THEORIES OF SIGN AND LANGUAGE (Review Chapter 4 . Theories of Human Communication. Stephen W. Littlejohn.2002)

Menurut Charles Morris ada tiga gugusan teoritis yang berhubungan dengan “sign” dan “values” :

1. Semantics : mempelajari tentang tanda dalam hubungannya dengan objeknya

2. Syntatics : mempelajari tentang tanda dan hubungannya dengan tanda lainnya

3. Pragmatics : berkaitan dengan penggunaan code dalam kehidupan manusia sehari-hari termasuk pengaruh tanda dalam perilaku manusia dan cara yang dipakai manusia untuk menggunakan tanda berserta maknanya  dalam interaksi sesungguhnya.

TEORI SEMANTIK KLASIK

Charles Sanders Peirce.

Ia seorang filsuf dan ahli logika yang mengajukan teori tentang TANDA yang kemudian dikenal dengan konsep Semiosis yakni hubungan antara tanda – objek dan maknanya.  Menurut Peirce untuk memahami makna sebuah tanda harus dilihat dari segitiga yang menghubungkan antara TANDA – OBJEK – INTERPRETAN.Sebuah tanda mengacu sesuatu diluar dirinya yakni objek. Objek ini dipahami oleh seseorang yang kemudian membangkitkan sesuatu makna yakni interpretan.Interpretan berarti konsep mental yang dihasilkan oleh tanda maupun pengalaman pengguna terhadap objek itu tadi.

Charles Morris.

Menurut Morris aktivitas manusia senantiasa melibatkan tanda dan makna dalam berbagai cara. Setiap tindakan manusia terdiri dari tiga tahapan :

1.Perception : Perception, tahap di mana manusia sadar akan adanya tanda. Dalam tahap ini tanda memiliki dimensi “Designative” yakni menunjuk kepada suatu objek.

2.Manipulation : Manipulation, manusia mengiterpretasi tanda dan kemudian mengambil keputusan untuk melakukan respon tertentu terhadap tanda tersebut. Dalam tahap ini tanda memiliki dimensi “Prescriptive” yakni mengarahkan atau membujuk atau mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan

3.Consumation :Consumation, tahap di mana manusia telah mengambil tindakan tertentu berdasar tanda tersebut . Pada tahap ini tanda berdimensi “Appraisive” atau diasumsikan bahwa tanda memiliki dominasi tertentu sehingga kita tergantung pada arahan tanda tersebut.

Tindakan manusia yang digambarkan dalam tiga tahapan di atas tidak hanya dalam konteks individual melainkan juga dalam konteks tindakan berkelompok atau dalam sebuah social act

Susanne Langer

Seorang filsuf yang tertarik pada studi simbolisasi. Menurutnya, setiap makhluk hidup dikendalikan oleh perasaan, tetapi perasaan manusia dipengaruhi oleh konsepsi, simbol dan bahasa.Langer membedakan antara symbol dan sign. Dia menggunakan sign lebih terbatas maknanya ketimbang yang dipakai Morris.

Sign berhubungan dengan makna objek yang aktual. Sedangkan symbol lebih kompleks.Symbol tidak semata mengacu pada objek melainkan juga pada seputar konsepsi yang berkaitan dengan objek tersebut. Symbol memungkinkan orang memikirkan sesuatu yang terpisah  dari objek yang saat itu hadir. Dengan kata lain symbol adalah sarana berpikir

Manusia tidak saja memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol melainkan juga memiliki kebutuhan dasar untuk senantiasa melakukan proses simbolisasi.Tindakan manusia hampir semuanya berkaitan dengan kebutuhan akan simbolisasi ini. Langer melihat makna dalam relasinya yang kompleks dengan symbol, objek dan manusia.

Manusia memiliki kemampuan logis dan psikologis ketika berhubungan dengan makna. Kemampuan logis ketika menghubungkan antara symbol dan referennya.Kemampuan psikologis ketika mengkaitkan antara symbol dan manusia.

Bagaimana cara kerja sebuah symbol? Setiap symbol memiliki proposisi, yang mengkomunikasikan konsep, ide umum, pola atau bentuk. Konsep adalah makna yang dipahami bersama di antara orang-orang yang berkomunikasi, namun setiap komunikan memiliki memiliki gambaran  tersendiri atau makna tersendiri dari apa yang dipahami umum.Gambaran pribadi inilah yang disebut konsepsi pribadi manusia. Makna dengan demikian terdiri dari konsepsi pibadi dan konsep umum yang dipahami kebanyak orang.

Perbendaharaan kata dalam kajian Langer lainnya adalah : signification, denotation dan connotation.

Signifiaction adalah makna yang melekat pada tanda atau stimulus yang dibangkitkan oleh objek.Significantion adalah hubungan langsung antara objek dan tandanya.

Denotation adalah hubungan antara symbol dengan objeknya.

Connotation adalah hubungan antara objek dengan konsepsinya. Connotation mencakup  segala perasaan dan asosiasi yang dimiliki manusia yang tertuju pada suatu symbol.

Langer juga meyakini bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk melakukan abstraksi. Abstraksi adalah proses membentuk pemahaman  umum dari berbagai pengalaman kongkret yang dialami.

KAJIAN SINTAKTIK DAN BAHASA

Ferdinand de Saussure adalah peletak dasar konsepsi kajian bahasa secara struktural. Menurut Saussure, tanda termasuk bahasa bersifat arbitrer. Ia mencatat bahasa yang berbeda menggunakan kata yang berbeda untuk menyebutkan benda yang sama dan biasanya tidak ada hubungan langsung antara kata dengan objek yang ditunjuknya.Itulah sebabnya tanda diatur oleh sebuah aturan tertentu.Gagasan ini tidak hanya mendukung asumsi bahwa bahasa adalah sebuah struktur melainkan juga menegaskan bahwa sesungguhnya bahasa dan realitas adalah terpisah.

Bahasa adalah sistem struktur yang merepresentasikan realitas.Meski struktur bahasa dalah arbitrer, penggunaan bahasa tidak selamanya arbitrer karena bahasa mensyaratkan convensi yang mapan.

Saussure membedakan antara langue dan parole. Langue adalah sistem bahasa formal yang berlaku dalam masyarakat. Parole adalah penggunaan bahasa secara aktual dalam kehidupan sehari-hari.Langue bisa dianalisis sebagai sebuah sistem bahasa terlepas dari penggunaannya bagi pemakai dalam kehidupan sehari-hari. Langue tidak diciptakan oleh pemakainya, tidak seperti parole.Linguistik menurut Saussure adalah studi tentang langue bukan parole.

Perbedaan antara langue dan parole adalah sifat konstannya. Langue bersifat syncrony yang artinya dia relatif tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Parole sebaliknya bersifat diachrony yang senantiasa berubah dari situasi ke situasi.Memahami bahasa dengan demikian harus dilihat dalam perspektif synchrony.

KAJIAN SEMANTIK DAN SINTAKTIK DALAM PERILAKU NONVERBAL

Para ahli acapkali menemui ketidaksepakatan dalam mendefinisikan apa itu komunikasi non verbal. Burgoon membuat kategori komunikasi nonverbal berdasarkan  ciri-ciri bentuknya:

1. Kode Nonverbal cenderung bersifat analog ketimbang digital. Kalau digital berarti diskret atau bisa dibedakan, sementara analog hanya bisa dipisahkan secara gradasi. Misalnya volume suara, cerah gelapnya warna.

2. Kode nonverbal umumnya bersifat ikonik. Artinya mengacu pada objek yang disimbolkan.

3. Kode nonverbal tertentu memiliki makna umum.

4. Kode nonverbal mampu membawa  beberapa pesan dalam waktu yang bersamaan

5. Signal nonverbal seringkali bisa mendorong timbulnya respon otomatis tanpa dipikirkan terlebih dahulu

6.signal nonverbal sringkali terjadi secara spontan.

Sistem Kode nonverbal seringkali dikelompokkan menurut aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan kode tersebut:

1.  kinesic ( aktivitas tubuh )

2. vocalis ( voice)

3. physical appearance

4. haptichs ( sentuhan )

5. proxemics (jarak )

6. chronemics ( waktu )

7. artifacts ( objek )

KAJIAN BIRTDWHISTELL TENTANG KINESIK

Terdapat tujuh asumsi teoritis tentang kinesik :

1. Setiap  gerakan tubuh berpotensi menghasilkan makna dalam komunikasi

2. Perilaku dapat dianalisis karena terorganisir dan bisa dijadikan subjek analisis

3. Meski aktivitas tubuh memiliki batasan biologis, penggunaan gerakan tubuh dalam interaksi dipandang sebagai bagian dari sistem sosial.

4. Orang terpengaruh oleh aktivitas tubuh yang nampak pada diri orang lain

5. Cara-cara bagaiman aktivitas tubuh berfungsi di dalam komunikasi dapat diteliti

6. Makna yang diperoleh di dalam penelitian kinesik merupakan hasil dari perilaku yang diteliti sebagaimana menggunakan metode dalam penelitian biasa

7. Penggunaan aktivitas tubuh oleh seseorang merupakan gambaran yang tipikal orang tersebut namun juga bisa dipandang sebagai karakteristik yang dimiliki bersama dalam komunitas tertentu

Kajian Birdwhistell ini kemudian dikenal sebagai analogi kinesik bahasa.

KAJIAN EDWARD HALL TENTANG  PROXEMIK

Proxemik diartikan sebagai pemakaian “jarak” dalam komunikasi : yakni studi tentang bagaimana manusia secara tidak sadar membentuk struktur mikrospace – yakni jarak antara manusia yang terjadi dalam transaksi sehari-hari, pengaturan jarak di dalam rumah-rumah dan bangunan dan pada puncaknya berkenaan dengan tata letak perkotaannya

Menurut Hall perkara jarak ini berkaitan dengan budaya setempat. Ketika orang orang melakukan percakapan terdapat delapan faktor yang mempengaruhi penggunaan jarak :

1. Posture-sex faktor : termasuk didalamnya adalah jenis kelamin yang terlibat dalam percakapan serta posisi ketika mereka berkomunikasi

2. Sociofugal-sociopetal axis : Axis berarti sudut pandang yang terjadi dilihat dari posisi bahu ketika orang berkomunikasi. Sociofugal berarti ketidakberanian dalam interaksi, sociopetal berarti keberanian untuk berinteraksi.

3.Kinesthetic faktors : kedekatan di antara individu dalam arti memungkinkan tidaknya untuk saling kontak fisik

4.Touching behavior : Segala macam bentuk kontak fisik atau kontak fisik yang tidak terjadi

5. Visual code : keadaan kontak mata ketika berkomunikasi

6. Thermal code : kehangatan yang terjadi di dalam komunikasi

7.Olfactory : jenis atau tingkatan bau tidak enak yang bisa diterima dalam komunikasi

8.Voice loudness : volume suara dalam percakapan menentukan jarak interpersonal

CATATAN :

Studi tentang tanda dan bahasa merupakan elemen penting dalam teori komunikasi.

Semiotic menjadi pijakan awal ketika memasuki dunia sistem tanda dan telah dikembangkan oleh berbagai ahli dengan spesifikasi teori yang beragam: Peirce dengan konsep segitiga sign-referent- dan interpretation;Saussure dengan konsep umumnya tentang sistem bahasa sebagai sebuah struktur;Morris yang membawa definisi semiotic ke dalam wilayah semantic, sintatic dan pragmatic

Bagi kalangan positivis keberatan terhadap kajian semiotik tentu saja ada pada aspek arbitrer yang melekat dalam tanda. Meski dalam peggunaan sosial, tidak semua hubungan antara penanda dan petanda adalah semena-mena; melainkan juga berlaku konvensi tertentu

Di sinilah persoalan pemaknaan penanda visual kadang juga menimbulkan masalah tersendiri seandainya kita hanya melihat makna  melulu pada sisi subjektif individu semata. Oleh karenanya, kajian makna visual tidak bisa dilepaskan dari konteks kultural karena bagaimanapun makna penanda visual tidak hanya produk individual melainkan juga hasil persepsi dan pengetahuan sosial.

Terdapat beberapa kritik yang dikemukakan oleh para ahli, misalnya oleh John Stewart, terhadap kajian semiotik. Menurut saya, salah satu kritik yang patut dicermati adalah kecenderungan analisis sistem tanda yang atomistik, yakni menempatkan “bahasa” dalam satuan terkecil.Kritik semacam ini adalah khas pemikiran seorang positivis yang cenderung melihat makna dalam kacamata general dan tidak melihat makna dalam konteks khusus yang unik.

Kajian bahasa non verbal sebagai bagian dalam teori tanda dan bahasa juga menarik untuk kita pelajari. Sayangnya saya menangkap kesan bahwa kajian komunikasi non verbal cenderung memisahkan hakikat komunikasi yang kompleks. Hal ini nampak ketika ada pemisahan antara bahasa dengan kode-kode non verbal yang juga berlaku sebagai bahasa. Padahal menurut saya komunikasi melibatkan sistem kode yang rumit dan menyatu baik verbal maupun non verbal. Kecenderungan spasial analisis ini mungkin hanyalah strategi penelitian agar bisa memudahkan analisis namun yang menjadi soal justru ketika simpulannya serta merta dianggap sebagai hasil analisis terhadap bahasa (verbal).

Bab ini tetap merupakan bahasan yang menurut saya unik, meski kadang terlalu melihat fenomena komunikasi dalam unit yang terlampau kecil dan kajian komunikasinya yang juga terkesan spasial.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 12 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: