Communication and Media

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pokok – pokok penting yang ada dalam Chapter ini terbagi  menjadi 5 bagian yakni :

  1. Media content and Structure.
  2. Media as Social Institution
  3. Media and Audience.
  4. Theories of Cultural Outcomes.
  5. Theories of Individual outcomes.

Pendahuluan :

  1. Definisi ”mass communication”

Komunikasi massa adalah proses di mana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada sejumlah besar publik dan proses dengan mana pesan tersebut dilihat, digunakan, dipahami dan dipengaruhi oleh individu.

Pusat kajian dalam komunikasi massa adalah MEDIA

 

  1. Bagan yang menggambarkan teori yang berkaitan dengan media dapat dilihat dibagan Komunikasi dan Media:

                                      

Bagian pertama:

  1. Media content and Structure. Hal penting yang dapat dicatat:
  2. Dasar perkembangan  TEORI MEDIA ——-“global village” menurut McLuhan : suatu keadaan di mana kita terpaksa melihat kembali serta mengevaluasi lagi segala bentuk pemikiran kita, setiap tindakan dan setiap lembaga karena dunia seakan menjadi demikian sempit akibat penemuan berbagai teknologi komunikasi.
  3. “ the medium is the message “ menurut McLuhan : tidak hanya isi media yang menjadi penting tetapi “media” itu sendiri penting karena ia memiliki kekuatan tersendiri. Pandangan ini kemudian berkembang dan para ahli teori media dewasa ini umumnya sepakat bahwa media dan isinya sama-sama penting.
  4. Proses perkembangan media (menurut Donald Elllis ) dan implikasinya terhadap peradaban :

Perkembangan “media”

Implikasi thd Peradaban

Oral communication

Munculnya budaya tutur ( naratif );Pentingnya memori kolektif  kelompok sebagai penyangga pengetahuan masy; Muncul kesadaran kolektif, identifikasi dan kohesifitas dalam kelompok.

Printing media

Terjadi klasifikasi dlm masy. Antara yang melek huruf dan yg tidak; ada pemisahan antara pengetahuan dan orang yang mengetahui ( tidak harus dlm satu moment);Pengetahuan bisa “disimpan”;Pengetahuan  menjadi ter-objektifikasi dan memiliki kuasa tersendiri

Electronic media

Menciptakan “global village”, terjadi ledakan penyebaran informasi; Informasi lalu menjadi “komoditi” yang diperjualbelikan secara bersaing oleh industri media;Pengetahuan berkembang pesat dan menyadarkan masyarakat bahwa kebenaran tidaklah tunggal
  1. Semiotic. ( berkaitan dengan Ch. 4 )Memusatkan kajian pada isi media. Isi media adalah penting namun ia merupakan hasil dari si penggunanya.Kajian media dengan pendekatan semiotic pada dasarnya menekankan pada bagaimana produsen menghasilkan tanda-tanda dan bagaimana audiens memahami tanda-tanda tersebut.Pendekatan ini bermanfaat dalam hal menganalisis bagaimana peristiwa diinterpretasikan dan termanifestaikan dalam tanda-tanda yang digunakan untuk menginterpretasikan peristiwa tersebut.
  2. Konsep Baudrillard  tentang sign:

v  Penggunaan sign dalam masyarakat berkembang sesuai dengan perkembangan evolusi masyarakat itu sendiri.

v  Pada mulanya, sign hanyalah representasi objektif sesuatu objek atau peristiwa. Penanda memiliki hubungan yang jelas dengan petandanya. Ini disebut sebagai symbolic order dan berlaku dalam masyarakat feodal.

v  Tahap berikutnya adalah, counterfeits, berlaku dalam masa refolusi indistri atau abad pencerahan. Sign tidaklagi memiliki hubungan langsung dengan hal-hal dalam kehidupan nyata. Sign lalu menciptakan makna baru yang tidak harus berhubungan langsung dengan pengalaman terhadap hal-hal yang ditandakan. Misalnya sesuatu benda lalu dikaitkan dengan status, kekayaan dan prestisius.

v  Tahap selanjutnya, penggunaan sign adalah production; di mana mesin industri ditanamkan guna menggantikan manusia,benda-benda sudah terlepas dari fungsinya oleh manusia yang menggunakannya sebagai penanda.

v  Saat ini, kita memasuki tahap simulation; dimana tanda-tanda tidak lagi merepresentasikan namun menciptakan pengalaman kita. Simulasilah yang menentukan siapa kita dan apa yang kita lakukan

Bagian kedua :

  1. Media as Social Institution.
  2. Kedudukan media dalam pandangan Critical Theories ( Berkaitan dengan  Ch. 11 )

Media  memiliki kedudukan penting dalam pertarungan ideologi dalam masyarakat

Media  memiliki kekuatan untuk menyebarkan ideologi dominan dalam masyarakat disamping juga menampilkan suatu alternatif ideologi bahkan ideologi tandingan.

Media  menjadi bagian dari industri budaya dengan perannya menampilkan citra dan simbol yang bisa mengesampingkan kelompok-kelompok marginal

  1.  Kategori Marxist media theory menurut Mc Quail:

Pertama, Classical Marxism: media dilihat sebagai alat klas dominan dan sarana bagi kaum kapitalis untuk menjalankan keinginan mereka mengeruk keuntungan ekonomi.Media menjadi alat menyebarkan ideologi dominan sekaligus meminggirkan klas yang lain.

Kedua ,  teori ekonomi politik media : Isi media adalah komoditas yang dijual di pasaran dan  penyebaran informasi dikendalikan oleh apa yang dinginkan pasar.

Ketiga , mashab Frankfurt : memandang media sebagai sarana konstruksi  budaya,media memanipulasi citra dan simbol demi kepentingan klas dominan

Keempat teori hegemony: dominasi oleh ideologi palsu atau cara pandang yang melebihi keadaan senyatanya, ideologi ditanamkan melalui penanaman suatu kesadaran palsu.

Kelima, pendekatan sosio kultural : dikenal sebagai cultural studies, kajian utamanya menekankan pada bagaimana isi media diinterpretasikan , termasuk dengan cara interpretasi dominan maupun oposisional. Pendekatan ini meliahat masyarakat sebagai ajang pertarungan idea lewat pergulatan makna yang ada di dalamnya.

Bagian ketiga :

  1. Media and Audience.
  2. Preposisi tentang mass society:

Pertama, perkembangan dalam transportasi dan komunikasi telah meningkatkan kontak antarmanusia, dan tatanan ekonomi telah menjadi sedemikian rupa sehinggan menimbulkan saling ketergantungan di antara manusia.

Kedua,masyarakat tidak lagi dipimpin oleh elite, moral dan selera serta menurunnya nilai-nilai. Perkembangan pesat dalam masyarakat telah mengakibatkan orang makin kehilangan jati dirinya

  1. Implikasi keadaan mass society terhadap media massa:

Keadaan masyarakat yang menjadi massif membawa implikasi terhadap media massa; dikhawatirkan media akan menjadi sarana propaganda

  1. “social action media studies”. Kajian ini bertolak belakang dengan pendangan atau teori masyarakat massa di atas karena melihat masyarakat tidaklah seragam namun terdiri dari beragam karakter dan masing-masing memiliki nilai , idea, dan minat yang berbeda-beda.Isi media lalu diinterpretasikan oleh masyarakat  menurut makannya masing-masing dalam setiap kelompok,dan individu lebih mendapat pengaruh dari hubungan perkawanan di antara kelompok ketimbang dipengaruhi oleh media. Gagasan inilah yang menjadi sentral dari teori media-interpretative communities ( chapter 10 ). Berdasarkan teori di atas maka, Schoening dan Anderson menamakannya dengan pendekatan social action media studies,  dengan premis pokoknya sebagai berikut:

Pertama,  makna tidaklah terletak pada pesan itu sendiri melainkan dihasilkan dari proses interpretasi dalam diri audiens.

Kedua, makna dari pesan media atau program tidak ditentukan secara pasif tetapi dihasilkan secara aktif. Artinya, audiens secara aktif memproduksi makna berdasarkan apa yang mereka lihat dan baca dan itu mereka lakukan ketika sedang melakukan sesuatu yang lain.

Ketiga, makna sebuah media selalu berubah sejalan dengan perbedaan ketika masyarakat menanggapi medianya.

Keempat, makna suatu program tidak pernah muncul secara individual melainkan merupakan hasil dari suatu komunal. Jadi merupakan hasil interpretasi kelompok,masyarakat atau budaya.

Kelima,  bagaimana tanggapan kita terhadap media dan makna apa yang muncul merupakan hasil interaksi sosial.

Keenam, peneliti dalam kajian ini menyatu dengan masyarakat yang ia teliti

  1. Karakteristik “active audience”. Topik lain yang menjadi perdebatan utamanya ketika melihat hubungan antara media dan khalayaknya adalah gagasan bertolak belakang antara audiens aktif dan pasif.Karkteristik adiens aktif sbb:

Pertama, selektif

Kedua,  Utilitarianisme/ audiens menggunakan media berdasarkan kebutuhan dan tujuan tertentu

Ketiga,  Intensionalitas

Keempat, Involvement/aktif

Kelima, inpervious to influenced / tak mudah dipengaruhi

Bagian keempat :

  1. Theories of Cultural Outcomes.Beberapa variasi teori yang memusatkan pada “the studi of the outcomes of media communication” adalah sebagai berikut:
  2. “two step flow theory:  Berkaitan dengan studi tentang arus informasi yang menyebar dari media kepada masyarakat. Bahwa informasi dari media tidak langsung menerpa kepada audiens melainkan melalui orang-orang tertentu yang kemudian menjadi opinion leader.
  3.  “multiple step model “ dalam difusi inovasi. Berkaitan dengan kajian sebelumnya namun lebih menguatkan hipotesis sebelumnya bahwa model penyebaran informasi itu tidaklah secara simpel malainkan melalui bertahap- tahap  yang kompleks.Dalam hubungannya dengan difusi inovasi model ini menjadi penjelas bahwa proses penyebaran inovasi melalui jaringan dan interaksi yang kompleks pula.
  4. Pokok-pokok teori dalam “spiral of silence” .  Teori ini  berkaitan dengan kajian terbentuknya pendapat umum. Bahwa komunikasi interpersonal bersama-sama dengan media berperanan di dalam terbentuknya pendapat umum. The spiral of silence muncul tatkala orang merasa bahwa pendapatnya tentang suatu hal ternyata sama dengan pendapat orang banyak maka dia akan berani mengungkapkannya, sebaliknya jika pendapatnya tidak populer maka mereka akan cenderung diam.
  5. “The agenda setting function “  Bahwa apa yang dianggap penting oleh media juga akan dianggap penting pula oleh khalayak.Fungsi agenda setting merupakan proses linier yang melibatkan tiga komponen: Agenda Media — Agenda Publik  — Polecy Agenda. Terdapat tiga tingkatan efek agenda setting :

Pertama,  Representation : tingkatan sejauh mana media merefleksikan agenda publiknya. Dalam Agenda yang representational berarti agenda publik mempengaruhi agenda media

Kedua,  Persistence :Dalam agenda yang persistence berarti agenda media hanya memiliki efek yang kecil karena pubik masih mengendalikan agenda media

Ketiga,  Persuasion : terjadi ketika agenda media mempengaruhi agenda publik.

  1. “cultivation analysis” Teori ini berkaitan dengan pengalaman jangka panjang penggunaan televisi dalam kehidupan sehari-hari, bukan pada isi tertentu media ini dan pengaruhnya bagi khalayak melainkan pada peran televisi sebagai agent konstruksi budaya. Televisi dipandang memiliki efek jangka panjang dalam konstruksi cara pandang dunia oleh khalayaknya.

Bagian kelima :

  1. Theories of Individual outcomes.
  2. Perkembangan “magic bullet theory “ hingga tahun 1960-an . Pada awal kemunculannya teori ini demikian populer dan menjadi landasan dalam tradisi penelitian efek. Lalu pada tahun 1950-an sejalan dengan diakuinya model dua tahap penyebaran informasi maka efek media mulai dipandang tidak begitu perkasa.Terakhir pada tahun 1960-an teori berkembang dengan mulai meyakini bahwa efek media diantarai oleh variabel lainnya sehingga kekuatan media hanyalah bersifat moderat.
  3.  “uses and gratifications” :      memfokuskan pada khalayak dan bukan pada pesannya. Khalayak dianggap aktif selektif dan mengkonsumsi media dengan didorong oleh kebutuhan tertentu. Efek terjadi manaka media tertentu diaanggap telah bisa memenuhi kebutuhan tertentu dalam diri audiens.Dasar teori ini sebenarnya berangkat dari Teori Ekspektasi Nilai sebagaimana dibawah dalam bab 7
  4. “dependency theory” Teori ini memfokuskan pada analisis penyebab ketergantungan khalayak pada media. Ada beberapa kondisi di mana suatu ketika masyarakat menjadi sangat bergantung pada media:

Pertama, ketika media diraskan bisa memenuhi kebutuhan tertentu yang dicari oleh khalayknya

Kedua,  ketika terjadi perubahan dalam masyarakat dimana terdapat konflik yang memuncak, melibatkan evaluasi terhadap berbagai nilai keyakinan dan lain-lain maka masyarakat memandang perlu untuk menacari infromasi pembanding melalui media massa.

Sumber :

Littlejohn,S.W.Theories of Human Communication,7th Edition,2001,Belmont,California:Wadsworth Publishing Company, Chapter 15

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 15 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: