PERS, PERAN MEDIASI DAN MENUMBUHKAN SIKAP JURNALIS YANG BERHATI NURANI

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pers dan Peran Mediasi

Perkembangan teknologi dewasa ini terasa semakin cepat. Di bidang media, kemajuan teknologi ini juga terasa begitu pesat terutama di bidang media elektronika. Berbagai inovasi dapat kita lihat dalam kreasi-kreasi audio visual yang disajikan di media elektronika khususnya televisi. Apakah hal ini akan menggeser peran pers sebagai media cetak? Pada awalnya memang ada kekhawatiran semacam itu. Namun pada proses berjalannya waktu, hal tersebut ternyata tidak terbukti. Ada perbedaan-perbedaan karakter pada penyajian informasi yang masing-masing media justeru semakin melengkapi.

Indonesia adalah negara yang bagaimanapun sedang selalu berkembang. Belum lagi menjadi negara industri namun sudah mulai melepaskan diri dari negara agraris. Terlihat dari kebijakan pemerintah mengenai pembangunan, terlihat adanya berbagai kebijakan yang tidak selaras dengan kondisi geografis dan sosio budaya, sosio ekonomi asli Indonesia. Misalnya pengembangan kawasan, pemukiman, peraturan tentang pupuk, ekspor impor bahan kebutuhan masyarakat, dll.

Dalam kondisi yang tengah bertumbuh dan berkembang, masyarakat akan sangat membutuhkan informasi untuk dapat mengantisipasi perubahan yang ada. Informasi itu dibutuhkan untuk memahami dan mengendalikan serta menyesuakan diri dengan perubahan-perubahan. Di sini peran media, dalam hal ini pers, sangat penting. Pers sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang No 40 tahun 1999 berfungs sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pers bertugas memberikan informasi yang lengkap dan aktual. Bagaimanapun perubahan-perubahan itu akan mengakibatkan keresahan, kecemasan, keinginan, harapan dan hasrat-hasrat yang timbul sebagai respon terhadap lingkungan. Media-media elektronik dapat memberikan informasi secara cepat dengan tingkat aktualitas yang lebih tinggi. Namun media cetak, tentu memiliki kelebihan pula. Laporannya dapat lebih urut, mendetail,  dan memiliki dimensi yang lengkap. Suatu laporan yang multidimensi atau menyeluruh, sifatnya holistik.

Untuk dapat mengembangkan pers yang demikian tentu harus memiliki sumber daya yang memadai. Dalam hal ini para wartawan dan reporter harus memiliki pengetahuan sosial budaya yang cukup. Tanpa memiliki pengetahuan sosial budaya yang cukup sudah tentu tidak akan mampu menyajikan suatu laporan yang sesuai dengan konteks Indonesia itu sendiri.

Dengan pemahamaan yang cukup, wartawan tersebut akan mampu memberikan tulisan yang memiliki keberpihakan pada segi-segi kemanusiaan yang Indonesia sifatnya. Tanpa memiliki pemahaman akan konteks sosial budaya, maka tulisannya akan sekedar informatif namun tidak memiliki sentuhan-sentuhan yang lengkap, kaya dan dalam. Di sinilah letak kualitas yang akan membedakan tulisan wartawan yang satu dan lainnya, lebih jauh lagi antara media yang satu dan yang lainnya.

 Kemampuan lain yang diperlukan adalah pengetahuan tentang filsafat yang akan membuat seorang jurnalis akan mampu berpikir logis, jernih dan kontekstual. Artinya dapat menimbang lebih bijak dalam mengambil sudut pandang, lebih jernih dalam mengamati fakta dan hubungan sebab akibat dari berbagai faktor yang dapat digali.

Kemampuan menggunakan metode ilmiah juga amat penting dalam mengungkapkan fakta dalam bentuk tulisan yang mendalam. Berbagai metode ilmiah baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif akan sangat diperlukan dalam mengamati, memilah fakta dan memilih fakta untuk disajikan. Memang selama ini model interview atau wawancara adalah metode yang paling dasar, namun kini sudah tidak lagi memadai. Saat ini mulai dikembangkan metode, survey, kuisioner, bahkan polling yang memerlukan kecermatan dan ketepatan metode sesuai dengan permasalahan yang dihadapi dan ingin diangkat. Dengan menguasai teknik-teknik tersebut maka tulisan yang dihasilkan akan berbobot, lengkap dan memiliki kredibilitas tinggi.

Jurnalis, wartawan atau reporter dapat hidup dalam berbagai sistem politik. Hal ini membutuhkan kemampuan adaptasi dan keluwesan seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya. Sistem politik yang berbeda akan menghasilkan hubungan yang berbeda antara masyarakat, pemerintah dan pers. Ada sistem yang memberikan kebebasan sepenuhnya, ada yang mengikat, ada yang memperalat dan mensubordinasikan, ada yang mengembangkan hubungan yang seimbang. Dengan demikian maka sistem politik yang berbeda akan mengembangkan hubungan yang berbeda antara pemerintah dengan masyarakat pula.

Meski demikian ada suatu sifat yang berkembang secara alami, bahwa setiap jurnalis akan mengembangkan sikap yang merdeka, independen, tidak berpihak pada penguasa dan lebih menuruti suara hatinya. Meski demikian yang disebut suara hati tentu akan dipengaruhi oleh pendidikan, latar belakan ekonomi, politik, budaya masyarakat dan filosofi negara dimana dia tinggal.

 Menumbuhkan Seorang Jurnalis Yang Berhati Nurani

Adalah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang sering disebut-sebut sebagai jurnalis yang mengajarkan bagaimana menumbuhkan sikap jurnalis yang berhati nurani. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya “karir panjang dan terhormat” sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach.

Bill Kovach dan rekannya Tom Rosenstiel menulis buku fenomenal berjudul The Elements of Journalism. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana.

Kovach mundur ketika ditawari jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution. Di bawah kepemimpinannya, harian ini berubah jadi suratkabar yang bermutu. Hanya dalam dua tahun, Kovach membuat harian ini mendapatkan dua Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika. Total dalam karirnya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang mendapatkan Pulitzer Prize. Pada 1989-2000 Kovach jadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard yang tujuannya meningkatkan mutu jurnalisme.

Sedangkan Tom Rosentiel adalah mantan wartawan harian The Los Angeles Times spesialis media dan jurnalisme. Kini sehari-harinya Rosenstiel menjalankan Committee of Concerned Journalists –sebuah organisasi di Washington D.C. yang kerjanya melakukan riset dan diskusi tentang media.

Dalam buku ini Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Berikut rangkuman dari sembilan elemen jurnalisme tersebut :

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran.

Kebenaran adalah suatu hal yang bisa bias pengertiannya, definisinya bisa berbeda – beda sesuai dengan bidangnya. Misalnya untuk kebenaran yang dibahas dalam bidang filsafat akan berbeda dengan kebenaran yang dibahas dalam bidang agama, science atau yang lainnya. Tapi sebagai wartawan kita harus selalu menjunjung kebenaran. Dalam hal ini kebenaran secara fungsional yang tentunya sesuai dengan tugasnya seorang wartawan.

2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.

Sebagai wartawan seharusnya bertanya pada diri sendiri, kepada siapakah kita akan loyal? Pada lembaga atau pada perusahaan?. Jika dilihat dari elemen yang kedua ini jelas bahwa loyalitas wartawan seharusnya berujung pada publik, sebagai pembaca dari apa yang kita beritakan.

3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni. Tentunya dalam pencarian sumber berita, wartawan harus benar – bebar melakukan verifikasi yang benar. Dengan adanya disiplin verifikasi yang dilakukan wartawan fiktifisasi narasumber tidak akan terjadi. Batas antara fiksi dan jurnalisme harus jelas, jurnalisme tidak bisa digabungkan dengan fiksi. Semuanya harus fakta dan nyata.

Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:
* Jangan menambah atau mengarang apa pun;
* Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
* Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
* Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
* Bersikaplah rendah hati.

Metode yang lebih kongkrit dalam melakukan verifikasi itu adalah sebagai berikut

Pertama, penyuntingan secara skeptis.

Kedua, memeriksa akurasi. David Yarnold dari San Jose Mercury News mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist.” :
* Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup?
* Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut?

* Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?
* Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?
* Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?
* Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak?

* Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?
* Apa ada yang kurang?
*Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya?

* Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?
Ketiga, jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin.
Metode keempat, pengecekan fakta. Metode ini sederhana., memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam tulisannya, baris per baris, kalimat per kalimat

4. Jurnalis harus menjaga indepedensi dari objek liputanya.

Ada yang menyatakan bahwa seorang wartawan adalah makhluk asosial. Namun bukan anti sosial. Artinya dalam hal ini wartwan benar – benar harus independen, melakukan suatu peliputan dengan objektif. Tidak terpengaruh pada apapun, kepentingan siapapun, kecuali kepentingan bahwa kita adalah wartawan yang harus menyampaikan berita yang benar – benar terjadi untuk disampaikan pada masyarakat. Tidak peduli siapapun apapun. Bahkan jika itu menyangkut keluarga kita, dan kita harus memberitakannya jangan anggap itu keluarga. Wartawan harus bertanggung jawab pada publik; ini sangat penting dan harus selalu kita ingat

5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau  independen dari kekuasaan.

Biasanya persoalan kekuasaan sangat memengaruhi banyak kalangan termasuk wartawan. Namun dalam memantau kekuasaan, bukan berarti wartawan menghancurkan kekuasaan namun sudah tugasnya wartawan sebagai pemantau kekuasaan yaitu turut seta dalam penegakkan demokrasi.

Salah satu cara memantau ini adalah melakukan investigatif reporting. Inilah yang sering menjadi masalah antar wartawan dengan penguasa. Biasanya banyak penguasa yang enggan privasi tentang dirinya dipublikasikan. Namun hal itulah yang harus diketahui oleh rakyat, kita mempunyai banyak kasus korupsi pejabat. Masyarakat harus tahu, dan inilah tugas wartwan. Penguasa juga terkadang memengaruhi kebijkan media dalam melakukan pemberitaan, apalagi yang bersifat investigasi.

6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi.

Seorang wartawan bukan seorang dewa yang selamanya benar atau menyampaikan kebenaran, meskipun hal itu kewajiban. Seorang wartawan yang bertanggung jawab pda publik, juga harus mendengarkan apa keinginan publik itu sendiri. Wartawan harus terbuka pada publik untuk mendengarkan segala sesuatunya. Logikanya setiap orang boleh berpendapat dan memiliki rasa ingin tahu yang sama.

7. Jurnalis harus berusaha membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan.

Berita yang dibuat oleh wartawan jangan sampai membosankan bagi pembaca. Jangan sampai berita yang penting jadi tidak penting karena pembaca bosan. Wartawan juga harus tahu tentang komposisi, tentang etika, tentang naik turunnya emosi pembaca dan sebagainya.

8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.

Untuk membuat berita yang komprehensif dan proposional, seorang wartawan tak bisa hanya melaporkan laporan yang ”ecek – ecek”. Perlu banyak hal yang dilakukan untuk mendapatkan berita yang seperti ini. Wartawan tidak hanya menerima fakta yang mudah diraih. Harus ada sesuatu yang menantang dari pekerjaan wartawan pelaporan ivestigasi mewakili berita yang komprehensif dan proposional ini.

9. Jurnalis harus mendengarkan hati nurani pribadinya.

Segala sesuatu yang berasal dari hati nurani akan lebih baik dari apapun. Persoalan yang terjadi di dalam kehidupan wartawan umunya jawabannya adalah bersumber pada hati nurani. Wartawan yang berbohong, melakukan fiktifisasi nara sumber atau apapun kejahilan seorang wartawan semuanya berkaitan dengan komitmennya pada hati nuraninya. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, seorang wartawan harus mendasarkan segala sesuatunya pada hati nurani.

Referensi :

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, 2001,The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. Three Rivers Press.1st.Ed.

P.Imam Pj, 2005, Pers Dan Peran Mediasi – Materi Kuliah Dasar-Dasar Pers Prodi Ilmu Komunikasi Unsoed. Tidak diterbitkan

Tri Nugroho Adi & Wisnu Widjanarko, Modul Perkuliahan Dasar-Dasar Pers. Prodi Ilmu Komunikasi Unsoed. Tidak diterbitkan.

————–

* Penulis adalah Staf pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi Unsoed, makalah disampaikan dalam Pelatihan Ilmu Jurnalistik, Mahasiswa Farmasi Unsoed, Sabtu 18 Desember 2010, di Gedung C Kompleks Kampus FKIK Universitas Jenderal Soedirman ,Karangwangkal,Purwokerto , Jawa Tengah

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: