bahasa tubuh yang dipakai orang-orang lain yakni orang –orang dengan siapa kita harus bekerjasama agar dapat bertahan hidup
  • § Manusia memiliki kemampuan untuk menempatkan diri kita ke dalam posisi orang lain serta “mengambil peran sebagai orang lain”
  • § SELF menurut Mead :
  • § Manusia memiliki kemampuan untuk menampilkan dirinya sendiri sebagai objek sebagai dasar untuk melakukan penilaian dan evaluasi atas ( tindakan ) dirinya
  • § Kita – manusia, merupakan gambaran diri kita sendiri sebagai objek dan dengan mekanisme inilah kita bisa mengembangkan konsep diri kita
  • § Manusia adalah pelaku peran dan melalui permainan atas peran inilah kita bisa melahirkan asumsi-asumsi atas diri orang lain,  di mana tahap pertama adalah menjalankan peran kita, kedua, kita memasuki sebuah permainan di mana kita melakukan aktivitas secara bersama-sama, belajar bekerja sama dan mengenal aturan mainnya. Terakhir kita, “kita mengambil peran dari orang-orang atau mengambil peran tertentu dalam masyarakat serta bersikap sebagaimana dikehendaki masyarakat di mana kita berada”
  • § SOCIETY menurut MEAD:
  • § SOCIETY atau masyarakat adalah representrasi dari pola-pola interaksi yang terorganisir yang berasal dari berbagai individu yang beragam, ini bisa terjadi karena adanya kemampuan dari pikiran ( mind ) kita  di mana kita bisa mengambil peran sebagai orang lain dan mengambil suatu pilihan tindakan pada waktu kita melakukan aktivitas terkoordinir tersebut.Masyarakat dengan demikian bergantung pada kemampuan diri setiap individu untuk melakukan evaluasi atas dirinya sendiri.  Masyarakat dan institusi-institusi di dalamnya dipelihara, namun masyarakat juga senantiasa berubah dan terjadi berbagai perubahan di dalamnya.
  • § Sumbangan MEAD terhadap Interaksi simbolik lainnya adalah konsep analitisnya dalam skala mikro sebagai berikut:
  • § Symbol : sesuatu yang mewakili sesuatu yang lainnya; terkait dengan sistem pemaknaan dalam masyarakat tertentu yang kompleks
  • § Sign : sesuatu yang mewakili dirinya sendiri
  • § Act : unit dasar sebuah analisis di dalam paradigma interaksi simbolik.
  • § Significant symbol : sejenis bahasa tubuh yang hanya bisa diciptakan oleh manusia.  Suatu bahasa tubuh ( gesture ) bisa menjadi significant symbols manakala dia muncul dalam diri individu dan gesture itu juga dimaknai secara sama oleh orang lain sebagaimana dikehendaki oleh si pengirim gesture.
  • § Generalized other : sejenis kumpulan sikap/perspektif yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.Seseorang dapat melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari suatu msyarakat  dengan cara memiliki pemahaman yang di miliki bersama dalam masyarakat tersebut.
  • § I dan Me; I bersifat  impulsif, tidak terencana, tidak terkendali dan merupakan hal yang tak terduga dalam diri seseorang. I merupakan response spontan terhadap orang lain.
  • § Me merupakan adopsi dari generalized other dan terdiri dari pola-pola yang teratur dan konsisten yang dipahami bersama.Me sudah terkendali dan berfungsi sebagai pengarah terhadap respons yang bermulai dari respon dalam I tadi.
  1. Structuration theory
  • § Teori ini mencoba memberikan penjelasan dalam hubungan interaksi mikro dam makro sosial.
  • § Dikembangkan oleh Anthony Gidden, teori ini menganggap tindakan manusia merupakan proses memproduksi dan reproduksi berbagai sistem sosial.Komunikasi melakukan strategi menurut aturan tertentu guna mencapai tujuannya dan karenanya menghasilkan sebuah struktur yang dikemudian hari akan menentukan tindakan yang dilakukan.
  • § Dalam sebuah struktur, senantiasa terdapat  hubungan saling  pengaruh mempengaruhi dalam sebuah tindakan sosial di antara peran kelompok, norma , jaringan komunikasi dan institusi sosial
  • § Gidden mencoba mengajukan teori yang menengahi dalam perdebatan antara yang meyakini bahwa tindakan sosial manusia itu lebih pengaruhi oleh faktor luar dan pandangan yang sebaliknya.Ia menyatakan bahwa kedua sisi pengaruh itu sama benarnya karena sejatinya kehidupan sosial itu bagaikan dua sisi dalam sekeping uang.
  • § Gidden meyakini bahwa dalam strukturasi selalu melibatkan tiga dimensi utama: Pertama, interpretasi atau pemahaman; Kedua, kemampuan mencandra adanya moralitas atau tindakan yang tepat dalam konteks tertentu; Ketiga, pengenalan akan adanya kuasa dalam sebuah tindakan.
  • § Hingga sekarang teori Gidden ini masih senantiasa membawa polemik, namun inilah satu teori menarik yang menggambarkan betapa dinamisnya kekuatan mikro dan makro dalam kehidupan sosial
    • § Dikembangkan oleh Ernest Bormann dkk, teori ini dikenal juga sebagai fantasy-theme analysis. Teori ini mengasumsikan bahwa gambaran seseorang terhadap realitas itu tercermin dari keyakinan dia akan sesuatu yang nampak dari “kisah”atau Story yang terbentuk lewat interaksi simbolik antara kelompok-kelompok kecil, dan mengikat dari satu orang dengan orang lain, dari satu kelompok dengan kelompok lain.Kosah atau story di sini bisa dikatakan sebagai pokok persoalan atau keyakinan akan pentingnya sesuatu pokok persoalan sehingga acapkali dibicarakan dalam sebuah percakapan kelompok.
    • § Terdapat beberapa konsep pokok dalam teori ini:
    • § Rhetorical vision yakni pandangan bagaimana sesuatu itu seharusnya terjadi. Ini bukan merupakan hasil pengalaman pribadi namun merupakan hasil dari reproduksi simbolik.
    • § Fantasy themes  meliputi karakter/tokoh,jalinan cerita, seting keadaan, dan santioning agent. Karakter berarti tokoh atau sosok yang dianggap sebagai hal yang penting/hero.Santioning agent adalah sumber legitimasi yang melandasi pembenaran sebuah story/
    • § Secara umum teori ini sebenarnya hanyalah mencoba menggambarkan bagaimana proses terjadinya pemaknaan realitas oleh individu. Bila dalam Interaksi simbolik prosesnya terjadi dalam skala mikro, maka dalam teori ini prosesnya terjadi dalam skala kelompok. Kongkritnya, setiap kali seseorang itu memasuki dalam sebuah kelompok maka sudah barang tentu akan senantiasa terjadi semacam obrolan atau pembicaraan atau saling bertukar kisah / story. Apa yang dianggap penting untuk diperbincangkan itulah yang disebut sebagai fantasy themes. Dalam setiap topik kisah itu tentu akan senantias ditemui tokoh/karakter yang dianggap tokoh, juga ada dalam sebuah seting tertentu dan akhirnya ada dalam bingkai legitimasi tertentu misalnya yang menjadi sumber legitimasi itu adalah hal yang bersifat religius, atau politik atau keadilan dst.
  1. Symbolic Convergence Theory

CATATAN :

  1. Kelompok teori yang kita pelajari dalam bab ini sebenarnya hanya mengatakan bahwa makna atau relaitas itu tercipta karena interaksi. Dalam skala yang mikro proses interaksi sehingga menghasilkan sebuah makna realitas itu tercermin dalam teori Interaksi simbolik. Sementara Teori Strukturasi mencoba mengemukakan bahwa jalinan yang terbentuk antara kekuatan mikro dan makro merupakan hubungan yang timbal balik. Seseorang dalam memaknai dunianya bisa dikarenakan pengaruh atas struktur di luar dirinya. Sebaliknya, karena tindakan yang dilakukan oleh orang per orang dan kemudian terpola akhirnya akan menjadi tindakan sosial dan ujungnya akan menghasilkan struktur luar. Begitu seterusnya.Terakhir, teori konvergensi simbolik. Satu-satunya teori yang unik karena mencoba mengemukakan pentingnya faktor narasi atau penceritaan dalam komunikasi. Bahwa apa yang sering dibicarakan dan dianggap penting dalam sebuah konteks kelompok itu akhirnya akan mereproduksi makna simbolik dan akhirnya akan menentukan makna atau realitas seseorang.
  2. Teori yang kita pelajari ini seperti halnya teori-teori sebelumnya tidak pernah lepas dari kelemahan dan keterbatasan. Interaksi simbolik misalnya, meski dianggap fenomenal karena melihat makna sebuah komunikasi senantiasa dalam konteks ikatan atau interaksi dengan orang lain — jadi lebih realistis dinanding pendekatan yang terlalu kognitivis individual statis misalnya — ternyata juga membawa kesulitan di dalam operasionalisasi kajian lapangannya. Konvergensi simbolik juga tak luput dari kritikan karena teori ini juga tidak jelas membedakan antara konteks di mana teori ini akan diterapkan, dalam kelompok kecil, audience massa atau publik. Juga teori ini terlalu menempatkan keandalan pengamatan subjektif penelitinya
  3. Meski demikian teori –teori ini tetap saja bermanfaat di dalam kita mencoba memahami fenomena komunikasi yang makin tidak bisa jika hanya diteropong dari satu perspektif saja. Perspektif interaksional adalah salah satu yang patut dipertimbangakan.

THEORIES OF SOCIAL AND CULTURAL REALITY

  • § Tokoh utama teori ini : Peter Berger dan Thomas Luckmann
  • § Asumsi dasar teori ini :
  1. komunikasi sebagai tindakan yang bersikap sukarela
  2. pengetahuan adalah produk sosial
  3. pengetahuan bersifat kontekstual
  4. teori menghasilkan/menentukan dunia/realitas
  5. ilmu senantiasa dilekati oleh nilai
  • § teori dilihat dari perspektif komunikasi
  1. Social Construction of Reality menempatkan komunikasi sebagai sebuah perspektif, ketimbang sebagai sebuah subject matter
  2. bagaimana teori ini memandang sebuah objek? Seseorang memakai komunikasi sebagai perspektif manakala dia memandang sesuatu dengan suatu istilah sebagaimana objek tersebut dikonstruksikan lewat sebuah interaksi di antara orang-orang.
  3. Model Pearce tentang resources dan practices. Resources adalah segala sesuatu yang menjadi bangunan dalam kehidupan seseorang ( ide, nilai,kisah,simbol,makna,institusi dll yang dipakai untuk membentuk realitas hidup seseorang ). Practices adalah apa yang seseorang lakukan sehubungan dengan resources tadi ( perilaku, bentuk-bentuk ekspresi, tindakan )Resources dan practices terkait dalam interaksi seseorang dengan orang-orang lain )
  • § Self:
  1. Rom Harre menekankan pada kajian mengenai bagaimana seseorang menjelaskan perilakunya dalam situasi tertentu.
  2. Konsep Harre dll tentang Ethogeny : studi tentang bagaimana kita memahami tindakan melalui potongan-potongan dari sebuah tindakan yang bisa diperkirakan.Potongan-potongan tindakan itu disebut episodes yakni sebuah peristiwa yang memuat awalan dan akhiran di mana bisa dimaklumi oleh kebanyakan orang.
  3. konsep tentang Self: “saya mempelajari diri saya melalui teori yang mendefinisikan diri saya sendiri”Ada dua sisi dalam personal seseorang : Person (public ), keberadaan seseorang yang bisa terlihat oleh umum yang dicirikan oleh atribut-atribut dan karakteristik yang mapan dalam sebuah kebudayaan atau kelompok sosial. Self ( Private ) Gambaran pribadi saya atas diri saya sendiri.
  4. Self terdiri dari beberapa elemen yang bisa dilihat secara terpisah menurut dimensi berikut : Display( aspek tertentu dalam diri saya yang saya biarkan tertutup atau bisa dilihat oleh orang lain),Realization(tingkatan di mana gambaran tentang diri saya berasal dari diri saya sendiri atau dari kelompok atau orang-orang di sekeliling saya ),Agency(tingkatan keaktifan yang mendukung atribusi diri saya )

DUA TEORI YANG MASIH TERGABUNG DALAM KELOMPOK TEORI REALITAS SOSIAL DAN KULTURAL INI ADALAH Coordinated Management of Meaning dan Elaborated & Restricted Codes

COORDINATED MANAGEMENT OF MEANING

  • § Dikembangkan oleh Barnett  Pearce dan Vernon Cronen dkk
  • § Termasuk teori yang komprehensif karena di dalamnya mencakup beberapa teori antara lain : System Theory,Symbolic Interaction Theory,Ethogeny,Speech Act dan Relational Communication
  • § Inti teori ini  adalah bahwa“saya berlaku dan menginterpretasikan sesuatu menurut aturan yang ada”
  • § Ada dua aturan yang ada : Constitutive Rules ( aturan tentang makna, digunakan untuk menginterpretasikan atau memahami sesuatu peristiwa atau pesan ) dan Regulative rules (aturan tentang tindakan,digunakan untuk menentukan bagaimana seharusnya saya merespon )
  • § Aturan aturan tersebut senantiasa melekat dalam sebuah konteks ( yaitu kerangka acuan yang dipakai untuk menginterpetasikan sesuatu )
  • § Proses Koordinasi. Yang dimaksud koordinasi adalah keterlibatan dalam sebuah paduan dari tindakan yang saya lakukan dengan yang dilakukan oleh orang lain  sehingga menjadi sebuah tahapan tindakan yang bisa dianggap sesuai atau masuk akal.
  • § Dengan demikian penerapan teori ini memungkinkan seseorang bisa melakukan koordinasi tindakan yang sempuran dengan orang lain meski seseorang tersebut tidak sepenuhnya memahami seseorang yang liannya.

ELABORATED & RESTRICTED CODES

  • § Didasarkan oleh kajian Barnstein
  • § Menunjukkan bagaimana struktur bahasa yang digunakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari merefleksikan dan membentuk asumsi asumsi terhadap kelompok sosial.
  • § Asumsi dasar teori ini :
  1. hubungan yang terbentuk di dalam kelompok sosial mempengaruhi tipe ujaran yang digunakan oleh suatu kelompok
  2. struktur ujaran yang digunakan oleh sesuatu kelompok menjadikan suatu objek itu dianggap penting atau tidak.
  3. seseorang mempelajari tempat dimana saya tinggal dengan melihat kode-kode bahasa yang saya gunakan.
  • § Yang dimaksud dengan Codes adalah seperangkat prinsip yang melatarbelakangi bahasa yang digunakan oleh anggota suatu kelompok sosial. Ada dua jenis codes:
  • § Elaborated Codes( menyajikan berbagai macam cara untuk menyampaikan sesuatu, lebih komppleks, membutuhkan lebih banyak perencanaan, cocok untuk kelompok yang tidak saling berbagai asumsi dengan sesama)
  • § Restricted Codes ( pilihan-pilihan ungkapannya lebih sedikit, mudah dalam memprediksikan bagaimana sesuatu akan terjadi, cocok untuk kelompok yang saling berbagai asumsi atau memiliki  persepsi yang saling sama )
  • § Sampai di sini saya tidak akan mengambil detil teori untuk dijabarkan semua namun cukup menarik benang merah bahwa isu pokok dalam teori konstruksi sosial dan budaya ini adalah sebuah pertanyaan retoris demikian : “ Apakah komunikasi merupakan sarana yang secara akurat dipakai untuk mengkomunikasikan  dunia atau ia sebagai sarana di dalam mana justru dunia itu sendiri didefinisikan ?

CATATAN :

  1. tidak semua detil teori dalam bab ini saya uraikan, namun setiodaknya dari beberapa catatan ini bisa ditarik kesimpulan bahwa Social dan Cultural Reality sangat menekankan pentingnya interpretasi sosial dan cultural bahkan secara ekstrem bisa dikatakan bahwa realitas itu tidak semata objektif melainkan merupakan hasil dari kontruksi sosial. Teori ini memang tidak mengingkari adanya objek fisik namun teori ini tidak hanya melihat sesuatu objek terpisah dari maknanya bagi individu atau sosial.
  2. yang kedua teori ini juga menekankan makna komunikasi itu kontekstual, di mana ada semacam rules yang mengikat bagaiamana seseuatu itu dimaknai bahkan bagaimana sesuatu itu direspons.
  3. hingga sekarang sepanjang pengetahuan penulis teori ini juga tak sepi dari polemik, namun kehadirannya dalam bagian teori komunikasi justru semakin menyadarkan saya bahwa rupanya kriteria baik tidak sebuah teori bukan karena ia memiliki standar kriteria yang bisa mencakup semua melainkan dilihat dari kemampuannya untuk memperkaya pengalaman manusia dalam memahami fenomena komunikasi.

REFERENSI :

Littlejohn,S.W.Theories of Human Communication,7th Edition,2001,Belmont,California:Wadsworth Publishing Company CHAPTER 8 & 9

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 16 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: