Indonesia di Tengah Globalisasi : Menimbang Gagasan Homi K Bhabha Ketika Memikirkan Proses Pencarian Identitas Kultural Keindonesiaan

Pendahuluan

Makalah pendek ini akan membicarakan tentang salah satu perspektif yang mungkin bisa menjadi pertimbangan ketika kita terpanggil untuk ikut prihatin memikirkan proses pencarian identitas kultural keindonesiaan. Mengapa perlu mencari alternatif pemikiran? Sebabnya, isu globalisasi kalau mau dibahas agak intensif ujung-ujungnya adalah sampai pada titik kebuntuan yang hampir membuat frustasi. Pendeknya, globalisasi sudah  telanjur menjadi bagian hidup dan juga warna proses perjalanan budaya bangsa ini. Globalisasi juga hampir tak bisa dihindarkan apalagi dikendalikan. Yang paling memungkinkan hanyalah menyikapi secara arif, untuk itulah dibutuhkan semacam pijakan suatu teoritis tertentu. Dalam semangat itulah dikemukakan pokok persoalan yang hendak dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :

Bagaimana kita menyikapi keadaan tak terelakkan masuknya gelombang globalisasi, khususnya ketika hendak memikirkan proses yang tengah dilakukan bangsa ini menuju pada (pencarian ) identitas kultural keindonesiaan?

Indonesia dalam Mitos Globalisasi : sebuah mozaik

Indonesia. Negeri ini sudah berada dalam global interconnectedness ( keterhubungan berskala global ). Satu kenyatan tak terpungkiri : telah merambah masuk arus kultural global yang bergerak begitu cepat dikendalikan oleh iklim kapitalisme dan neoliberalisme; sebuah kultur dengan kekuatan dasar daya ekonomi. Dan media massa, dalam arti yang luas rupanya berperanan dalam mempromosikan mitos globalisasi. Dalam pembacaan perspektif mitos globalisasi ala Marjorie Ferguson ( 2002 ) akan diuraikan bagaimana wajah Indonesia telah diwarnai oleh corak globalisasi setidaknya dalam mozaik fenomena gambaran media massa sebagaimana diindikasikan melalui tujuh hal berikut ini : big is better, more is better, time and space have disappeard, saving planet earth, global cultural hegemony, democracy for export via American TV dan the new world order.

Big is better; more is better……Inilah roh yang menggerakan kekuatan polecy coorporat khususnya dan juga dalam ideologi  politik. “Big” adalah kata kunci untuk konsep ekspansionis dan pertarungan kapital ala Adam Smith, kongkritnya kata ini mengacu pada pergerakan modal melintasi batas –batas kenegaraan atau meliputi seluruh dunia; bentuk penggabungan koorporasi dan pengambilalihan.

Di Indonesia, indikasi masuknya kekuatan pemodal multinasional bisa dilihat salah satunya misalnya ketika AN TV yang kembang kempis tiba-tiba segar oleh kehadiran salah satu tangan raja media Rupert Murdoch, FOX Inc.

Bagi pemerhati media, khususnya yang melihatnya dengan perspektif  ekonomi politik media, kehadiran kekuatan modal asing sedikit demi sedikit memengaruhi karakter media yang bersangkutan, dalam hal ini AN TV. Yang paling mencolok adalah makin gencarnya tayangan kuis di stasiun ini dengan menjual iming-iming hadiah  yang makin hari makin gila-gilaan. Mulai dari Superdeal yang memberi kesempatan peserta disulap jadi milyarder kalau bisa memenangkan dua milyar ( per hari ), sampai dengan hadiah bagi calon orang awam pintar ( atau beruntung sebenarnya ? ) yang akan membawa pulang tiga milyar kalau bisa menjawab semua pertanyaan aneh-aneh tanpa salah dalam Who Want’s to be Millioner.  Makin besar makin bagus! Makin lebih makin elok! Genderang dekade serakah ( greed decade ) sebenarnya mulai ditabuh!

Promosi  big is better, more is better juga bisa dilihat dari makin memungkinkannya jalur frekuensi penyiaran atau signal telekomunikasi diintervensi oleh pihak asing. Beberapa provider TV Cabel sekarang sudah leluasa masuk di wilayah Indonesia. Dengan itu maka proses migrasi nilai kultural juga semakin ( more) memungkinkan terjadi. Karakter media komunikasi nirkabel atau selama ini dikenal sebagai phonesel juga akan makin marak di Indonesia dengan akan segera beroperasinya merger dua raksasa pemain telekomunikasi yakni Nokia dan Siemens yang akan segera mengembangkan jaringannya  sebagai mega perusahaan baru bertajuk Nokia Siemens Januari mendatang. Indonesia tidak bisa lepas dari kekuatan perusahaan telekomunikasi raksasa ini yang diperkirakan akan menguasai 24 persen pasar Asia Pasifik, dan kita akan menjadi pasar potensial ketiga di Asia setelah Cina dan India( Kompas, Selasa 5 Desember 2006 ).

Mitos “besar” dan “banyak” selanjutnya juga bisa dilihat dari karakter strategi dan teknik advertising (simak iklan-iklan gadget dalam majalah-majalah Lifestyle seperti FHM, Male Emperium,Matra dsb)  Khusus untuk objek – objek periklanan yang berbau teknologi komunikasi akan mudah sekali terindikasi nuansa mempromosikan hasrat kepemilikan yang tiada berkeputusan. Nilai fungsional lalu ditransformasikan menjadi citraan semata. Iklan tidak menyajikan informasi alternatif pilihan terhadap pemenuhan kebutuhan yang ada melainkan justru menciptakan kebutuhan itu. Tindak konsumsi lalu tidak cuma berurusan dengan memenuhi apa yang kita butuhkan tetapi memenuhi hasrat untuk selalu memiliki lebih dan lebih banyak lagi.

Time and space have disappeard. Mitos ini berkaitan dengan isu communication dan culture.Berkat temuan teknologi komunikasi maka batasan pengertian ruang dan waktu menjadi makin tidak berarti.Waktu dan ruang memang tidak berarti kemudian tidak relevan dengan kehidupan manusia; yang berubah adalah makna pengalaman manusia akan dimensi ruang dan waktu itu sendiri( Ferguson, 2002 ). Implikasi lanjutnya tentu berkaitan dengan makin bebasnya terjadi pertukaran kebudayaan dan ekonomi politik yang makin bernuansa postmodernis.

Dalam moment tertentu mitos di atas sangat kental terlihat diresonansikan oleh media. Peristiwa akbar Bola Dunia misalnya, serentak akan menyedot perhatian begitu banyak penduduk bumi ini sehingga apa yang bergelora di tengah lapangan di belahan bumi lain juga akan membuat terpesona mata penonton di belahan bumi lainnya. Dalam peristiwa genting dunia ketika terjadi peperangan atau pergunjingan politik di suatu negara misalnya, lewat tayangan live suatu televisi membuat kita terundang untuk secara psikologis terlibat di dalamnya. Impikasinya tak tanggung-tanggung, misalnya ketika Amerika Serikat sibuk dengan aktivitas militernya di Afghanistan, maka polisi di Indonesia disibukkan dengan penjagaan agar para demonstran penentang AS di negeri kita tidak berekspresi kebablasan.

Media juga menjadi sarana promosi aktif mitos globalisasi hadirnya pengalaman baru tentang ruang dan waktu dalam realitas politik ketika untuk kesekian kalinya aktivitas politik kenegaraan, dalam hal ini Presiden RI memanfaatkan telekomunikasi jarak jauh untuk berkoordinasi dengan para stafnya ketika berkunjung ke daerah atau ke negara lain. Meskipun pemanfaatan sarana media ini sempat mengundang kritikan sehubungan dengan makin sulitnya kendali rahasia kenegaraan misalnya, namun dengan telah dilaksanakannya komunikasi politik lewat media maka kita awam di Indonesia makin disadarkan bahwa wilayah kenegaraan itu tiba-tiba menjadi “luas” karena tidak semata dibatasi oleh teritori fisik semata.

Selanjutnya dalam dunia periklanan lagi-lagi kita temukan betapa pencitraan dalam iklan telekomunikasi mengesankan perubahan gaya hidup pebisnis modern dengan tidak lagi membutuhkan mereka di kantor ( space )  pada waktu-waktu tertentu( time). Periklanan tentang sistem perbankan internet, atau perdagangan elektronik jelas-jelas mempromosikan hadirnya masa baru yang memungkinkan orang hidup dalam dunianya waktu tanpa waktu ( time without time) dan ruang tanpa ruang ( space without space )(Ferguson, 1990 )

Saving planet earth.Tema ini buntut dari makin sadarnya dunia sebagai satu kesatuan yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Gerakan menyelamatkan bumi sudah demikian lama dihembuskan utamanya justru oleh negara-negara maju yang  potensi alam negaranya tidak sesubur negara-negara tropis di dunia ketiga.Berbagai macam sarana promosi dilakukan di antaranya dengan pembuatan film-film dokumenter yang berkolaborasi dengan berbagai majalah yang beroperasi dengan kekuatan jurnalisme lingkungan hidup. Misalnya paket dokumenter NATIONAL GEOGRAPHYC yang merupakan paduan dengan jurnal bulanan dengan tajuk yang sama. Indonesia memang belum bisa membuat tayangan sekaliber tersebut, tapi setidaknya beberapa stasiun televisi masih memiliki hak siar paket tersebut seperti sekarang ini yang masih ada di Metro TV. Beberapa tayangan adaptasi kemudian dibuat di beberapa stasiun televisi swasta nasional kita seperti misalnya Jejak Petualang, Petualangan Liar, Petualangan Bahari di TV7 yang mengikuti langkah Trans TV yang lebih dahulu memiliki acara Jelajah.Demikian juga dengan paket acara sejenis yang pernah dan masih disiarkan di beberapa stasiun TV lainnya. Kemasan yang mau tidak mau dibuat santai dan tidak seserius di NATIONAL GEOGRAPHYC,tayangan-tayangan tentang alam dan seterusnya jelas menggemakan seruan akan pentinganya menyelamatkan bumi dari kerusakan akibat ulah manusia.

Global cultural hegemony. Konsep ini mengacu pada perkembangan model konsumsi baru yang diarahkan pada produk atau material yang seragam,baik yang tersaji dalam citraan graphic, audio maupun audio visual dan sebagainya di mana kendali atas selera tersebut adalah pada kekuatan kapitalisme barat.  Bentuk material produk budaya tersebut bisa macam-macam mulai dari produk konsumsi makanan ( McDonald’s), minuman ( Pepsi and Cola ), karakter jasa hiburan yang dikemas dalam paket simulakra Disney Land, pakaian, mobil/transportasi. Semuanya itu tadi menciptakan semacam metaculture yang sebenarnya didasarkan pada pembentukan identitas kolektif ( global ) yang mengacu pada pola-pola konsumsi seragam( Ferguson, 1990 )

Di Indonesia tidak sulit kita mencari contoh promosi mitos hegemony kebudayaan global.Hampir semua televisi di tanah air pernah menayangkan iklan produk makanan dan minuman di atas. Film-film atau sinetron remaja juga kerapkali ditunggangi oleh promosi model berpakaian dan berpenampilan ala Barat dan bagi kita sudah sangat lumrah: Jeans Levi’s terkenal  dengan model terbaru, sepatu sport merk mutakhir, minuman yang ditenteng sewaktu mereka akting bersantai, sampai dengan pernak-pernik asesoris yang secara jujur sebenarnya malah tidak berakar pada budaya asli Indonesia. Sekedar catatan : Iklan sepatu Specs di dalamnya penuh nuansa representasi identitas Global karena model yang dipakai adalah etnik kulit putih, sementara background-nya dikesankan agak kabur adalah wajah-wajah campuran yang justru lebih mengesankan orang-orang Asia.

Tambahan lagi, sekarang ini ada kecenderungan untuk memilih model iklan dengan wajah yang kebarat-baratan meskipun jelas-jelas pangsa pasar yang dibidik adalah orang Indonesia. Rupanya tidak disadari oleh kaum pengiklan bahwa pemilihan model seperti itu makin menguatkan peran media dalam  pembentukan identitas kultural global yang baru di mana bukan lagi warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah dsb yang membedakan etnisitas melainkan identitas kultural atas dasar persamaan selera terhadap suatu produk material yang sama ( diferensiasi)( Piliang, 1994 )

 Democracy for export via American TV. Mitos ini berangkat dari ide yang cukup kuno soal peran media dalam pembentukan opini publik dengan tujuan politik tertentu.Tayangan televisi di Indonesia yang sebenarnya mengadopsi model  demokrasi ala Amerika akan sering kita lihat ketika memasuki masa kampanye pemilu yakni  format acara televisi berisi dialog yang didahului dengan semacam presentasi program oleh kandidat.( Banyak film-film barat dalam hal ini Hollywood yang menampilkan adegan ketika kandidat presiden bisa dengan leluasa saling berhadapan di sebuah panggung dikelilingi oleh sejumlah wartawan.)  Kita sebenarnya belum begitu lama menerapkan model seperti itu karena gaya demokrasi kita ketika berkampanye selama ini adalah model mobilisasi massa misalnya dengan  arak-arakan kendaraan diakhiri dengan panggung dangdut.

The new world order. Yang dimaksud adalah tatanan dunia baru atas dasar kekuatan ideologi politik yang akan berkembang dalam konteks dewasa ini maka jelas, media massa dalam hal ini bentuk representasi kekuatan dominasi AS misalnya dalam berbagai film dan pemberitaan jelas menyuarakan kecenderungan  hegemoni budaya AS di dunia ini.Contoh paling gamblang misalnya serial James Bond – dan sudah menjadi bagian dari realitas tontonan di Indonesia— yang salah satunya berjudul Die Another Day, walaupaun sudah tidak relevan lagi dengan konteks maksud penokohan Bond sebagai hero dalam era perang dingin, jelas –jelas mengumandangkan betapa AS menjadi pemain tunggal dalam percaturan politik dunia di mana aturan mainnya ditentukan oleh AS sendiri.

Sementara untuk tatanan dunia baru dalam dunia perekonomian, umumnya mitos ini kental dipromosikan dalam berbagai bentuk advertensi perbankan di mana urusan uang simpanan tidak hanya perkara inventasi melainkan juga pilihan untuk berinteraksi dengan berbagai mata uang asing sebagai representasi metonimik hadirnya kekuatan ekonomi global yang memasuki wilayah Indonesia.

Bhabha   dan  Teori Liminalitas

Ketika mempersoalkan pertentangan antara dominasi budaya asing/luar/Barat versus lokal/Asia/asli maka sebenarnya kita memasuki wacana perspektif pascakolonial. Dari segi budaya, definisi pascakolonial kerap dihubungkan dengan  proses konstruksi budaya menuju budaya “putih global” . Kebudayaan kulit putih dipandang sebagai acuan perkembangan bagi semua budaya. Bahkan proses seperti itu tetap berlangsung ketika penguasaan kulit putih atas sebuah negara berakhir ( Sianipar, 2004 ).

Namun pemikiran Homi K Bhabha adalah justru mengkritisi pemikiran para penganut pascakolonial yang telah melihat oposisi biner menjadi terlalu sederhana sebatas ‘penjajah” dan “terjajah” dan sekaligus mempertanyakan anggapan-anggapan metodologis dari para teoritikus pascakolonial. Doktor filsafat kelahiran Parsi Bombay India ini mengajukan model liminalitas untuk menghidupkan ruang persinggungan antara teori dan praktek  kolonisasi – suatu ruang yang tidak memisahkan tetapi sebaliknya menjembatani hubungan timbal balik ( reciprocal ) antara keduanya, yaitu  teori dan praktek. Dalam Key Koncepts in Post-Colonial Studies dituliskan : pentingnya liminalitas untuk teori pascakolonial adalah ketepatgunaannya untuk mendeskripsikan suatu “ruang antara” di mana perubahan budaya dapat berlangsung: ruang antarbudaya dimana strategi-strategi kedirian personal maupun komunal dapat dikembangkan, suatu wilayah di mana terdapat proses gerak dan pertukaran antara status yang berbeda-beda yang terus-menerus. Sebagai contoh, kelompok terjajah dapat berada di ruang ambang ini di antara wacana kolonial dengan anggapan-anggapan identitas nonkolonial baru. Identifikasi semacam itu memang bukan sekadar  gerak-pindah sederhana dari suatu identitas ke identitas yang lain, identifikasi ini adalah proses keterlibatan, kontestasi, dan  penyesuaian.  Secara implisit dikatakan  bahwa pencarian identitas  itu idealnya tidak pernah berhenti; identitas mengalir sebagai sesuatu yang senantiasa mengalami perubahan ( Supriyono, 2004 ).

Bhabha melukiskan bagaimana budaya-budaya itu bergerak keluar masuk ruang ketiga dengan indahnya. Teori liminalitas Bhabha ini memang mengesankan menghindari oposisi biner yang konfrontatif atau saling menaklukkan.  Sebaliknya, yang hendak ditawarkan Bhabha adalah bahwa ruang ambang itu mampu berperan sebagai ruang untuk interaksi simbolik. Persoalannya, apakah yang dapat berperan sebagai ruang ketiga? Jawabnya adalah teks!

Teks itu bisa dihadirkan lewat karya film, novel, musik dan sebagainya. Atau secara luas teks itu bisa hadir dalam media massa. Dalam teks-teks aneka pemaknaan dilakukan. Menghasilkan suatu karya, termasuk yang disajikan dalam media massa adalah tak ubahnya dengan memberikan makna pada realitas.

Formasi budaya dan identitas kebangsaan mengalir bersamaan dengan gerak ruang ketiga yang tiada berhenti. Tak dapat dihindarkan bahwa pembentukan budaya dengan sendirinya melibatkan di dalamnya perbedaan-perbedaan budaya yang kerap kali diasosiasikan dengan perbedaan ras, kelas, gender, dan tradisi budaya. Dalam ruang ketiga itulah pengalaman-pengalaman intersubjektif dan kolektif kebangsaan, kepentingan komunitas, serta nilai-nilai budaya dirundingkan. Bagaimana subjek dihasilkan dalam ruang antara atau lebih dari sekedar penjumlahan polongan-potongan perbedaan ( ras,kelas,gender, dsb)( Supriyono, 2004 )?

Ruang ketiga Bhabha dengan demikian memberikan kontribusi penting bagi pemahaman perbedaan budaya. Secara implisit Bhabha berpendapat bahwa identitas budaya bukanlah identitas bawaan yang sudah diberikan sejak lahir dari kekosongan. Identitas kultural bukan entitas yang sudah ditakdirkan, tidak bisa direduksi atau ciri budaya a historis yang menetapkan konvensi kultural. Dengan kata lain, Bhabha menganjurkan bahwa negosiasi identitas kultural mencakup perjumpaan dan pertukaran tampilan budaya yang terus –menerus yang pada saatnya akan menghasilkan pengakuan timbal balik akan perbedaan budaya. Relasi budya–budaya, termasuk “penjajah” dan “terjajah” berada dalam interdependensi dan konstruksi subjektivitas mutual.

Demikianlah dalam kondisi tak terelakkan masuknya budaya asing lewat arus kultur global sesungguhnya bisa dipahami sebagai bagian dari proses akulturasi menjadi identitas kultural bagi bangsa ini. Dalam memutuskan identitas yang kian rumit setidaknya Homi K Bhabha memberi kontribusi besar yaitu mendekonstruksi model dominasi dua kutub penjajah >< terjajah sekaligus merekonstruksi pola relasi di antara keduanya.


Daftar Pustaka

 

Ferguson, Marjorie. (2002).”The Mithology About Globalization” dalam Dennis McQuail,(ed). McQuail’s Reader in Mass Communication Theory.London: Sage Publication

_______________. (1990 ).  “Electronic Media and The  Redefining of Time and Space” dalam M. Ferguson.(ed). Public Communication : The New Imperatives. London : Sage Publication.

Piliang,Yasraf, A. (1994).”Terkurung di Antara Realitas-realitas Semu: Estetika Hiperialitas dan Politik Konsumerisme”, dalam Idi Subandy Ibrahim,(ed). Ecstasy Gaya Hidup. Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Bandung : MIZAN

Sianipar, Gading. ( 2004 ). “Mendefinisikan Pascakolonialisme?” dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto ( eds). Hermeneutika Pascakolonial Soal Identitas. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Supriyono, J. ( 2004 ) “Mencari Identitas Kultur Indonesia” dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (eds). Hermeneutika Pascakolonial Soal Identitas. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 15 Agustus 2011.

3 Tanggapan to “Indonesia di Tengah Globalisasi : Menimbang Gagasan Homi K Bhabha Ketika Memikirkan Proses Pencarian Identitas Kultural Keindonesiaan”

  1. Menarik sekali artikelnya.
    Salahkah kalau saya mengatakan, “Bangsa Indonesia sebenarnya tertakdirkan (seharusnya) sebagai bangsa yang terbuka budaya luar”. Ini merupakan perspektif saya dari segi masuk dan hidupnya agama-agama yang ada di Indonesia. Pengaruh agama-agama ini terbawa dalam aktivitas keseharian masyarakat Indonesia, tidak hanya dalam menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga budaya.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Salam juga,
      Terimakasih atas tanggapan tulisan ini. Saya sepakat dengan pernyataan mas Mochammad. Indonesia memang tertakdirkan sebagai bangsa yang terbuka thd. masuknya budaya luar. Saya jadi ingat salah satu diskusi dengan guru saya bahwa, misalnya, pengaruh India demikian kuat mewarnai jati diri bangsa ini bahkan dalam wacana perjuangan kebangsaan ini para tokoh sejarah bangsa kita juga terkesan sangat terinspirasi nilai-nilai negeri India. Untuk ini kita bisa pelajari buku Imajeri India karya Dr. Andrik Purwasito D.E.A. Kebetulan beliau dulu guru saya. Juga kalau menyimak masuknya agama Islam yang kemudian sangat mewarnai bangsa Indonesia tidak saja dari aspek religi tapi juga praktek kebudayaannya. Sementara masuknya agama-agama Kristiani juga membawa warna budaya yang unik khususnya di kepulauan luar Jawa.Karena proses akulturasi dan penerjemahan keimanan yang kontekstual. Karena terbangun dari sebuah eklektik budaya maka sesungguhnya memahami budaya Indonesia senantiasa mengandaikan pemahaman yang multivaset sifatnya. KIta pun juga tak bisa menutup kemungkinan seandainya tidak ada pengaruh dari luar maka sesungguhnya patut dipertanyakan sesungguhnya identitas kultur Indonesia itu seperti apa, karena yang diklaim asli pun juga toh bukan sepenuhnya asli berasal dari negeri sendiri Maka sesungguhnya, teori liminalitas menjadi alternatif pamahaman bagaimana sosok identitas kultural Indonesia itu seperti apa. Dalam wilayah ‘antara’ dimana teks bisa hadir menjadi cermin akulturasi yang dinamislah kita akan melihat bagaimana identitas bangsa ini berproses.

  2. […] Cara pandangnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran intelektual postrukturalis seperti Edward Said, Homi Bhabha dan Gayatri Spivak. Berdasarkan karya Edward Said, “Orientalism”, dunia direpresentasikan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: