COMMUNICATION THEORY AND SCHOLARSHIP

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

APA ITU TEORI KOMUNIKASI?

Term “teori komunikasi” di sini bisa mengacu pada pengertian yang ditujukan pada satu jenis teori komunikasi atau bisa juga diartikan sebagai sekumpulan pengetahuan yang melekat pada keseluruhan bangunan teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi.

MENGAPA (PERLU) MEMPELAJARI TEORI KOMUNIKASI?

Satu ungkapan yang sangat menarik sekaligus tepat yang bisa menjawab mengapa kita perlu mempelajari  teori komunikasi adalah “…… dengan mempelajari teori komunikasi akan membantu kita melihat segala sesuatu yang tidak kita lihat/sadari sebelumnya” Dengan pernyataan yang berbeda,”Pengamat yang mendasarkan diri pada suatu paradigma tertentu bukanlah orang yang melihat dan melaporkan sebagaimana apa yang orang awam lihat dan laporkan, melainkan dia akan “melihat sesuatu” pada hal-hal yang lumrah yang tidak bisa dilihat orang sebelumnya.’

Dengan ungkapan di atas maka bisa kita simpulkan bahwa dengan mempelajari teori komunikasi kita akan memeroleh bekal untuk bisa melihat segala sesuatunya secara baru dan menarik manfaat darinya.

STUDI AKADEMIK TERHADAP KOMUNIKASI

Perkembangan studi akademik komunikasi memiliki sejarah yang panjang, setidaknya, topik “komunikasi “sudah menjadi pusat perhatian semenjak  perang dunia I, berbarengan dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya melek huruf.

Tahap – tahap awal kajian komunikasi tidak bisa lepas dari pengaruh disiplin ilmu lain yang lebih dahulu berkembang. Pengaruh studi ilmu politik terhadap pesan-pesan publik telah membuka wacana studi komunikasi pada riset propaganda dan opini publik.Pada masa itu mulailah para peneliti tertarik meneliti sikap dan opini dan mencoba mengetahui bagaimana cara memengaruhi opini publik melalui media massa.

Pada masa itu juga ilmu sosial sedang berkembang dan sosiologi serta psikologi sosial tampil sebagai ujung tombak studi komunikasi. Kebanyakan riset dalam sosiologi pada tahun 1930-an melihat bagaimana komunikasi mampu memengaruhi  individu dan masyarakat. Sementara topik riset psikologi sosial yang kemudian menjadi populer adalah pengaruh film pada anak-anak, propaganda dan persuasi, serta dinamika kelompok.

Tradisi riset yang menyusul kemudian berkaitan dengan dunia pendidikan. Beberapa studi komunikasi mengkhususkan diri pada pemanfaatan media massa seperti radio dalam pendidikan, pengajaran dengan basis ketrampilan komunikasi seperti “public speaking” dan diskusi kelompok, serta pengaruh penggunaan berbagai media komunikasi dalam kelas.

Paruh pertama abad 20an juga didominasi oleh minat terhadap dunia komersial seperti halnya periklanan.Riset yang berkembang berkaitan dengan  hasrat keingintahuan para pebisnis untuk mengenal lebih jauh manfaat komunikasi dalam proses pemasaran.

Usai perang dunia kedua, perkembangan ilmu sosial makin mantap dan minat terhadap kajian psikologi dan proses-proses sosial makin kuat. Persuasi dan pembuatan keputusan dalam kelompok menjadi isu sentral tidak hanya bagi kalangan peneliti akademik namun juga bagi masyarakat pada umumnya. Maka semenjak perang dunia kedua itulah studi komunikasi menjadi makin penting.

Pendekatan dalam studi komunikasi di Amerika Serikat dan Eropa memiliki karakteristik yang berbeda. Di US, para peneliti cenderung meneliti komunikasi secara kuantitatif untuk memperoleh kebenaran objektif. Meski sesungguhnya tak pernah jatuh kata sepakat mengenai objektivitas yang ideal dalam penelitian,namun paradigma kuantitatif tetap menjadi standar penelitian selama bertahun-tahun kemudian. Sebaliknya, di Eropa penelitian yang berkembang lebih bersifat interpretatif dan kritis karena faktor historis, kultural dan minat kritis utamanya karena  pengaruh mazhab Marzisme.

Lawrence Kincaid mencatat perbedaan antara ilmuwan barat dan timur dalam hal perspektif komunikasi. Teori / perspektif Asia/Timur  cenderung memfokuskan pada kesatuan dan keseluruhan, sementara perspektif Barat lebih  tertarik pada pengukuran terhadap lingkup kecil dan tidak berhasrat untuk menarik kesimpulan secara generalis pada cakupan yang lebih luas.

Kedua, teori-teori Barat didominasi oleh visi individualistik.Orang diasumsikan sebagai subjek yang secara aktif mencoba menggapai keinginan pribadinya. Sebaliknya, kebanyakan teori-teori Timur melihat hasil-hasil atau akibat komunikasi sebagai tak terencana dan konsekuansi alami dari sebuah peristiwa.

Perbedaan ketiga berkenaan dengan bahasa dan pemikiran.Kebanyakan teori Barat lekat oleh nuansa  bahasa. Di Timur, simbol-simbol verbal khususnya ujaran tidak begitu mendapat perhatian dan hanya dilihat secara skeptis. Gaya berpikir Barat juga tidak begitu dipercaya dalam tradisi Timur. Dalam tradisi filsafat Timur kita dapati penglihatan yang intuitif yang merupakan abstraksi dari pengalaman langsung.Penglihatan secara demikian bisa dicapai tanpa melalui perantara dalam sebuah peristiwa alami, inilah yang menjelaskan mengapa “kediaman” begitu penting dalam ilmu komunikasi Timur.

Terakhir, “relationship” dikonsepsikan secara berbeda dalam tradisi Barat dan Timur. Dalam pemikian  Barat, relationship hadir di antara dua atau lebih individu.Sementara di banyak tradisi Timur, relationship lebih kompleks dan dihasilkan lewat jalinan sosial yang saling berbeda dalam peran, status dan kekuasaan.

Begitu banyak universitas dan pendidikan tinggi yang memiliki beragam departemen khusus komunikasi, seperti komunikasi ujaran dan komunikasi massa, akan tetapi subjek kajian biasanya tetap saja merupakan paduan dan bersifat multidisipliner. Keberagaaman dalam teori komunikasi mencerminkan begitu kompleksnya komunikasi itu. Mencari teori komunikasi yang terbaik lalu menjadi tidak begitu banyak gunanya karena komunikasi lebih dari sekedar satu aktivitas.

 MENUJU DEFINISI KOMUNIKASI

Menurut Frank Dance terdapat tiga poin yang bisa dipakai untuk mengkritisi berbagai variasi definisi yang dilakukan para ahli:

Pertama, dilihat dari tingkatan abstraksinya. Dari sini kita bisa mengenal sebuah teori komunikasi bersifat general atau terbatas.

Kedua, perbedaan dalam kedalaman definisi. Dari sini kita bisa membedakan apakah definisi yang menggambarkan proses komunikasi itu dilakukan secara sadar/direncanakan atau tidak.

Ketiga, dilihat dari dimensi penilaian normatifnya.Dari sini kita bisa membedakan apakah definisi komunikasi itu melihat proses penyampaian pesannya berhasil atau tidak.

Berikut gambaran definisi komunikasi yang memperhatikan aspek komunikasi dalam penyampaian proses dalam hubungannya dengan perilaku yang terlibat dalam proses tersebut:

PERILAKU PENERIMA

PERILAKU SUMBER

PERILAKU TIDAK DIRENCANAKAN

(GEJALA )

KEDALAMAN PERILAKU

NONVERBAL VERBAL
TIDAK DITERIMA 1A GEJALA PERILAKU YANG TIDAK DISADARI 2A PESAN NONVERBAL YANG TIDAK DISADARI 3A PESAN VERBAL YANG TIDAK DISADARI
DITERIMA SECARA TIDAK DIRENCANAKAN 1B GEJALA YANG DISADARI NAMUN TIDAK DIRENCANAKAN 2B PESAN NONVERBAL YANG TIDAK DIRENCANAKAN 3B PESAN VERBAL YANG TIDAK DIRENCANAKAN
DIIKUTI/DITINDAKLAJUTI 1C GEJALA YG DIIKUTI/DITINDAKLANJUTI 2C PESAN NONVERBAL YANG DITINDAKLANJUTI 3C PESAN VERBAL YANG DITINDAKLANJUTI

Dari tabel di atas terdapat sembilan jenis perilaku komunikasi yang sebenarnya merupakan turunan dari dua pertanyaan dasar :

  1. apakah tindakan  komunikasi harus  direncanakan?
  2. apakah proses komunikasi harus bisa sampai ke sasaran?

Terdapat tiga kategori jawaban atas pertanyaan apakah suatu tindakan bisa disebut komunikasi atau bukan:

Pertama, sebagaiamana dikemukakan Michael Motley, bahwa tindakan komunikasi harus dibatasi sebagai pesan yang ditujukan secara sengaja kepada orang/pihak lain dan sampai kepada sasaran

Kedua, seperti pemikiran Pete Andersen, bahwa komunikasi meliputi segala tindakan yang memiliki arti bagi orang/pihak lain/penerima baik itu tindakan yang disadari atau tidak

Ketiga, seperti pendapat Clavenger yang setuju dengan Motley bahwa hanya pesan diterima yang berasal dari tindakan yang disengaja saja yang pantas disebut komunikasi namun tidak mudah menentukan suatu tindakan itu disengaja atau tidak.

PROSES PENELITIAN DALAM KOMUNIKASI

Penelitian adalah studi sistematis  terhadap pengalaman-pengalaman hingga sampai pada pemahaman atau pengetahuan.

Model Dasar Penelitian

Setiap penelitian senantiasa melewati tiga tahapan:

Pertama, mengajukan pertanyaan

Kedua, melakukan observasi

Ketiga, menyusun jawaban. Pada tahap inilah lazim disebut membuat teori.

Ketiga tahap tersebut tidak berarti harus bersifat linier.Setiap tahapan dipengaruhi dan mempengaruhi tahap lainnya.

Tipe-tipe keilmuan

Secara umum dunia masyarakat ilmiah menurut cara pandang mereka serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 ( tiga ) kategori : scientific (ilmiah-empiris), humanistic ( humaniora-interpretatif ) dan social science (ilmu-ilmu sosial)

Aliran pendekatan scientific umumnya berlaku di kalangan ilmu eksakta seperti fisika,biologi, kedokteran, matematika, dan lain-lain.Menurut pandangan ilmu ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas.  Objektivitas yang dimaksud di sini adalah objektivitas yang menekankan prinsip standartisasi observasi dan konsistensi. Landasan filosofisnnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur. Secara individual para peneliti boleh jadi berbeda pandangannya satu dengan yang lain tentang bagaimana rupa atau macam dari bentuk dan struktur tersebut. Namun, apabila para peneliti melakukan penelitian terhadap suatu fenomena dengan menggunakan metode yang sama, maka akan dihasilkan temuan yang sama. Inilah hakikat dari objektivitas dalam konteks standartisasi observasi dan konsistensi.

Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini adalah pemisahan yang tegas antara “known” (objek atau hal yang ingin diketahyui dan diteliti) dan “knower” ( subjek pelaku atau pengamat). Salah satu metode penelitian yang lazim dipakai adalaah metode eksperimen. Melalui metode ini peneliti secara sengaja melakukan suatu percobaan terhadap objek yang ditelitinya. Tujuan penelitian lazimnya diarahkan pada upaya mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab-akibat di antara dua variabel atau lebih, dengan mengontrol pengaruh dari variabel lain. Prosedur yang umum dilakukan adalah dengan cara memberikan atau mengadakan suatu perlakuan khusus kepada objek yang diteliti serta meneliti dampak atau pengaruhnya.

Bila aliran pendekatan scientific  mengutamakan prinsip objektivitas, maka pendekatan humanistik mengasosiasikan ilmu dengan prinsip subjektivitas. Perbedaan-perbedaan pokok antara kedua pendekatan  antara lain:

  1. Bagi aliran pendekatan scientific ilmu bertujuan untuk menstandartisasi observasi, sementara aliran humanistik mengutamakan kreatifitas individual.
  2. Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi  perbedaan-perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan, sementara aliran humanistik bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif individual.
  3. Aliran scientific memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang “berada di luar sana” ( “out there” ), di luar pengamat/peneliti. Di lain pihak, aliran humanistik melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada di sini ( “in here” }, dalam arti berada dalam diri ( pemikiran, interpretasi) pengamat/ peneliti.
  4. Aliran scientific memfokuskan perhatiannya padaa dunia hasil penemua ( discovered world), sedangkan aliran humanistik menitikberatkan perhatiannya pada dunia para penemunya ( discovered person )
  5. Aliran  scientific berupaya memperoleh konsensus, sementara aliran humanistik mengutamakan “interpretasi-interpretasi alternatif “.
  6. Aliran scientific membuat pemisahan yang tegas antara “known” dan “knower” sedangkan aliran humanistik cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut.

Dalam konteks ilmu- ilmu sosial, salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan aliran humanistik adalah partisipasi observasi. Melalui metode ini, si peneliti dalam mengamati sikap dan perilaku dari orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan dari orang-orang yang ditelitinya.Interpretasi atas sikap dan perilaku dari orang-orang  yang ditelitinya, tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh dari hasil wawancara atau tanya jawab dengan orang-orang yang ditelitinya, tetapi juga atas dasar pengamatan langsung dan pengalaman berinteraksi dengan mereka.

Pandangan klasik dari aliran humanistik adalah bahwa cara pandang seseorang tentang sesuatu hal akan menentukan penggambaran dan urainnya tentang hal tersebut. Karena sifatnya yang subjektif dan interpretatif, maka pendekatan aliran humanistik ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, sejarah dan pengalaman pribadi.

Kelompok aliran yang ketiga adalah pendekatan khusus ilmu pengetahuan sosial ( social science). Pendekatan yang diterapkan oleh para pendukung kelompok ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan scientific dan humanistik.

Mengapa diperlukan gabungan dari kedua pendekatan di atas? Karena yang menjadi objek studi dalam ilmu sosial adalah kehidupan manusia yang unik. Di satu sisi diperlukan pengamatan yang objektif dengan hasil yang bisa berlaku umum dan bukan hanya kasuistik, tetapi di sisi lain juga memerlukan penjelasan atau interpretasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ilmu pengetahuan sosial ini secara umum terbagi lagi dalam dua kubu: ilmu pengetahuan tingkah laku ( behavioral science) dan ilmu pengetahuan sosial ( social science ) Kubu pertama umumnya menekankan pengkajiannya pada tingkah laku indivual manusia, sedangkan kubu yang kedua pada interaksi antarmanusia. Perbedaan antara keduanya pada dasarnya hanya menyangkut aspek permasalahan yang diamati, sementara metode pengamatannya relatif sama.

Bidang kajian ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial, pada dasarnya difokuskan pada pemahaman tentang bagaimana tingkah laku manusia dalam menciptakan, mempertukarkan dan menginterpretasikan pesan-pesan untuk tujuan tertentu. Dengan adanya dua aliran pendekatan tersebut maka muncul dua kelompok ilmuwan komunikasi yang berbeda baik dalam spesifikasi serta teori-teori dan model-model yang dihasilkan. Kalangan ilmuwan komunikasi yang banyak menerapkan aliran humanistik dikenal sebagai ilmuwan yang mengkaji komunikasi sebagai studi “speech communication “ (komunikasi ujaran )dan teori-teori yang dihasilkannya lazim disebut teori retorika. Sementara ilmuwan komunikasi yang banyak menerapkan pendekatan scientific menekuni bidang seperti komunikasi antar pribadi,komunikasi organisasi,komunikasi massa, dll. Namun pembedaan yang ketat seperti di atas makin lama makin pudar karena masing-masing kelompok kadang saling meminjam pendekatan.

KATEGORISASI (TRADISI ) TEORI KOMUNIKASI

Sekarang kita pelajari bagaimana pemetaan cakupan studi komunikasi/ kategori tradisi keilmuan komunikasi.

Tradisi pertama,The rhetorical tradition,menempatkan komunikasi sebagai suatu aktivitas seni yang ditujukan kepada publik.Dalam pengertian sederhana,komunikasi adalah seni berbicara kepada umum. Dalam tradisi ini, komunikator mengembangkan strategi, biasanya dengan menggunakan pendekatan umum untuk penggerakkan audience.Logika dan emosi tampil sebagai sosok penting dalam tradisi ini.Tradisi ini melihat kajian komunikasi merupakan paduan antara seni dan metode tertentu.Bahasa memiliki kekuasaan, dengan itu maka komunikasi lalu menjadi sarana untuk menentukan penilaian,dan komunikasi yang demikian bisa dikembangkan dan dievaluasi.Tiga dasar utama yang disodorkan dalam tradisi ini adalah logos (logika),ethos (etika), dan pathos (emosi) yang mengantar pada sebuah keyakinan umum bahwa kesempurnaan komunikasi ditentukan oleh latihan dan praktek.

Tradisi kedua,the semiotic tradition, memandang komunikasi sebagai suatu proses pemaknaan bersama simbol-simbol komunikasi. Kontroversi umum yang terdapat pada tradisi  ini berakar dari pemaknaan kata sebagai suatu simbol.Bagi para ahli semiotik,kata tidaklah memiliki makna dan oranglah yang memberi makna pada kata itu.Dalam perkembangannya, tradisi semiotik ini menjembatani studi tentang bahasa, lambang-lambang non-verbal, serta gambar-gambar dengan penekanan yang bergeser pula menuju cara tanda-tanda itu bisa menghasilkan arti dan cara aplikasinya untuk mengurangi kesalahpahaman.

Ketiga,mirip dengan tradisi semiotik,The phenomenological tradition memaknai komunikasi sebagai bertemunya pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain melalui sebuah dialog.Penekanan di sini lebih pada pengalaman (dan bukan simbol) serta dialog (dan bukan sekedar pemaknaan bersama).Terdapat beberapa keyword yang menyertai tradisi ini yakni : pengalaman, diri,dialog,keaslian,supportiveness, dan keterbukaan.

 Tradisi keempat, dikenal dengan the cybernetic tradition yang memandang komunikasi sebagai proses pentransmisian informasi.Dasar ide tradisi ini adalah model matematik penyampaian signal dari Shannon dan Weaver(1949) yang memandang komunikasi sebagai suatu proses yang linier. Penonjolan terhadap model Shannon dan Weaver untuk generalisasi keilmuan komunikasi berjalan pararel dengan dengan pandangan Fiske (1990) yang menganggap model matematik mereka sebagai dasar perkembangan model-model komunikasi berikutnya Dalam kaitannya dengan hal ini,Shannon dan Weaver juga mengidentifikasi tiga tingkat permasalahan dalam studi ilmu komunikasi(keakuratan simbol,ketepatan pentransmisian,dan keeektifan pengaruh). Konsep tentang feedback-nya, kemudian mencetuskan tradisi sibernetik ini dan mengantar pada pemahaman komunikasi sebagai penghubung bagian-bagian terpisah dalam suatu sistem, termasuk untuk komunikasi sosial.

 Tradisi kelima, berkait dengan proses komunikasi sebagai pengaruh dari suatu hubungan interpersonal.Carl I.Hovland oleh Schramm dipandang sebagai pemasang tiang utama ilmu komunikasi dengan kajian persuasinya, sebagai contoh,menekankan adanya perbedaan antara reaksi komunikan terhadap pesan-pesan yang disampaikan sumber yang berkrdibilitas tinggi dan sumber berkredibilast rendah(Griffin,2003 :23).Tradisi pertama ini kemudian dikenal dengan  the socio-psychological tradition dan mendapat dukungan signifikan dari penelitian-penelitian Universitas Yale.

Keenam, the socio-cultural tradition, yang memaknai proses komunikasi sebagai upaya penciptaan dan pembentuk realitas sosial Tradisi ini dilandasi hipotesis bahwa struktur bahasa suatu kebudayaan dapat mempertajam hal-hal  yang dipikirkan dan dikerjakan manusia.Tradisi sosio-kultural ini pada masa sekarang mengantar pada pemahaman bahwa melalui proses komunikasi maka realitas  sosial dapat dihasilkan, dipertahankan,disempurnakan dan dialihgenerasikan

   Ketujuh,the critical tradition yang meyakini komunikasi sebagai “a reflective challenge of unjust discourse’ (Grifin,2003: 10-11).Tradisi komunikasi ini sangat terkait dengan upaya The Frankfurt School  yang membedah perbedaan antara nilai-nilai kebebasan dan persamaan di dunia liberal serta pemusatan dan pelanggaran kekuasaan yang menyebabkan nilai-nilai itu sekedar sebagai sebuah mitos.Dalam kehidupan media massa, pengikut tradisi ini menentang penggunaan media massa sebagai alat untuk mengontrol masyarakat Namun secara umum,ahli-ahli teori ini mengkritisi keadaan masyarakat sekarang dalam tiga bentuk:penguasaan bahasa untuk menciptakan ketimpangan kekuasaan,peran negatif media massa untuk keperluan represi, serta ketergantungan membuta pada metode ilmiah dan penerimaan hasil-hasil ilmiahnya (Griffin, 2003:31)

Terakhir,The ethical tradition yang memandang proses komunikasi dalam kaitannya dengan tanggung jawab etik manusia-manusia yang menginteraksikan karakter secara lugas dan menguntungkan (Griffin,2003:34-35).Keintiman terhadap masalah etik ini mau tidak mau mengantar pada persoalan-persoalan mendasar semacam kejujuran, kebenaran,keakuratan, alasan-alasan mendasar, konsekuensi, pemahaman dan respek dalam suatru aktivitas komunikasi.

LEVEL-LEVEL DALAM KOMUNIKASI

Secara sederhana terdapat empat tingkatan proses komunikasi:

Pertama, komunikasi interpersonal, terjadi diantara orang per orang biasanya bersifat tatap muka dan bersifat pribadi

Kedua, komunikasi kelompok, berlangsung di antara beberapa orang yang terjalin dalam suatu kelompok biasanya berhubungan dengan proses pengambilan keputusan tertentu

Ketiga, komunikasi organisasi,  nampak di dalam jaringan perusahaan dan termasuk di dalamnya komponen komunikasi interpersonal maupun kelompok.

Keempat, komunikasi massa, berkaitan dengan komunikasi publik biasanya menggunakan media.Banyak aspek dari komunikasi interpersonal, kelompok dan organisasi yang terlibat dalam kegiatan komunikasi massa.

MEMAHAMI  INTI TEORI KOMUNIKASI

Memahami inti teori komunikasi akan membantu kita memahami komunikasi pada umumnya. Berikut gambaran manfaat mempelajari inti teori komunikasi:

Pertama, inti teori membantu kita bagaimana kita menyusun pesan.

Kedua, dengan memahami inti teori kita mengenal bagaimana proses interpretasi dan pembangkitan makna

Ketiga, inti teori membantu kita dalam memahami struktur pesan

Keempat, inti teori berkaitan dengan interaksional dinamis.

Kelima, inti teori itu membantu kita mengenal dinamika sosial dan institusional.

STRUKTUR INTELEKTUAL DALAM WILAYAH KOMUNIKASI

John Powers menyusun sebuah kerangka intelektual yang menggambarkan kesatuan dan keberagaman bidang kajian komunikasi :

I berkaitan dengan isi dan bentuk pesan

II berkaitan dengan komunikasi secara

  • Individual
  • Anggota dalam relasi sosial
  • Anggota budaya masyarakat

III tingkatan komunikasi mencakup

  • Publik
  • Kelompok kecil
  • Interpersonal

IV Konteks dan situasi komunikasi

 RANGKUMAN dan CATATAN PENULIS

Bab pertama buku  Littlejohn ini merupakan salah satu pengantar menuju ilmu komunikasi khususnya berkaitan teori komunikasi manusia yang paling komprehensif yang saya kenal. Dari sini setidaknya kita menyadari bahwa komunikasi sebagai ilmu memiliki keunikan tersendiri dibanding ilmu lainnya. Sifatnya yang multidisiplin selain membawa kekuatan sekaligus juga kelemahan. Ia kuat karena berkaitan langsung dengan dinamika hidup manusia. Ia membantu kita memahami proses menjadi diri sendiri dan proses-proses perkembangan masyarakat. Ia juga sekaligus lemah karena dalam kondisi tertentu justru mudah sekali dimasuki oleh perspektif ilmu lain bukan sebagai upaya untuk memperdalam dan memperkaya ilmu komunikasi namun karena sekedar singgah dan menghampiri ilmu komunikasi secara sambil lalu.

Sifatnya yang multidisiplin juga membawa tantangan tersendiri bagi kita yang hendak benar-benar memahami dan mengembangkan komunikasi. Pada tahap konseptualisasi atau teoritisasi saja kita akan kesulitan mengingat begitu banyaknya dimensi ilmu yang melekat dalam komunikasi. Bila kita mengkonseptualisasikannya terlampau luas maka akan kehilangan jati diri, tapi kalau terlalu sempit juga tidak akan kena pada inti permasalahannya. Mendefinisikan komunikasi lalu menjadi tugas yang seakan tak pernah usai.

Satu hal yang kita petik dan menjadi benang merah pelajaran kita ini adalah bahwa teori komunikasi lahir dan berkembang atas dasar landasan ontologis,epistemologis dan aksiologis tertentu yang harus kita telaah terlebih dahulu. Ia berkaitan dengan sejumlah asumsi kebenaran, nilai-nilai dan segala aspek yang menyertainya, itulah sebabnya ketika kita mengenal keberagaman teori komunikasi maka sesungguhnya tidak hanya perbedaan isi saja yang kita temui tetapi juga perbedaan dalam perspektif filosofinya.  

Sumber :

(1)Littlejohn,S.W.Theories of Human Communication,7th Edition,2001,Belmont,California:Wadsworth Publishing Company, Chapter 1                                              

(2)Griffin,Em.(ed). A irst Look At Communication Theory.London:McGraw-Hill,2003. Chapter 2

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Agustus 2011.

3 Tanggapan to “COMMUNICATION THEORY AND SCHOLARSHIP”

  1. good, thanks yuup

  2. akasiiihh bgtz…
    uahh bnebener mmbantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: